Yang Gugur di Kios Cukur

in Cerita Pendek by
videohive.net

MENONTON umat manusia yang tergesa-gesa berangkat kerja adalah sebetul-betulnya hiburan bagi kaum pengangguran. Setidaknya, hal ini diyakini dengan sungguh-sungguh oleh Trijoko. Meski menolak keras saat disebut sebagai pengangguran, Trijoko sedang dalam pengaruh kenikmatan semacam ini. Saat ini ia sedang berada di warung makan Nona Nina menikmati semangkuk rawon jahanam dan segelas teh pahit sembari sebentar-sebentar pandangannya menyapu jalan raya yang dipadati orang-orang yang bergegas mengais nafkah dan menuntut ilmu ke sekolah. Senyum Trijoko terbit dan terbenam bersamaan dengan tandasnya menu yang dipesannya.

Sebetulnya rawon Nona Nina sama dengan menu rawon di warung makan lain. Nama “jahanam” itu sendiri lahir lantaran kebijaksanaan Nona Nina yang memberi keleluasaan pada konsumennya untuk mengambil sendiri sambal sesuka hati. Apa pun itu yang namanya gratisan memang cenderung membuat manusia ugal-ugalan, termasuk sambal. Ulekan cabai merah senampan penuh yang disajikan Nona Nina mengundang nafsu serakah konsumennya. Mereka keranjingan prasmanan sambal sehingga kadang takaran sambal dan komposisi penyusun rawon tak lagi proporsional. Maka, mulas-mulas dan mencret-mencret menjadi ketetapan yang terberi. Itulah kenapa rawon di warung ini dinamakan rawon jahanam. Muasalnya tak jauh dari sifat serakah pengunjungnya sendiri. Inilah analisis yang menyembul di benak Trijoko setelah dengan khusyuk menandaskan rawon di hadapannya. Kiranya pilihannya minum teh pahit sebagai pendamping rawon sangat presisi. Teh pahit sudah dipercaya turun-temurun mampu mengobati mencret atau segala kriminalitas yang disebabkan lombok. Memang Trijoko belum menderita mencret, tetapi setidaknya ia telah melakukan langkah preventif. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Demikian imbau Trijoko kepada dirinya sendiri, sembari menafikan alasan awal dan utama bahwa dengan minum teh pahit ia lebih irit duit seribu perak ketimbang minum teh manis. Bagaimanapun juga Trijoko tetap memegang teguh ujaran almarhumah ibunya agar senantiasa bergaya hidup hemat.

Analisis mengenai fitrah keserakahan manusia itu terus membayangi langkah kaki Trijoko meski ia telah meninggalkan warung makan Nona Nina dan menuju kantor harian Gawokpos yang terletak tepat di seberangnya, yang dilihatnya telah buka. Trijoko sedang berpikir mengenai BPJS dan KIS. Meski tak sepenuhnya gratis, layanan kesehatan yang sangat longgar ini menjadikan masyarakat demen berobat. Bahkan, untuk penyakit sepele macam pilek, masuk angin, keringat buntet, atau penyakit kasta semenjana lainnya—yang dulu sembuh hanya dengan diminumi obat warungan atau dibiarkan pun akan sembuh dengan sendirinya saat masa kedaluwarsa penyakitnya jatuh tempo—orang-orang rela berbondong-bondong dan antre di puskesmas, klinik, atau rumah sakit. Trijoko dilanda keprihatinan yang mendalam. Tak seharusnya masyarakat negeri ini fanatik terhadap hal-hal yang bersifat gratis dan sebangsanya. Trijoko berjanji pada dirinya sendiri bahwa nanti ia akan menulis puisi kritis mengenai mental gratisan ini. Mental orang-orang macam ini kiranya perlu ditempeleng dengan puisi.

