
Istri saya menemukan rumah tersebut ketika Jogja sisi barat daya sudah hampir gelap, sementara saya berada di kampung halaman untuk urusan keluarga. Ia bilang menyukai rumah itu, dan saya mengiyakannya lewat pesan WA lebih agar ia bisa segera pulang ke rumah kontrakan kami di Tamanan sebelum hari petang. Rumah itu tak hanya jauh dari Tamanan, berjarak kurang lebih setengah jam, tapi juga berada di ketinggian, dan untuk sampai ke sana mesti melewati jalan berkelok-kelok dan naik turun, beberapa di antaranya cukup curam. Juga mesti melewati hutan jati yang lumayan panjang.
“Yakin mau tinggal di situ?” tanya saya seketika itu, sambil memintanya menimbang soal jarak, akses, dan kenyamanannya dalam jangka panjang. Istri mengajukan beberapa alasan yang mendukung pilihannya. Saya tak selalu bisa terima alasannya, tapi saya tahu ia sudah memutuskan.
Ketika akhirnya ikut menengok rumah tersebut beberapa hari kemudian, saya senyam-senyum sepanjang jalan. Di mana-mana saya merasakan semacam deja vu. Jalan yang berkelok, naik turun, pohon jati dan mahoni dan sonokeling yang rindang di kiri-kanan jalan, rimbun trasun dan awar-awar di mana-mana, dahan secang dan johar yang menggelantung ke jalan, aroma bunga mandraguna, bau semak, rumput, sekaligus walang sangitnya, juga tanah yang terlihat muda di atas permukaan kars, semuanya membawa saya ke kampung halaman saya di Lamongan. Dan karena saya baru saja pulang dari kampung halaman, perasaan familiar itu terasa sangat segar.
“Benar mau tinggal di sini?” tanya saya lagi ke istri. “Kamu tidak pernah kerasan tinggal di Lamongan lebih dari seminggu lho.” Ia nyengir ditanya begitu. Ia mengelak dengan menyebut bahwa rumah ini sangat berbeda dengan rumah mertuanya karena terletak di perumahan. Ya, ia selalu menekankan, ia tumbuh di sebuah kompleks perumahan di pinggiran Bandung, dan ingin menua bersama saya di sebuah perumahan di pinggiran Jogja.
Dan begitulah. Keputusannya adalah keputusan saya—mana bisa tidak. Apalagi setelah saya melihat ruang tamu rumah itu yang lapang memanjang, saya pikir tiga ribu buku saya (yang hampir pasti akan terus bertambah) akan mendapatkan tempat yang layak.
Kami kemudian pindah ke rumah itu sekitar dua bulan sejak istri saya menemukannya, persis pada pekan yang sama ketika rumah lama kami habis masa kontraknya.
***
Sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap, selama hampir 30 tahun tinggal di Jogja, saya telah berpindah-pindah tempat belasan kali. Tempat-tempat itu meliputi kos-kosan, rumah sewa, masjid, bahkan gudang. Beberapa tempat mudah dilupakan atau ingin dilupakan, beberapa tempat tak terlalu berkesan, sementara beberapa lainnya akan tetap lekat di ingatan, entah karena hal-hal menyenangkan atau hal-hal memalukan. Dan untuk seseorang yang membanggakan kekuatan ingatannya seperti saya, berbagai cara bisa saya pakai untuk mengenang satu tempat yang pada satu masa pernah saya tinggali.
Kos pertama di area Karangayam misalnya, yang saya tempati bersama seorang teman, saya kenang sebagai area rawan. Itu membuat kesan pertama saya atas Jogja menjadi tak terlalu baik. Bayangkan, sepatu saya hilang di hari pertama saya datang. Kemudian, sepeda teman yang dibeli dari honor pertama menulisnya lenyap hanya tiga hari setelah dibeli. Tapi di kos itulah, untuk pertama kalinya, saya mengenal kultur sewa VCD dan nonton film lewat komputer. Bukan film yang sangat hebat, tapi saya mengingat dengan baik saat kami menonton Tombstone-nya Cosmatos dan Face/Off-nya John Woo di salah satu kamar seorang mahasiswa tua.
Terlalu banyak yang tak bisa dilupakan sekaligus ingin dilupakan saat saya kemudian pindah ke sebuah masjid tak jauh dari Malioboro. Bau ciu dari tetangga yang biasa mandi di masjid, tembok tinggi Bank BHS yang terlikuidasi tepat di belakang loteng tempat saya tidur, ancaman seorang preman yang anaknya saya ajari mengaji, dan masih banyak lagi. Tapi, bagaimana pun, itulah tempat saya mulai belajar menulis, menghasilkan cerita-cerita awal saya, dan kemudian memupuk keinginan menjadi pengarang. Tak ingin mengingat-ingat kegagalan saya sebagai muslim yang berguna bagi nusa-bangsa dan agama, tapi saya kadang merindukan entakan suara mesin ketik manual pada jam satu malam dari loteng di atas WC itu: begitu mentah dan sembrono tapi sekaligus penuh dedikasi.
