
Gudang besi Bibi Rosma seperti istana besar yang dihuni hantu-hantu berotot: rantai pengerat kapal tongkang, tabung gas berkarat, mesin gerinda yang meruapkan cahaya laksana kembang api, truk tronton yang gagah, dan tumpukan jangkar berkarat setinggi rumah panggung. Di dalamnya, kadang aku merasa seperti terjebak aura muram, lambat, dan penuh asap sebagaimana yang kerap muncul dalam film-film Hong Kong murahan.
Meski begitu, aku kerap ke gudang yang riuh, jorok, dan berbau solar di Kampung Barakat Mufakat itu. Anak SMA sepertiku kadang bosan di rumah. Tumpukan roman picisan di kamarku, entah warisan dari bapak atau ibu, tak bisa menghiburku. Jadi, nangkring di gudang ini merupakan pilihan yang menyenangkan. Lagipula, di sana aku selalu merasa aman karena Bapak bekerja di sana. Bagiku, ia kesatria perkasa yang mampu menghalau nuansa muram itu. Namun, belakangan ini, suasana gudang besi Bibi Rosma mendadak kembali terasa dingin dan mencekam.
Di balik jendela kaca hitam yang buram dan berdebu, aku kerap melihat Bibi Rosma, janda berusia kepala lima itu berdiri tegak, mengawasi gerak-gerik bapak dengan tatapan yang sulit diartikan. Keterusikan itu merayap di dadaku, membuat istana besi di Kampung Barakat Mufakat ini tak lagi terasa seaman biasanya.
Bapak adalah mandor sekaligus tangan kanan Bibi Rosma. Aku melihat Bapak seperti manusia setengah dewa ketika memanggul pipa bor bekas tambang batu bara cuma seorang diri. Setiap ikut ke gudang, aku hanya duduk di tumpukan drum seng. Kadang bantu-bantu memilin kabel tembaga.
Bibi Rosma konon merantau dari Pulau Garam hanya bermodal usaha dan doa sebelum akhirnya sukses menaklukkan barang loak di Tanah Bumbu. Bibi jarang bicara dengan buruh rendahan. Tapi, kepada Bapak, sikapnya berbeda. Perempuan itu acap memanggil Bapak ke ruang kerjanya. Melalui celah jendela, aku melihat Bibi menyerahkan bundelan uang tebal yang diikat karet gelang kepada Bapak. Tak sekali saja.
“Suliman itu pintar merayu janda kaya,” bisik Paman Rosi saat jam istirahat, sambil menyeka keringat.
“Diam. Anak Suliman ada di dekat drum,” sahut Paman Salman, menyenggol lengan Paman Rosi sembari melirikku.
“Memangnya kenapa? Seluruh pasar juga sudah tahu. Mana ada bos perempuan seroyal itu kalau tidak ada main belakang? Kasihan si Mailah. Perutnya makin buncit, tapi suaminya sibuk menunggangi timbangan janda,” cemooh Paman Rosi lagi, lalu terbahak.
Aku paham betul ke mana arah pembicaraan mereka.
Karena gosip itu, malam di rumah panggung kami jadi dingin. Ibu yang sedang hamil tua tak lagi menggoreng ikan haruan kesukaanku. Kenangan tentang mendiang bapaknya Ibu, seorang pria keturunan bangsawan yang dulu sangat dihormati, namun meninggal dalam kemiskinan, sering disebut-sebut Ibu saat ia sedang meratap.
Kini, Ibu hanya tepekur membelakangi bapak di dekat lemari kaca yang retak. Tiap kali Bapak ingin mengelus perut itu, Ibu menepis tangannya dengan kasar. Lalu, terisak. Menyembunyikan wajahnya di balik bantal dekil.
Namun, ketegangan di gudang semakin mendidih ketika seorang pekerja baru bernama Ilham datang. Ia pemuda sini. Tubuhnya tak sekeras Bapak, tapi matanya liar dan kurang ajar. Ilham menatap dengan pandangan benci setiap Bapak keluar dari ruang kerja Bibi.
Mungkin pemuda itu kemakan gosip. Mungkin ia pikir Bapak memanfaat posisi untuk menguras duit bibi. Mungkin Ilham merasa dirinya lebih rupawan, perkasa. Kurasa ia menyimpan rencana licik. Kata desas-desus para pekerja, ia diam-diam mengintai pembukuan gudang dan mengira telah memegang kartu As untuk menjatuhkan posisi Bapak.
