Yang Meronta dalam Sangkar

 

Judul               : Aviarium: Sejumlah Puisi

Penulis             : Hasan Aspahani

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : Pertama, 2019

Tebal               : ix + 76 hlm.

ISBN               : 978-602-06-2384-9

Kal-El, atau yang kemudian dikenal sebagai Superman, bukan satu-satunya yang selamat dari kehancuran Planet Krypton. Sebuah kota menghilang, atau tepatnya dicuri oleh penjahat super bernama Brainiac, beberapa tahun sebelum Krypton hancur. Kota itu bernama Kandor, yang dulu sempat menjadi kota penting di Krypton. Brainiac yang terobsesi dengan pengetahuan semesta menciutkan kota itu menjadi miniatur, kemudian mencurinya—meski dalam perspektif tertentu juga berarti “menyelamatkannya”. Kota menyusut dan terjebak dalam botol—itulah mengapa muncul sebutan The Bottle City of Kandor. Namun, kota masih utuh. Warga tetap hidup dan menjalani keseharian, meski sadar ada batas yang tak dapat mereka lampaui. Warga kandor seperti burung dalam aviarium.

Jika kita saling bernaung di bawah bayang-bayang kita sendiri/ siapa yang harus terbang lebih tinggi di ruang terkurung ini? Begitu bait pertama puisi Hasan Aspahani, “Aviarium”, yang terhimpun dalam buku kumpulan puisi berjudul sama. Warga Kandor tak berdaya, sekadar menyadari diri bukan apa-apa dalam sangkarnya. Siapa yang harus terbang lebih tinggi? Maka muncullah pahlawan. Nightwing dan Flamebird melegenda: yang terbang dan meronta dalam sangkar. Namun, Hasan menulis, Angkasa: sangkar raksasa, tak terpeluk dengan sayap sebentang. Kandor tetap dalam sangkar, langitnya tak terlampaui bentang sayap apa pun. Bahkan pahlawan hanya meronta dalam sangkar, tak sanggup lepas. Dunia: sarang besar, kita berdekapan, tak akan habis kehangatan.

Apakah hidup dalam sangkar, menyadari batas, serta-merta patut menjadikan diri pasrah tanpa tindakan apa pun? Hasan nyatanya memulai Aviarium (2019) dengan puisi “Pamflet untuk Sebuah Aksi (atau: Kita Harus Berteriak dengan Mulut Kita Sendiri)”. Hasan menulis, Kita harus ke jalan dan berteriak dengan mulut kita sendiri/ … / bahwa suara rakyat adalah suara dari Tuhan yang diam. Hasan meminjam ungkapan Latin yang terkenal itu: vox populi, vox dei. Kehendak rakyat seakan-akan kehendak Tuhan, yang berarti tidak boleh dikompromikan dengan apa dan siapa pun. Sebagai orang yang selalu kalah/ … // Kita punya banyak alasan untuk selalu marah/ Karena itu kita harus turun ke jalan.

Rupanya rakyat tidak perlu pahlawan. Rakyat tidak membutuhkan mereka yang terbang sendirian di ketinggian tetapi merasa mewakili rakyat di bawah sana. Nanti kita akan lewat di gedung Dewan Perwakilan Rakyat/ tak usah singgah, mereka tidak ada di sana/ mereka sedang reses/ mereka sedang sembunyi di ruang rapat hotel yang sejuk/ mengatur siasat tentang apa yang bisa dimanfaatkan/ dari teriakan kita di jalan/ …// Mereka ingin nanti teriakan itu menjadi suara/ yang mengantarkan mereka kembali duduk di kursi malas/ di ruang-ruang rapat yang senyap-sunyi itu. Seperti Wiji Thukul, Hasan secara lugas dan terang-terangan menyuarakan kritik terhadap kekuasaan lewat puisinya.

Kekuasaan itu berpusat di kota bernama Jakarta. Hasan mungkin tak memikirkan Kandor—apalah arti kota fiksi itu, tetapi pasti Hasan memikirkan Jakarta. Dalam puisi “Apa Agamamu, Jakarta?”, Hasan menulis, Mungkin, Jakarta tetap akan mencoba/ mengingat-ingat, nama-nama pahlawan dan jalan/ peta jalur trem, dan rumah-rumah dengan trotoar dan taman/ juga spanduk besar pengajian, dengan gambar ustaz, habib, dan imam// Mungkin, Jakarta tetap akan mencoba/ mengingat-ingat, sungai yang dangkal dan seseorang berkata,/ “bagaimana kau bisa berkaca di permukaan kotor itu?”// Padahal, kata Jakarta, itulah wajahmu dan wajahku, wajah kita itu.

Jakarta lalu Hasan jelmakan seseorang yang berjalan ke tempat pemungutan suara dan mendapati di daftar pemilih namanya tiada. Maka, ia kembali, Melewati Monas dan Gambir, Merdeka Selatan/ dan Teuku Umar, tak menghindar dari/ siapa saja yang mungkin akan bertanya,/ “apa agamamu, Jakarta?” Agama Jakarta tidak lantas terang. Hasan membiarkan pertanyaan mengambang. Entah apakah Jakarta punya agama atau tidak? Agama mana yang dipeluknya? Apakah agama masih dalam dirinya atau sudah dijual ke mana-mana? Hasan tentu mafhum betapa pemungutan suara menaruh agama di etalase toko, warung, bahkan pedagang asongan.

Hasan pun menulis puisi “Tentang Seseorang yang Berjualan Agama”: Bisa kita omong-omong lagi? Sejenak duduk di perpustakaan,/ atau di bangku taman, sebagai teman lama, teman sekegalauan. Puisi Hasan berbau rindu, tetapi bersambut sambat. Ia melanjutkan, Dia pandangi aku seperti penceramah menemukan jemaah/ sesat, terasing dari lembaran kitab, seorang umat kehilangan. Puisi Hasan sampai pada pertanyaan, Lalu apa yang bisa kau beli, setelah kau jual juga agamamu? Melihat Jakarta, bahkan Indonesia, jawabannya mudah ditebak: kekuasaan—yang tentu juga akan melancarkan jalan menuju kekayaan.

Barangkali, Hasan ingin menyiratkan bahwa rakyat masih terjebak di aviarium. Namun, rakyat bukanlah burung-burung yang sanggup terbang menyentuh ketinggian paling ujung, sekalipun tak akan melampauinya. Rakyat hanya sanggup berjalan, turun ke jalan, berteriak dengan suaranya sendiri, sekencang-kencangnya. Harapannya, seperti dalam novela Jose Saramago, Dongeng Pulau Tak Dikenal (2019), suara-suara yang kencang dan sangat “mengganggu” pasti akan didengarkan oleh kekuasaan. Sayangnya, adakah suara-suara dari aviarium selain kicau burung-burung, yang didengar sebagai hiburan belaka dan tak pernah diambil pusing? Barangkali, di hadapan kekuasaan, suara rakyat sekadar kicau burung itu. []

Udji Kayang Aditya Supriyanto
Follow Me
Latest posts by Udji Kayang Aditya Supriyanto (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.