
Ketika kelebat sosok hitam yang sejak tadi ia amati menyusup ke balik rerimbunan daun, pandangan Nur teralihkan ke sekelompok orang itu. Sekejap saja, lantas matanya lebih asyik menatap kera-kera yang memanjat dan memekik dan bergelantungan di pohon-pohon. Suara pelatuk dilepaskan. Darah tumpah di Hutan Nipah. Kera-kera semburat ke berbagai penjuru hutan. Nur bertanya kepada angin, “Setelah ini, ke mana kera-kera itu pergi?”
***
Di tepi Hutan Nipah, Nur berjalan di samping Mudirah, ibunya, sembari menengok-nengok kupu-kupu. Matanya berbinar. Kadang ke kiri, kadang ke kanan, kadang ke atas, sampai lehernya pegal. Ia senang karena Mudirah mengajaknya jalan-jalan ke hutan.
Keduanya kemudian bergabung dengan sekelompok orang yang memekik-mekik menenggelamkan suara marah jeram Sungai Nipah. Dada Nur berdebar, padahal ia tak tahu kenapa. Darahnya semakin menderu. Kata ibunya, arak-arakan itu untuk menemui sepuluh orang jahat di hutan. Nur mendongak, melihat tangan warga yang mengepal-ngepal dan mulut-mulut bergetar.
Sembari melangkah lamban menyusuri Hutan Nipah, di tengah arak-arakan Nur melihat sekelebat hitam. Matanya mengikuti kelebat itu. Lalu, Nur melihatnya berdiri samar di bawah rindangnya pepohonan. Tubuhnya larut dalam gelap hutan yang gagal disinari matahari siang bolong.
Waktu itu adalah Sabtu di 25 September 1993 yang amis. Kata Mudirah, orang-orang asing itu akan menjarah yang bukan miliknya, tapi Nur tak mengerti apa yang dimaksud ibunya. Beberapa hari sebelumnya, ia hanya kerap mendengar kata waduk disebut-sebut di teras, di dapur, dan di belakang rumahnya, kemudian dari satu dinding ke dinding lain.
Di garda depan, Nur melihat Kiai Alawi, guru ngajinya melangkah tergesa-gesa. Di antara desir angin dan derap kaki, lelaki itu melantangkan kalimat penolakan. “Lebih baik putih tulang daripada putih mata!” Ucapan itu ingar, bergema dari bibir ke bibir, dari pohon ke pohon, memantul-mantul di kulit Sungai Nipah.
“Kami hanya disuruh. Kalian harusnya juga mengerti,” jawab salah satu pria asing itu dengan senapan yang dikokang.
Sebulan lalu, Nur melihat orang-orang asing itu berlalu-lalang di desanya. Ibunya bilang, warga Nipah tak menyukai keberadaan mereka. Mengizinkan tanah itu dijarah sama artinya dengan mengundang tulah. “Raga mati yang ditanam di bumi sendiri lebih bermartabat daripada hidup tanpa kehormatan di tanah yang direnggut,” jelas ibunya, mengulang nasihat Kiai Alawi.
Di jantung hutan, Nur kembali menyorot sosok berjubah hitam itu. Meski samar, auranya tajam, Nur merasa diawasi dari dunia lain. Tetapi, pandangan Nur segera dialihkan oleh teriakan Kiai Alawi yang sedang menggenggam dan mengangkat tongkat tuanya yang mengkilap. Mata Nur berkilat-kilat melihat tongkat Kiai Alawi lebih tinggi dari semua orang.
“Kuharap kalian juga paham keberadaanku dan semua warga Nipah di sini,” seru Kiai Alawi. Kemudian, pusakanya menuding lurus ke arah mereka yang dianggap penjarah.
“Kami akan tertimpa malang jika membiarkan kalian berbuat seenaknya. Masuk ke rumah orang kok tanpa—”
Nur yang berada di tengah kerumunan dan mendengar kalimat itu samar-samar, tiba-tiba mendengar suara letusan pecah dari arah orang-orang asing itu. Mendengar itu, Nur mendongak. Langit ganih mendadak semerah saga. Warga Nipah mulai berteriak, tapi Nur malah semringah. Baginya, suara-suara itu seperti sorakan ramai, dan bunyi pecah tadi tak ubahnya mercon yang biasa dibeli ibunya saat menyambut hari kemenangan. Ia tak tahu ada tiga tubuh yang tumbang di barisan depan karena letusan itu.
