Versi-versi Singkat Riwayat Jamal Tirakat

SETELAH konon berkali-kali berada di ambang mati, Jamal Tirakat akhirnya betul-betul mati. Lepas subuh tadi, Marjili Samsuri, yang sedang bergegas pulang usai menuntaskan tugas berjaga di diskotek, mendapati tubuhnya tergeletak di trotoar di depan toko roti.

“Mulanya kukira belum sadar dia dari mabuknya. Setelah kudekati, ternyata ada luka-luka. Di perutnya, di punggung, leher, dada, di belakang kepala. Ada juga di tangan dan kakinya.”

Total terdapat 17 luka. Sebagian besar tikaman. Wajahnya bengap: tulang pipi memar membiru, kedua sisi pelipis koyak memanjang menggaris alis, sementara bibirnya pecah membengkak, dengan tiga gigi depan rompal. Selain luka, kaki kirinya juga patah.

Kehebohan segera merebak. Bisik-bisik yang menjalar menyepakati Jamal Tirakat mati dibunuh. Namun, siapa yang melakukannya dengan cara begini keji? Gerangan apa kesalahannya sampai dia mesti dihabisi dengan cara begini keji?

Jamal pernah menceritakan beberapa riwayat di ambang kematian yang menempatkan dirinya sebagai calon korban. Riwayat paling lampau yang bisa kuingat datang dari masa ketika usianya 24 kalau tidak 25, dan masih kerap keluyuran mengendarai motor setang tinggi yang knalpotnya dibelah begitu rupa hingga memperdengarkan suara bising yang menyakitkan telinga. Meniru-niru Peter Fonda dan Jack Nicholson di film Easy Rider, Jamal mengenakan jin cutbray dan kemeja ketat dilapis jaket kulit, lengkap pula dengan selendang yang dililit di leher, sementara di pinggangnya senantiasa terselip belati untuk menjaga diri.

Jamal hidup di jalanan. Namun, dia bukan bagian dari kelompok preman yang menarik upeti dari pedagang kaki lima dan toko-toko cina. Dia bergerak seorang sendiri dan oleh sebab itu harus senantiasa melangkah dengan sangat berhati-hati.

Walau demikian, bilang Jamal, dia tetap masih bisa bersenang-senang. Bisa bernyanyi. Terutama sekali memang bernyanyi. Kepiawaian bermain gitar, pun modal suara yang boleh dikata tak buruk, membuatnya jadi semacam legenda kecil di sejumlah pub dan bar. Khususnya yang sering didatangi orang-orang kulit putih. Lagu-lagu The Rolling Stone, Pink Floyd, juga Black Sabbath, Uriah Heep, dan The Velvet Underground, diluncurkannya dari panggung dengan lagak gaya perpaduan Ucok AKA dan Ozzy Osbourne. Tak terkecuali rambut potongan kribo dan sekujur badan yang dijadikannya belantara tato.

Hampir persis Osbourne, masing-masing tato Jamal juga punya cerita. Di buku-buku jari tangan kirinya terdapat rangkaian huruf yang membentuk namanya. Dibaca dari kanan ke kiri, masing-masing satu huruf pada tiap buku jari, kecuali jari tengah: J-AM-A-L. Ini tato Jamal yang pertama. Dibuatnya sendiri semasa SMA, menggunakan tinta spidol dioplos larutan obat diare dan arang tempurung kelapa, serta jarum jahit yang ujungnya dipanaskan dengan bara api.

Tato lain di lengan kanannya, bunga mawar yang kelopaknya sedang mekar dengan pita bertuliskan ‘Laila’ di bawahnya, kami persangkakan sebagai jejak cinta. Jamal tak menampiknya. Perempuan itu bernama Laila, dan Jamal memang mencintainya. Cinta yang begitu besar, begitu berkesan, melulu lantaran tak terbalaskan.

Apa pasalnya? Jamal tak pernah menjawab. Tiap kali, dia hanya menggeleng atau tersenyum. Pastinya, Jamal mengabadikan ‘Laila’ di tubuhnya, bukan ‘Anamira’, nama istrinya.

Pertanda kalah? Atau sebangsa pelampiasan kecewa dan marah? Jamal lagi-lagi tak menjawab. Namun, alih-alih sekadar jadi rekam jejak asmara, tato ‘Mawar Laila’, juga huruf-huruf yang membentuk nama di buku-buku jarinya, kepala naga di dada, cakar elang yang mencengkeram kepala drakula di bahu kanan, sepasang dadu yang menunjukkan jumlah angka sembilan, pisau belati menembus apel, dan cakra di kedua sisi pundak, kemudian justru jadi petaka. Keberadaannya membuat Jamal memenuhi syarat untuk jadi target buruan dalam operasi pemberantasan kejahatan.

