Puisi A. Warits Rovi

Merawat Ibu I

 

di matamu yang rabun, tahun-tahun tertidur

hanya dengan hari yang ditumbuhi sebatang pohon

sesudah waktu terakhir kucangkok bilah rantingnya

hingga tumbuh akar-akar menyerupai harapanmu

yang hilang—jauh sebelum doa dipanjatkan

pada gaun malam yang dijahit suara hujan

 

hasil cangkokan itu kutanam dalam diriku

walau tak tumbuh dan tak berbuah

setidaknya tertancap sebagai tanda

agar sejauh burung hasratku terbang

pulang kembali bertengger di ranting itu

sebagai wasiatmu yang mengicaukan lembut kehidupan

 

di matamu yang rabun, lembah puisiku lurus

menyentuh bibir gua ketabahanmu

hingga selangkah beranjak dari kata

aku bakal memijak makna

 

—dan segalamu kususun jadi antologi tunggal

kutaruh di rak matamu; satu-satunya perpustakaan

yang tekun kukunjungi—untuk membaca

segala apa yang tak terwakili semua aksara.

 

Bungduwak, 2025

 

 

 

 

 

 

Merawat Ibu II

 

merawat ibu—menekuni tegak batang pohon

pada garis cuaca yang tak paham getah

namun butuh buah, tanggap tiga lembar daun

mengajari fotosintesis kepada tanganku

yang bergerak untuk mencari buah

walau tak berkuntum, namun kucecap manisnya

di kebun yang tingga sekepal jantung

 

memandikan ibu

membasahi rambutnya, air merayap ke seluruh ujung

menampung denyut segala helai

ke satu titik gravitasi—yang tak dijatuhi, tapi dihikmati

sebagai penyucian dua hadats yang luput

dari fasal di kitab-kitab para pendahulu

 

menyuapinya,

menyambangi sudut senyap kasihnya

yang ditakar antara bibir dan hati

karena ia telah mengenyangkan hidupku lebih dari

sekadar nasi

 

merawat ibu—mencicil utang yang tak mungkin lunas

barangkali hanya sekadar untuk mencambuk diri sendiri

bahwa ibu telah menyusun hidup lebih awal dari urat nadi.

 

Gapura, 2025

 

 

 

 

 

Merawat Ibu III

 

pelan jarak dekat yang kutatih

dengan tumit berjinjit

adalah arah dari telunjuk jarimu

yang menuding

 

“pergi melangkahlah di jalan ini

sebelum jalan ini melangkah pergi,”

ucapmu padaku.

 

aku pun melangkah

hanya dengan bekal sisir karet merah

yang setiap giginya menguar harum rambutmu

 

setiba aku di ujung yang kau tunjuk itu

rampung sudah angin mawar memeluk menara

dan sebentuk sinyal wifi yang terpancar di dadamu

membuka fitur-fitur aplikasi baru

dalam raguku

 

hingga aku mengangguk

bahwa tidak ada ibu lain selain ibuku

; kaulah itu yang merawat sumbu keyakinanku

dengan hati yang teguh.

 

Bungduwak, 2025

 

 

 

 

 

Musim Hujan Telah Tiba, Mur

 

sudikah kau meminjamkan selokan

yang terbuat dari tisu terakhirmu

setelah berhasil merayu air agar tak banjir

dari kampung matamu

yang terlanjur ditawan kesedihan?

 

sudikah kau meminjamkan payung

dari sisa kain parasut doa-doamu

yang menyatakan diri lebih kebal dari daun talas

karena sejak air belum ada, ia telah memusuhinya

dan selalu bersedia menyerahkan gagangnya

kepada setiap tangan yang berhasil menyelamatkan

kesunyian dari santapan gigi hujan?

 

dan ternyata, mur. setelah selokan dan payung

kaupinjamkan. mendung telah lebih dulu pulang

sambil membuang hujan ke tempat sampah

 

—semua tanaman berebut ingin jadi pemulung

agar bisa memungut hujan yang terbuang

lalu sama-sama berencana menanamnya di ladang

supaya banjir bisa dikendalikan.

 

Gapura, 2025

A. Warits Rovi
Add Me
Latest posts by A. Warits Rovi (see all)

Comments

  1. gio ferdinan Reply

    Puisi-puisi tersebut bukan sekadar susunan kata, melainkan sebuah monumen pengabdian. Menarik bagaimana penulis memposisikan diri sebagai “penjaga pohon” (sang ibu). Jika kita ingin memberikan balasan atau apresiasi terhadap makna cerita tersebut, berikut adalah poin-poin utamanya:
    ​Penerimaan Terhadap Waktu: Kita diajak menyadari bahwa orang tua yang dulu menjadi pilar kekuatan, perlahan akan menjadi sosok yang rapuh. Balasannya bukan dengan rasa kasihan, melainkan dengan pemuliaan.
    ​Doa sebagai Perisai: Seperti kutipan tentang “payung dari doa”, kita diingatkan bahwa restu orang tua adalah teknologi perlindungan tercanggih yang kita miliki di dunia yang penuh badai ini.
    ​Pelajaran Tanpa Huruf: Menghargai ibu sebagai “perpustakaan” berarti mengakui bahwa pengalaman dan kebijaksanaan seorang ibu jauh melampaui teori-teori di buku sekolah.

  2. boni Reply

    Puisi “Ibu” menggambarkan sosok ibu sebagai pribadi yang penuh kasih sayang, pengorbanan, dan ketulusan tanpa batas. Melalui pilihan kata yang lembut dan sederhana, penyair berhasil menyampaikan perasaan cinta serta rasa terima kasih kepada ibu atas segala jerih payahnya. Setiap bait puisi mencerminkan perjuangan ibu dalam membesarkan dan mendidik anaknya dengan penuh kesabaran. Suasana haru terasa kuat sehingga pembaca dapat ikut merasakan kedalaman emosi yang disampaikan. Puisi ini juga mengingatkan pembaca akan pentingnya menghargai dan menyayangi ibu selagi masih ada, karena kasih ibu merupakan anugerah yang tidak ternilai harganya.

  3. Agist Indah Reply

    Puisi ini benar benar menyentuh hati saya!
    Menggambarkan cinta dan kasih sayang ibu dengan sangat indah dan mendalam. Saya bisa merasakan emosi yang kuat dalam setiap kata kata yang dipilih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!