
Entah sudah hari kelima puluh berapa, aku lupa, aku ditempatkan di ruangan ini. Sebuah ruangan dengan tiga lubang ventilasi yang hanya cukup untuk keluar masuk kecoa dan burung gereja, dengan satu jendela tanpa kaca yang seluruh kisi-kisinya terbuat dari besi, juga dengan satu pintu yang hanya akan terbuka bila perempuan menyebalkan itu tiba. Perempuan itu, aku tak tahu namanya, tapi yang pasti dia cantik dan karena itulah dia menyebalkan. Setiap kali aku memandangnya, aku teringat diriku lima tahun yang lalu, diriku yang masih dipanggil “cah ayu” oleh para tetangga dan kerabatku.
Biasanya, perempuan itu akan masuk ruangan ini dengan dua benda di tangannya. Benda pertama mirip solder berujung pipih dengan kabel-kabel yang terhubung ke monitor. Tiap kali benda itu direkatkan di pelipisku, aku merasa seperti tersambar petir. Pada saat itulah, aku merasa malaikat pencabut nyawa telah bertengger di atas ubun-ubunku.
Benda kedua adalah jarum suntik yang kerap ditusukkan ke pantatku. Rasanya memang tidak lebih sakit dibanding sengatan lebah. Namun, bila jarum itu sudah menembus daging pantatku yang penuh lemak, aku akan kehilangan kesadaran seperti seorang pemabuk yang menenggak puluhan botol arak.
Pada jam-jam tertentu, perempuan itu juga datang dengan ompreng berbahan stainless. Dia akan membujukku untuk menelan makanan di dalamnya, dan aku selalu menolaknya, sebagaimana aku menolak semua bentuk percakapan.
Akan tetapi pagi ini lain. Begitu pintu berderit dan terbuka, aku melihat perempuan itu datang tanpa membawa apa-apa. Tidak benda yang mirip solder itu, tidak jarum suntik, tidak pula ompreng berisi makanan. Satu-satunya yang dia bawa adalah wajah datar yang menyiratkan kepanikan. Dari bibirnya, tak ada satu kalimat pun yang terucap. Padahal biasanya, saban kali tiba di ruangan ini, dia akan menyapaku dengan satu kalimat. Kalimat yang selamanya sebuah kebohongan: “Selamat pagi, Cantik.”
Cantik? Kalian tahu, mengatakan cantik pada perempuan dengan perut buncit sepertiku adalah sebuah kebohongan? Aku terlalu waras untuk meyakini bahwa dunia telah membuat satu kesepakatan mengenai kriteria orang cantik. Dan jelas, perempuan buncit tidak ada dalam kriteria itu. Jadi, wajar bila aku membenci dustanya. Wajar pula bila aku amat membencinya.
Kalaupun ada satu hal yang membuat aku tidak membencinya—tepatnya sedikit tidak membencinya—adalah karena dia tidak pernah memanggilku dengan sebutan anak nakal. Kalian tahu, aku teramat benci dengan panggilan semacam itu sebab aku yakin aku tidak nakal. Dan kalian tahu, siapa yang pertama kali memanggilku anak nakal? Ya, Ibu.
***
Pemicunya perkara yang remeh saja. Saat aku kelas satu sekolah menengah pertama, Ibu dipanggil oleh Bu Sasmi, wali kelasku, untuk datang ke sekolah hanya karena satu perbuatan, yang aku sendiri tak tahu, di mana letak salahnya.
“Ini sudah kelewatan. Mir dan Yan bahkan melakukan itu di dalam kelas saat jam istirahat,” kata Bu Sasmi, dengan raut wajah yang menyiratkan rasa prihatin, yang sepertinya dia pinjam dari para pemeran sinetron di televisi.
Ibu sangat kaget mendengar kalimat itu, sekaget ketika mendengar kabar bahwa Kakek telah menghadap Sang Maha Kuasa. Aku tahu karena aku duduk persis di sebelahnya kala itu. Kepada Bu Sasmi, Ibu memohon maaf dengan sembab di matanya yang sudah tak terbendung.
Begitu sampai di rumah dengan mata yang masih sembab, tanpa memberiku kesempatan untuk sekadar membuka mulut, Ibu langsung menghardik.
“Kapan kamu tidak membuat Ibu malu, hah?” katanya, sesampainya di ruang tengah seraya menanggalkan hijabnya. “Ibu rela tidak masuk kerja demi datang ke sekolah dan ternyata hanya untuk menanggung aibmu?”
Berjalan dari arah dapur dengan rokok yang tersulut di sela jari kanannya, sementara tangan kirinya membawa secangkir kopi, Bapak datang dan menimpali, “Masukkan pondok saja,” seolah sudah tahu duduk perkaranya apa.
“Anakmu itu, Pak. Bikin gara-gara terus. Masih bau kencur sudah pacar-pacaran.”
“Masukkan pondok saja. Biar kapok.”