Lain dari operasi-operasi sebelumnya, operasi ini bukan lagi soal tindakan menangkap, menahan, dan memenjarakan. Pemberantasan betul-betul berujung kematian. Kurang sepekan setelah kabar beredar, seorang laki-laki gondrong bertato tersuruk mati dalam parit di tepi jalan. Posisinya menelungkup dan terdapat luka tembak di bagian belakang kepalanya serta dua lainnya di leher dan dada. Kemudian, tiga laki-laki sekaligus ditemukan berbungkus goni di antara tumpukan sampah plastik dan limbah ikan di depan pasar. Lalu seorang yang lain ditikam saat menghadiri pesta pernikahan dan seorang yang lain lagi dikeroyok massa di kompleks lokalisasi. Konon yang terakhir ini, sebelum babak belur digempur puluhan orang, sempat beradu mulut dengan dua orang berbadan tegap.

Sejauh itu Jamal masih belum terlalu ambil peduli. Masih petantang-petenteng keluyuran ke sana kemari. Dia mengenal betul orang-orang yang mati ini dan menganggap mereka sedang sial saja. Sampai satu hari, pertengahan Juli 1983, lepas tengah malam tanggal 15 kalau tidak 16, mobil Toyota Hardtop yang ditumpanginya bersama dua kawannya usai mereka habis-habisan menggeber satu acara hura-hura, dipepet empat motor: masing-masing di depan dan belakang, serta dua lainnya mengapit di sisi kiri dan kanan.

Motor di depan melaju zig-zag, lalu melambat, sementara motor-motor di kiri dan kanan mobil makin mepet dan dua orang yang membonceng kemudian mengambil sesuatu dari balik jaket mereka. Sebelum Jamal dan kawan-kawannya menyadari apa yang terjadi, kaca-kaca mobil telah pecah seiring suara letusan.

Tujuh letusan. Tiga dari kiri. Empat dari kanan.

“Dor! Dor! Dor!”

“Dor! Dor! Dor! Dor!”

            Rahmat Kartolo, yang dipanggil Jereng, segera terkapar. Kening kirinya berlubang dan darah menciprat ke dashboard dan kaca depan. Peluru juga menghajar dan menembus pipinya. Wahyono Budin alias Yono Black yang berada di belakang kemudi, kelojotan dan mengerang panjang sembari memegang lehernya. Darahnya menyembur seperti air yang mendesak keluar dari pipa bocor. Mobil oleng, keluar jalur lalu menghantam pohon di tepi jalan.

Jamal yang duduk di bangku belakang luput dari kematian. Bahunya memang terserempet peluru dan pelipisnya koyak akibat benturan keras ke dinding kabin, tapi dia selamat. Hanya pingsan beberapa saat. Namun kematian Rahmat Kartolo dan Yono Black seketika menyadarkan Jamal betapa situasinya memang sangat berbahaya.

Sejak itu dia seperti hidup dalam pelarian. Berpindah-pindah kota, bertukar nama. Panji, Awang, Sancaka, dan Wira Saksana, di antara yang sering digunakannya. Nama-nama petualang dan orang sakti, yang dikutipnya serampangan dari lembaran komik, yang masih digunakannya di awal-awal masa ketibaan di Medan. Terutama Wira Sasana. Berpakaian hampir persis pendekar setengah gila itu: serba putih dengan ikat pinggang dan ikat kepala kain, Jamal membuka lapak-lapak obat mustajab dan batu akik di tanah lapang dan emper-emper toko.

            Tentu saja, tidak ada obat Jamal yang tak paten. Intonasi bicaranya; bagaimana menjaga tempo, bagaimana mengatur ritme (Jamal tahu kapan harus meninggikan dan kapan harus merendahkan suara), membuat siapa pun yang mendengarkan kata-katanya akan percaya betapa obat-obat yang dijualnya, yang ia akui diracik oleh tangan-tangan yang tidak saja ahli tapi lebih jauh juga diridhoi, memang mujarab menyembuhkan segala macam penyakit. Tinggi gunung ada dasarnya, dalam laut ada dasarnya, tiap sakit ada obatnya...

Sementara batu-batu akiknya melejit-lejit melintas ruang dan waktu pula. Memapas batas fiksi dan fakta, dari Wulung Hitam yang dipakai Si Pitung dan membuatnya kebal terhadap segala macam senjata, sampai Aquamarine yang disebutnya sebagai hadiah Raja Neptunus penguasa lautan kepada para putri duyung untuk menghentikan tangis mereka. Ada juga cerita batu merah delima. Batu dari Nabi Sulaiman untuk Ratu Balqis, yang kemudian hilang selama berabad-abad sebelum ditemukan di Tanah Jawa, terpecah jadi dua. Pecahan pertama dipakai Mas Karebet alias Joko Tingkir, laki-laki yang bertarung melawan dua ratus buaya. Adapun yang lainnya, yang muncul lebih dulu, jatuh ke tangan Gajah Mada.

