
Dalmatians
Anita, bacakanlah padaku:
bagaimana retakan tembok kota
menggambar takdir bagi anjing-
anjing yang hilang?
Parfum Cruella menyamarkan aroma,
menggelarkan
semacam jalan simpang lima
pada ujung
hidung Pongo dan Perdita—ya
lalu kita akan mengingat
aroma susu para Ibu
tidak lekang oleh angin
dan juga dingin (musim) salju.
Dalam dansa yang beku
dan sedikit bimbang pada malam itu
suara tuts di telinga kita
seluruhnya bernada gukguk—
101 sentuhan.
Matamu menotoli tembok dengan semu,
kulitmu merasai bulu-
bulu halus dalmatian malang,
dan lidahmu hanya mengenali satu rasa:
pahit tidak terperi.
Bagaimanakah sebenarnya kebimbangan
mengubah cara kerja dari semua indra-
indra kita,
Anita?
Di sini, musim salju
rasa-
rasanya
seperti akan abadi—
seperti akan abadi.
2026
Aristocats
Apa yang mengasingkan kita
dari ranjang dan susu,
O’Malley?
Sebongkah emas; tiang-
tiang rumah
yang rapuh; atau bayang-
bayang Edgar tentang hari tua
yang kesepian?
Lelaki tua, mungkin
kehilangan cinta—dan benda-
benda akan mengembalikan
segalanya seperti
semula.
Ia mengikir taring
yang kita
‘kan tancapkan
pada daging paling renta(n)
dari tubuh
manusia: jantung—
lingkar dunia
yang ringkih-
idididih itu.
Semangkuk susu,
sekerat daging, apakah juga
semengenyangkan itu
bagi manusia?
2026
Mata Pancing
Kau hanya merasakan ada
yang menjauh—
padahal kau
adalah satu
tubuh itu.
Yang asing
seperti mata pancing
menusuk bagian paling rawan
dari dirimu—
kau pun berada
pada ruang yang
(rasa-
rasanya)
hampa udara:
tetapi mata orang
rasanya masih
tetap sama,
masih yang itu-
itu saja.
2026
Perihal yang Mungkin Kau Ingat
Ketika Menatap Langit dan Setiap
yang Telah Menjauh
: Merapi
Di tempat yang jauh
menara masjid menyangga langit;
langit yang kusam itu
persis ingatanmu tentang masa lalu—
tentang rangkaian kepedihan;
tentang rangkaian ledakan
dari puncak gunung yang nun.
Kau mungkin
ingin menghapus noda
pada genting-
genting itu;
menghapus pendakian lumut
agar segala yang telah kusam
bisa dicermati lagi
persis apa yang terlupa
hingga bisa jadi teringat lagi.
Kau akan terbang
persis daun-
daun ketapang:
tetapi tak ada pendaratan—
tiap tempat menawarkan
kekelaman-
kekelaman.
Di bawah
langit yang teduh
adakah yang tersisa
selain gemuruh—
gemuruh di langit lepas;
gemuruh di dada
kita yang terampas?
2024-2025
- Puisi Ilham Rabbani - 30 June 2026
- Sajak-Sajak Ilham Rabbani - 29 November 2022
- Yogya, Sastra, Komunitas Maya - 16 November 2022

Suralaya
nepotisme!