“Ibu selama ini kerja buat kamu.” Ibu melanjutkan hardikannya. Matanya menyimpan rasa geram, tertuju kepadaku. “Uang jajan tidak pernah kurang, semua kebutuhan Ibu cukupi, kamu minta apa Ibu kasih, tapi kamu selalu tidak nurut kalau Ibu bilang.”
Di sofa ruang tengah, aku hanya duduk dan tertunduk. Aku ingin membuka mulut dan bicara, tapi Ibu akan mengamuk bila aku melakukan itu. Ini memang aturan yang sudah dibuat, meskipun secara tidak tertulis; bila Ibu atau Bapak bicara dengan nada dan wajah semacam itu, aku harus diam dan mengunci mulut, kecuali jika aku merelakan pipiku untuk ditampar.
Padahal, asal kalian tahu, yang dilakukan Yan kepadaku di jam istirahat hanyalah memegang dadaku.
***
Memegang dada. Apa yang mesti dipersoalkan dari tindakan itu? Aku sering melihat Bapak memegang dada Ibu pada jam-jam ketika aku terbangun di tengah malam. Aku pernah tak sengaja melihat lelaki berkulit putih yang tampan di ponsel Bapak—sepertinya bukan orang Indonesia, tapi Jepang—tengah memegang dada istrinya, bahkan tanpa mengenakan busana. Di ponsel Ibu, ketika tengah kupinjam untuk menonton video di Youtube, aku juga sering tak sengaja melihat lelaki berseragam SMA tengah memegang dada teman perempuannya. Dan aku juga pernah melihat Ibu memegang dadanya sendiri pada hari-hari ketika Bapak tidak berada di rumah.
Asal kalian tahu, Yan juga bukan yang pertama dan satu-satunya yang pernah memegang dadaku. Ketika aku berumur lima tahun dan masih sering bermain penjahat-penjahatan dengan Bapak—aku jadi penjahat dan Bapak jadi polisi—Bapak menangkapku (padahal aku sudah bersembunyi di kolong ranjang) dan memelukku dari belakang sambil memegang dadaku, bahkan meremas, seraya berkata, “Kena kamu. Kena.” Ketika lebaran tiba, banyak kerabat Ibu yang berkunjung ke rumah dan memberiku amplop sambil mencubit dadaku seraya berkata, “Cah ayu, sudah kelas berapa sekarang?” Ketika aku diajak Ibu berobat ke klinik lantaran terkena demam, dokter juga memegang dan menggelitik dadaku sambil berujar, “Obatnya diminum ya, Cah ayu. Biar cepat sembuh.”
Soal pacar-pacaran, Ibu dan Bapak selalu bilang bahwa itu adalah urusannya orang dewasa. Kalian tahu, Yan sudah disunat sejak kelas lima. Apakah itu belum cukup untuk bisa disebut dewasa? Bapak pernah bilang, semua lelaki dewasa adalah lelaki yang sudah disunat. Jadi, mengapa kami masih disebut bau kencur?
Itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang hanya ada di kepalaku, sebab sekali lagi, aku masih waras untuk tidak membiarkan telapak tangan Ibu mendarat keras di pipiku.
***
Soal Ibu yang marah, juga soal kejadian pada jam istirahat bersama Yan, sebenarnya tidak begitu mengganjal pikiranku. Yang membuat segalanya jadi tambah runyam justru adalah efek yang ditimbulkan dari kejadian itu, yang membuat Ibu dan Bapak makin yakin dengan keputusannya.
“Sekarang, kemas semua barang-barangmu dan besok kami antar kamu ke pondok,” kata Ibu dengan ruat geram yang belum sepenuhnya padam. “Anggap saja itu hadiah buat anak nakal.”
“Bapak sama Ibu sudah kehabisan cara. Jadi, sebelum segalanya makin parah, motor yang sudah ada tanda-tanda kerusakan memang sebaiknya harus segera dibawa ke bengkel. Dan, kami sudah sepakat, bengkel terbaik untukmu adalah pondok pesantren.”
Bajingan!
Mereka mengantarku ke salah satu pondok pesantren tersohor di kabupaten sebelah. Satu jam perjalanan untuk sampai ke sana. Dan setibanya di tempat itu, Bapak dan Ibu memasrahkanku kepada seorang pengasuh pondok. Setelah semua urusan administrasi selesai, mereka pamit dengan sebuah janji, “Bapak dan Ibu pasti bakal sering ke sini. Uang bulanan nanti kami kirim lewat pengasuh. Kamu tidak usah sedih, ini juga demi kebaikanmu.”
Ibu mengatakan itu dengan sembab di matanya yang entah dia pinjam dari mana. Tapi di balik itu, aku seperti menangkap satu rona yang tersembunyi: seorang Ibu telah terbebas dari peliharaannya yang selalu gagal dijinakkan, dan seorang Bapak telah berhasil membawa motor butut kesayangannya ke bengkel. Dan aku yakin, rona itu adalah rona kebahagiaan.
