Wagu-nya Wage: Catatan Menonton Wagu dari Penonton yang Wagu

Wagu-nya Wage: Catatan Menonton Wagu dari Penonton yang Wagu
Wage. Sumber gambar: IMDB

Ada baiknya di Hari Pahlawan 10 November 2017 ini saya menulis soal pahlawan. Yaiyalah, masakan menulis soal jomblo, wabah bikin-bikinan generasi milenial itu? Eh tapi ada lho pahlawan Indonesia yang, tidak sekadar jomblo, tetapi juga jones (jomblo ngenes). Duh, kok jadi pas, … atau dipas-pasin.

Selain si jomblo Tan Malaka yang lebih tenar di kalangan generasi langgas yang sudah sok kiri kalau sudah nenteng bukunya atau tentangnya atau pakai kaus bergambar sosoknya atau posting kutipan kata-katanya, dan kayaknya bakal lebih ditenarkan lagi dengan—konon sudah siap skenarionya—diangkat ke layar lebar, ada lagi pahlawan yang lebih tragis soal kejombloan. Dialah Wage Rudolf Supratman.

Semua kita yang pernah makan bangku sekolah dasar pasti tahu jawaban kalau ditanya tentang siapakah dia: pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Walakin, saya yakin juga bahwa kita sesungguhnya tidak begitu tahu, bahkan tidak juga untuk penasaran, dengan sosok kapiran ini. Nasibnya sama telantarnya dengan perpustakaan sekolah yang ada buku biografi tentang dirinya (semacam buku proyek Inpres yang diwajibkan untuk diadakan di perpustakaan-perpustakaan sekolah). Berbeda pula dengan Tan Malaka yang sejarahnya memang ditutupi rezim Orba, sejarah Wage justru samar dengan sendirinya.

Saya ingat pernah membaca buku itu, tetapi tidak kunjung paham dengan “apa hebatnya” dia. Kalah pamor dengan Diponegoro, Sukarno-Hatta, Jenderal Sudirman, dan pertempuran-pertempuran bersenjata semasa Revolusi dan, ya ya ya, Pak Harto. Lagian, gaman pahlawan nasional kita yang satu itu biola sih, yang bagi kami (atau kita), adalah alat musik siluman, sejenis naga, yang tahu gambarnya, tetapi tidak pernah melihatnya langsung, apatah lagi memegangnya atau bahkan bisa memainkannya.

Maka ketika ada berita (iklan) bahwa akan dibuat biopiknya, awalnya saya biasa saja. Melihat sliwar-sliwer linimasa medsos, yang berkomentar biasanya merujuk ke kontroversi-kontroversi hati (asmara), kecondongan ideologis (kiri, Mang!), atau, yang lebih snob, tertarik melihat bagaimana Wage nge-jazz. Walhasil, bayangan awal saya tentang film ini adalah campuran Gie (jomblo lagi, jomblo lagi), Tjokroaminoto dan Sudirman (orang pergerakan itu isinya para pemberang yang ekspresi default-nya ngototan), dan Fiddler on the Roof dan Chicago (daripada saya ambil contoh film musikal semacam remake Tiga Dara yang embuh itu. Mendingan Petualangan Sherina).

Namun, yang bikin saya mak tratap adalah ketika membaca pernyataan sutradaranya yang menyebut filmnya ini adalah (bergenre) noir. Ini dia! Curhat nih, di antara semua jenis film yang saya suka, genre noir adalah yang paling utama saya sukai, lebih klasik lebih marem. Galibnya, noir itu ditarik asal muasalnya dari film-film bertema kejahatan (crime films) era 1940-an, tetapi bahan ceritanya biasanya diambil dari novel-novel pulp era 1920-1930-an. Cocok dengan latar Wage yang hidupnya di era itu. Saya harus nonton!

Eit, tunggu! Sutradaranya pula yang langsung kasih penjelasan mengapa ia lebih suka menyebut filmnya sebagai noir ketimbang biopik, “karena Wage-lah yang jadi penjahatnya.” Yaiyalah, di zaman itu Hindia Belanda adalah negara kolonial, hamba wetnya pun adalah pengabdi Belanda. Semua yang mengganggu rust en orde, apalagi pengin merdeka, ya kriminal di mata hukum. Berarti semua sejarah nasional Indonesia pada dasarnya kisah noir, ya? Luar biasa!

