
Marozia
dari tengah-tengah kekosongan
sebuah nubuat didengungkan
maka dengarkan:
tak ada yang perlu dilenyapkan
untuk menghadirkan yang baru
tak ada yang perlu diakhiri
untuk mengawali yang lainnya
sebab, keduanya saling membebaskan
sebab, suka duka datang bergantian
seperti, gelap-terang
seperti, tak ada satupun yang tahu
kelelawar ataukah burung layang-layang
yang akan muncul
mengitari, langit kota
Zemrude
berjagalah, dari ambang jendela, dari
kerai penutup, selokan-selokan, sampah kertas
biarkan mata terbuka
biarkan telinga mendengar
suara-suara bawah tanah
kian mengerak di telapak kaki
apakah ketakutan selalu datang lewat kekelaman?
mawaslah, pada bagian jalan yang sama, pada
pipa air, pondasi, sumur-sumur
arahkan pandangan
lebarkan daya jangkau dan kuatkan hati
hal-hal ganjil mesti segera ditajamkan
agar tak perlu lagi
sepanjang waktu
merasa terancam
Aglaura
di aglaura, waktu terhenti
apa yang saat ini adalah apa yang pernah
apa yang keliru menjadi apa yang semestinya
bukankah yang nyata seringkali tak hendak nyata?
tapi, di sudut-sudut tertentu
di jalan-jalan rahasia
cerita yang sama disampaikan berulang-ulang
hanya agar ingatan dulu
tak menghidupkan
ingatan kini
Eudoxia
tak ada peta bagi para penyelam
yang luput untuk pulang
tersesat di kesedihan malam
tenggelam ke dasar palung
teriakan-teriakan dalam gelap
hendak melompat
menggapai benang warna warni
untuk sampai pada satu titik
di sana, di atas sana
akan ada sebuah jagat lain
terang benderang
dengan garis geometris sempurna
namun, penujum itu terus menerka;
selalu dan selalu saja
ia, kelak sama belaka
- Puisi Irma Agryanti - 19 May 2026
- Sajak-Sajak Irma Agryanti - 23 November 2021
- Sajak-Sajak Irma Agryanti - 24 November 2020