Di suatu siang yang gerah, Ilham melakukan perbuatan nekat. Di pelataran gudang, ia mengangkat jangkar tongkang raksasa di pundaknya. Sebuah pekerjaan yang luar biasa. Urat-uratnya mencuat, wajahnya memar, napasnya menderu seperti mesin diesel tua, memaksa tubuh mudanya menahan beban. Agaknya ia kepengin cari perhatian Bibi. Para pekerja pun tersedot aksinya dan sejenak menghentikan aktivitas mereka, termasuk menghentikan aktivitasku dan Bapak yang lagi menimbang tembaga.
Dari balik jendela kaca hitam, Bibi melangkah keluar. Ia melepas kacamata hitam dan dengan mata sipitnya menatap Ilham yang sedang pamer kekuatan. Aku melihat api cemburu membakar tubuh pemuda itu.
Bibi Rosma menatap lekat lekuk otot tubuh Ilham dengan tatapan dingin yang sulit kuartikan. Ia menuruni tangga, menghampiri Bapak, lalu berbisik, “Ambil uang bonus di meja dan pulanglah sekarang. Bawa istrimu ke bidan kota. Tenangkan pikirannya agar anakmu tak lahir dengan otak yang rusak karena gosip kotor warga pasar. Biarkan bocah nekat yang kelebihan energi itu menjaga gudang malam ini. Aku akan membereskannya.”
Bapak tertegun, menatap Bibi dengan canggung dan gelisah sebelum akhirnya mengangguk patuh. Kami pulang. Di sepanjang jalan, di antara rawa gambut, aku melirik wajah layu bapak.
Malam hari, angin monsun menyelusup sela-sela dinding ulin rumah, membawa bau lumpur sungai dan karat besi yang pekat dari arah dermaga. Di kamar yang remang, Bapak tidur telentang beralas tikar, sementara Ibu memunggunginya.
Aku resah dan penasaran. Merasa sesuatu yang tak adil sedang terjadi di gudang besi. Aku ingin ke sana. Habis bercakap dengan Bibi, mengapa Bapak jadi lembek?
Aku menyelinap secepat mungkin. Membuka gerendel pintu tanpa suara dan bergegas menuju gudang. Kampung Barakat Mufakat gelap pekat karena sinar bulan terhalang debu batu bara.
Di gudang, lampu belakang tampak mengantuk. Aku merayap masuk melalui celah pagar seng biru yang agak longgar di dekat tumpukan drum oli bekas. Di sana, di antara lempeng plakat besi yang berantakan, aku seperti melihat siluet dua hantu.
Bibi berdiri tegak. Kemeja hitam dan rok merah satinnya berkilau samar diterpa cahaya lampu. Di hadapannya, Ilham tegak sambil mengipas keringat di dadanya dengan lempengan drum seng.
“Kau sengaja menyuruh Suliman pulang cepat agar bisa berdua denganku?” Suara Ilham menggema di antara dinding seng. “Aku tahu uang tebal yang kau kasih ke Suliman itu bukan cuma buat persalinan. Kau menyuap mandor tua itu agar tutup mulut soal manipulasi berat timbangan besi tambang, kan? Pilihannya mudah. Beri keuntungan haram itu kepadaku juga, atau layani aku malam ini. Jika tidak, besok pagi seluruh Barakat Mufakat dan polisi akan tahu kelakuan busuk mandor kesayanganmu.”
Aku terkejut melihat Ilham berani mengancam Bibi. Ia kira ancamannya berhasil saat melihat Bibi membisu. Lalu, Ilham merangsek maju. Ia mencengkeram kasar pinggang bibi, mengangkatnya, dan mengempaskan tubuh itu ke atas tumpukan plakat besi berkarat. Ia melumat bibir merah gincunya dengan brutal. Kancing-kancing baju perempuan itu terlepas berhamburan dan sehingga menampakkan bagian dalamnya.
Tapi, Bibi tak menangis atau memohon ampun. Aku justru melihat rautnya berubah seram, tapi tetap tenang seakan-akan sedang mencari celah saat pemuda itu lengah oleh gairah.
Pemuda itu diburu nafsu ketika Bibi melepas celananya. Ilham telentang di atas lempengan baja siku yang tajam. Tanpa melepas bibir Ilham dari bibirnya, Bibi meraih seuntai rantai pengerat kapal kecil yang menjuntai di dekatnya, lalu melilit dan mengikat kedua tangan pemuda itu ke tiang baja.
Ilham tertawa. Pikiran Ilham mungkin sama denganku, mengira inilah permainan esek-esek kesukaan Bibi, seperti adegan ranjang yang sering kudapati di roman picisan. Nikmat dan brutal.
