
Pohon yang Menulis Dirinya Sendiri
Ia tak punya tinta
Tetapi mencatat segalanya dalam lingkaran-lingkaran kecil
Di tubuhnya yang tua
Setiap musim, satu baris
Setiap luka, satu kalimat
Angin membaca dalam diam
Hanya sesekali membalik halamannya
Menyentuh dengan lembut
Sebelum pergi lagi tanpa komentar
Ia menulis tanpa berharap dibaca
Tanpa takut dilupakan
Sebab ia tahu, suatu hari nanti
Tubuhnya akan menjadi tanah
Dan cerita-cerita itu
Akan tumbuh dalam akar yang baru
Bukittinggi, 2025
Katedral Tanpa Jendela
Di kota tanpa alamat, aku berdiri
di bawah menara yang tak berani runtuh—
batu-batu bisu menggigil dalam bayang sendiri.
Seseorang pernah menanam doa di ubun-ubun malam
tapi angin mencabutnya satu per satu,
membiarkan langit telanjang tanpa nyala
Apakah kita semua hanyalah refleksi
yang terpantul di genangan waktu?
Air riak-riaknya masih mengingat wajahku.
Aku mengetuk pintu sunyi
namun hanya gaung yang menjawab.
Tuhan barangkali hanya gema
yang tersangkut di pilar katedral,
tak mampu pulang ke muasal.
Aku menyusun puing-puing cahaya
mencoba membangun jendela
agar aku bisa melihat keluar,
atau sekadar menemukan bayanganku sendiri.
Bukittinggi, 2025
Malam yang Tak Pernah Tidur
Malam jatuh seperti tirai lusuh
Menggantung di jendela waktu
Namun mataku tetap menyala
Seperti lampu di lorong rumah sakit
Menunggu tangis kecil yang memanggil namaku
Ada ketukan lembut di dinding sunyi
Apakah itu angin atau kecemasan yang tak berwajah?
Aku belajar membaca bahasa yang tak terucap
Napas kecil yang tersendat
Jari-jari mungil yang mencari hangat
Dalam gelap yang tak sepenuhnya gelap
Di luar, bulan melayang seperti doa
Menjaga yang lelah
Membisikkan ketabahan
Aku, ibu yang tak pernah tidur
Membelah malam menjadi pelukan
Dan fajar adalah hadiah atas kesabaran
Aku belajar mendengar detak yang tak terlihat
Seperti bisikan waktu yang menetes di sudut malam
Bayangan bergerak di bawah cahaya lampu
Menari pelan seperti ingatan yang enggan pudar
Sepasang tangan mungil menggenggam jariku erat
Seperti akar yang menahan pohon dari amukan angin
Seperti jangkar yang menahan kapal dari badai tak bernama
Bukittinggi, 2025
Ibu yang Mencari Dirinya
Di balik dapur dan tangis anak-anak
Aku mencari diriku sendiri
Di sela pekerjaan rumah dan malam yang tak tidur
Kusematkan mimpiku yang hampir pudar
Kadang aku temukan diriku di cermin dapur
Bersembunyi di antara uap dan piring kotor
Atau di lipatan selimut yang kusematkan rapi
Sebelum tangis kembali memanggilku pulang
Aku berjalan dalam bayanganku sendiri
Menyusuri lorong waktu yang samar
Bertanya pada bayangan di dinding
Apakah aku masih perempuan yang dulu
Atau sekadar gema yang memudar di balik nama ‘ibu’?
Mungkin aku tidak hilang
Aku hanya berubah bentuk
Menjadi tangan yang menuntun
Menjadi suara yang menenangkan
Menjadi ibu yang mencintai tanpa jeda
Meski sesekali rindu mengetuk pintu
Bertanya, kapan aku kan pulang ke diriku sendiri?
Mungkin aku tidak hilang
Aku hanya berubah bentuk
Menjadi tangan yang menuntun
Menjadi suara yang menenangkan
Menjadi ibu yang mencintai tanpa jeda
Bukittinggi, 2025
- Puisi Rika Prima Nanda - 29 July 2025
- Puisi Rika Prima Nanda - 11 February 2025


Sarayu
love this poem