Trijoko adalah seorang penyair dan puisi adalah pertanggungjawaban moral dan profesionalnya terhadap masyarakat, agama, dan nusa bangsa. Perkara puisi ini pula yang membawanya menyambangi kantor harian Gawokpos sepagi itu. Trijoko ingin mengambil honor pemuatan puisinya. Seminggu yang lalu lima puisinya tentang bencana tsunami di Donggala dan Palu dimuat Gawokpos edisi Minggu. Perkara pemuatan ini adalah hal yang lumrah belaka, apalagi jika menimbang bahwa Trijoko adalah penyair asli kota Gawok. Yang istimewa adalah niatannya ketika menulis dan mengirimkan puisi-puisi itu. Trijoko bernazar bahwa kalau nanti puisi-puisinya dimuat, ia akan menyumbangkan separuh honornya untuk para korban tsunami. Dengan cara itu, Trijoko merasa merawat jiwa seniman dan kemanusiaannya. Ia tidak abai terhadap bencana. Ia bertindak dengan moda puisi. Puisi menjadi kerja nyata, honorlah wujudnya. Dengan ini pula, Trijoko setengah terbebas dari dosa mengambil royalti dari orang-orang mati.

Bagi Trijoko yang penyair, honor puisi adalah harga diri. Honor inilah yang membedakan statusnya yang budayawan dengan kaum pengangguran. Meski tidak tetap dan jumlahnya tidak besar, ia tetaplah insan yang berpenghasilan. Jelas berbeda dengan pengangguran yang nir pemasukan. Bagi Trijoko, penyair adalah pekerja mulia sekaligus perawat budi pekerti bangsa, sedangkan kaum pengangguran adalah setengah sampah bagi masyarakat, meski keduanya memiliki kenikmatan yang hampir sama yakni menonton golongan manusia yang tergesa-gesa berangkat kerja dan menjadikan jam kantor sebagai Tuhan digital.

Dengan penuh percaya diri, Trijoko memasuki kantor Gawokpos yang cukup megah. Satpam yang belum dikenalnya berdiri di pintu masuk. Perempuan tegap itu menyapanya dan melancarkan interogasi tipis-tipis, menanyakan keperluan Trijoko. Penampilan Trijoko yang nanggung antara nyeni dan kucel terselamatkan oleh kewibawaan suaranya yang dengan nada seperempat deklamasi berkata, “Mau ambil honor puisi.”

Sebetulnya Trijoko berharap agar satpam itu jadi sedikit lebih simpatik setelah mendengar jawabannya, tetapi ternyata anggapannya meleset. Satpam itu tetap dengan kesopanannya yang tegas dan di benak Trijoko melintas begitu saja frasa “robot gedek” untuk menyebut kekakuan satpam itu. Trijoko diminta mengisi buku tamu sebelum masuk kantor. Satpam itu membaca tulisan tangan Trijoko yang serupa kaligrafi morse lalu dengan datar menanyakan kepanjangan dari huruf RK di depan nama Trijoko. Setelah satu setengah detik menggaruk-garuk dagunya yang ditumbuhi jenggot pendek-pendek dan jarang-jarang, Trijoko menerangkan kepanjangan nama penanya itu, “RK adalah singkatan dari Raden Kencana.”

Dengan langkah terjaga seorang penyair elegan, Trijoko melewati satpam itu dan menuju barikade kedua, Wiwik Sagita, sang resepsionis. Keduanya sudah beberapa kali bertatap muka. Wiwik Sagita seperti sudah paham maksud kedatangan Trijoko dan tampaknya ia tak ingin berurusan lebih jauh dengan Trijoko, “Mau ambil honor kan, Mas? Langsung saja ke bagian administrasi.”

Trijoko cuma mengangguk kecil dan melemparkan senyum receh ke arah Wiwik Sagita lalu melangkah dengan memasukkan kedua telapak tangannya ke saku jaket kulit keramatnya. Barikade kedua dilalui tanpa kendala.

