
Kereta bergerak lambat ke luar stasiun. Sukarsono terpaku di kursi tunggu, dikepung keramaian. Dia memasukkan tangannya ke dalam tas kecil di atas paha, meraih ponsel yang sedari tadi dia matikan. Tak didapati lagi kabar yang membuatnya merasa kehilangan hak atas dirinya sendiri. Sudah beberapa bulan dia bisa bernapas lega. Dia bisa menikmati kemerdekaan dirinya. Dia berdaulat atas semua hasil jerih-payah yang ditempuh selama bertahun-tahun. Kini dia bisa terbang lebih tinggi tanpa belenggu apa pun yang memberatkan kepalanya setiap saat.
Kemarin siang, dia menerima surat pengangkatan sebagai staf manajer di kantor pusat. Dia harus meninggalkan indekos lamanya yang sudah dihuni selama tiga tahun lebih. Selama ini dia seperti orang setengah hidup yang tak bergerak ke mana-mana. Dia bekerja di bidang pemasaran dan selalu berada dalam ancaman pemecatan ketika kinerja tak sesuai target pencapaian. Setiap minggu dia selalu mendapatkan pesan WhatsApp dari kampung bahwa ibunya butuh ini, bapak butuh itu, adik mau bayar ini, kakak butuh modal usaha itu, dan seterusnya.
Kini pesan-pesan itu sudah tak ada lagi. Dia akan terbang lebih jauh mengejar kariernya. Layar ponsel itu hanya menampilkan kekosongan. Dia masuk ke dalam ruang perasaan yang tampak gelap, tanpa lampu, tanpa pintu, dan tanpa tongkat untuk meraba-raba. Apakah ada yang salah dengan perasaannya? Apakah dia terlalu kejam dan terlalu memanjakan ego?
*
Sukarsono tidak terima jika ada bisikan samar dari relung terdalamnya bahwa dia bersalah atas tindakannya. Dia menuduh bahwa sistem yang terbentuk di keluarganya adalah sistem yang bermasalah. Janggal. Aneh. Setidaknya menurut dirinya. Ibu, ayah, adik-adik, dan kakak perempuannya seolah berjalan menuju ke sebuah mekanisme satu arah: Sukarsono dibentuk menjadi pabrik uang, mereka diposisikan sebagai konsumen. Mereka menikmati apa pun yang dihasilkan olehnya. Tak ada kepedulian untuk menanyakan kabar, tidak ada perhatian untuk sekadar basa-basi tentang dirinya: apakah stres, remuk, atau babak-belur?
Dia teringat pada suatu magrib saat sedang lembur akhir bulan. Ada panggilan tak terjawab secara bertumpuk dari ayahnya. Dia mengabaikan panggilan itu lantaran target pencapaian masih kurang tipis. Dia harus menelepon satu per satu nasabah yang menunggak beberapa bulan untuk mengejar target pendapatan kantor. Dia mendapati pesan beruntun:
Karsono! Angkat telepon Bapak!
Dia harus fokus pada beberapa nama yang masih perlu sentuhan. Dia abaikan pesan itu. Tak beberapa lama, ada pesan lagi, beruntun:
Kalau sudah gajian, cepat transfer uang!
Mau bayar tagihan listrik!
Mau bayar utang arisan!
Mau bayar tagihan pinjaman online!
Sukarsono segera menutup pesan itu. Dia menarik napas dalam-dalam, mengembalikan fokus pada beberapa kontak yang dari tadi tidak aktif. Namun, pesan itu selalu menyela perhatiannya. Dia mulai berpikir, apakah keadaan ini wajar dan layak diterima dan dibiarkan terus mengikat hidupnya? Puluhan rencana dan keinginan pribadi harus dia kubur begitu saja. Bangunan megah tentang mimpi masa depan telah hancur untuk memenuhi permintaan-permintaan mereka.
Bahkan dua tahun lalu, di sebuah kafe kecil, Sukaesi, satu-satunya rencana mahligai rumah tangga, pernah memegang tangannya dan berkata, “Aku lelah hanya jadi prioritas ke sekian dalam hidupmu, Karsono!” Wajah yang biasanya cerah seperti bulan purnama, saat itu tampak keruh. “Setiap kali kita merencanakan sesuatu, selalu ada ‘tapi’ dari keluargamu.”