Kepiawaian bercerita ini, di tahun-tahun berselang, ternyata memang sungguh sangat berguna. Jamal sempat didapuk menjadi juru bicara satu organisasi masyarakat yang selalu berada di barisan paling depan untuk perkara yang berkaitpaut dengan Tuhan. Jamal tampil di mana-mana. Memberi keterangan pada media atau berorasi dalam aksi unjuk rasa. Bahkan sekali waktu pernah tampil di acara debat yang berlangsung panas dan nyaris berujung baku hantam. Saat itu dia sudah lebih dikenal sebagai Jamal Tirakat. Sebutan yang ditabalkan kepadanya lantaran dia pernah dibaiat mengikut satu tarekat.

            Jamal sebenarnya tak pernah bermaksud untuk berguru. Ihwalnya adalah tudingan bahwa sembari jualan obat dan batu akik dia juga mengedarkan ganja dan pil anjing. Tudingan yang tiada jelas dari mana datangnya. Entah siapa pula yang melaporkannya. Bukan kami pastinya. Memang betul Jamal kala itu masih sering mabuk-mabukan. Favoritnya Kambing Putih, Stevenson, dan tuak. Terutama tuak. Tiap kali duduk di kedai, sembari menyanyi bergitar-gitar, Jamal bisa menghabiskan tiga teko tuak seorang diri. Namun soal ganja, tak sekali pun kami pernah mendengar atau melihat dia mengisapnya. Apalagi sampai tenggen, mabuk berat melangkah terhuyung lantaran menelan pil anjing. Nah! Jika mengonsumsinya saja tidak, apalagi mengedarkannya, bukan? Tentu, tak sedikit bandar narkotika yang justru tidak pernah menyentuh barang-barang terlarang yang diedarkannya. Ini fakta lain yang tak termungkiri. Namun untuk Jamal, kami menggaransi dia tidak melakukannya. Kami berani bersaksi dia bukan agen gelek.

            Jamal menolak melawan. Tak mau ambil risiko. Bilangnya waktu itu, walau tidak bersalah, rekam jejak masa lalu yang bisa saja dibongkar kembali membuat posisinya lemah, dan oleh sebab itu, menurut dia akan konyol belaka jika dia berkeras di hadapan polisi. Maka dia memilih untuk sekali lagi melarikan diri. Atau barangkali, ini kali, lebih tepat disebut bersembunyi.

Petunjuk seorang kawannya membawa Jamal ke pondok tarekat pimpinan Ramon Suleman bin Sayuti bin Munawar bin Baron bin Sayed Darwis El Berahim, yang oleh murid-muridnya dipanggil Tuan Guru. Tidak terlalu banyak yang diungkap Jamal dari periode kehidupannya di pondok ini, selain bahwa niat sekadarnya untuk bersembunyi dari kejaran polisi pada akhirnya justru berubah jadi keterikatan lantaran di sini dia merasa menemukan lagi bagian dirinya yang telah lama hilang. Tuan Guru itu, sebut Jamal, selain mengajarkan perihal kearifan-kearifan semesta, cinta, dan kasih sayang terhadap sesama mahluk Tuhan, juga menyukai rock, dan membangun satu studio yang terletak bersisian dengan kediamannya. Pada malam-malam tertentu, Jamal membersamai Tuan Guru dan sejumlah mursyid dan murid di studio ini, memainkan rock-rock klasik, dari Nirvana ke Metallica, ke Red Hot Chili Pappers, The Beatles, sampai Guns N’Roses.

Jamal kerasan di pondok dan sempat memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana lagi. Dia bahkan mengaku sudah tirakat, melepas diri dari segala apa yang berkenaan dengan duniawi. Namun, kematian Tuan Guru mengubah segalanya. Suksesi pimpinan pondok tarekat tidak berjalan mulus. Gejolak dan friksi-friksi mengapungkan. Tuan Guru tidak punya anak laki-laki, dan sosok-sosok yang muncul sebagai calon pengganti tidak satu pun yang bisa diterima dengan suara bulat. Maka murid-murid Tuan Guru pun tercerai-berai. Beberapa memutuskan pergi, meneruskan hidup dan nasibnya sendiri-sendiri. Jamal juga. Kudengar dia sempat singgah di beberapa kota. Membuka semacam praktik konsultasi, tempat orang-orang bertanya segala sesuatu menyangkut kebajikan dan kewaskitaan.

