Puisi Irma Agryanti

 

Marozia

 

dari tengah-tengah kekosongan

sebuah nubuat didengungkan

maka dengarkan:

 

tak ada yang perlu dilenyapkan

untuk menghadirkan yang baru

tak ada yang perlu diakhiri

untuk mengawali yang lainnya

 

sebab, keduanya saling membebaskan

sebab, suka duka datang bergantian

 

seperti, gelap-terang

seperti, tak ada satupun yang tahu

 

kelelawar ataukah burung layang-layang

yang akan muncul

mengitari, langit kota

 

 

 

 

Zemrude

 

berjagalah, dari ambang jendela, dari

kerai penutup, selokan-selokan, sampah kertas

 

biarkan mata terbuka

biarkan telinga mendengar

suara-suara bawah tanah

kian mengerak di telapak kaki

 

apakah ketakutan selalu datang lewat kekelaman?

 

mawaslah, pada bagian jalan yang sama, pada

pipa air, pondasi, sumur-sumur

 

arahkan pandangan

lebarkan daya jangkau dan kuatkan hati

hal-hal ganjil mesti segera ditajamkan

 

agar tak perlu lagi

sepanjang waktu

merasa terancam

 

 

Aglaura

 

di aglaura, waktu terhenti

apa yang saat ini adalah apa yang pernah

apa yang keliru menjadi apa yang semestinya

 

bukankah yang nyata seringkali tak hendak nyata?

 

tapi, di sudut-sudut tertentu

di jalan-jalan rahasia

cerita yang sama disampaikan berulang-ulang

 

hanya agar ingatan dulu

tak menghidupkan

ingatan kini

 

 

Eudoxia

 

tak ada peta bagi para penyelam

yang luput untuk pulang

tersesat di kesedihan malam

tenggelam ke dasar palung

 

teriakan-teriakan dalam gelap

hendak melompat

menggapai benang warna warni

untuk sampai pada satu titik

 

di sana, di atas sana

akan ada sebuah jagat lain

terang benderang

dengan garis geometris sempurna

 

namun, penujum itu terus menerka;

 

selalu dan selalu saja

ia, kelak sama belaka

Irma Agryanti
Latest posts by Irma Agryanti (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!