Buku dan Kopi, dan Adukan yang Belum Selesai

Belakangan kopi terasa sangat kuat berasosiasi dengan buku. Dan semakin kuat saja. Orang-orang bahkan mendiskusikan seberapa kuat hubungan itu—kebanyakan dengan rasa bangga, dengan analisis-analisis yang terasa muluk—seakan-akan satu diciptakan untuk yang lain. Orang-orang seperti menemukan sesuatu yang hebat dan besar. Dunia literasi tiba-tiba memiliki masa depan.

Orang-orang ramai mereplikanya, sebagian dengan sejenis romantisme lama yang dibungkus harapan-harapan baru. Setiap warung kopi yang baru berdiri dirayakan seakan sebuah perpustakaan tengah dibangun. Setiap ada kafe yang sedang ramai, rasa-rasanya satu angkatan penulis akan lahir, sebuah komunitas epistemik intelek tengah digodog. 

Media sosial kemudian membuat perumitan-perumitan, juga hiperbola-hiperbola, yang sebelumnya hanya ada di kepala jadi lebih terasa nyata: dari sekadar dipikirkan, ia menjadi gambar yang bisa dilihat, menjadi adegan yang bergerak. Di masa ketika Facebook sangat dominan, kopi hitam dan gorengan bersanding dengan laptop butut dan buku-buku filsafat fotokopian penuh coretan yang setengah terbuka menghiasi postingan banyak orang. (Barangkali bukan kebetulan, orang-orang yang dianggap pintar di Facebook seperti Denny Siregar atau Iqbal Aji Daryono mengasosiasikan diri dengan kopi; demikian juga ungkapan merendahkan “ngopimu kurang jauh” juga muncul di masa ini.) Ketika zaman Instagram, menjadi kelaziman akun-akun yang mencitrakan diri melek literasi mengunggah sampul novel-novel baru, berbahasa asing kalau bisa, yang bersisian dengan secangkir kapucino dan sepotong croissant, dan satu vas bunga kering di latar belakang. Di masa yang lebih belakangan, ketika orang semakin malas membaca (dan menulis) status atau kepsyen yang terlalu panjang, buku dan kopi berjumpa dalam video-video pendek orang-orang berkaca mata dan berbicara dengan cepat dan bersemangat.

Orang-orang kadang lupa, bahkan mungkin benar-benar tak tahu, hal-hal semacam kopi dan buku ini adalah temuan baru, sebuah tren yang punya titik mulai dan kapan-kapan hampir pasti akan selesai, yang muncul dan berhentinya pada satu masa selalu membutuhkan konteks, memerlukan prakondisi tertentu, dan oleh karena itu sering kali unik. Dan upaya-upaya untuk menduplikasinya bisa saja berujung sangat berbeda, jika bukannya gagal sama sekali.

***

Ya, kalimat-kalimat di atas sedikit sarkastis; beberapa kata dipilih dengan sengaja untuk mengejek. Tapi sebelum ada yang tersinggung, saya mesti mengatakan bahwa, pertama-tama, kalimat itu ditujukan kepada orang semacam saya. Karena, pada satu masa, saya memang punya pikiran demikian: bahwa buku dan kopi mungkin bisa jadi masa depan literasi. Dan bukan sekadar percaya, dalam beberapa hal saya mencoba ikut ambil bagian mewujudkannya.

Kira-kira sepuluh tahun yang lalu dari hari ini, saya dan beberapa kawan di Jogja berkeliling dari satu warung kopi ke warung kopi yang lain untuk membuka kelas menulis. Saya, saat itu, mungkin berpikir untuk memberi semacam gambaran kepada lebih banyak orang bahwa dunia kepenulisan sangat keras dan tak cocok untuk orang-orang lembek dan gampang merengek, namun saya tahu beberapa orang datang kepada kami dengan keinginan untuk mengubah dunia. Apa pun itu, yang jelas, di mata kami, kopi dan warung kopi kemudian cocok dengan suasana diskusi, mengkonsolidasi gerakan, dan tempat beberapa peristiwa kebudayaan digodog dan dimatangkan. Dan pada satu titik, beberapa orang dari kami berpikir, untuk gerakan literasi, untuk dunia kebudayaan yang lebih baik, kami membutuhkan warung kopi kami sendiri. Seni harus mandiri, kebudayaan harus bisa hidup dari dan oleh dirinya sendiri, gerakan harus punya sayap ekonomi, atau hal-hal hebat dan muluk semacam itu. Maka, orang-orang romantik ini memutuskan bantingan untuk mendirikan warung kopi. Agar mendekati seperti yang dibayangkan, orang-orang paling optimistik di antara kami bahkan pasang kata “literasi” pada nama warung kopi tersebut. Warung itu tutup tak sampai tiga tahun kemudian.