            Tak seberapa lama, kurang lebih lima atau enam bulan, Jamal menutup praktiknya dan bergeser ke aktivitas-aktivitas lain, termasuk bergabung dengan organisasi masyarakat yang selalu berada di jajaran terdepan untuk perkara-perkara yang berkenaan dengan Tuhan, yang kemudian mendekatkannya ke panggung politik. Tahu-tahu Jamal sudah menjadi kader partai. Tahu-tahu terdaftar sebagai calon wakil rakyat. Tahu-tahu berkampanye.

Pendek kata, segala sesuatunya memang tampak begitu menjanjikan. Namun ternyata ujungnya mengecewakan. Jamal kalah telak dan ini jadi pukulan yang tak tanggung kerasnya. Bukan semata lantaran kekalahannya. Bukan pula karena Anamira yang kemudian memutuskan pergi. Konon, dari kabar yang berangin-angin ke telinga, istri yang dinikahinya atas perjodohan yang digagas Tuan Guru ini, sejak awal memang tak sepakat dengan kiprah politiknya. Alih-alih berpolitik, dia lebih suka, dan sempat benar-benar meminta Jamal untuk berdagang parfum atau beternak lele saja.

Dua perkara ini benar memukul Jamal, tapi pukulan terbesar baginya adalah kenyataan bahwa untuk menutupi segala ongkos politik, dia menguras seluruh simpanan dan meminjam pula pada rentenir. Pinjaman ini, tentu saja, berbunga dan berbunga, dan bunganya pun terus berbunga. Dia juga menerima uang dari orang-orang yang meminta pembayaran di belakang. Perjanjiannya, uang tak perlu dikembalikan, tapi dengan catatan, sebagai wakil rakyat Jamal harus membantu mereka mendapatkan proyek-proyek. Khususnya di pemerintahan. Sebaliknya, jika Jamal kalah, uang dianggap sebagai pinjaman, yang sebagaimana berasal dari rentenir, akan diperhitungkan bunga-bunganya.

            Kekalahan di bilik suara, istri pergi, dan utang yang ketat melilit pinggang, ditengarai melimbungkan kewarasan Jamal. Mula-mula warga melihatnya jadi lebih sering duduk-duduk sendiri di beranda rumahnya. Termenung termangu-mangu sendiri, menggeleng-geleng sendiri, mengangguk-angguk sendiri. Berjam-jam. Kadang sampai seharian. Lalu dia mulai tersenyum dan tertawa-tawa. Lalu meringis dan menangis. Lalu, di lain hari, dia mulai singgah di kedai-kedai tuak lagi. Lain hari dia berjalan-jalan sembari bicara sendiri, kadang dengan intonasi suara pelan, kadang juga melejitkan nada-nada tinggi, dengan mimik wajah dan gerak tubuh yang mirip gestur orang sedang berorasi.

Di saat bersamaan menjalar bisik-bisik lain. Bisik-bisik curiga, yang mencuat lantaran Jamal sering tiba-tiba menghilang. Benar-benar menghilang. Tanpa kabar. Tanpa jejak. Berhari-hari, berminggu-minggu. Bisik-bisik menyebut Jamal jadi kibus. Ya, dia tidak sungguh-sungguh gila. Dia hanya pura-pura gila, agar tak dicurigai kala memata-matai dan mengawasi orang-orang tertentu yang harus diwaspadai.

Kibus tentara atau polisi? Tidak pernah ada jawaban terang. Warga, setahuku, terbagi dua. Sebagian percaya, sebagian menyangsikan. Kelompok yang terakhir ini masih meyakini Jamal betul-betul telah kehilangan kewarasan, dan pandangan mereka memang tetap tak berubah, meski tidak sedikit yang mengaku pernah beberapa kali melihat Jamal bercakap-cakap dengan orang-orang tak dikenal, yang jelas tampak terlalu rapi dan sempurna untuk disebut sekadar sebagai sebangsa musafir lalu, yang kebetulan lewat semisal bertanya alamat.

*

DI hadapan juru periksa, seorang polisi perempuan berwajah manis yang entah kenapa sepertinya ingin terkesankan bengis, mulutku masih terkunci. Setelah mencatat data-data pribadiku, dia menanyakan sejauh mana–dalam kapasitas sebagai kepala lingkungan–aku mengenal Jamal Tirakat. Aku sama sekali tak punya maksud bersikap tidak kooperatif. Apatah lagi coba bermuslihat menyembunyikan sesuatu. Ah, tidak, lah! Tak ada alasan bagiku untuk melakukannya. Tak ada untungnya juga. Aku masih diam sekadar lantaran belum tahu harus mulai menjawab pertanyaannya dari mana. Persisnya, dari versi riwayat yang mana.

Medan, awal 2026

T Agus Khaidir
Latest posts by T Agus Khaidir (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!