
Aku sudah terbiasa berhadap-hadapan dengan gerak keganjilan yang terjadi di bilik ini. Saat malam ditekuk hening, ketika hanya tersisa suara guguran daun jambu, aku selalu melihat potongan-potongan kecil kulit ujung zakar yang melompat-lompat, bagai puluhan belalang mendekati sebilah pisau yang kusimpan di sebuah kotak kayu.
Potongan-potongan kecil kulit ujung zakar itu menguar amis darah dan bau pesing, mengocok isi perutku, membuatku menutup hidung dan mual-mual, tapi akhirnya bau itu hilang saat potongan kecil kulit ujung zakar itu melompat ke dalam kotak kayu itu satu demi satu. Saat kotak kayu itu kubuka, tak ada apa-apa di dalamnya, kecuali hanya pisau tua berkarat yang meringkuk direngkuh kesenyapan, diam pasrah dengan pangkal tinggal separuh oleh sebab kunyahan rayap. Aku tak tahu ke mana potongan kecil kulit ujung zakar itu pergi.
Sejak bibi kerap datang memaksa untuk meminjam pisau itu, aku memindahnya ke tempat yang lebih tersembunyi dan lebih aman; di sebuah galian di bawah lemari, dan kotak kayu yang mewadahinya kututup dengan seonggok batu.
Sudah tiga kali berturut-turut bibi mendatangiku malam-malam. Membangunkanku kala bulan tua terperam di perut kaca jendela. Ketukan tangan bibi di datar daun pintu—yang membangunkan lelapku—hampir kuhafal bunyinya.
Tak ada keperluan lain, selain ingin meminjam pisau khitan kakek. Ia rela datang malam-malam, dengan rambut terurai, mata suram dengan pelupuk diantuk rasa ngantuk, wajah berminyak dengan segaris bekas liur di sudut bibirnya, menempuh jarak lima ratus meter dari rumahnya dengan telanjang kaki hanya untuk itu: meminjam sebilah pisau yang sudah puluhan tahun tak digunakan untuk apa-apa, kecuali diam meneguk kenangan demi kenangan di dalam kotak kayu.
Sejak awal aku curiga pada apa yang bibi inginkan, terlebih ia datang di waktu-waktu yang tak biasa, dan di saat ia baru satu bulan menikah dengan suaminya yang ketiga. Itulah karenanya, aku berbohong, mengatakannya jika pisau itu sudah hilang. Tapi bibi selalu tak percaya. Sepasang matanya menghunjam tajam selat mataku, serasa menyelam hingga ke dasar hati, untuk menemukan fakta yang sesungguhnya.
Ada banyak seliweran kabar tentang pisau itu. Katanya pisau itu bisa jadi benda pesugihan yang membuat pemiliknya jadi kaya, ada yang mengatakan pisau itu jadi benteng segala marabahaya, bahkan sebagian orang mengatakan ia bisa jadi penakluk lawan. Terakhir yang kudengar pisau itu bisa memikat hati lawan jenis. Tapi perihal itu semua bukan tujuanku menyimpan baik-baik pisau itu, melainkan karena sekadar menaati wasiat almarhum kakek.
Masih terekam baik dalam kepalaku, delapan tahun silam, saat subuh disampir gerimis, ketika kakek berbantal paha nenek dengan mata suram, bibir hitam tiram, napas terengah dan batuk membuncah. Dengan tangan gemetar, ia mengambil pisau itu dari bawah bantal dan memberikannya kepadaku. Katanya, hanya aku yang berhak atas pisau itu karena akulah satu-satunya cucu kakek yang laki-laki. Kakek menyarankanku agar pisau itu dibasuh air kembang setiap malam Jumat, mengasapinya dengan kemenyan, menaburinya dengan debu makam bayi sambil dibacakan ayat kursi tiga kali. Aku pun mengangguk. Kakek tersenyum, sebelum akhirnya pejam, beku, tak bernapas. Dan keluarga kami menemukan sumber dingin di sudut-sudut mata. Ritual itu sungguh sangat berat, andai bukan perintah kakek, sudah pasti aku tak sanggup, belum lagi, tak satu pun orang tahu tentang peristiwa ganjil yang terjadi pada pisau itu setiap malam Jumat.