Kamar kos kedua yang saya punya sekaligus yang paling lama saya tinggali justru adalah tempat yang paling tak berkesan, terutama karena pada saat yang sama saya lebih banyak berada di tempat lain, sebuah rumah yang betul-betul membentuk diri saya di kemudian hari. Itu rumah di dalam kompleks perumahan Bulaksumur UGM yang sangat menyenangkan, melenakan, dan karena itu beracun—karena membawa saya pada perkawanan yang sampai hari ini masih bertahan, mempertemukan saya dengan bacaan-bacaan dan tontonan yang mengubah, mengajari saya nilai dan cara-cara berpikir yang masih terus saya pegang, menggembleng saya sebagai penulis pemula, dan mungkin juga memberi saya cinta pertama. Saking beracunnya, saya butuh waktu sangat panjang untuk bisa keluar dan memutuskan ikatan dengannya.
Bagian dari upaya cut off dengan rumah beracun itu adalah dengan menyewa rumah sendiri begitu saya kembali menetap di Jogja, empat tahun setelah saya berkelana ke kota-kota lain. Itu sebuah rumah limasan yang disekat-sekat papan, tak jauh dari tempat saya bekerja, di sekitar Sambilegi. Saya benar-benar berniat melakukan detox dari masa-masa mahasiswa saya, sampai-sampai memutuskan untuk mengajak orang-orang yang tak terlalu saya kenal untuk mengontrak rumah bersama-sama, berharap menciptakan lingkaran baru berkawanan. Eksperimen sosial itu berakhir dengan kegagalan karena, ternyata, tanpa saya tahu, dua kawan kontrakan yang saya ajak tinggal adalah kawan karib. Alih-alih mendapat kawan baru, saya justru menjadi orang ketiga yang terasing di antara keduanya.
Saya pindah ke rumah lain yang hanya sekitar seratus meteran saja dari rumah sebelumnya, dan saya menyerah dengan eksperimen sosial yang sia-sia itu. Di rumah berikut ini, saya berkumpul dengan kawan-kawan dekat atau yang saya kenal baik di kantor. Belakangan, kawan-kawan lama dari masa kuliahan ikut bergabung. Tak lama berselang, beberapa kawan lama yang lain, kebanyakan yang telah berumah tangga, mencari rumah tak jauh dari rumah tersebut. Dan ini membuat rumah itu, dalam banyak momen, mengembalikan kami ke rumah “terkutuk” yang dulu dengan susah payah saya tinggalkan. Rumah ini akan saya kenang sebagai rumah tempat saya menyelesaikan novel pertama, juga saya sukai karena kami memiliki induk semang yang menyenangkan, seorang mantan preman berkaki satu yang suka sekali menggumamkan She’s Gone-nya Steelheart. Namun, momen yang paling mengubah hidup di rumah ini terjadi ketika saya memutuskan mengakhiri kehidupan sebagai pekerja kantoran.
Rumah berikutnya, di area yang dipenuhi candi-candi tak jauh dari Kalasan, masih diisi oleh orang-orang dari masa lalu. Dihuni oleh dua kandidat doktor dari universitas-universitas di Belanda dan dua pengangguran yang tiba-tiba ingin lanjut sekolah S2, rumah ini menjadi terasa sangat akademik sekaligus administratif, terutama oleh obrolan-obrolan tentang tes TOEFL, IELTS, dan tips-tips mendapatkan beasiswa. Lalu, entah bagaimana ceritanya, ruang tengahnya yang lumayan luas secara aksidental tiba-tiba menjadi salah satu pusat gerakan yang muncul awal dekade kedua tahun 2000an di Jogja; obrolan tentang cara menulis cerpen dan esai tiba-tiba melenceng menjadi diskusi tentang ancaman industri ekstraktif, perampasan tanah, dan represi penguasa.
Tabungan yang habis dalam tiga tahun sejak keluar dari pekerjaan membuat saya mesti pindah ke sebuah rumah limasan lain yang tidak terlalu baik kondisinya. Sebagian temboknya melesek akibat gempa 2006 yang tak pernah diperbaiki, sementara kamar mandinya yang sangat jauh tak memiliki atap, jebol pula salah satu dindingnya. Dan karena letaknya tak jauh dari ujung landasan Bandara Adi Sucipto, rumah itu tak hanya berisik oleh suara pesawat terbang yang tinggal landas, tapi juga sangat susah sinyal. Lebih sial lagi, rumah itu saya huni bersama beberapa kawan yang punya reputasi buruk berkait keuangan dan gaya hidup—tak diragukan, mereka adalah rekan-rekan serumah terpayah yang pernah saya punya. Meskipun di sinilah saya mendapatkan pemberitahuan bahwa saya memenangkan Sayembara Novel DKJ 2014, rumah ini tampaknya lebih penting artinya bagi penghuni lain yang, pada satu malam yang menentukan, mengaku menjumpai penampakan seorang suci yang perilaku dan pemikirannya ia pelajari, tepat di depan pintu rumah tersebut, dan itu menjadi semacam titik tolak bagi perjalanan spiritual dan intelektualnya di tahun-tahun berikutnya.