Tekanan perasaan dalam diri perempuan itu menjadi tumpukan energi yang telah tiba saatnya meledakkan diri. Sementara Sukarsono hanya bisa menyuguhkan janji. “Tunggu adikku sudah sukses.” “Tunggu aku kalau sudah bisa membahagiakan Bapak Ibu.” Janji yang memuakkan.
Sukarsono masih ingat betul bagaimana dinginnya gelas kopi di tangannya ketika Sukaesi mengembalikan cincin tunangan itu. “Aku tidak mau jadi istri yang hanya menunggu sisa rezekimu setelah semua orang dilayani.”
Ponsel di sakunya bergetar saat itu. Ibunya menelepon—pasti soal uang lagi. Dan ketika dia akhirnya mengangkat, Sukaesi sudah pergi, meninggalkan bayangan diri yang hancur di kaca jendela kafe. Tiang harapan itu telah hilang dan hingga kini tidak tahu lagi sampai kapan Sukarsono harus terkatung-katung dalam kesendirian.
*
Sejak merantau, Sukarsono seperti mesin yang tidak boleh lelah apalagi mati. Dia mengemban semacam kutukan sebagai anak laki-laki pertama. Dia selalu digadang-gadang sebagai calon tulang punggung keluarga. Hal itu tertanam di hati terdalam sejak masih kanak-kanak, dan Sukarsono menerimanya sebagai takdir yang tak bisa dibantah, bahkan hingga dewasa, ketika lelah selalu menghantui semangat hidupnya. Dia masih menanggung beban bahwa dia harus mampu mengantarkan adik-adiknya menuju cita-cita yang tinggi dan harus mampu menjadi simbol kebanggaan keluarga.
Mula-mula dia bangga menyandang status itu. Pertama kali mengirim uang untuk SPP adiknya, dia merasa bak pahlawan yang telah menunaikan sebuah tugas mulia. Perasaannya melayang-layang di ruang angan. Dia membayangkan sebuah masa depan cerah yang akan dialami oleh keluarganya; adik yang patuh pada dirinya lantaran jasanya; kakak perempuan yang bangga padanya lantaran telah membantu kesuksesan bisnisnya; orang tua yang mengelu-elukannya sebagai pahlawan keluarga.
Kebanggaan itu berubah menjadi kekhawatiran manakala Sulastri, kakak perempuannya merengek-rengek meminta bantuan uang untuk membayar cicilan pinjaman online yang sudah menunggak berbulan-bulan. Sukarsono berusaha mengambil bon di kantor dengan perjanjian potong gaji.
*
Waktu pemberangkatan setengah jam lagi. Makin mendekatkan pada kenyataan bahwa dia akan benar-benar melejit jauh dalam kariernya. Tapi jarum waktu seolah menancap di nadi, menyedot perasaan yang sejak pagi dipaksanya untuk tetap tenang. Dia melirik papan informasi keberangkatan, memastikan nomor kereta dan jalur. Semua sesuai. Dia kembali duduk. Menghela napas. Ponsel masih di tangan, layar tetap kosong. Tak ada suara, tak ada pesan.
“Mas, maaf, ini kosong?” Suara perempuan muda, mungkin sekitar usia kuliah, menunjuk kursi sebelahnya.
Sukarsono mengangguk pelan. Perempuan itu duduk, lalu membuka novel tipis dari totebag-nya. Sementara itu, Sukarsono kembali ke pikirannya yang gelap, semacam kubangan perenungan tanpa dasar.
Dia ingat malam ketika adik bungsunya, Sugiarto, meneleponnya sambil menangis. Suara Sugi tak seperti biasanya. Patah. Lirih. Seperti seorang anak yang baru saja menyaksikan rumahnya terbakar. “Mas, aku pinjam ke pinjol. Awalnya cuma lima ratus. Sekarang jadi tiga juta. Aku bingung. Kalau tidak dibayar malam ini, mereka mau sebar foto-fotoku ke media sosial.”
Waktu itu Sukarsono sedang makan siang bersama manajer pemasaran regional. Suatu momentum penting untuk membahas promosi jangka menengah. Tapi kalimat-kalimat Sugi mengguncang pikirannya. Dia beranjak dari restoran dan pergi ke ATM terdekat. Tiga juta dia transfer dalam tempo sepuluh menit. Uang tabungan bulan itu habis seketika.
