Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani

Beliau adalah ‘Ali bin Ja’far. Nama beliau dinisbatkan kepada Kharaqan, sebuah desa yang ada di Samarqand sebagaimana disebutkan di dalam Kitab al-Lubab. Beliau adalah satu-satunya sufi yang paling cemerlang di zamannya. Beliau dikenal sebagai pertolongan di masanya.

Beliau dikenal sebagai qiblah al-waqti di masanya, sebagai kiblat hakiki yang dihadapi orang-orang di zamannya. Beliau adalah tempat rujukan orang-orang yang berkeluh-kesah tentang persoalan apa pun. Setiap persoalan kalau dihadapkan kepada beliau, pasti persoalan itu menjadi beres karenanya.

Syaikh Abu al-‘Abbas mengatakan bahwa setelah kematiannya, Syaikh Abu al-‘Abbas, Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani akan menjadi rujukan orang-orang untuk berbagai macam persoalan. Dan betul, ramalan Syaikh Abu al-‘Abbas itu tidak meleset sedikit pun. Sungguh sangat mengagumkan.

Nisbat di dalam tasawuf, beliau bernisbat kepada Sulthan al-‘Arifin, Syaikh Abu Yazid al-Bisthami. Karena itu, di dalam menempuh suluk, di dalam menempuh perjalanan menuju kepada Allah Ta’ala, orang-orang di masanya seperti menyaksikan Syaikh Abu Yazid al-Bisthami.

Syaikh Abu Yazid al-Bisthami memang meramal seseorang jauh sebelum kematiannya, tentang seseorang yang akan lahir, berperangai begini dan begitu. Dan setelah Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani lahir, beliau persis seperti ramalan Syaikh Abu Yazid al-Bisthami, tidak meleset sedikit pun.

Boleh jadi Syaikh Abu Yazid al-Bisthami memang meramal seseorang dan ramalannya tidak meleset. Atau beliau memang tidak sedang meramal tapi diijinkan oleh Allah Ta’ala untuk mencipta nasib seseorang sehingga menjadi pas dengan kenyataan. Wallahu a’lamu.

Sebagaimana Syaikh Fariduddin al-‘Aththar yang meramal Maulana Jalaluddin al-Rumi ketika masih berumur sekitar sepuluh tahun. Beliau bilang bahwa “anakmu ini kelak akan harum namanya baik di barat maupun di timur” kepada Syaikh Bahauddin Walad, orang tua dari Maulana Rumi.

Ada sebagian ulama yang mengira bahwa Syaikh Fariduddin al-‘Aththar meramal Maulana Jalaluddin ar-Rumi. Ada sebagian ulama yang lain yang mengira bahwa beliau sedang diijinkan oleh hadiratNya untuk mencetak nasib sang penyair sufi. Keduanya sama-sama benar, sama-sama terbukti.

Pada suatu hari, Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani pernah bertanya kepada para sahabatnya: “Apakah sesuatu yang terbaik?” Mereka yang ditanyai menjawab: “Engkau yang lebih tahu wahai tuan.” Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani mengatakan: “Hati yang senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala.”

Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani wafat pada malam Sabtu tahun empat ratus dua puluh lima Hijriah. Dunia berduka karena kehilangan orang yang mulia itu, dunia bersedih karena kehilangan orang tercinta itu. Tidak ada lagi rujukan orang-orang. Tidak ada lagi orang yang menyelesaikan berbagai macam persoalan. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!