Puisi Arif Billah

 

Demam

 

Di sepi yang mulai menajam,

runcing duri menghujam tulang.

Gigil melata di bawah kulit.

Pandang buram menengadah langit-langit,

 

Selimut bukan kepompong bermetamorfosis.

Pun perubahan konstan hanya akan membawa kesialan

                        seperti Gregor Samsa yang malah jadi kecoa.

 

Mozaik hari esok jadi sayatan telapak kaki

ketika mimpi adalah cahaya perak

yang berserak menjelma jadi duri.

 

Di purnama selanjutnya

30 koin perak memang akan tiba,

namun murid nabi juga hanya

menggantung diri sekali

bukan tiap fase bulan berganti

 

Sayup degup di malam larut

makin rapuh detaknya

seperti suara kayu terbakar

dalam tembikar

yang mulai pecah di luar.

 

Dalam tengkorak yang retak

ada rasi bebintang padam

menuju piramida sang alkemis

                        untuk dijelajahi

ketika datang waktu pagi.

 

2026

 

Pohon Kersen Pasar Kebo

 

Di antara kepak sayap burung dara

yang kakinya dipegang erat atau

yang baru saja melesat dari tangan joki

ada bocah-bocah baru pulang sekolah

yang berlarian di antara lorong pasar

menuju sebuah pohon besar

sebelum sorenya mereka disuruh ngaji.

 

Pohon itu berada di antara kios-kios

yang mengitarinya, tepat berada di tengah

seolah ketika pembangunan, kontraktornya enggan

untuk menebang karena takut kena kutukan.

 

Namun bagi para bocah, pohon itu tak hanya dipanjat tiap dahannya,

buah kersen yang sudah kelihatan merah pun dimakan,

bahkan kalau malas jalan kejauhan mereka biasa kencing sembarangan

di sela akar dan menggesekkan kulup ke kulit pohon bergetah

tanpa takut akan bengkak atau kena linglung tak bisa pulang.

 

Di antara dahan-dahan, para bocah berebutan buah kersen

bahkan yang setengah matang, saling menggeliat

seperti ulat hongkong di nampan penjual pakan burung

dan umpan ikan. hanya buah, posisi nyaman di simpang dahan,

atau perihal siapa yang turun duluan yang diributkan.

 

Pertengakaran kecil mudah dipadamkan

tak pernah jadi nyala api atau asap dari setumpuk sekam

sebelum akhirnya kicau kacer, murai batu, dan anis merah

dari sangkar-sangkar kios burung meredup suaranya

bersamaan dengan terbangnya para merpati yang entah ke mana.

 

Kontraktor baru datang dengan lebih garang

membongkar kios yang disewa para hantu

bahkan menebang pohon kersen yang lebih angker

karena bocah-bocah sudah berpetualang

ke hampar luas peta membentang

tanpa tahu kapan lagi mereka datang

menghabiskan waktu sebelum ngaji.

 

2026

 

 

Kalau Seumpama Ada UFO yang Mau Mengumumkan

            Ada Armagedon dan Kehancuran Alam Semesta di Jakarta

 

kapal angkasa pembawa berita akhir dunia turun di tengah kota

tak ada keramaian yang menyambutnya karena orang-orang sedang sibuk bekerja

dishub mulai datang bawa mobil derek dan mencari platnya

ketika mimbar ditata dan sesosok alien buka suara para pemotor mulai berhenti

membuka kaca helm mereka, yang di mobil juga menurunkan kaca jendela

kamera hp dihadapkan ke arah makhluk yang seakan khotbah di sana

suara klakson mulai berpantulan hingga menggema ke kota sebelahnya

suara alien dan peringatan akhir dunia kalah kuat volumenya

ojek online mulai dimarahi penumpangnya

kurir paket mulai kepikiran kiriman target

sopir busway ngomel “selebgram mana lagi yang goblok masukin mobilnya ke jalur busway!”

tukang becak sudah nggak ada dari jaman Ali Sadikin

insentif SPPG dapur MBG 6jt per hari

pegawai outsourcing di-phk sepihak atau dipindah ke Jogja

guru honorer live streaming affiliate tiktok sepulang ngajar

dari pasar senen ke bogor harus pura-pura mati kalau mau duduk terus di KRL

supir JakLingko nyetel lagu Benyamin Sueb

“Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk

Rumeh ane kebakaran gare-gare kompor mleduk”

dan sebelum alien itu selesai bicara bumi meledak

 

2026

 

 

 

Bubur Ayam Jakarta Jam 5 Pagi

 

pagi saja sudah kesiangan

ayam telanjur disuwir bareng cakwe

di atas bubur yang bahkan dasarnya sudah jadi intip

 

dicampur atau diaduk cuma akal-akalan rezim

lewat thread twitter (sekarang x) seleb

biar konflik horizontal bikin kita lupa

kalau UMR bisa nambah

tapi nilai tukarnya makin melata

 

bahkan jam segini, buburnya udah kelihatan pucet

seperti seorang anak yang gagal di perantauan

membawa pulang buah tangan kekalahan

hingga ketika lapar, ikut makan di dapur

keluarga sendiri pun jadi sungkan

 

bubur panas bikin lidah kebas seperti makan nanas

di tanggal 1 Januari setelah semalaman nyari happy

karena libur serentak dan dirayakan bersama

teramat jarang munculnya apalagi nominal

tanggal merah menggiurkan siapa saja untuk tetap bekerja

 

suapan terakhir dan semua tandas habis

seperti siasat yang kepentok tembok beton

tak tahu ke mana bisa dibebaskan ke udara

selain loncat dari jendela

 

2026

Arif Billah
Latest posts by Arif Billah (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!