Beberapa bulan kemudian, Sugi kembali. Kali ini dengan nada yang lebih putus asa. “Mas, aku nyoba judi bola online. Aku kira bisa cepat balik modal. Tapi malah tambah kacau. Aku pinjam pakai data orang, sekarang ditagih. Mas, tolong aku. Kalau ketahuan, aku bisa di-DO dari kampus.”
Sukarsono waktu itu sedang sakit flu berat. Hari itu dia absen kerja. Namun, telepon itu menghanguskan waktu istirahatnya. Dia rebah dengan mata terbuka. Dunia terasa menjulur, menjebaknya dalam jerat yang tak kelihatan. Lagi-lagi dia menyerah, mengirim uang dengan hati yang perih.
Pikiran itu tergantikan oleh ingatan tentang Sulastri, kakaknya. Seorang ibu dengan dua anak yang katanya sedang butuh modal jualan makanan beku. Katanya, perempuan itu ingin bangkit setelah beberapa waktu sebelumnya tertatih-tatih menyelesaikan tanggungan pinjaman online. “Cuma sepuluh juta, Son. Nanti aku cicil. Demi anak-anak juga. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu.”
Sukarsono menuruti. Tapi dua bulan kemudian, Sulastri kembali meminta bantuan. Kali ini bukan lagi soal usaha, tapi cicilan motor yang terancam ditarik leasing. “Kalau sampai ditarik, aku mau kerja pakai apa, Son? Nanti anak-anakku sekolahnya bagaimana?”
Dia sadar, semua itu membentuk pola. Sebuah sistem. Seolah ada mekanisme bawah sadar di antara mereka: begitu dia menghasilkan uang, maka semua persoalan keluarga harus bisa dia selesaikan. Namun yang paling membuatnya tercekat adalah ketika ibunya mengucapkan kalimat itu: “Kamu itu hidup buat keluarga. Kalau bukan kamu, siapa lagi? Memang kamu pikir bisa bahagia sendiri?”
Kalimat itu menusuk sangat dalam. Sukarsono merasa dituduh sebelum sempat membela diri dan belum menjelaskan tentang rencana hidup serta keinginan besarnya dalam hidup. Bahagia, dalam konsep keluarganya, adalah pengorbanan total, adalah pengabdian tanpa syarat. Sayangnya hal itu hanya dibebankan kepada Sukarsono.
*
Kereta sebentar lagi tiba. Tangannya membuka ponsel. Dia membuka Instagram yang menampilkan gambar Sukaesi sedang hamil. Dari gambar itu, dia melihat raut kebahagiaan mantan kekasihnya bersama sang suami. Sukaesi berdiri, sang suami berjongkok sambil mencium perut buncit itu. Bulu mata Sukarsono membasah. Dalam hatinya terasa perih, seperti ada ratusan jarum menusuk-nusuknya perlahan.
Dengan tarikan napas panjang dan dalam, Sukarsono menggerakkan jempol menuju ke kontak. Dia memeriksa kembali nomor-nomor keluarga yang sudah diblokir beberapa bulan lalu. Kali ini jempolnya mulai menghapus satu persatu nomor-nomor itu. Hingga waktunya mengembuskan napas kembali, jarinya masih ragu-ragu ketika menyentuh kontak ibunya.
Ada dialog panjang dalam hati. Doktrin-doktrin agama mengutuk dirinya. Dia memejamkan mata. Dalam bayangan hitam, muncul hardikan, “Ingat! Surga di bawah telapak kaki ibu! Kau durhaka! Jahanam tempatmu!”
Pengeras suara stasiun menyebut nama kereta dan jalur keberangkatan. Jempolnya masih bergetar di atas nama ibunya. Perempuan di sebelahnya menutup novel dan berdiri sembari menoleh ke arah Sukarsono, “Mas, ini keretamu, ya? Sebentar lagi berangkat, loh!” Membuat Sukarsono tersentak dari perang batinnya.
Sampai perempuan itu sudah melangkah jauh, Sukarsono masih di tempat. Masih ragu.
Setelah sadar bahwa sudah waktunya berangkat, dia mematikan ponsel, membiarkan nama ibunya tinggal. Lalu tangannya bergerak lambat, mengambil dompet dari tas. Di sana ada tiket, KTP, dan sebuah foto kecil yang mulai usang—foto keluarga mereka saat Sukarsono baru pertama kali diterima kerja. Mereka semua tersenyum lebar. Waktu itu dia memahaminya sebagai senyum kebanggaan.