Aku tidak tahu kenapa bibi bersikeras mau meminjam pisau itu di saat-saat baru menikah. Aku khawatir suaminya yang membujuk bibi mengambil alih pisau itu agar bisa kaya dan sebagainya.
#
Setiap bulan Sya’ban tiba, rumah kami kebanjiran tamu. Mereka adalah para lelaki yang dulu bersunat kepada kakek. Kini mereka sudah jadi bapak-bapak bahkan ada yang sudah jadi kakek-kakek. Mereka berkunjung ke rumah kami beserta anak dan istrinya untuk mengenang jasa kakek.
Tamu-tamu kami membawa beras, daging, palawija, buah-buahan, gula pasir, kopi dan beragam makanan ringan tradisional. Sejak dari tanggal satu hingga tanggal tiga puluh, mulai lesap cahaya subuh hingga—kadang—larut malam, beranda kami senantiasa riuh dengan cakap dan senda tawa.
Biasanya nenek akan mengundang sebagian tetangga untuk memasak suguhan yang akan diberikan kepada tamu-tamu itu. Sepanjang bulan Sya’ban dapur kami tekun mengepulkan asap putih dengan ruap aroma aneka masakan, mulai dari kuah santan, lodeh, tumis, lauk sapi kuah kuning dan merah, satai ayam bumbu kacang. Juga menguarkan aroma penganan tradisional seperti cocor, pengbhali, bidaran, dan apen.
Sebelum tamu-tamu itu mencicip makanan, terlebih dahulu, satu demi satu masuk ke bilik samping rumah kami yang berdinding kayu dengan satu pintu tunggal dari bilah-bilah bambu. Tempat itulah yang dulu digunakan kakek untuk menyunat mereka. Masing-masing dari mereka biasanya akan duduk sebentar, mengenang masa lalunya saat disunat.
“Kakekmu kalau menyunat tidak sakit, sama seperti rambut yang dipotong, tak terasa apa-apa, alir darahnya cepat kering, dan hanya butuh waktu dua hari untuk sembuh total,” ucap salah seorang tamu kami bercerita perihal kakek.
“Lenyapnya rasa sakit pada zakar, sebenarnya karena pengaruh pisau sakti milik kakekmu yang digunakan untuk menyunat itu,” sambung tamu yang lain sembari menoleh ke beberapa tamu seperti mengharap pembenaran. Dan tamu yang lain akhirnya benar-benar mengangguk. Demikian aku, menyimak sambil mengangguk pula.
“Dan yang paling unik lagi, zakar yang disunat kakekmu akan tumbuh besar dan tuannya akan jadi ‘petarung’ tangguh,” sambung tamu yang berjenggot setengah tersipu malu, lantas disusul tawa serentak. Aku pun tertawa meski agak terlambat karena pikiranku fokus pada fungsi unik itu. Maklum, karena aku disunat tenaga medis—setelah kakek dilarang menyunat oleh kepala desa karena alasan tidak pernah belajar ilmu medis sebagaimana para dokter—pantas saja jika tidak tahu perihal itu.
“Apa pisau itu masih ada?” tanya salah satu tamu, membuat cakap kami henti, berganti hening. Aku tahu bibi—yang duduk bersama tamu-tamu perempuan di sebelah kami—terlihat menguping, matanya selalu melirik kepadaku.
“Aku tidak tahu pisau itu,” jawabku berbohong, segera aku menunduk, para tamu kulihat mengangguk. Bibi berdeham agak keras.
#
Sesudah Sya’ban berlalu, setelah keriuhan cakap tamu-tamu lenyap, inilah waktu nenek merengek kepadaku setiap tahun. Nenek berkali-kali membujukku agar menyunat seperti kakek. Alasannya karena dengan menyunat, selain membantu sesama, sekaligus bisa mendatangkan rezeki. Nenek menjelaskan tentang banyaknya tamu-tamu yang datang di bulan Sya’ban dengan membawa oleh-oleh. Menurut nenek, itu semua berkat pekerjaan kakek menyunat.