Bibi mengangkanginya, mengunci seluruh gerak. Dalam posisi itu, seulas senyum liar terbit di bibir merahnya. Desah napas Bibi sama sekali tak memburu. Tetap tenang dan terjaga.
Di atas dingin logam, gesekan dua tubuh menciptakan pertunjukan ganjil. Bibi Rosma mendominasi permainan dan mengungkung pemuda itu di bawah kuasanya. Jemari lentiknya mencengkeram rahang, memaksa mulut Ilham terbuka menahan sakit sekaligus gairah yang aneh.
“Kamu mengira bisa mengancam dan memerasku di gudangku sendiri, Bocah?” bisik Bibi di tengkuk pemuda itu. “Kamu pikir otot mudamu yang belum matang ini bisa membeli harga diri dan timbanganku?”
Aku terkejut. Raut Ilham berubah. Pikiran kotor kami sirna.
Pertunjukan yang kusaksikan dari balik drum ini jadi kian seru. Ilham mengerang bukan lagi karena gairah, melainkan karena perih saat punggung telanjangnya tergores permukaan besi tua yang tajam. Kulitnya robek dan berdarah. Bibi seakan-akan memaksa Iham menerima rasa sakit itu. Bibi seperti hendak menjinakkannya bagai budak. Bibi tengah mengunci mulut si pemeras.
Lantas, Bibi bangkit dengan anggun. Ia merapikan kembali kemeja hitamnya seolah-olah baru saja menyelesaikan transaksi barang loak biasa.
Perempuan itu berjalan tenang menuju dinding belakang dan memencet sakelar utama. Lampu sorot menyala seketika, mengusir remang, menelanjangi Ilham yang terkapar lemas penuh gores merah di atas besi tua dengan tangan yang masih terikat. Ia tampak canggung, silau oleh cahaya.
“Besok pagi, bersihkan gudang ini sampai tidak ada sebutir debu pun tertinggal,” suara Bibi dingin dan sekeras lempengan baja. “Katakan pada yang lain, uang tebal yang kuberi pada Suliman untuk biaya persalinan istrinya, bukan karena urusan ranjang atau pembukuan gelap. Kalau aku mendengar lagi mulut kotor yang berani mengancam mandorku atau menggosipkannya di pasar, aku akan memecatmu tanpa pesangon!”
Ilham mengangguk tak berdaya ketika Bibi mulai membuka ikatan rantai di tangannya.
Aku mundur dengan gemetar, lalu berlari sekencang-kencangnya membelah jalan Barakat Mufakat. Jantungku tak karuan, berkejaran dengan bayangan rantai kapal yang berputar di kepala.
Aku berhasil masuk kembali ke dalam rumah dan melihat Bapak lelap berkemul sarung, sementara Ibu mendengkur halus di sampingnya. Ketakutan akan kutukan karat yang merusak rumah tangga Bapak sudah terurai.
Keesokan paginya, ketika matahari membakar atap seng gudang, aku ikut Bapak bekerja karena libur sekolah. Istana gudang tampak cerah. Paman Rosi dan Paman Salman bekerja dengan giat tanpa bergosip lagi, sementara Ilham selalu menunduk setiap berpapasan dengan Bapak.
Dari balik jendela kaca hitam yang buram dan berdebu, Bibi berdiri sambil memegang kalkulator sekepal tangan. Ia seperti ratu penakluk raksasa di Tanah Bumbu dan ingin menghancurkan apa saja yang menghalanginya. Bahkan, baja keras sekalipun.
Sore hari, saat Bapak sedang sibuk di ujung dermaga, aku tidak sengaja menemukan sebuah kotak kayu tua di bawah kolong meja kerja Bapak yang biasanya terkunci. Di dalamnya, tidak ada dokumen pembukuan gelap atau bukti manipulasi timbangan seperti yang dituduhkan Ilham.
Di kotak itu hanya kudapati sebuah roman picisan yang telah usang milik mendiang bapaknya Ibu dahulu. Aku tahu karena ada namanya di sana, di pojok kanan sampul. Saat kubuka, di halaman pertama, tertulis tinta merah yang telah memudar:
Kang, titip Mailah, darah dagingmu. Bilang saja kepada istrimu yang mandul itu, kalau kau mengangkat anak dari kerabat jauhmu. Meski tak bisa mendampinginya, aku akan selalu menjaganya dari jauh.
Rosma.
Aku tertegun, mendadak menyadari satu kebenaran yang jauh lebih pekat daripada malam mana pun di Tanah Bumbu.
- Rahasia Bibi Rosma - 3 July 2026
