Syaikh Mu’min asy-Syirazi & Syaikh Abu Ishaq asy-Syami

Syaikh Isma’il ad-Dabbas mengatakan bahwa dirinya berniat untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima. Yaitu, melaksanakan ibadah haji dengan ikhlas karena Allah Ta’ala. Sama sekali tidak karena niat apa pun yang lain. Dalam hal ini, apa pun selain Allah Ta’ala, sudah tidak masuk hitungan.

Setelah beliau sampai Syiraz, sebuah wilayah di Iran, beliau masuk di sebuah masjid. Beliau melihat Syaikh Mu’min asy-Syirazi sedang menjahit di masjid itu. Beliau kemudian mengucap salam kepada Syaikh Mu’min itu. Lalu beliau duduk. “Apa niatmu?” Syaikh Mu’min asy-Syirazi bertanya kepada beliau.

“Melaksanakan rukun Islam yang kelima. Yaitu, melaksanakan ibadah haji karena Allah Ta’ala, bukan karena manusia atau apa pun yang lain,” jawab beliau. “Ibumu masih hidup?” tanya Syaikh Mu’min asy-Syirazi lagi kepada beliau. “Ya, masih hidup, masih hidup,” jawab beliau dengan pasti menjawab pertanyaan itu.

“Pulanglah engkau. Mengabdilah kepada ibumu, bukan kepada perempuan yang lain,” kata Syaikh Mu’min asy-Syirazi kepada beliau. Beliau sangat takjub mendengarkan kata-kata Syaikh Mu’min asy-Syirazi itu. Bahkan dalam kondisi beliau sangat capek, beliau masih terpukau oleh kata-kata itu.

“Keraguan macam apa yang ada dalam dirimu?” tanya Syaikh Mu’min asy-Syirazi kepada beliau. Beliau menjawab bahwa dirinya telah lima puluh kali melaksanakan ibadah haji dengan tanpa sangu sama sekali. Dengan tanpa pakai sandal, dengan tanpa tanpa menggunakan kopiah.

“Pahala lima puluh kali haji itu semua kuberikan kepada jenengan asalkan jenengan memberikan pahala rida ibu jenengan kepadaku,” kata beliau kepada Syaikh Mu’min asy-Syirazi dengan penuh kemantapan dan kepastian. Betapa sangat mengagumkan ketika dua orang yang dekat kepada Allah Ta’ala bertemu.

Sementara Syaikh Abu Ishaq asy-Syami adalah orang yang paling tua di antara para sufi pada waktu itu. Kuburan beliau berada di Ikkah di negeri Syiria. Beliau termasuk sahabat Syaikh ‘Alawi ad-Dainuri. Syaikh ‘Alawi ad-Dainuri termasuk sahabat Syaikh Habirah al-Bashri.

Syaikh Habirah al-Bashri termasuk sahabat Hudzaifah al-Mur’isyi. Syaikh Hudzaifah al-Mur’isyi termasuk sahabat Syaikh Ibrahim bin Adham. Semoga Allah Ta’ala senantiasa mensucikan batin mereka. Amin ya Mujibassailin. Terasa sekali bahwa persahabatan di sini itu tak lain karena Allah Ta’ala.

Syaikh Abu Ishaq asy-Syami telah sampai di desa Jisyt. Sementara Syaikh Abu Ahmad Abdal adalah kaki para sufi yang ada di negeri itu. Syaikh Abu Ishaq asy-Syami bersahabat dengan sufi itu, dengan Syaikh Abu Ahmad Abdal, termasuk di bawah pendidikan rohani beliau.

Di sini jelas bahwa kekuatan rohani para sufi itu didukung oleh kekuatan rohani yang lain. Dan kekuatan rohani itu pastilah didukung oleh kekuatan hadiratNya. Jadi, yang dari Allah Ta’ala itu pastilah kembali kepada hadiratNya, jadi tidak mungkin kembali kepada yang lain. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!