
Dua Ribu Zirah
Kau menempah zirah dari arwah pitarah
menghimpun perempuan berambut malam
bala tentaramu laiknya hamba bermata peluru
yang diutus membidik hari
menembaki tahun-tahun piatu.
Kala angin meratus burung-burung camar
aroma kematian menjadi ingkar
memantik kibar liwa putih pada sahaya
yang berlayar memunggungi
negeri kincir angin.
Di hadirat amuk ombak-ombak
kau menyeringai mengingat susu dan pedang
terlebih dulu menafkahimu pada hari-hari busuk
dan tak tercatat dalam kalimat-kalimat ampun.
Bagai tangkai kering menebas pepohonan keras
tanganmu mengasingkan jalan pulang bagi pelimbang
ia bersurai pirang, Cournelis de Houtman
lampus meneguk laut beserta lekat darah
dan tenggelam di kedalaman rasa takut.
Seribu kapal menyembahmu, Malahayati
di atas bahtera lunas kau pijaki
kayu-kayu runcing seraya meniru Nuh
menyeru garam-garam laut membasahi
telapak tanganmu agar garam-garam keringat
di keningmu mampu mengobati
luka-luka maujud yang saban hari bertapa
menyucikan nama-nama yang gugur.
Usai kematian merenggut kekasihmu
kau justru berbalik hidup
menghapus tahun-tahun merugi.
Pematangsiantar, 9 Februari 2026
Kera-kera Lanun
Kau singa yang menghamba pada lautan
mengaum di sepanjang pesisir
mengasah dendam dari kening-kening karang
memasung kapal-kapal perang sebagai bangkai
yang terkutuk di balik ombak.
Suatu negeri menetap di tubuhmu
diberikannya kau seorang raja
demi menatah tiga segara
menerbangkan sabda pada yang purba
hingga namamu jauh lebih agung
ketimbang tanah yang membesarkanmu.
Leluhurmu mengkhatamkan samudera
dari kayu-kayu hutan yang diberi mantra
menimbang ibrah dari seluruh jazirah
demi nasib nasabnya di hari liyan
menghafal bunyi pertempuran.
Laut mencintaimu, Malahayati
di tubuhnya—telah kau tenggelamkan
suatu penawar
manakala bangsa-bangsa asing bertandang
kau tak perlu sedu sedan
mengasung karam kepada liang.
Biru matamu adalah kompas yang menerka
kapan kesiut angin mengembuskan kain-kain kafan
kau adalah nama yang diucap segala tempat.
Di Selat Malaka—Teluk Haru
kera-kera lanun berlayar perkara
memberimu neraka rahim meriam
batu-batu hitam melayang
menghantam kapal kekasihmu
hingga lungkah jadi abu.
Hari itu
kau diam menahan sungai-sungai
sebab bagimu, diam adalah cara paling rapi
untuk menutup hati bermusim yatim.
Di hari yang patah
di hadapan tulang-tulang daun kelapa
kau merapal sumpah
membendung kata-kata
di balik geretak gigimu
dan berkata:
“peperangan adalah neraka
yang menyala dari luka”
Di tengah laut rasa sakitmu berderu
mengaram kepulangan
alam seberang.
Pematangsiantar, 9 Februari 2026
Nasib Rimba
Aku membaca buku hijau rimba
mencari pengarang yang mengurai
roh-roh leluhur
menulis ulang rimpang
merayu syuhada alam semberang
agar seluruh dingin hutan
membakar jisim para penebang.
Di tanah ini
petani menumbuhkan taring-taring,
merawat cakar-cakar merah,
mengajari hutan-hutan untuk menerkam,
tangan-tangan lacur
meranggas segala ladang.
Di kemahaluasan ini
aku ingin menjadi api
yang enggan memberi maaf
sebab tanahku bukan timpang cuaca
saban hari dipaksa mengering.
Pematangsiantar, 9 Februari 2026
Seruan Ganjil
Kau memelihara bahasa
di balik bulan yang buruk
menyangkal geladir doamu
laiknya pemabuk
yang saban hari tersesat
tak tahu pintu kabul.
Kau berkata sebutir debu
tak mungkin menyentuh langit
namun percaya bahwa keasingan
bukanlah budak
berpura-pura melayanimu
dalam kemiringan sebuah istana.
Singgasana adalah kuda
yang tak pernah kau beri nama
di atasnya, kau mengkhatamkan
malam-malam sembab
melahirkan kata-kata sumbang
dari seruan ganjil
lalu memaki semua adegan kesedihan
sebab kau mengira
dalam kesedihan tak pernah ada kening
layak untuk dikecup.
Sungguh kau tak mampu
menutup kesendirian
sebagaimana tanganmu
tak cukup merahasiakan
ritme perpisahan.
Pematangsiantar, 9 Februari 2026
- Puisi Ilham Nuryadi Akbar - 28 April 2026
