Kaul di Kali Keramat

Mataku sakit. Persisnya, di sekitar mataku. Persisnya, di sekitar mata kananku. Persisnya, titik di bawah mata kananku. Namun, orang-orang, persisnya tetanggaku dan tetangga di kampung ibuku—kampung pertamaku—menyebutku sakit mata. Meskipun sebenarnya, mataku tak apa-apa. Namun begitulah, jika mereka sudah berkata begitu, tak kuasa kita akan mengubahnya. Bukan kita, persisnya aku, tetapi sebagaimana kebiasaan di tempatku, kita dan aku sering sekali bermakna sama.    

Aku perempuan. Aku bukan sekadar perempuan, karena aku cantik. Aku cantik menurut penilaian warga dari kampung ibuku—warga yang menyaksikan aku kecil dan besar dan besar lagi sampai akhirnya aku menikah dan pergi dari kampung Ibu dan tinggal di kampung suamiku. Kulitku putih dan rambutku tidak keriting. Berkulit hitam dan keriting berarti tidak cantik, menurut wargaku. 

Aku juga tinggi, warisan dari kedua orang tuaku yang putih dan berambut lurus dan juga tinggi. Selain cantik, aku juga beruntung lahir dari keluarga kaya. Orang tuaku punya tanah luas dan setiap orang susah di kampungku atau di kampung-kampung sekitar akan datang ke rumahku dan meminjam uang kepada orang tuaku.

Aku menyaksikan wajah-wajah sedih dan murung dan susah para warga yang kukenal maupun yang tak kukenal sejak aku kecil. Aku akrab dengan wajah-wajah kesusahan dan itu membuatku merasa sangat beruntung karena lahir di dunia yang sangat berbeda dengan orang-orang itu. Aku tak pernah harus menahan lapar karena belum ada makanan di dapur ibuku. Aku juga tak harus menyunggi aneka hasil kebun di atas kepalaku dengan keraro dan mengangkutnya melewati jalan setapak yang menurun dan menanjak, terkadang harus berusaha melewati bibir jurang yang sangat curam. Aku tak pernah melewati kesedihan-kesedihan yang dialami orang-orang di sekitarku. 

Sejak kecil aku pun hanya menerima pujian demi pujian. Aku disebut cantik. Aku disebut bak bidadari. Aku membuat anak-anak lain iri kepadaku. Aku tumbuh dengan sangat segar, selalu harum. Pekerjaanku hanya tidur dan mandi dan berbaring dan bermain-main di sekitar rumahku. Aku ikut ke kebun saat panen kopi atau panen kelapa, tetapi aku tak pernah ikut bersusah payah membantu kedua orang tuaku untuk melakukan apa pun. Aku akan berkeliaran dan melakukan apa yang kusuka: menangkap capung, membunuh ulat, menginjak-injak siput.

Saat aku mulai tumbuh besar, banyak laki-laki yang menginginkanku. Mereka merayuku untuk menerima cinta mereka. Mereka mengajakku menikah. Teman-temanku yang tak secantik dan seberuntung aku juga diganggu dan cukup banyak dari mereka yang menikah terlebih dahulu. Aku menyukai satu dua orang yang menggangguku—terutama saat acara-acara pesta malam saat ada orang menikah. Aku pun membiarkan mereka datang ke rumahku dan aku merasa senang menerima kunjungan mereka. Namun, orang tuaku hanya menyambut dengan hangat seorang laki-laki bertubuh tinggi, putih, berambut lurus, yang ternyata juga anak seorang yang kaya dari kampung di sebelah barat. Aku juga menginginkannya dan orang tuaku berkata dengan sangat lega tatkala lelaki itu mengungkapkan keinginannya untuk menikahiku. 

Aku dilarikan suatu malam saat ada acara pesta pasar malam. Begitulah aku meninggalkan kampung orang tuaku. Aku menikah dan bahagia karena menikmati kekayaan dari suamiku dan kekayaan dari orang tuaku. Aku tak perlu banyak mengalami kesusahan. Setiap hari aku hanya memasak sekadarnya untuk makan kami berdua. Kami tak tinggal di rumah mertuaku karena suamiku telah memiliki rumah yang sangat besar dan mewah; rumah yang dibangun oleh suamiku untuk persiapan melewatkan hari-hari bahagianya setelah memiliki keluarga sendiri.

Aku memiliki seorang anak, seorang perempuan yang tumbuh persis seperti diriku. Ia putih, berambut lurus mengilap, dan sudah terlihat tanda-tanda ia akan tumbuh menjadi perempuan bertubuh tinggi. Jari-jari tangannya panjang dan tungkainya juga panjang. Aku yakin kelak ia akan menjadi gadis dambaan para lelaki. Namun, saat anak gadisku berusia sepuluh tahun, aku mendadak mendapatkan penyakit yang membuat aku merasa telah menerima kesialan begitu besar, seolah segala kesialan yang seharusnya aku terima sedikit demi sedikit sejak kecil telah terkumpul jadi satu dan menimpaku secara tiba-tiba.