Di tempat lain, yang sedikit jauh dari Jogja, saya menitipkan angan-angan konyol tentang buku dan kopi ini kepada seorang kawan yang mendirikan warung kopi di pinggir Jalan Daendels Tuban-Paciran, tepat di bibir Laut Jawa. Waktu itu, belum banyak warung kopi di sekitar situ, apalagi jika ditambah dengan sebuah perpustakaan kecil dan diskusi buku sesekali. Maka, saya menghibahkan sekitar lima ratusan buku dan majalah bekas untuk dipajang di situ. Juga, ikut mengupayakan beberapa acara diskusi dan bursa buku. Warung itu berdiri sampai sekarang, masih terus jalan, tapi diskusi hanya sempat berlangsung dua kali, dan rak buku yang sebelumnya menjadi ciri di warung itu sudah tak penting lagi. Setahun yang lalu saya ke situ, warung itu dipenuhi oleh remaja tanggung yang main game online atau ngeslot. Belakangan, kabarnya, ada karaoke juga—seperti kebanyakan warung kopi yang menjamur di daerah itu.

Di tempat lain lagi, seorang anak muda yang bersemangat mengontak saya, meminta izin untuk memakai nama tokoh fiksi saya, “Dawuk”, sebagai nama warung kopi di pinggir hutan tak jauh dari kampungnya yang didirikannya. Katanya, warung itu akan ia pakai untuk menjadi tempat buku dijual dan dibicarakan. Bodohnya, saya dengan sedikit rasa bangga mengizinkannya. Dan tak sampai dua tahun kemudian, ketika saya mengatakan bahwa saya ingin mengunjungi Warung Kopi Dawuk itu, dengan sendu ia bilang bahwa warung itu sudah kukut—mengikuti nasib buruk tokoh yang dirujuknya.

Saya lupa, demikian juga beberapa orang lain, bahwa kopi dan/atau warung kopi adalah tambahan baru belaka. Ia bukan faktor determinan. Kopi mungkin cocok untuk orang yang membaca atau menulis atau sekadar membicarakan buku, tapi ia tak pernah membuat orang jadi gila membaca, apalagi menjadi lebih pintar. Toh, di tempat di mana kopi paling banyak diminum dan warung kopi paling banyak berdiri, di situ juga ditemukan sound horeg.

Jogja, tempat saya menemukan buku dan tradisi membaca, bahkan bukan tempat orang menyukai kopi; teh “nasgitel” lebih menunjukkan apa dan siapa orang Jogja dibanding jenis minuman apa pun. Dan sebelum Badrun mendirikan Blandongan di kompleks kos-kosan anak-anak IAIN di sekitar Nologaten pada 2005, anak-anak di Jogja biasa membaca Nietzsche atau membicarakan Foucault dengan es teh bungkus plastik yang digigit ujungnya atau susu jahe panas dalam gelas cantel. Di sepanjang ’90an hingga awal 2000an, di angkringan-angkringan di sekitar Sagan atau Klebengan atau Gang Guru, buku bukan hanya dibaca, tapi dibuat.

Ketika di Blandongan kita kemudian menemukan banyak orang bertungkus lumus dengan buku, itu bukan karena kopi girasnya yang keras; itu karena ia adalah tempat yang ideal bagi bocah-bocah malang dari Madura, Tapal Kuda Jawa Timur, Pantura Jawa, atau Minang yang selama bertahun-tahun tersiksa oleh kopi encer dalam gelas besar ala angkringan. Dan di antara mereka adalah para penulis tak laku, penyair muda yang uang kuliahnya tergantung koran Minggu, editor freelance yang tak diterima di penerbit-penerbit Bandung atau Jakarta, atau penerjemah amatiran yang dipakai karena mau dibayar murah. Dan mungkin saja kebanyakan mereka adalah anak-anak UIN yang sedang mengerjakan skripsi namun tak punya meja di kamar kosnya.

