Syaikh Abu Isma’il al-Harawi

Beliau adalah Abu Isma’l ‘Abdullah bin Abi Manshur. Sedangkan kakeknya, Syaikh Muhammad al-Anshari al-Harawi, telah wafat terlebih dahulu. Julukan beliau adalah Syaikh al-Islam. Karena itu, kalau dalam kitab ini disebut Syaikh al-Islam, maka maksudnya adalah Syaikh ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi.

Karena itu, beliau termasuk anak-anak Syaikh Abi Manshur al-Anshari, beliau adalah putra Abu Ayyub al-Anshari, salah seorang sahabat Rasulullah Saw. Setelah terjadi hijrah dari Madinah al-Munawwarah pada masa pemerintahan Sayyidina ‘Utsman Radiyallahu ‘anhu, mereka keluar pada hari-hari itu bersama al-Ahnaf bim Qais.

Mereka masuk ke daerah Khurasan, kemudian tinggal di Hirat. Menurut Syaikh al-Islam, bapaknya Abu Manshur masuk di Balakh, di dekat Syarif Hamzah al-‘Uqaili. Pada suatu hari ada seorang perempuan bilang kepada Hamzah al-‘Uqaili: “Katakan kepada Syaikh Abu Manshur untuk menikahiku.”

Syaikh Abu Manshur memberikan jawaban terhadap tawaran itu: “Aku tidak akan menikah selamanya.” Syarif Hamzah memberikan jawaban terhadap perkataan Syaikh Abu Manshur itu: “Tidak boleh tidak, engkau harus menikah, dan anakmu tidak akan ada tandingannya.”

Ketika beliau masuk Hirat dan ada seorang perempuan yang mau dinikahi, beliau betul-betul punya anak. Syarif Hamzah kemudian mengatakan di Balakh: “Abu Manshur betul-betul punya anak sebagaimana ibunya itu.” Artinya adalah bahwa segala jenis kebaikan ada pada anak itu.

Syaikh al-Islam mengatakan: “Aku dilahirkan di Qahandaz dan aku mencapai baligh juga di situ. Kelahiranku pada hari Jum’at waktu terbenamnya matahari, hari kedua di bulan Sya’ban, tahun tiga ratus sembilan puluh enam Hijriah.”

Syaikh al-Islam mengatakan: “Aku dilahirkan pada hari-hari di musim semi. Dan aku mencintai musim semi. Apabila cahaya matahari telah sampai kepada tujuh belas derajat, maka sempurnalah umur saya. Itulah hari pada pertengahan musim bunga-bunga, musim kembang-kembang dan musim angin.”

Beliau juga mengatakan: “Aku datang kepada Syaikh Abu ‘Ashim. Beliau masih termasuk kerabatku. Beliau memberiku sepotong roti. Juga menyediakan cangkir yang sangat tinggi. Beliau juga membaca sesuatu dengan dilagukan. Istrinya sudah sangat tua. Juga dikaruniai kewalian.”

Istrinya itu berkata: “Guruku berkata: ‘Setelah menyaksikan ‘Abdullah al-Anshari, beliau bertanya: siapa anak ini?'” Maka aku menjawab: “Beliau adalah putranya fulan bin fulan.” Yang dimaksud guruku tidak lain adalah Nabi Khidir ‘alaihissalam. Nabi Khidir adalah guru Nabi Musa ‘alaihissalam.

Melalui anak ini, Syaikh ‘Abdullah al-Anshari, barat dan timur akan penuh dengan kebaikan. Artinya adalah barat dan timur akan penuh dengan namanya. Syaikh al-Islam mengatakan: “Bertanya merupakan bagian dari kebiasaannya.” Karena sesungguhnya beliau adalah mengerti dan bertanya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!