Dengan birama tiga per empat, Trijoko mengetuk pintu ruang administrasi. Begitu mendengar jawaban, Trijoko langsung masuk. Brodin, staf administrasi yang mengurusi honor penulis menyambutnya dengan ketaatan khas seorang penggemar, “Wah Mas Joko, kok repot-repot datang kemari, padahal rencananya siang nanti mau aku transfer honornya.”

“Tidak apa-apa. Sekalian aku jalan-jalan. Cari inspirasi sekaligus olahraga.”

“Oh, kebetulan sekali kalau begitu, Mas. Tolong koran saya ini ditandatangani, ya.”

Brodin menyerahkan koran Gawokpos edisi Minggu yang memuat puisi-puisi tsunami Trijoko. Dengan dingin, Trijoko menerimanya kemudian tangannya kembali masuk ke jaket kulitnya dan mengambil pulpen yang diselipkannya di kerah kaus oblongnya. Ke mana-mana Trijoko memang selalu membawa pulpen, dan juga lipatan kertas kosong. Ia selalu mengantisipasi datangnya ide yang serba tak pasti dan tiba-tiba. Trijoko merasa perlu untuk mengawetkan ide itu dengan segera mencatatnya dan akan mengeksekusinya setibanya di rumah. Pencatatan manual macam ini dirasa Trijoko lebih bertuah dan klasik ketimbang harus menuliskannya pada ponsel. Perilaku Brodin dengan sendirinya terantisipasi oleh Trijoko. Brodin tentu bukan orang pertama yang sebagai penggemar meminta tanda tangan dadakan kepada penyair idolanya. Trijoko sering menghadapi penggemar kagetan macam ini. Maka, Trijoko selalu sedia pulpen karena ia yakin bahwa penggemarnya yang tersebar di penjuru kota ini tak bisa disangka-sangka kedatangannya. Bagi penyair sekelas Trijoko, datangnya penggemar itu sama misteriusnya dengan ide.

Setelah menandatangani puisi-puisinya di koran, Trijoko ganti menandatangani kuitansi honor menggunakan pulpen yang disodorkan Brodin. Ia tak ingin pulpen miliknya ternodai oleh hal-hal yang tidak sastrawi. Nominal di kuitansi itu tak berubah, sama seperti saat sepuluh tahun yang lalu puisinya pertama kali dimuat. Honornya tetap seratus ribu rupiah potong pajak lima persen. Tanpa diminta, karena sudah hafal, Trijoko mengulurkan uang lima ribu—kembalian pasnya dari warung Nona Nina sekaligus seluruh harta yang melekat pada dirinya saat itu—kepada Brodin.

“Pajak kubayar di muka,” kata Trijoko dengan nada pembacaan pantun kewiraan yang simpatik.

Brodin tersenyum kagum, dan di hadapan Trijoko, ia masukkan dua lembaran biru ke amplop dan menyerahkannya kepada Trijoko. “Pas sekali, lima puluh ribu buat donasi korban tsunami di Donggala dan Palu, lima puluh ribunya lagi buat diriku,” batin Trijoko.

Dengan sok tak acuh dan tak butuh, Trijoko menerima amplop itu lalu memasukkannya ke saku samping kanan celananya. Trijoko dan Brodin kemudian berjabat tangan. Posisi keduanya tak berubah, tetap idola dan penggemarnya.

