
Setelah Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair begitu menikmati pembicaraannya, tenggelam di dalam hal itu, Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku melihat kesempurnaan kasyaf beliau, menyaksikan kerentek-kerentek beliau. Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku kemudian berkata dalam dirinya:
“Subhanallah. Aku telah mengunjungi beberapa sufi sejak kecil dengan kaki tajrid, dengan membebaskan diri dari apa pun selain Allah Ta’ala, lantas apa sebabnya tampak bagi beliau sesuatu yang tidak tampak bagiku?” Kemudian Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair menoleh kepada Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku.
Beliau kemudian mengatakan: “Kuasa cinta dan toleransi diberikan kepadamu. Sementara kedaulatan cinta dan kerinduan diberikan kepadaku. Keberuntungan sepenuhnya ada di engkau. Sementara nasib berpihak kepadaku. Sesungguhnya cinta berada pada dirimu wahai tujuanku.”
Semoga rahmat Allah Ta’ala senantiasa diberikan kepada tuan kita Nabi Muhammad Saw dan seluruh keluarganya. Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair kemudian mengusapkan tangannya ke wajahnya. Beliau lalu turun dari mimbar, kemudian datang ke dekat Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi dan Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku.
Setelah mereka duduk, Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair kemudian berkata: “Wahai Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi, katakan pada sufi ini untuk membersihkan hatinya kepadaku.” Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku kemudian berkata: “Aku akan menyucikan hati dengan syarat ini. Hendaklah engkau tak datang datang kepadaku setiap hari Kamis.”
Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair berkata: “Engkau kemudian memandang para syaikh dan orang-orang besar. Aku akan datang bagi pandangan itu, tidak bagi dirimu.” Setelah Syaikh itu mengucapkan kalimat ini, semua manusia kemudian menangis, mereka juga takut.
Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku juga menangis. Terangkatlah pertentangan di antara keduanya. Tapi hati keduanya tetap sama-sama bersih. Mereka berdua sama-sama bangkit dengan puncak cinta dan belas kasih. Mereka seakan-akan hanya punya cinta, tidak memiliki sifat-sifat yang lain.
Setelah reda pertentangan di antara mereka, Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku pergi untuk mendatangi Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair dengan perantara tarian dan semaan puisi-puisi yang diingkari saat itu. Dengan demikian, beliau bermimpi pada malam itu seakan-akan beliau mendengarkan suara orang:
“Berdirilah dan menarilah karena Allah Ta’ala. Beliau kemudian bangun dan berkata: ” Tidak ada kekuatan untuk menghindar dari keburukan, tidak ada kekuatan untuk berbuat baik, kecuali dengan pertolongan hadiratNya Yang Mahatinggi dan Mahaagung: la haula wala quwwata illa billahi al-‘aliyy al-‘azhim.
Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku berbicara bahwa itu tak lain hanyalah merupakan bunga tidur. Kemudian beliau tertidur lagi. Lalu, beliau bermimpi seperti kemaren lagi, seakan-akan seseorang berkata dalam mimpinya: “Bangunlah dan menarilah karena Allah.” Kemudian beliau bangun, berwudhuk, membaca sebagian surat Qur’an.
Lalu, beliau tidur lagi. Dan menyaksikan mimpi seperti itu lagi. Beliau kemudian bangun dan pergi menuju Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair. Beliau masih berada dalam rumahnya. Beliau berkata: “Bangunlah dan menarilah karena Allah Ta’ala.” Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku kemudian tercerahkan hatinya, ikhlas sepenuhnya karena Allah Ta’ala.
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku #2 - 17 April 2026
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku - 10 April 2026
- Syaikh Abu Zur’ah al-Ar-Dubili - 3 April 2026