Mudirah yang terpaku menyaksikan tiga tubuh rubuh, tangannya otomatis mencari-cari Nur untuk segera mendekapnya. Itu pertama kalinya Nur didekap seerat itu oleh sang ibu. Di dekapan Mudirah, dengan susah payah kedua tangan Nur menekan lalu mendorong paha ibunya biar bisa leluasa bernapas dan, agar dirinya bisa kembali mencari sosok hitam tadi.
Hutan Nipah yang semula bergemuruh, sekonyong-konyong menjadi hening. Seruan Kiai Alawi yang mulanya datar, mendadak tinggi. “Bedebah! Tak tahu malu! Beraninya cuma sama rakyat kecil!”
Tongkat kinyis Kiai Alawi diayunkan ke udara, menjadi isyarat bagi warga untuk tidak mundur. Tumbangnya tiga tubuh menyulut murka warga yang sukar dibendung. Jerit demi jerit kemudian merambat di seantero Hutan Nipah.
Mudirah yang mengerti tanda itu, dengan geram melemparkan kerikil kali ke arah orang-orang asing yang baru saja merenggut tiga nyawa tetangganya. Dentuman peringatan bersahut-sahutan dengan teriak dan hisak warga. Dencingan arit warga juga tak kalah ingar. Arit-arit yang biasa dipakai warga untuk membabat jerami, kini lapar.
Di tengah-tengah gelegar, Nur meloncat-loncat sambil tepuk tangan melihat ibunya melempar-lemparkan batu-batu mungil ke arah orang-orang asing.
Hutan Nipah malih medan palagan.
Nur melihat kupu-kupu terbang berhamburan. Kera-kera di atasnya gaduh. Melompat dari ranting ke ranting menuju ke arah jalan ia masuk hutan. Bunyi tonggeret yang semula ramai kian sirna. Di tanah, sesuatu yang merah mengalir lamban dan bau anyir terhidu oleh Nur. Warga dan ibunya berteriak makin lantang. Dari kejauhan, Nur melihat tangan orang-orang asing itu gemetar. Mata mereka seperti matanya ketika ketahuan berbuat salah.
Nur berlindung dari balik tubuh Mudirah. Tiba-tiba, matanya beradu pandang dengan sosok hitam yang sejak tadi ia cari. Sosok itu melangkah pelan, mendekat, dan menembus kerumunan tanpa sedikit pun tersentuh tubuh-tubuh warga yang berhamburan.
Lalu, Nur bisa menangkap wajah sosok itu sebagian. Sosok itu perempuan. Rautnya pucat nan culas. Murka. Tapi, Nur tak tahu, perempuan itu marah kepada siapa. Nur gusar, takut dimarahi sosok itu. Ujung jubah sosok hitam itu menyapu tanah yang basah oleh darah. Ia berjalan dengan tenang, tanpa suara, seperti tak memijak bumi.
Tak ada satu pun warga merasakan keberadaan sosok itu.
Melihat Nur terpaku, Mudirah segera meraih wajah putrinya. Mengusap keringat yang menetes di pelipis dan pipi putrinya. Nur tak mengerti mengapa tangan ibunya itu bergetar kencang.
Di depan Mudirah, warga Nipah mengelilingi barisan lawannya. Segala senjata warga siap dihantamkan. Teriakan amarah semakin memekakkan. Suasana hutan kian tegang. Gejolak darah Mudirah bertambah jeram. Dan Nur bisa melihat itu dari pancaran mata ibunya.
Dari tengah kerumunan, dentuman kedua pecah. Kera-kera pohon buni kini gaduh. Tapi, tak ada warga yang jatuh. Lalu, waktu membeku. Warga saling menatap. Mereka menganggap letusan itu hanya gertakan. Dan dari situ, kepercayaan diri mereka melambung, seperti api yang menjilat-jilat cakrawala.