Bintik-bintik kecil tumbuh di bagian bawah mata kananku. Kulit di sekitar bintik-bintik itu begitu merah dan gatal-gatal. Aku tanpa sengaja menggaruk dan karena itu bintik-bintiknya menjadi besar, menjadi bertambah banyak, dan begitulah kulit di bawah mataku menjadi luka, dan bintik-bintik itu mengeluarkan nanah. 

Mataku pun dibuat selalu terlihat bengkak. Dan para warga menyebutku telah menderita sakit mata yang tak dapat dipahami. Aku pergi berobat ke rumah sakit dan membuatku sangat sering harus melihat hanya menggunakan mata kiriku karena mata kananku ditutup perban. Setelah dibuka, luka itu mengering sebentar, tetapi tak lama kemudian luka itu menjadi besar kembali, mengeluarkan nanah kembali, basah kembali.

Aku tetap berkulit putih dan berambut lurus dan bertubuh tinggi, tetapi luka di dekat mata sebelah kananku membuat aku menjadi orang paling berwajah buruk di dunia. Orang-orang memandangku dengan tatapan penuh hinaan. Aku kerap bertemu dengan teman-teman perempuan di masa kecil dan melihat mereka masih hidup susah, masih harus menyunggi berbagai hasil kebun di atas kepala mereka, dan anak-anak yang dua tiga empat jumlahnya semakin menekan kepala mereka dengan beban-beban baru. Namun, aku tetap merasa paling berwajah buruk dan bernasib paling sial.

Aku dan suamiku mengikuti saran para warga untuk berobat ke dokter dan juga meminta ramuan ke dukun. Dokter memberi aneka macam obat dan dukun juga memberi berbagai hasil penerawangan tentang penyakitku. Semuanya kulakukan, tetapi luka di dekat mataku ini hanya sembuh sebentar sebelum kemudian melukaiku kembali lebih sakit. 

Anakku melihatku seperti melihat orang cacat, yang berkaki pincang, atau yang buta, atau seseorang yang memiliki kekurangan dalam tubuhnya. Para warga mengasihaniku. Ibuku sering sekali datang dan membawakan aneka makanan kesukaanku. Aku kemudian, atas saran dukun, harus pindah dari rumah suamiku dan aku kemudian tinggal bersama kedua orang tuaku. 

Suamiku ikut pula bersamaku. Ia begitu setia merawatku. Kebaikannya membuatku bersyukur karena telah memilihnya dan tak menerima laki-laki lain yang lebih tampan dan gagah ketimbang dirinya. Aku berterima kasih kepada kedua orang tuaku karena telah membantuku memilih laki-laki yang paling cocok untukku; memilih laki-laki yang cocok juga buat kepentingan-kepentingan mereka. 

Tinggal di rumah ibuku, aku kembali mendengar aneka saran dari para warga yang begitu peduli pada nasibku. Mereka bahkan tampak lebih peduli pada penderitaaanku ketimbang pada nasib buruk anak-anak lain yang sekadar untuk makan saja mereka perlu utang sana-sini. 

Seorang dukun menyebut bahwa orang tuaku yang menjadi penyebab penyakitku. Rupanya jauh di masa lalu nenekku pernah menderita penyakit kulit teramat hebat sampai dia harus terusir dari kampung halamannya. Kakekku yang begitu geram lantas berkaul akan menyembelih sapi di kali kecil keramat dekat kampung apabila penyakit kulit mengerikan itu terangkat dari tubuh Nenek.      

Benar saja, setelah itu nenekku sembuh. Sayang, sampai mereka tua, sampai terbungkuk-bungkuk dan bahkan sampai mereka mati, mereka tak memenuhi kaul mereka untuk menyembelih sapi itu. “Kaul itu ndak dipenuhi makanya sekarang kamu sakit,” kata dukun itu kepadaku. 

Aku menyampaikannya kepada Ibu dan Bapak. Mereka berdua mengaku pernah mendengar tentang kaul kedua orang tua mereka di masa lalu. Mereka berjanji akan memenuhi kaul itu asalkan aku bisa sembuh dan kembali merasa bahagia di atas dunia ini. Namun, saat luka di wajahku mulai mereda dan kering, mereka lupa pada janji mereka, dan mengingatnya lagi saat aku mulai kembali kesakitan.

Aku mendengarkan dugaan-dugaan lain tentang penyakitku dan mereka mengungkapkan kejahatan-kejahatan yang dilakukan ibuku. Aku mendengar mereka menyebut ibuku telah menelantarkan begitu banyak orang susah yang datang kepadanya meminta pertolongan. Dan aku mendengar orang menyebut bapakku telah mengganggu istri-istri orang yang datang kepadanya untuk meminta selembar dua lembar uang. 

