Kabar Duka

Kudengar musim duka tumbuh subur di kampungku. Dari mana lagi datangnya cerita-cerita itu kalau bukan dari laporan rutin ibuku melalui sambungan telepon.

Dalam seminggu, dua sampai tiga kali Ibu menghubungiku dari jauh. Baginya, jarak ratusan kilometer antara ibu kota dan kampung kami hanyalah angka; suara Ibu selalu berhasil menyeretku pulang, seolah kami selalu bercengkerama setiap sore di teras rumah.

Aku mempersilakan Ibu meneleponku sesuka hati. Kadang menjelang magrib begitu memastikan aku sampai di kos sepulang dari kantor, atau malam hari saat kami sudah bersiap di atas kasur sebelum tidur.

Melalui nada bicaranya yang menggebu-gebu, Ibu akan membuka percakapan dengan kalimat yang hampir selalu sama.

“Ada kabar duka.”

Kabar duka yang dimaksud tidak selalu kabar kematian. Kami menyepakatinya sebagai istilah kabar buruk yang muncul di penjuru kampung; semacam kabar-kabar ganjil atau kemalangan yang entah datang dari mana saja menurut info yang Ibu dapatkan. Ibu selalu memberi kabar duka, seolah-olah kampung kami adalah ladang tempat kesialan tumbuh subur.

Suatu hari Ibu bercerita tentang juragan kapal yang masyhur di kampung kami. Juragan itu dulu selalu pulang dari melaut dengan hasil melimpah dan uang miliaran. Rumahnya dua lantai, halaman penuh mobil, orang-orang menghormatinya. Ia membawa serta para pemuda-pemuda dari kampung kami untuk ikut melaut dan menjadi anak buah kapal miliknya.

Kabar terbaru, kata Ibu ia kini tak bisa apa-apa, hanya terbaring di ranjang.

“Stroke berat kalau secara medis mah.” Ibu berbisik di ujung telepon. ”Kalau kata orang-orang, ada yang nakalin. Perang ’orang pintar’-nya sesama bos kapal. Terus, dia yang kena.”

Aku hanya menggumam pelan. “Oh begitu, Bu.”

Pernah di lain hari, Ibu mengabari tentang Pak Mun. Seseorang yang seumur hidupnya hanya mengenal meja judi, tiba-tiba saja ia rajin sembahyang dan tak pernah absen di barisan terdepan saf masjid.

”Alhamdulillah, dia sudah bertaubat,” kataku menimpali.

“Jangan tertipu!” Suara Ibu terdengar sinis. “Dia itu bukan tobat nasuha. Dia mau daftar jadi anggota dewan. Jadi sekarang dia ‘investasi’ suara. Caper sama masyarakat kayaknya.”

Yang terbaru, beberapa waktu lalu Ibu mengabari tentang penggusuran warung tenda di pertigaan jalan besar. Beritanya sampai viral di media sosial. Pemilik warungnya, Neng Lilis, seorang janda muda, menangis histeris di depan kamera, menyebut-nyebut bahwa ia sudah rela “melayani” pejabat desa agar lapaknya tidak digusur.

“Kamu tahu siapa pelakunya? Pak Lurah! Dia meniduri perempuan itu dengan janji palsu. Sekarang warungnya tetap digusur, aibnya pun tersebar. Kamu sudah lihat di TV atau Facebook, belum?”

“Sudah, Bu,” jawabku pendek. Padahal aku belum melihatnya. Jika Ibu sudah sampai pada bagian seperti ini, lebih baik aku tidak banyak bertanya.

Aku menghela napas panjang. Sebenarnya, aku pernah menasihati Ibu agar tidak sering mencari tahu urusan orang lain. Aku tidak sudi membayangkan ibuku masuk dalam lingkaran setan ibu-ibu penggunjing di tukang sayur atau sekumpulan ibu-ibu berkedok pengajian padahal transfer informasi lintas sudut kampung. Namun, Ibu berkata, bahwa ia tak pernah mencari. Berita itu datang sendiri dan hinggap di telinganya. Tapi, bukankah itu tetap terbang dari mulut orang lain?

“Ibu, kalau mau cerita soal orang kampung, telepon aku saja. Ceritakan semuanya kepadaku sampai Ibu puas. Tapi jangan bicara di luar. Biar cerita itu berhenti di aku. Lagi pula aku takkan membagikannya kepada siapa pun,” ujarku. Sejak itu, mungkin aku tanpa sadar memberi Ibu tempat melabuhkan berbagai kabar duka dari kampung kami.

Ibuku pencerita yang ulung. Padahal aku jauh di rantau, tapi lewat ceritanya aku seperti tak pernah pergi kemana-mana. Orang-orang di sana tetap hidup di kepalaku; dengan kesialan, gosip, dan tragedinya.

Aku tahu Ibu kesepian di rumah. Tak ada lagi teman untuk ia berbagi cerita sejak kepergian Bapak beberapa tahun lalu karena virus corona yang mengurangi sebagian populasi manusia di bumi ini.