“Kalau kalian tetap seperti ini, akan ada korban berikutnya!” peringatan seorang pria asing dengan senapan terangkat dan moncong laras yang menodong ke arah kerumunan. Ancaman itu membuat warga guyah. Rasa takut merambat dari satu tubuh ke tubuh lain. Sebagian mundur setapak.
Sayang, tak ada warga yang sadar. Dentuman itu bukan gertakan. Letusan itu adalah undangan bala bantuan. Puluhan bahkan ratusan orang asing berdatangan dari berbagai arah mata angin.
Situasi berbalik. Melihat orang-orang asing itu berdatangan, Nur terkesima. Cara mereka berpakaian sama, cara mereka bergerak rapi, cara mereka berhenti dan menoleh berbarengan, membuat Nur semakin tak acuh pada bau anyir yang menerabas masuk ke hidungnya.
Meski masih menyimpan bara, Kiai Alawi yang menangkap kecemasan di wajah warga, sontak meneriakkan aba-aba untuk mundur. Warga Nipah kocar-kacir. Orang-orang asing itu berbaik hati membuka jalan. Korban yang gugur ditinggalkan begitu saja.
Melihat warga Nipah belingsatan, Nur tampak linglung. Lalu, pandangannya kembali berputar ke segala arah mencari perempuan berjubah hitam itu. Ia memicingkan mata, berharap menemukan sosok hitam yang telah membuatnya penasaran.
Lantas, Nur melihat sosok itu berdiri di sisi pokok jati. Dengan langkah ragu, Nur berjalan ke arah perempuan itu. Dengan tak sadar ia melepas genggaman ibunya. Dua langkah sebelum benar-benar tiba di sebelah pokok jati, langkahnya dihentikan dan ia menoleh ke arah teriakan Mudirah yang memanggilnya. Padahal, Nur nyaris dapat melihat iras perempuan itu dengan jelas.
Mudirah berharap bisa membawa putrinya pergi dari Hutan Nipah yang kini menjelma arena pertumpahan darah. Namun, dari punggung warga yang berhamburan, satu dentuman kembali bergema.
Seketika Mudirah mematung.
Setelah Nur mendengar dentuman itu, ia kembali melihat ibunya di tengah-tengah warga yang berlarian. Baju dan jarit ibunya sebagian berubah warna pekat. Merah. Nur melihat ibunya menyandarkan tubuhnya ke pohon mahoni. Tanpa berpikir panjang, Nur berjalan sembari melompat-lompat menghampiri sang ibu.
“Mau pergi ke mana semua orang-orang itu ya, Bu? Padahal tadi di sini sangat seru dan ramai,” tanya Nur kepada Mudirah yang duduk dengan punggung membungkuk. Tapi, Nur tidak mendengar sahutan dari ibunya. Ia hanya melihat ibunya tetap dalam posisinya dengan bahu melengkung ke depan dan kepala yang ditundukkan. Nur yang melihat itu, akhirnya memilih duduk di samping sang ibu. Mencoba menirukan posisi ibunya.
Lalu, perempuan berjubah hitam itu tiba-tiba berdiri di depannya. Berdiri tegak lurus dengan langit. Nur mendongak. Ternyata ia salah. Wajah sosok itu bukan paras culas dan amarah. Tapi, wajah semringah. Wajah ibunya. Dan Nur turut memajankan iras semringah.
Nur tertawa riang sembari bangkit dan menghampiri sosok hitam itu. Ia menggandeng tangannya dan melangkah menuju rerimbunan hutan nan gelap. Ia bertanya kepada angin, “Ke mana kera-kera itu akan pergi, Ibu?”
- Ke Mana Perginya Kera-Kera? - 19 December 2025

Cahya
Seru nih, lagi asyik-asyiknya baca tak terasa eh sudah berakhir tulisannya. Penasaran dengan perginya kera kera itu
tya
seru bangettt .. bacanya ga kerasa, sangking serunya !!
saranku, banyakin lagi adegannya .. biar durasi bacanya lebih lama..! tapi, overall semuaa baguuss
Van
Seru bangett..bacanya ga kerasa aja..sangking serunya jadi penasaran kemana perginya kere kera itu
Nino
Bagus banget
Abil
Kerennn
Ashyafaa
Seru banget!