Tanpa Jogja, tanpa kampus-kampus besar di sekitarnya (yang kini mengusir pulang mahasiswanya begitu lepas Magrib), tanpa tradisi buku dan penerbitan yang telah turun-temurun (yang acak-adut, tapi juga terlalu keras kepala untuk dihancurkan), kopi hanya minuman biasa, tak berbeda dengan minuman-minuman lainnya. Dan warung kopi, alih-alih untuk para cerdik-pandai berproses, tak lebih dari tempat para pengangguran nongkrong dan menimbun utang, para pembual yang mencari rokok gratisan, atau para suami pengecut yang diam-diam jajan di luar.

***

Tapi, tentu saja, upaya-upaya untuk mereplikasinya, dengan harapan-harapan yang sedikit muluk, tak serta-merta sia-sia; beberapa usaha mungkin masih terlalu dini untuk disebut berhasil, tapi jelas ia memberikan harapan. Beberapa jelas menggerakkan perubahan.

Kafe Pustaka di Malang, misalnya, adalah sebuah ujicoba yang tertatih, jatuh-bangun, tapi toh terus berjalan. Dari sebuah tempelan yang terlihat aneh dalam lingkungan kampus yang makin steril (dan karena itu ia kemudian tergusur), ia menjadi ciri dan tengara, dan akhirnya menjadi semacam acuan bahwa ada yang lebih dari sekadar nongkrong dan merokok di sana. Mungkin tidak selalu ada diskusi buku di sana, tapi situlah kita barangkali akan jumpa dengan penyair yang dalam waktu dekat akan menerbitkan kumpulan puisinya, atau penerbit yang sedang janjian dengan penulis atau editornya, atau penerbit baru yang mencari tahu di mana percetakan yang cukup baik dan bisa dijangkau ya. Saya belum sempat mampir sejak mereka pindah dari dalam lingkungan kampus UM ke Jalan Pekalongan pada akhir tahun lalu, tapi rasa khawatir dan kehilangan mendengar mereka sempat mengumumkan diri tutup untuk seterusnya membuktikan bahwa mereka tidak sekadar penting untuk menandai detak perbukuan di Malang tapi juga vital sebagai titik penting perkembangan perbukuan Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Yang lebih penting, ia menciptakan semacam vibe yang membuat tempat-tempat di sekitarnya bergerak.

Mojag Caffee di Jombang adalah contoh lain yang memberikan harapan. Menjadi tempat pemutaran film, diskusi politik dan sejarah, dan sesekali sastra, Mojag tiba-tiba membuat Jombang masuk peta perbukuan. Kota kecil yang dilewati oleh jalan nasional dan jalur kereta yang menghubungkan Surabaya dan Jogja ini, yang biasanya menjadi ampiran para politisi ketika menjelang Pemilu, atau para peziarah spiritual ke makam-makam wali yang memang banyak di situ, kini bisa disinggahi mereka yang menyukai novel. Mengambil tongkat estafet yang sebelumnya dimulai oleh Kafe Bunga Kecil dengan Selasastra-nya, Mojag bisa menjadi ruang untuk orang-orang yang merasa sendirian dalam membaca/menyukai sastra atau sejarah berjumpa dengan kawan berbincang. Dari sekadar hinterland bagi Surabaya secara ekonomi, Jombang sangat mungkin menjadi pusat kebudayaan kecil baru bagi Surabaya yang macet.

Bahwa baik di kasus pertama maupun kedua bukanlah kopi dan/atau warung kopi yang terpenting, melainkan orang-orangnya (Prof. Joko dan Denny Mizhar di Malang, Andy Kepik dan Mansyur untuk Jombang), sekali lagi membuktikan kopi menjadi penting kalau ia diminum oleh orang-orang yang membawa atau membaca buku. Dan, jelas, tak bisa sebaliknya.

Mahfud Ikhwan
Latest posts by Mahfud Ikhwan (see all)

Comments

  1. Ali Reply

    mungkin judul yang lebih tepat, Buku, Kopi dan Adukan yang Belum Selesai?

  2. teddy m Reply

    semasa masih sehat dulu kebiasaan saya baca buku di ruang tamu sembari minum kopi. sejak stroke dan lumpuh separuh saya blm berani ngopi lagi dan belum bisa baca buku pula. yowis rapopo.

  3. teddy m Reply

    semasa masih sehat dulu kebiasaan saya baca buku di ruang tamu sembari minum kopi setiap sehabis sarapan. sejak stroke dan lumpuh separuh saya blm berani ngopi lagi dan belum bisa baca buku pula. yowis rapopo.

  4. Ika Reply

    Bagus

  5. Izam Reply

    Baguss

  6. raka Reply

    bagus sekali

  7. raka Reply

    bagus sekali,menarik dan sangat senang

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!