Masih dengan berjalan kaki, Trijoko lalu menuju kios cukur Agung Juanda yang jaraknya sekitar satu kilometer dari kantor harian Gawokpos. Dendam yang terpendam harus dituntaskan. Agung Juanda adalah tukang cukur langganan Trijoko. Pria berusia seperempat abad yang lebih muda sepuluh tahun dibandingkan Trijoko itu adalah blasteran Betro dan Bekonang. Untuk menghormati almarhumah ayahnya yang asli Betro dan sangat menggemari pesawat terbang, pria dengan rambut panjang dikelabang rapi itu menggunakan nama bandara yang letaknya cuma delapan puluh kali lemparan granat dari rumahnya menjadi nama belakang profesionalnya. Nama lengkap aslinya sendiri adalah Agung Tinggal Landas. Adapun julukannya adalah Agung Si Jemari Lincah yang mengacu pada keterampilan mencukurnya yang cepat dengan hasil yang kerap mengundang decak kagum. Agung Juanda yang lulusan kursus Tiga Hari Bisa 1001 Model Rambut Salon Rudy Hartono Forehand pernah menjadi kampiun tiga kali berturut-turut dalam turnamen cukur rambut Wani Modis, perlombaan cukur rambut indie paling bergengsi se-eks karisidenan Gawok.

Trijoko menyebut kunjungannya ini sebagai pembalasan dendam karena sebulan yang lalu ia pernah mendatangi kios cukur ini dan harus pulang dengan tangan hampa, dalam artian tidak ada sehelai rambut pun yang gugur dari kepalanya. Permintaannya akan model cukuran rambut batok kelapa seperti Sammo Hung dalam film Dragons Forever dimentahkan oleh Agung Juanda. Pasalnya, rambut Trijoko saat itu kurang panjang untuk model rambut yang diinginkannya. Menurut analisis singkat Agung Juanda, bilapun nanti dipaksakan, hasilnya tidak akan maksimal. Yang tercipta justru model cukuran rambut batok mini atau malah batok cuil yang sangat tidak matching dengan wajah Trijoko yang cenderung angker dan serius. Sebagai obat kecewa, Agung Juanda menawarkan minyak sari kemiri hasil racikannya sendiri untuk mempercepat pertumbuhan rambut Trijoko dan meminta Trijoko mengunjunginya lagi satu bulan kemudian. Dengan berat hati karena saat itu duitnya mepet, dan sebenarnya memang selalu begitu, Trijoko menebus minyak rambut itu.

“Niat hati pengen cukur kok malah pulang bawa minyak penumbuh rambut? Dasar jangkrik balap!” maki Trijoko dalam hati saat hengkang dari kios cukur Agung Juanda. Ia merasa terhipnotis sehingga termakan bujuk rayu bibir lamis Agung Juanda. Sementara, tukang cukur itu sendiri memperoleh kembali kepercayaan dirinya sebagai sales karena setelah puluhan kali menawarkan minyak kemiri itu kepada pelanggannya, akhirnya ada juga yang membelinya. Dan, insan terpilih untuk menguatkan kembali jiwa marketingnya itu tak tangung-tanggung adalah penyair terhebat di kota itu, RK Trijoko.

Adapun minyak rambut itu memang berkhasiat. Buktinya sebulan setelah datang kembali ke kios cukur itu, Trijoko sudah mirip Bret Michaels, vokalis Poison di masa gondrongnya. Meskipun demikian, Trijoko tetep kekeh dengan niatan awalnya yakni model rambut ala Sammo Hung, idolanya semasa kanak-kanak.

Kios cukur merakyat milik Agung Juanda di pinggir Jalan Kenangan Manis itu baru saja buka. Sudah ada satu orang yang duduk di kursi cukur dan satu orang duduk di kursi tunggu. Trijoko masuk kios tanpa suara meski dia bisa membaca stiker yang terpampang cukup besar di jendela dekat pintu masuk yang bertuliskan: Jangan Masuk Sebelum Salam. Trijoko lalu duduk di sebelah kiri pelanggan yang antre dan langsung menyabet tabloid khusus ponsel yang sudah kedaluarsa setengah tahun. Sembari menunggu giliran, Trijoko melarutkan diri membaca rubrik konsultasi ponsel di tabloid itu.

