Puisi Penny Augusta

 

Kota dan Algoritma

 

Kota ini pelan-pelan belajar mengenalku.

 

Dari langkah yang itu-itu saja,

dari jam pulang yang hampir tak pernah berubah.

 

Di kedai dekat lampu merah,

pintunya kadang sudah dibukakan

sebelum sempat kusentuh.

 

Barista menyebut namaku tanpa bertanya,

menuliskannya cepat di gelas kertas

yang selalu terasa terlalu hangat di telapak tangan.

 

Peta di ponsel menyala otomatis,

menawarkan jalan tercepat

ke alamat yang sama,

seakan aku tak pernah ingin ke mana-mana lagi.

 

Bahkan lampu lalu lintas

seperti tahu kapan aku akan berhenti,

kapan harus menunggu.

 

Semuanya terasa tepat,

terukur,

tercatat.

 

Kecuali satu hal.

 

Saat kunci kuputar di pintu rumah,

tak ada yang benar-benar berubah.

 

Udara di dalam tetap saja asing,

seperti kamar sewaan yang belum sempat kutata.

 

Kadang aku berpikir,

mungkin yang disebut pulang

bukan soal jarak tempuh

atau rute tercepat—

ada sesuatu yang tak masuk hitungan,

yang tak bisa dipelajari kota,

atau ditebak oleh apa pun yang merasa mengenalku.

 

 

 

Akun Lain

 

Aku pernah membuat akun baru.

 

Namanya tetap namaku,

hanya fotonya kuganti—lebih terang, lebih ramah.

 

Di sana aku tampak ringan.

 

Lebih sering tertawa,

lebih cepat membalas pesan,

seolah tak pernah berpikir dua kali

sebelum berkata sesuatu.

 

Aku mengunggah senja yang sebenarnya biasa saja,

menulis keterangan yang terdengar yakin,

dan orang-orang menyukainya.

 

Angkanya naik pelan-pelan,

seperti tepuk tangan dari ruangan yang tak terlihat.

 

Tak ada yang tahu

semuanya kutulis dari kamar yang sama—

lampu redup, jendela tertutup,

jam dinding berdetak tanpa pernah ikut bersorak.

 

Kadang aku sendiri hampir percaya

pada versi yang lebih cerah itu.

 

Sampai suatu malam

aku salah memasukkan kata sandi.

 

Sekali, dua kali.

 

Layar tetap menolak.

 

Aku duduk cukup lama

di depan notifikasi gagal itu,

merasa seperti orang asing

yang tak bisa membuktikan dirinya sendiri.

 

Sejak malam itu

aku sering bertanya-tanya:

yang hilang sebenarnya akun itu,

atau bagian dariku

yang sempat hidup di sana?

 

 

 

Riwayat Pencarian

 

Pukul 00.47

aku mengetik namaku sendiri

di kolom pencarian.

 

Belum selesai huruf ketiga,

mesin itu sudah tahu

siapa yang kumaksud.

 

Yang muncul bukan hanya foto wisuda

dengan senyum yang terlalu lebar,

atau tulisan lama

yang kuberi judul besar-besar

agar terdengar penting.

 

Ada juga satu tautan

tentang perdebatan kecil

yang dulu kupikir sudah selesai.

 

Namaku tertinggal di sana,

menempel pada kalimat

yang kutulis saat marah

dan merasa paling benar.

 

Aku lupa pernah menjadi orang itu.

 

Internet tidak.

 

Kugulir layar lebih jauh.

 

Tahun-tahun berdiri berderet

seperti saksi yang sabar.

 

Beberapa memanggilku dengan nada bangga,

beberapa lain

seperti ingin memastikan

aku tidak lupa pernah gagal.

 

Kursor berkedip di kolom kosong.

 

Untuk sesaat aku ingin mengetik:

“cara menghapus diri sendiri dari masa lalu.”

 

Tapi yang kutulis tetap namaku.

 

Lagi.

 

Di bagian paling bawah halaman

tak ada yang benar-benar berakhir.

 

Namaku bisa muncul kembali

di tangan siapa saja—

dengan makna yang tak selalu bisa kupilih.

 

Dan malam itu

aku sadar,

barangkali yang paling sulit dihapus

bukan jejaknya,

melainkan keinginanku

untuk terlihat baik-baik saja.

 

 

 

Arsip Waktu

 

Tadi malam aku membuka galeri foto.

 

Wajahmu masih ada di sana,

di antara potongan ulang tahun dan cahaya lilin

yang dulu sempat kuabadikan tanpa banyak pikir.

 

Semua tersimpan rapi menurut tanggal.

 

Seolah waktu memang bisa dibereskan begitu saja.

 

Jariku berhenti cukup lama di satu gambar.

 

Lebih lama dari yang ingin kuakui.

 

Aku memperbesar, lalu mengecilkannya lagi,

seakan dengan begitu perasaannya ikut berubah.

 

Akhirnya kuhapus foto itu.

 

Layar berkedip sebentar,

muncul pertanyaan kecil: “yakin?”

 

Aku menekan iya.

 

Gambar itu hilang,

tapi malam tidak ikut kosong.

 

Ada sisa cahaya yang tertinggal di mata,

entah dari layar

atau dari sesuatu yang belum selesai.

 

Kadang aku membayangkan

di suatu tempat yang tak pernah kulihat,

mungkin masih ada salinan hari itu.

 

Bukan cuma file-nya—

melainkan versiku

yang masih berdiri di sana,

tersenyum pada sesuatu

yang sekarang tak lagi bisa kusentuh.

Penny Augusta
Latest posts by Penny Augusta (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!