Sehingga, saat Ibu menelepon, aku tahu ia hanya ingin menuntaskan hasrat berceritanya sebagai seseorang yang butuh teman mengobrol. Tak jarang aku hanya menimpali seadanya sebab layar laptopku pun dipenuhi deadline pekerjaan. Lagi pula, aku tak ingin mengecewakan Ibu yang bercerita dengan penuh semangat.

Ketika akhirnya aku pulang ke kampung dalam rangka mudik lebaran, aku merasa seperti berada dalam sebuah panggung yang semua pemainnya sudah kukenal ceritanya. Setiap kali pergi bersama Ibu ke pasar lalu bertemu seseorang atau menyaksikan Ibu menyapa para tetangga, kepalaku otomatis bekerja seperti mesin pemindai.

“Oh, ini yang suaminya selingkuh.”

“Oh, itu yang anaknya kawin lari karena tak direstui.”

“Oh, ini yang katanya kena santet istri muda suaminya.”

Tentu saja itu hanya dalam benakku, tidak mungkin kukatakan secara langsung. Terkadang, justru Ibu yang cepat-cepat menoleh ke arahku sambil melirik tajam, seolah memberi kode; ini yang Ibu maksud tempo hari. Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ternyata memang demikian ajaib orang-orang di kampungku. Setiap orang menyimpan kisahnya masing-masing.

Begitu juga setiap aku pulang ke rumah. Seperti biasa, akan selalu ada pertanyaan yang muncul ke permukaan. Hal paling menyebalkan yang tak bisa kuhindari di hari-hari saat aku pulang ke rumah seperti ini.

“Kenapa belum nikah?”

“Kapan calonnya dikenalin ke keluarga?”

Dan sejumlah kapan ini dan itu lainnya yang cukup mengganggu. Aku biasa menanggapi mereka seadanya atau hanya menemui mereka sebentar, lalu mengunci diri di kamar, menghabiskan waktu dengan menggulir media sosial atau menonton film-film seharian.

Sampai dengan perayaan hari kedua Idulfitri, semua berjalan seperti biasa. Aku mengantarkan Ibu ke sana kemari. Dan di setiap tempat selalu ada cerita baru. Si anu kemarin cerai, si itu nikah karena kecelakaan, si ini anaknya terlibat pinjol. Kampungku seperti koran harian yang halaman utamanya selalu dipenuhi kabar buruk.

Di hari ke tiga, badanku tak karuan. Sedari pagi, tubuhku menggigil dan kepalaku pusing. Meski begitu, sore itu ketika Ibu pergi halal bi halal, aku pergi ke apotek di pinggir kampung yang agaknya masih baru dan sepi. Aku pernah melirik, di balik etalase ada barang yang kucari, yang tak bisa kubeli bila bersama Ibu. Setelah pelayan toko memberiku barang itu, aku buru-buru keluar. Tapi mendadak pandanganku gelap dan aku tumbang.

Aku mendengar suara langkah cepat mendekat. Ketika pandangaku mulai jelas, kulihat parasnya dan aku mengenalinya: Neng Lilis. Ia memanggil becak dan mengantarku pulang. Ia tak berkata apa pun ketika duduk di sebelahku, meski aku sadar ia pasti tahu barang yang kubeli yang tadi sempat terlontar ketika aku pingsan.

Saat aku sampai rumah, aku lihat wajah Ibu tidak suka. Sekilas saja, lalu ia membungkuk-bungkuk mengucapkan terima kasih kepada Neng Lilis yang segera pamit pulang. Kemudian Ibu memapahku masuk ke kamar.

“Kamu kecapean itu, istirahat aja. Kelamaan di kota, jadi kaget kena angin kampung,” kata Ibu sambil membawakanku teh hangat ke kamar. Aku mengiyakannya saja. Meski sebenarnya, ada kekhawatiran yang tak mungkin kuceritakan kepada Ibu.

Sudah lewat dua bulan aku tidak datang bulan. Sejak pertemuan terakhir kami minggu lalu—sebelum pulang ke kampung halaman masing-masing, pacarku mendadak sulit dihubungi. Teleponku tak pernah tersambung, pesanku hanya berakhir dengan centang satu.

Aku terus mengurung diri di kamar, sebab setiap kali mencium aroma masakan Ibu, perutku seperti diaduk-aduk. Rasa mual itu datang seperti ombak, mendesak ingin keluar. Kepalaku bertambah berat setiap memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Apalagi aku yakin saat itu Neng Lilis melihat test pack yang kubeli. Akankah namaku menambah daftar panjang kabar duka berikutnya dari kampung ini?

Dua hari kemudian, aku kembali ke kota. Ibu masih sering meneleponku dan menceritakan kabar duka. Dan setiap itu pula, jantungku seperti hendak meledak. Tapi, tidak pernah ada namaku di sana. Tidak ada kabar duka tentangku.[]

Annisa Moezha
Latest posts by Annisa Moezha (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!