“Padahal rambut saya masih belum gondrong, tapi sudah disuruh cukur sama ibunya anak-anak. Katanya, rambut saya sudah mirip buronan,” ucap lelaki sepuh di kursi cukur mencairkan suasana. Agung Juanda menimpalinya. Obrolan itu kemudian melibatkan orang di samping Trijoko yang menurut sadapan telinganya adalah pensiunan PNS, sedangkan si kakek sendiri sudah tidak bekerja karena tulangnya terlalu payah untuk diajak mencari nafkah. Trijoko sendiri lebih memilih asyik masyuk melihat daftar harga-harga ponsel di tabloid itu sembari mengira-ngira seberapa tinggi terbantingnya harga ponsel-ponsel itu saat ini. Trijoko enggan untuk ikut masuk ke gelanggang percakapan. Tabloid yang dibaca Trijoko sedikit diturunkan ketika kakek itu selesai dicukur. Agung Juanda membantunya turun dari kursi dan mengambilkan tongkat kakek itu. Dengan tangan gemetar, kakek itu menyerahkan lembaran uang lima ribuan kepada Agung Juanda.

“Mohon maaf, Dik, uang yang Kakek punya cuma segini,” kata kakek itu sembari menatap tulisan di cermin besar di hadapannya: Tarif Normal 10 Ribu, Cukur Jenggot 3 Ribu.

Agung Juanda dengan senyum kemayu menerima uang itu. “Tidak apa-apa, Kek. Anggap saja ini pelarisan dari pelanggan pertama. Buka rezeki. Berkah ya, Kek.”

Kakek itu dengan tertatih-tatih keluar kios cukur dengan dibantu Agung Juanda. Menurut keterangan Agung Juanda, kakek itu adalah warga sekitar. Peristiwa singkat itu cukup menggetarkan hati Trijoko dan seperti menjadi titik irisan antara garis naluri seniman dan kemanusiaannya. Sebuah ide melintas gemilang di hadapannya. Dengan sigap ia meletakkan tabloid dan mengambil kertas dan pulpen. Saat itu juga ia menulis sebuah puisi dengan judul Yang Gugur di Kios Cukur. Puisi itu adalah potret sederhana dari peristiwa yang baru saja disaksikannya dan mencerminkan bagaimana kebaikan dan rasa kemanusiaan berkolaborasi mengatasi kemelaratan. Ketika menulis bait-bait puisi epik itu, keharuan habis-habisan menyergap batin Trijoko. Ia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh saat menulis puisi itu. Segalanya terasa sangat proletar, puitis, dan filmis. Pikir Trijoko, puisi ini akan menjadi salah satu mahakaryanya dan akan terus dikenang dan dibaca ulang meski Trijoko telah lama berpulang.

Dalam kesyahduannya menulis puisi, Trijoko sayup-sayup masih mendengar obrolan antara pensiunan PNS itu dan Agung Juanda. Obrolan itu serupa musik latar bagi penciptaan mahakaryanya. Tepat ketika Agung Juanda melakukan kerokan terakhir di tengkuk bapak itu dengan menggunakan silet, selesai pula puisi Trijoko. Mahakarya telah tercipta. Trijoko menghirup udara dalam-dalam, menahannya sejenak, kemudian mengembuskannya pelan-pelan. Itulah ritual khasnya setelah merampungkan sebuah puisi. Alam raya beserta segenap isinya mendukung penciptaan itu sehingga ia perlu berterima kasih dan mengheningkan cipta sejenak. Kelegaan batin atawa katarsis menyelubungi dirinya. Mata Trijoko jadi lebih berbinar dan tubuhnya terasa lebih ringan.

Setelah tengkuk dan lehernya ditaburi bedak dan kain penutupnya dibuka oleh Agung Juanda, pensiunan PNS itu mengulurkan selembar uang lima puluh ribuan. Ketika Agung Juanda hendak memberi kembalian, dengan cepat bapak itu mengangkat tangan menghentikannya. “Tidak usah dikasih kembalian. Simpan kembaliannya untuk ongkos cukur orang-orang seperti kakek tadi.”