Dia berdiri, menarik napas panjang, lalu melangkah menuju peron. Tangga ke kereta seperti jalan menuju dunia baru. Di tangannya, ponsel kembali bergetar.
Satu pesan masuk. Nomor tak dikenal.
Mas, Bapak kena serangan jantung. Cepat pulang!
Dunia makin sulit ditebak geraknya. Kakinya menggantung di antara langkah. Di depan, petugas memeriksa tiket. Di belakang, suara kereta makin mendekat. Dia menatap layar ponsel sekali lagi. Pesan itu masih terbuka.
Tangannya mengepal. Dalam hatinya, suara-suara dari masa lalu mulai bercampur aduk. Teriakan ibu, rengekan Sugi, tangis Sulastri, dan kini, ayahnya mungkin tergeletak entah di ranjang rumah sakit mana.
Dia ingin marah. Tapi juga ingin pulang. Ingin pergi. Tapi juga ingin menolong. Ingin bebas. Tapi juga merasa bersalah.
“Kalau bukan kamu, siapa lagi?” Kata-kata itu kembali melintas. Mengguncang. Menyeretnya kembali ke sistem yang dia tinggalkan. Apakah ini cinta? Atau cuma penjara dengan nama lain? Apakah mereka memanggilnya sebagai keluarga atau sebagai mesin penghasil uang yang kelak akan dibuang setelah dia tak berfungsi lagi?
Pikirannya berkabut. Dia membuka daftar kontak. Nama-nama yang tadi telah dia blokir kini muncul kembali dalam benaknya, sebagai simpul-simpul jerat yang membuat hatinya makin gamang.
Layar ponsel menampilkan jam: dua menit sebelum keberangkatan. Petugas mulai membuka suara, memanggil penumpang yang belum naik. Sukarsono menutup mata. Di kegelapan itu, dia mencoba jujur. Apakah aku harus kembali karena cinta? Atau karena takut menjadi orang jahat di mata dunia?
Dia membuka mata. Menatap lurus ke depan. Satu kaki melangkah ke arah kereta. Satu lagi belum bergeser. Dan kereta pun bersuara nyaring, seperti menghardik langit sore itu. [].
Probolinggo, 05/07/2025 s/d 06/07/2025
- Sistem Keluarga - 26 September 2025


Dom
Kelurga itu artinya apa???
Hendrianto
sekelompok orang yang tinggal bersama, dihubungkan oleh hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, dan berfungsi sebagai unit terkecil dalam masyarakat untuk saling mendukung, membimbing, dan membentuk kepribadian anggotanya, serta berbagi suka dan duka
digimark
Judul yang dikorup satu huruf itu benar-benar membuat penasaran, lho.. Persoalan keluarga seperti ini memang harus dibahas karena banyak yang mengalami. Cerpen ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih adil kepada anak-anaknya.
Nazwa
Keluarga bukan hanya soal status yang dimiliki sejak lahir. Ini juga bukan sekadar tempat untuk kembali atau tentang siapa yang paling dekat denganmu. Akan tetapi, kehadiran keluarga dalam kehidupan adalah sesuatu yang lebih besar dan berharga.
Bahkan ada pepatah yang mengatakan, “Darah lebih kental daripada air.” Hal ini menunjukkan bahwa ikatan darah adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan cara apapun.
Itu mengapa, hubungan keluarga bisa semakin erat karena adanya ikatan emosional antara anggota-anggotanya. Semakin kamu menghargai keberadaan mereka, semakin dalam pula arti keluarga yang akan kamu rasakan.
Shood
Pilihan yang syulit
Ahmad Rifais
that good
Itptm
Pilihan sulit memang, disamping harus berbakti pada orang tua, tapi masa depan dan impian pribadi juga gak kalah penting.
Mariam Ulpah
pilihan yg sulit dan banyak pertimbangan
Iin Khoiriyah
sangat menarik, sistem yang mengakar dan sulit dilalui
S. N. Assyami Laili
Relate dengan kehidupan nyata …..
sembilansembilan
bagus sekali
Khikmatul Husna
Bercerita tentang generasi sandwich, istilah zaman sekarang. Harus tegas memang untuk memutuskan rantainya. Tulisan yang cukup bagus. Lugas.