Puisi Ilham Nuryadi Akbar

 

Dua Ribu Zirah

 

Kau menempah zirah dari arwah pitarah

menghimpun perempuan berambut malam

bala tentaramu laiknya hamba bermata peluru

yang diutus membidik hari

menembaki tahun-tahun piatu.

 

Kala angin meratus burung-burung camar

aroma kematian menjadi ingkar

memantik kibar liwa putih pada sahaya

yang berlayar memunggungi

negeri kincir angin.

 

Di hadirat amuk ombak-ombak

kau menyeringai mengingat susu dan pedang

terlebih dulu menafkahimu pada hari-hari busuk

dan tak tercatat dalam kalimat-kalimat ampun.

 

Bagai tangkai kering menebas pepohonan keras

tanganmu mengasingkan jalan pulang bagi pelimbang

ia bersurai pirang, Cournelis de Houtman

lampus meneguk laut beserta lekat darah

dan tenggelam di kedalaman rasa takut.

 

Seribu kapal menyembahmu, Malahayati

di atas bahtera lunas kau pijaki

kayu-kayu runcing seraya meniru Nuh

menyeru garam-garam laut membasahi

telapak tanganmu agar garam-garam keringat

di keningmu mampu mengobati

luka-luka maujud yang saban hari bertapa

menyucikan nama-nama yang gugur.

 

Usai kematian merenggut kekasihmu

kau justru berbalik hidup

menghapus tahun-tahun merugi.

 

Pematangsiantar, 9 Februari 2026

 

 

Kera-kera Lanun

 

Kau singa yang menghamba pada lautan

mengaum di sepanjang pesisir

mengasah dendam dari kening-kening karang

memasung kapal-kapal perang sebagai bangkai

yang terkutuk di balik ombak.

 

Suatu negeri menetap di tubuhmu

diberikannya kau seorang raja

demi menatah tiga segara

menerbangkan sabda pada yang purba

hingga namamu jauh lebih agung

ketimbang tanah yang membesarkanmu.

 

Leluhurmu mengkhatamkan samudera

dari kayu-kayu hutan yang diberi mantra

menimbang ibrah dari seluruh jazirah

demi nasib nasabnya di hari liyan

menghafal bunyi pertempuran.

 

Laut mencintaimu, Malahayati

di tubuhnya—telah kau tenggelamkan

suatu penawar

manakala bangsa-bangsa asing bertandang

kau tak perlu sedu sedan

mengasung karam kepada liang.

 

Biru matamu adalah kompas yang menerka

kapan kesiut angin mengembuskan kain-kain kafan

kau adalah nama yang diucap segala tempat.

Di Selat Malaka—Teluk Haru

kera-kera lanun berlayar perkara

memberimu neraka rahim meriam

batu-batu hitam melayang

menghantam kapal kekasihmu

hingga lungkah jadi abu.

 

Hari itu

kau diam menahan sungai-sungai

sebab bagimu, diam adalah cara paling rapi

untuk menutup hati bermusim yatim.

 

Di hari yang patah

di hadapan tulang-tulang daun kelapa

kau merapal sumpah

membendung kata-kata

di balik geretak gigimu

dan berkata:

“peperangan adalah neraka

yang menyala dari luka”

 

Di tengah laut rasa sakitmu berderu

mengaram kepulangan

alam seberang.

 

Pematangsiantar, 9 Februari 2026

 

 

Nasib Rimba

 

Aku membaca buku hijau rimba

mencari pengarang yang mengurai

roh-roh leluhur

menulis ulang rimpang

merayu syuhada alam semberang

agar seluruh dingin hutan

membakar jisim para penebang.

 

Di tanah ini

petani menumbuhkan taring-taring,

merawat cakar-cakar merah,

mengajari hutan-hutan untuk menerkam,

tangan-tangan lacur

meranggas segala ladang.

 

Di kemahaluasan ini

aku ingin menjadi api

yang enggan memberi maaf

sebab tanahku bukan timpang cuaca

saban hari dipaksa mengering.

 

Pematangsiantar, 9 Februari 2026

 

 

Seruan Ganjil

 

Kau memelihara bahasa

di balik bulan yang buruk

menyangkal geladir doamu

laiknya pemabuk

yang saban hari tersesat

tak tahu pintu kabul.

 

Kau berkata sebutir debu

tak mungkin menyentuh langit

namun percaya bahwa keasingan

bukanlah budak

berpura-pura melayanimu

dalam kemiringan sebuah istana.

 

Singgasana adalah kuda

yang tak pernah kau beri nama

di atasnya, kau mengkhatamkan

malam-malam sembab

melahirkan kata-kata sumbang

dari seruan ganjil

lalu memaki semua adegan kesedihan

sebab kau mengira

dalam kesedihan tak pernah ada kening

layak untuk dikecup.

 

Sungguh kau tak mampu

menutup kesendirian

sebagaimana tanganmu

tak cukup merahasiakan

ritme perpisahan.

 

Pematangsiantar, 9 Februari 2026

Ilham Nuryadi Akbar
Latest posts by Ilham Nuryadi Akbar (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!