Agung Juanda tersenyum haru. Matanya berkaca-kaca. Trijoko juga ikut tersenyum oleh kemurahan hati pensiunan PNS itu. Semerbak persaudaraan menguar tajam di kios cukur itu. Agung Juanda menjabat tangan bapak itu dan mendoakannya. Sementara, Trijoko menganggukkan kepala sebagai tanda hormat kepada pensiunan PNS itu ketika berpamitan. Trijoko kian percaya bahwa segala kenistaan telah gugur di kios cukur itu. Kebaikan tumbuh makin subur dan ia dapat mengendus aromanya yang meresap hingga ke sumsum. Ide-ide tentang jalinan kebaikan berduyun-duyun mendatangi Trijoko. Semua ide itu bisa dimekarkan menjadi puisi yang memotivasi para pembacanya untuk berbuat baik. Puisi-puisi itu pastinya sarat pesan moral yang akan memperkuat karakter bangsa ini. Namun, Trijoko harus menunda dulu menuliskannya karena kini ia harus menuntaskan dendamnya terhadap Agung Juanda. Kursi cukur itulah medan laganya.

“Manjur kan minyak kemirinya?” tanya Agung Juanda penuh kebanggaan.

“Lumayanlah.”

“Masih mau potongan batok model Sammo Hung?”

“Tentu saja.”

Tanpa banyak cakap, Agung Juanda segera bekerja. Tak sampai hitungan menit rambut gondrong Trijoko sudah banyak yang terkepras. Kalau Agung Juanda bekerja dengan tangannya, Trijoko mengimbanginya dengan mulutnya. Dengan intonasi seorang penyiar radio kawakan, Trijoko memberi tausiah gratis yang secara garis besar bertema “kebaikan-kebaikan yang dikorupsi oleh syahwat politik” kepada Agung Juanda. Dikatakan tausiah karena memang komunikasi ini berjalan searah. Agung Juanda terus bekerja dalam sunyi sedangkan Trijoko tak henti memborbardirnya dengan kata-kata beramunisi petuah bijak dalam rangka menghadapi pilpres. Sesungguhnya Agung Juanda merasa jengah, tetapi ia sungkan menghentikan tausiah Trijoko. Yang terpikir olehnya untuk meredam tausiah Trijoko adalah dengan menyetel musik. Dengan sopan, ia meminta izin kepada Trijoko untuk menghidupkan minicomponya. Dan segeralah mengudara intro ganas lagu Bom Nuklir dari Nasida Ria.

Bila bom nuklir diledakkan, akan musnah kehidupan di bumi….

Barangkali Agung Juanda saat itu mengibaratkan bahwa guntingnya adalah bom nuklir sedangkan kepala Trijoko adalah bumi untuk menandakan kerusuhan perasaannya atas tausiah Trijoko yang bahkan tak berhenti meski Nasida Ria sudah berganti lagu menjadi Keadilan. Namun, apa pun yang dilakukan pelanggannya, Agung Juanda tetap harus profesional. Muruah tukang cukur teladan harus tetap ia jaga sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya. Tepat lagu keempat Nasida Ria yang berjudul Tabah, Agung Juanda selesai melaksanakan jihadnya. Dengan itu pula, selesailah tausiah dari Trijoko.

Trijoko menatap cermin agak lama. Ia cermati penampakannya kini yang tidak familier. Dalam hati, ia menilai kinerja Agung Juanda. Trijoko mendesah agak kecewa karena merasa penampakannya tidak mirip Sammo Hung, tetapi lebih mirip Kak Seto. Akan tetapi, tak apalah karena kalau ia protes, bisa-bisa Agung Juanda akan menawarinya lagi sari minyak kemiri. Dan kemungkinan besar, ia akan sulit menolaknya dan anggarannya akan membengkak pula. Menerima model potongan itu dengan pasrah kiranya adalah langkah yang tepat. Lagi pula, Trijoko merasa wajahnya lumayan cocok dengan potongan rambut model Kak Seto. Aura sayang anak memancar terang dari dirinya. Jadi secara global, Trijoko tetap merasa puas dengan model rambut barunya itu.