Nenek datang ke kamarku setiap hari. Saat membujuk, wajahnya selalu tampak sedih. Sepasang matanya melinang air bening, leleh melewati kerut kulit pipinya hingga membasahi bibirnya yang bergetar pucat. Tak cukup itu, ia akan terus mengguncang-guncang bahuku agar permintaannya itu segera dikabulkan. Berkali-kali aku menjelaskan kepada nenek, bahwa saat ini penyunat tradisional yang menggunakan pisau sudah tidak diizinkan oleh negara. Selain itu, tentang keadaan pisau khitan kakek yang sudah tumpul juga kujelaskan padanya, tapi nenek terus merengek. Suara tangisnya bagai lengking suara biola kesedihan di malam-malam perkabungan, ritmis, dan sangat menyayat perasaan.
Kini kamarku selalu didatangi nenek dan bibi. Nenek datang pada siang hari dan bibi datang pada malam hari, keduanya sama-sama punya keperluan yang berujung sama; mengenai pisau khitan kakek. Hingga tiba suatu hari, aku berbicara dengan nenek dan bibi di satu meja mengenai pisau itu. Aku sudah putus asa merawat pisau itu karena desakan yang terus bertubi dari nenek dan bibi. Akhirnya aku meminjamkan pisau itu kepada bibi dalam waktu yang tak terbatas. Bibi sangat bahagia, rona wajahnya begitu cerah, tatap sepasang matanya seperti rekah mawar putih, padu dengan sesimpul senyum yang diapit sepasang bibirnya. Nenek pun bahagia, karena bibi berjanji kepada nenek suatu saat ia akan jadi tukang sunat. Diam-diam, aku mencebik. Janji bibi pasti hanya alasan belaka untuk mengelabui nenek agar pisau itu jatuh ke tangannya.
Hari-hari berikutnya aku hanya berdiam di dalam bilik kakek. Membersihkan dinding kayu yang dibedaki debu, atau melenyapkan pintalan sawang laba-laba yang bergelantungan, sambil menunggu kabar bibi perihal pisau itu. Sesekali nenek berkunjung ke bilik sore hari dengan bunyi ketukan tongkat yang menumbuk lantai. Wajahnya terlihat lebih bahagia, mungkin karena bibi berjanji untuk meneruskan pekerjaan kakek. Jika malam Jumat tiba, aku tak lagi sibuk membakar kemenyan dan membuat air kembang. Potongan kecil kulit ujung zakar yang dulu melompat-melompat, kini sudah tak ada.
Bibi datang seminggu kemudian sejak pisau khitan kakek ada di tangannya. Pagi-pagi sekali ia menemuiku di dalam bilik dengan langkah yang tergesa. Wajahnya tegang, dilumas keringat. Sontak aku kaget. Rasa kegetku kian bertambah saat kulihat pisau kakek di tangannya berlumur darah. Bibi gemetar. Saat bibirku bergerak untuk ancang-ancang bertanya, kagetku bertambah lagi, tiba-tiba ada sekelompok orang di luar berteriak, memanggil nama bibi sambil menyebutnya: pembunuh.
“Pembunuh! Mana pembunuh itu? Kok tega membunuh suaminya?”
Saat orang-orang itu tiba di pintu, bibi lebih dulu menjelaskan dengan suara nyaring, tapi agak gemetar, “Aku tidak bermaksud membunuhnya. Dia belum pernah disunat. Aku hanya ingin menyunatnya dengan pisau ini agar dia lebih jantan. Tapi … darahnya … Aku ….”
Bibi tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Pisau yang dipegangnya jatuh.
Gaptim, 2025
- Puisi A. Warits Rovi - 23 December 2025
- Pisau Khitan Kakek - 1 August 2025
- Puisi A. Warits Rovi - 2 July 2024


Gilang firmansyah
Bener bener bagus dan sangat menarik
khalayak
penasaran dengan lanjutannya
Ali
bagus sekali kak
Sirajul Huda
Kok bisa ya cerpen sebagus ini
Vzzz
cerpennya baguss bangett, akuu sukaa
Alfa
Sederhana ceritanya dan pesannya lgsg dapat. bahasa yang digunakan juga indah dan dalam. sangat menggambarkan keadaan para tokoh dalam cerita.