Maka saya menontonnya dengan persiapan mental sebagaimana menonton film Indonesia pada umumnya: bersiap misuh-misuh.

Begitu menontonnya, mulai terasa kegamangan itu merayap perlahan dan tertatih-tatih di sepanjang durasi. Film ini persis terbelah antara film yang diperuntukkan untuk pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa atau Pendidikan Sejarah Perfilman Noir. Pemutusnya adalah adegan permainan biola perdana lagu Indonesia Raya di depan rapat Sumpah Pemuda 1928 (adegan rapat-rapat kongres itu wagu sudah! Isinya orang-orang bersitegang belaka, tidak ada dialog yang menunjukkan intelektualitas beradab yang melahirkan naskah pemicu kebenderangan nasionalisme yang jernih dan melampaui zaman itu), yang diselang-selingi pelantunan lirik tiga stanza yang dikemas dalam gaya klip video iklan rokok agustusan.

Sungguh saya merasa tidak patriotis blas gara-gara ini. Seharusnya ini adalah adegan paling penting. Inilah kesaktiannya Wage di antara para pahlawan nasional, ya lagu Indonesia Raya itu, yang tanpanya mungkin takkan ada upacara bendera (kyahaha). Adegannya: semua peserta kongres pada berdiri dengan bangga dan haru, meski diawasi para polisi Belanda, yang sebenarnya terlihat plonga-plongo aja sih. Lalu, yeah…, ada adegan Wage main biola di tengah ladang sambil kamera naik ke atas memperlihatkan kehijauan alam, siluetnya di atas perahu kala petang. Sebelum gesekan pertama muncullah slow motion tetesan air kayak sebelum pertarungan Jet Li dan Donnie Yen yang diiringi petikan sitar di Hero (Zhang Yimou, 2002) dan … kala ia berdoa. Boro-boro mau ikut berdiri, saya malah pengin tambah ndlesep ke kursi bioskop. Malu-malu asu gitu, deh.

Sesudah itu, barulah sang sutradara memainkan itu barang (noir) secara pol, meski tersendat-sendat pula. Paruh akhir Wage adalah sebuah antiklimaks. Saya menangkap kesan bahwa gaya noir dalam Wage adalah “alat musik yang lain”, sebuah deus ex machina, ketika musik itu sendiri tidak cukup menegangkan misterinya bagi penonton (Bandingkan dengan nggetih-nya pemain musik di Whiplash [Damien Chazelle, 2014] aja, deh). Lihatlah penggambaran bagaimana Wage mencari ilham dalam menggubah Indonesia Raya. Selain adegan mendengarkan irama yang dihasilkan oleh para pekerja pabrik pembuatan golok(?), penggambarannya tidak jauh-jauh dan diulang-ulang, dari adegan frustrasi Wage (garuk-garuk kepala, menyobek partitur) hingga … berdoa kepada Allah. Ditambah lagi dengan musik latar film ini yang, bagi saya, sok tahu dan resek. Penonton toh sudah mafhum penderitaan pemuda Wage, salah satunya, adalah karena dibebani pencariannya yang bahkan maqam-nya sudah metafisik atas nada-nada yang bisa mewakili penyemaian kebangsaan sebuah kumpulan orang yang baru diangankan. Musik latar yang senantiasa mengalun berusaha memandu emosi penonton itu justru menjadi kegaduhan yang menghalangi penonton ikut menghayati pencarian nada-nada hening itu. Noir pantas diasosiasikan pula dengan gelapnya proses pergulatan bermusik Wage yang ujug-ujug bersama band-nya memilih jazz sewaktu di Makassar dan Bandung. Tidak jelas pula ke mana disiplin jazz sewaktu penyusunan Indonesia Raya.