Aku merasakan mataku semakin hari semakin sakit dan meyakini karena rasa sakit itu aku melihat dengan cara yang lain. Aku melihat segala kelimpahan yang kuterima tak lagi berguna. Aku mulai merasa nasibku lebih buruk ketimbang teman-temanku yang dulu kupandang sebagai orang-orang yang kurang beruntung. Aku iri pada kehidupan mereka yang meskipun susah tetapi sehat. Aku mengutuk nasibku sendiri yang harus menanggung penyakit yang tak dapat kumengerti. 

Dokter menyebut penyakitku sebagai penyakit biasa yang dapat sembuh. Aku mengumpat obat-obat yang kuterima. Aku kemudian begitu marah kepada dokter lain yang menyebut bahwa aku harus berobat ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya. 

Aku percaya pada cerita orang-orang perihal kaul yang dilontarkan oleh kakekku di masa lalu dan aku menuntut kedua orang tuaku mau merelakan seekor sapi milik mereka untuk disembelih di kali kecil tempat kakekku dulu mengucapkan kaulnya. Aku begitu geram kepada ibuku yang terus menunda-nunda dan mengaku bahwa penyakitku bukanlah karena kaul yang telah dilontarkan oleh kakekku di masa lalu. Dan aku begitu geram pada ibuku saat ia melakukan tawar-menawar dengan dukun dan menyebutkan bahwa sapi bisa digantikan dengan seekor ayam, karena pada masa sekarang harga sapi jauh sangat mahal ketimbang di masa lalu, tawar-menawar yang anehnya dikabulkan oleh dukun itu.

Saat ritual dilakukan di kali kecil itu, aku diminta untuk mencuci muka dengan air yang keluar dari sela-sela akar pohon di kali kecil itu. Aku merasakan dingin air itu dan aku berharap akan sembuh. Namun, penyakitku tetap seperti semula. Mengering sebentar, mereda sakitnya sejenak, sebelum kemudian mulai lagi, lebih besar dan lebih mengganggu. 

Aku marah kepada ibuku yang tidak merelakan seekor sapi miliknya. Ibuku bahkan mulai sakit-sakitan dan mulai sibuk mengurus penyakitnya sendiri. Sapi itu tak kunjung dilepaskan. Suamiku pun bahkan tak percaya pada kata-kata dukun itu. “Kalau setelah sapi digorok ternyata  penyakitnya tak sembuh, bagaimana?” tanyanya.  

Aku tak mengerti. Tentu saja aku tak bisa jawab. Aku mengerti kecemasannya. Aku tahu, para warga yang menuntut supaya keluargaku menggorok sapi itu adalah orang-orang yang ingin keluargaku mengeluarkan kekayaan yang mereka miliki. Agar mereka dapat menikmati daging sapi gratis. Aku tahu bahwa daging sapi itu harus habis di kali kecil itu dan tak boleh dibawa pulang. Namun, tanpa itu aku tak akan sembuh.

Anakku telah tumbuh menjadi seorang gadis dan penyakitku terus ada. Aku tak dapat menikmati apa-apa. Berbagai pantangan kemudian bermunculan. Makanan yang tadinya kusukai mulai tak boleh lagi kumakan. Dokter-dokter di rumah sakit daerah tempat tinggalku telah menyerah untuk melakukan upaya penyembuhan dan menawarkan aku berobat ke rumah sakit daerah lain yang lebih lengkap. Suamiku, sebab begitu sering gagal, mulai meragukan upaya-upaya penyembuhan yang kami lakukan.

Lama-kelamaan, suamiku tampak tak memandang begitu serius penyakitku karena menurutnya aku masih tetap bisa berjalan, masih tetap melakukan apa-apa yang biasa kulakukan. Aku tidak sakit sampai harus berbaring terus-menerus di tempat tidur. Aku menduga orang tuaku juga merasakan hal yang serupa. Mereka masih bisa melihatku hadir di kebun pada saat panen sekadar untuk melihat kelapa-kelapa dikumpulkan. Mereka tak melihatku kurus. Mereka tak melihatku pincang. Luka di sekitar mataku ini bukanlah penyakit yang serius. Aku juga tak merasakan sakit yang teramat sangat hingga aku harus melengking kesakitan sepanjang waktu.

Akan tetapi, aku merasa diriku telah tak lagi sama. Aku adalah perempuan yang sial. Aku adalah orang yang sangat tidak beruntung. Aku bahkan menganggap segala kenikmatan yang telah kuterima sejak kecil sebagai suatu alasan untuk aku menerima kesialan yang besar ini pada saaat usiaku telah dewasa. Aku ingin kembali ke masa kecil dan menerima kesakitan-kesakitan kecil yang cepat menghilang, tetapi tak merasakan hal yang luar biasa pada saat aku tumbuh dewasa.*

Arianto Adipurwanto
Latest posts by Arianto Adipurwanto (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!