Setelah kain penutup dilepas, Trijoko segera merogoh saku kanannya, tetapi raut terkejut justru meronai wajahnya. Amplop honor dari Gawokpos tidak ada di saku celananya. Ia periksa sekali lagi, tetapi tetap nihil hasil. Agung Juanda yang melihat gelagat itu terpahamkan dengan segera.

“Sudah… sudah… kalau tak bawa uang, pakai uang derma dari bapak tadi saja.”

“Aku bawa uang, honor puisiku dari Gawokpos.”

“Betulan, tidak apa-apa. Pakai uang ini saja.”

Harga diri Trijoko terasa terkoyak, tetapi mau bagaimana lagi. Kenyataannya amplop honor di sakunya telah raib tanpa jejak. Mau tak mau ia menjadi orang pertama yang memanfaatkan kemurahan hati pensiunan PNS tadi. Dengan kombinasi ganjil rasa rikuh dan sungkan, Trijoko berterima kasih kepada Agung Juanda.

Agung Juanda membalas ucapan terima kasih itu dengan tatapan penuh pengampunan sekaligus pengasih lagi penyayang, “Sama-sama. Kalau Mas Penyair nanti sore mau cukur rambut lagi di sini juga boleh. Gratis.”

“Jembut kelabang!” rutuk Trijoko dalam hati.

Dengan berang Trijoko keluar dari kios cukur. Baru tiga langkah, ia menghentikan laku. Kaki Trijoko menginjak remasan kertas. Ia ambil remasan kertas itu dan menjerengnya. Raut terkejut mampir untuk kedua kalinya di wajahnya. Remasan kertas itu ternyata adalah amplop dengan cap Gawokpos. Tiba-tiba Trijoko teringat pada pensiunan PNS dengan uang lima puluh ribu itu berikut derma dan kemurahan hatinya, serta segala kebaikan yang tumpah ruah di kios cukur itu.

“Copet asu!”

Trijoko meremas lagi amplop itu dengan kekuatan penuh hingga menyerupai bola kertas kecil lalu menendangnya. Remasan amplop itu menggelinding ke jalan dan segera dimangsa roda-roda yang melintas. Mata Trijoko menatap sayu kertas yang telah pipih itu. Ia meraba saku jaket kulitnya yang menyimpan puisi yang baru saja ditulisnya serta teringat Donggala dan Palu. Ia merasa hatinya sungguh pilu.

Solo, 2018

Gunawan Tri Atmodjo

Gunawan Tri Atmodjo

lahir di Solo, 1 Mei 1982. Alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta, Program Studi Sastra Indonesia. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Majalah Esquire, Majalah Basis, Majalah Kartini, dan lain-lain. Buku kumpulan cerpen tunggalnya bertajuk Sebuah Kecelakaan Suci (Jagat Abjad, 2013) dan Sundari Keranjingan Puisi (Marjin Kiri, 2015).
Saat ini tinggal di Solo dan bekerja sebagai editor buku pelajaran.
Gunawan Tri Atmodjo

Latest posts by Gunawan Tri Atmodjo (see all)

6 Comments

  1. Wah hampir mirip dengan cerita uang kencleng mesjid itu ya hehe…

    Tapi terimakasih banyak, saya menikmati karyamu mas. Saya termasuk orang yang gak suka baca. Tapi gak tau kenapa, tulisan yang (menurut saya) panjang banget ini bisa saya lahap habis. 🙂

  2. baru kali ini saya membaca novel tuntas tanpa skip paragrafnya. jalan ceritanya sangat menarik dan jujur penggunaan bahasa dan kalimatnya luar biasa. cerpennya wagelaseh……terimakasih telah menginspirasi saya menulis cerpen lagi. salam perkenalan dari saya (herdiansyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published.