Soal ilham musik ini, sampai sekarang saya masih terpesona oleh kesubtilan penggambaran Krzysztof Kieslowski dalam Three Colors: Blue (1993). Julie (Juliette Binoche) masih berduka dengan kematian suaminya, yang seorang komponis, dan putranya dalam kecelakaan. Konflik selanjutnya adalah tentang warisan partitur komposisi musik suaminya dan penyelesaian komposisi yang belum selesai. Pada awalnya kita menduga bahwa ia seperti hendak menjauhkan diri dari semua urusan itu karena masih trauma kehilangan. Namun, lambat laun kita diberi tahu bahwa kegundahan psikenya jauh lebih dalam. Ada sesuatu yang melonjak-lonjak hendak keluar: musik. Ternyata, selama ini ia punya andil terhadap komposisi musik suaminya, tetapi menekan egonya. Pasca ketiadaan suami dan anaknya, renjana atas musik itu menuntut pelepasannya. Adegan paling genius adalah ketika Binoche ada di kolam renang. Tak ada suara lain selain kecipak air ketika ia berenang, tetapi ketika ia naik ke permukaan, muncullah musik itu membahana—di dalam kepalanya. Serupa menerima wahyu.

Konflik Wage setelahnya sudah tidak melampaui Indonesia Raya itu. Itu adalah konsekuensi motif yang dibangun sineasnya sedari awal. Wage digambarkan sebagai seorang lelaki pengidap kompleks Oedipus dan tersedot oleh misteri maut yang dipetuahkan ibunya menjelang ia meninggal ketika Wage masih kanak-kanak. Saya menangkap kesan bahwa Wage adalah seorang nihilis cum pasifis. Maka tidak ada kerumitan apa pun saat ia diburu agen-agen PID (polisi rahasia Belanda), tidak ada kucing-kucingan yang menegangkan, karena Wage hanya nrimo. Maut adalah rindu dendamnya Wage. Kalau soal makin nelangsanya Wage gara-gara asmara, silakan baca tulisan Muhidin M. Dahlan soal itu, yang lebih informatif ketimbang film Wage yang setia soal ke-noir-annya. Gelap soal itu.

Dari film itu saya tidak tahu apa sakitnya Wage dan mengapa ia memilih pengobatan tradisional ketimbang pengobatan Barat, padahal kalau Anda tonton Red Beard (Akira Kurosawa, 1965) Anda bisa tahu bahwa pertarungan dua metode pengobatan itu bisa jadi menegangkan tanpa perlu embel-embel noir.

Seandainya istilah noir itu diganti dengan (teori) pascakolonial, sesungguhnya akan menjadi lebih terang duduk perkaranya. Bersimukanya Wage dan agen PID berdarah indo Fritz bukan barang baru apabila kita sudah membaca Rumah Kaca-nya Pramoedya Ananta Toer. Novel itu memiliki keunikan dibandingkan ketiga bagian tetralogi yang lain karena kali ini sudut pandang penceritanya bukan lagi Minke, tetapi Pangemanann. Wage dan Fritz adalah variasi Minke dan Pangemanann. Akan lebih ciamik jikalau John de Rantau juga memakai teknik perspektif yang serupa. Eh jangan keburu sok orisinal-lah, karena toh teknik itu pernah dengan sukses dipakai oleh Florian Henckel von Donnersmarck di tahun 2006 sewaktu membikin Das leben der Anderen (The Lives of Others) atau bahkan film 2016 kemarin: Neruda (Pablo Larrain). Pemburu Pablo Neruda adalah Kepala Polisi Investigasi Chile fasis Oscar Peluchonneau, yang diperankan oleh Gael Garcia Bernal. Mirip-mirip, kan? Tonton deh, sudah ada kok di situs torrent kesayangan kita semua (Seed please.).

Saya sih jadi menyayangkan potensi Rendra Bagus Pamungkas dan Teuku Rifnu Wikana yang sama-sama tangguh kualitas aktingnya. Adu akting keduanya dalam satu adegan interogasi yang panjang, ekstrem close-up, berdialog akas, tidak terwujud. Padahal, saya yakin, keduanya mampu menjalankan dengan gemilang tuntutan adegan sedemikian, jikalau ada. Karena begitulah salah satu pakem film noir klasik, satu ruang tertutup-kepulan asap rokok-satu bohlam lampu-bayangan-baku kata. Wage pribumi dan Fritz indo saling menginterogasi, mereka menginterogasi diri mereka masing-masing. Itulah poskolonial, itulah NOIR.

Comments

  1. abdul rozak Reply

    membuat sy ingin baca berulang uy , seru 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!