Bulan pertama di pondok adalah yang paling membosankan. Aku dijerat dengan rutinitas yang menjemukan: bangun, sekolah, mendengarkan ceramah, menghafal ayat-ayat, dan seterusnya, setiap hari. Aku bukan hanya kehilangan Yan, tapi juga kehilangan semua yang ada di rumah: teman, ponsel, serial televisi, musik favorit, dan buku komik kesayangan.
Kalau bukan karena laki-laki itu, mungkin pada bulan kedua aku sudah minggat dari tempat itu. Ya, laki-laki itu. Dia setahun lebih tua dariku, barangkali. Kami jumpa pertama pada salat Subuh, pada saat merdu suaranya melantunkan assholatu khairum minan naum. Kami berkenalan di sekolah—terlalu sembrono bila laki-laki dan perempuan berkenalan di lingkungan pondok, sebab itu sama saja dengan cari mati. Dan inilah, untuk kali pertama, aku menemukan seseorang yang agaknya bisa menggantikan Yan.
Kami selalu ketemuan, paling sering dalam tiga kesempatan: saat berangkat dan pulang sekolah, serta jam istirahat. Tentu saja tanpa sepengetahuan guru dan pengasuh pondok. Pada bulan ketiga, ketika kami jadi lebih dekat, kami sepakat menyebut ini sebagai ta’aruf. Dan, kami bisa saja melanggengkan hubungan ini sampai bulan keempat, kelima, bahkan setahun ke depan, seandainya hari sial itu tidak datang.
***
“Kami sudah tahu apa yang kalian perbuat.” Seorang pengasuh bersama tiga orang yang disebut sebagai saksi mata, menginterogasi kami di sebuah ruangan dengan nada penuh penghakiman. “Kalian sudah diberitahu bahwa tindakan semacam ini sangat tidak diperkenankan di lingkungan pondok, dan kalian berani melanggarnya?”
“Kalau berita ini sampai ke telinga ustadz, itu artinya kalian dalam masalah besar. Orang tua kalian bisa saja dipanggil.”
Kemudian, datanglah bajingan itu dengan topeng pahlawannya. Bajingan itu—aku menyebutnya si Kunyuk—menemuiku pada hari berikutnya dengan sebuah perangkap.
“Aku pastikan berita ini tidak akan sampai ke ustaz, asal kamu mau memenuhi permintaanku.”
Aku tidak punya pilihan kecuali patuh kepada si Kunyuk. Aku terlampau malas bila kembali berurusan dengan amukan Ibu dan Bapak. Maka, disebutlah daftar permintaan yang harus aku penuhi. Mula-mula adalah permintaan yang remeh. Aku diminta membantunya mengurus administrasi pondok. Karena mustahil dilakukan di lingkungan pondok, kami mesti ketemuan pada jam-jam tertentu di luar pondok. Dan, itu membuat kami jadi lebih intens menjalin kedekatan.
Pada kesempatan berikutnya, aku makin tidak bisa menolak semua permintaan si Kunyuk—sebab dia telah menjeratku dengan ancaman itu—termasuk saat dia meminta kesediaanku untuk melakukan tindakan itu, tindakan yang seketika mengubah hidupku: menanam benih melalui selangkanganku.
***
“Sekalian saja kamu lempar wajah Ibu pakai tai kucing, Mir!” Tangis Ibu pecah seketika, begitu kabar kehamilanku tersiar ke telinganya.
“Entah bengkelnya yang salah atau memang kerusakanmu yang sudah teramat parah.” Bapak hanya geleng-geleng kepala seraya menghela napas. “Tapi, selamat, karena kamu benar-benar telah menghancurkan kehormatan keluarga kita.”
Lagi-lagi, pada momen seperti ini, aku hanya boleh diam. Aku bahkan tetap diam ketika Bapak, Ibu, dan seluruh warga pondok meyakini bahwa kehamilanku bukan disebabkan oleh si Kunyuk, melainkan oleh laki-laki bersuara merdu itu.
Barangkali, karena seterusnya aku hanya diam, dan selalu diam, ketika siapa pun mengajakku untuk bicara, maka sampailah Bapak dan Ibu pada keyakinan untuk membawaku ke bengkel kedua, yakni sebuah ruangan dengan tiga lubang ventilasi yang hanya cukup untuk keluar masuk kecoa dan burung gereja, dengan satu jendela tanpa kaca yang seluruh kisi-kisinya terbuat dari besi, juga dengan satu pintu yang hanya akan terbuka bila perempuan menyebalkan itu tiba.
Dan pagi ini, entah pada hari kelima puluh berapa, aku lupa, perempuan itu telah tiba di ruangan ini. Tidak sendirian, melainkan dengan sejumlah orang, termasuk di belakangnya ada Ibu dan Bapak. Keduanya tampak terisak-isak dengan wajah penuh kesedihan. Dan selanjutnya, aku tahu mereka akan membawaku ke mana, ke bengkel terakhir: pemakaman.
Purbalingga, 2025
- Bengkel Terakhir untuk Mir - 15 May 2026
- Di Kabupaten Tamala, Semua Orang Telah Menjadi Gila - 15 March 2024
