Puisi Ervin Kumbang

 

Milenial

 

aku biarkan kacamata hitamku menjadi
        juru bicara ketika matahari jam sebelas siang
datang dan menyatakan dirinya sebagai
        matahari terbaik

 

lepas dari kepalaku dan terbang menjadi
         seekor gagak ketika ada demonstrasi di jalanan
hinggap di dahan di aspal di kepala orang-
         orang dengan aroma keringat sejenis keringatku

 

masa menjadi muda tinggal putaran terakhir
         dan layar besar di tepi lintasan menayangkan
jam dinding yang sengaja tidur setiap kali film
         memasuki adegan rusa-rusa kebun raya bogor

 

kemudian suara synthesizer-nya yang hantu itu
         patah dalam kotak kapur kelas sekolah menengah
jakarta patah dan suaranya mengalir sampai sini
         ke sanalah aku akan pergi

 

ketika gadis-gadis tak beranjak dari jalur sibuk
          dalam kepala aku sedang berteduh di bawah beringin
sementara kaca gedung-gedung retak jadi puing
          di SCBD, Megakuningan, di arena disko tepi pantai

 

suara letupannya menggelayuti lampu-lampu jalan
          di depan BB’S, juga di kafe Kemang malam grunge
sebagai kelelawar sebesar manusia mata terpejam
           sayapnya menangkup lebih elegan dari batman

 

bocah punk bersih-bersih di zucotti park, dan Obama
           warna menyebar di corong vuvuzela dan pesta telah
sampai di pucuk piramid tempat Cristiano mengayun
           tangkai sapu dan kaus longgar untuk Leo 
          

kitab ditutup, bab tak selesai, dan tinju dibenamkan
           ke dalam tanah lalu tertidur sepuluh tahun di tepi
sungai yang selalu berkabut–konon asap mariyuana
           yang mengalun dari hutan terbakar di hulu gunung

panca indera mengubur dirinya di bawah semak-semak

 

matahari terbaik membangunkanku dengan suara
            kaca jendela yang diretakkannya
sekaligus memberitahu bahwa ada matahari lain
             berwarna hitam yang berkelana di atas kerumunan

 

hijau, biru, kuning–sebuah hoverboard ditancapkan
             di ujung tombak tugu pengingat revolusi kota
orang-orang yang lebih muda berjalan di udara
             tetapi sejauh mata memandang hanya asap jelaga

 

penunjuk jalan sudah usang–ke halim atau merak
             pantai mediterania sudah terlalu sehari-hari di sini
di teras balkon kukenakan lagi kacamata hitamku
              lalu kulihat anak-anak membelah matahari
              dan mengeluarkan jeroannya 

 

2026

 

 

Setahun Setelah Pemilihan Umum

 

selalu kuperiksa diriku sendiri

 

sejak urusan geopolitik menggelisahkan
     layaknya kusen rumah masaremaja yang makin
     lama makin teleng

 

karena sebagian besar temantemanku tidak

 

setidak pohon karet yang tetap ditoreh
seasam tempoyak durian tak kenal istilah diktator–
apalagi yang dicekup di ibukota yang namanya
kukenal dari telenovela tivi sumatra

 

bahkan yang bertahan di depan komputer
menyunting podcast sambil jadi barista

 

     merasa jengah jika kudengar kata yankee,
     hemisphere, dan nama-nama hispanik
     kulit melayu di pasifik sana

 

andai tak ada wajahmu wahai garis untuk diterobos
pisau bedah di tanganku ini akan merobek
lambung babi

 

dari sana akan menggeliat jutaan manusia
yang telah memilih dengan sukarela
seorang diktator yang merantai diktator lainnya

 

kuketik:

 

alack! bahasa indonesianya…

2026

 

 

Pohon Kamboja

 

datang dari tempat yang tak mungkin
mendengar suara kuak-kuak burung gagak
jam 2.20 siang–ini tepi metropolitan dengan
sungai beraroma sama dengan kali di utara kami

 

maka ketika gagak-gagak melintas dengan
suaranya di angkasa, dan kau harus bicara
dengan bahasa inggris yang sama buruknya,
engkau sedang terdampar di sebuah teras
lantai tiga di mana seseorang berkata
“aku dari Texas” tanpa sempat ditanya

 

di meja dinding, kertas gulung dan penghancur
tembakau adalah perbandingan yang paling
terang. dan engkau butuh setidaknya dua malam
demi memastikan tak ada yang perlu kau takutkan

 

sebagai pengalih perhatian
rumpun kamboja putih di halaman belakang
kamar hotel menyediakan cahaya dari balik
pintu kaca geser lantai dua

 

asing tapi terasa akrab

 

mereka yang juga asing–tapi pandai bertanya
tentang asal usul walaupun bercakap-cakap
dengan nada yang kadang saling mengecam

 

2025

 

 

Biru

 

tak ada alasan khusus, atau pembenaran
tentang mengapa tak pernah kupasang cermin
dalam kamarku: biru

 

hanya kuraba-raba lagi pengalaman sepintas
beberapa tahun dulu tentang kepada siapa
mystique bicara di adegan terakhir itu:
charles atau magneto

 

katanya

 

dingin biru angin November, biru warna bus,
biru udara jelang maghrib, biru acuh langkah
trotoar jendela-jendela kaca raksasa, dan
pohon-pohon besar yang sudah ada di sana
sebelum aku

 

kulitku kulit manusia, memilih masuk
dalam tanah, menyerah pada cuaca
biar tumbuh jadi angsana
jadi beringin
atau batang asam jawa

 

2025

Ervin Kumbang
Latest posts by Ervin Kumbang (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!