Lalu seorang kawan datang dengan rencana membuat sebuah buku yang ambisius. Ia mengajak saya terlibat. Ia memberi gaji yang baik, juga menyediakan kantor. Saya sebenarnya tak menyukai suasana kantor, tapi saya membutuhkan uang. Mungkin karena kantor itu melibatkan orang-orang yang saya kenal, dan barangkali karena rumah limasan yang saya sewa benar-benar tak menyenangkan, saya yang sebelumnya pulang-pergi dari kantor ke rumah akhirnya memutuskan untuk menetap saja di kantor. Rumah kantor ini, yang berada di kisaran Lapangan AU Berbah, menjadi saksi masa subur saya sebagai pengarang. Tapi saya akan lebih suka menyebut bahwa suasana komunal di rumah-kantor inilah yang nantinya menciptakan atmosfer yang cocok untuk memulai sebuah klub nonton film India—yang kemudian bertahan hingga bertahun-tahun kemudian.
Proyek buku selesai, rumah itu pun selesai. Saya pindah rumah lagi bersama dua orang yang sebelumnya tinggal di rumah lama, kali ini di sekitaran Blok O. Ketika dua teman serumah kemudian pergi dengan alasan yang berbeda (yang pertama kerja ke Jakarta, sementara yang kedua pergi menghilang begitu saja), untuk pertama kalinya saya mendiami sebuah rumah seorang diri. Dan, rasa-rasanya, itulah untuk pertama kalinya saya merasakan kesepian. Rumah berkamar tiga itu, dengan dapur yang terlalu luas dan terlalu jauh, dan tikus-tikus yang hilir-mudik, terlalu besar dan terlalu kosong untuk saya diami sendirian. Saya meninggalkan rumah itu sebelum tahun kedua selesai. Sebagian karena sumur kering yang tak diperbaiki oleh pemilik rumah, sebagian lagi karena rasa kesepian itu.
Kapok dengan rumah yang terlalu besar, saya sangat gembira mendapatkan sebuah rumah mungil dengan ruang-ruang yang kompak. Itu cocok untuk bujangan awal 40an. Untuk rumah mungil ini, saya bahkan rela membuang meja, rak, dan beberapa kursi, juga buku-buku, agar barang-barang dan diri saya bisa masuk. Dalam sebuah esai, saya menulis bahwa saya sangat menyukai rumah ini karena dapurnya yang bagus dan, terutama, karena ia memiliki wastafel—itu adalah rumah pertama dengan wastafel yang saya pernah huni. Rumah ini menjadi sangat penting bagi saya karena di sinilah saya melewati dua tahun pandemi; saya sempat kena Covid, dan saya survive. Juga saat dan di dalam rumah inilah saya menjalani dua tahun pertama pernikahan.
Di rumah ini saya, yang kemudian disusul istri, tinggal selama enam tahun. Sampai kemudian kami memutuskan untuk pindah.
***
Belakangan, ketika saya telah memantapkan diri menjadi dan sepenuhnya hidup dari menulis, ingatan atas rumah-rumah itu biasa saya identikkan dengan buku-buku yang saya kerjakan atau selesaikan di situ. Dalam hubungannya dengan bukulah rumah-rumah itu sering kali saya anggap lebih berkesan dibanding yang lain.
Meski memulainya dari disket-disket yang berpindah dari satu komputer ke komputer lain di ruangan bawah tangga di Gedung 68H, Utan Kayu, novel pertama saya Ulid (2009) akan selalu identik dengan rumah di Jl. Jati no. 111 di Sambilegi, jalan yang sama tempat politisi dan pejabat Mahfud MD tinggal. Di rumah itu pula saya memutuskan keluar dari pekerjaan dan menjauhkan diri dari kehidupan kantor, lalu di hari berikutnya membeli meja dan kursi kerja sendiri sebagai semacam simbol bahwa saya tak membutuhkan kantor untuk bekerja. Saya gagal menyelesaikan novel kedua atau ketiga di rumah itu, dan hanya menghasilkan beberapa buku pesanan, orderan editing, juga beberapa pekerjaan ghostwriting. Namun, di rumah itu, di meja dan kursi yang saya beli usai keluar dari pekerjaan formal, saya mulai menulis tulisan-tulisan awal sepakbola dan film India, hal yang nanti sangat berarti untuk saya. Rumah ini, karena itu, selalu terasa sebagai sebuah awal untuk saya.
Di tengah suasana akademik dan diskusi-diskusi aktivisme, dan denting botol-botol bir di ruang tengah, juga dalam kondisi keuangan dan psikologis yang sedang buruk, di rumah berikutnya di Juwangen saya mendekam di kamar saya yang tanpa jendela, menyunting buku-buku buruk untuk mencari uang, dan mati-matian menyelesaikan novel kedua. Dan, novel itu akhirnya selesai—setelah sembilan tahun. Tapi novel itu butuh waktu bertahun-tahun kemudian dan mesti menemukan takdir yang lain untuk bisa terbit, sehingga tak ada buku terbit saat saya berada di rumah ini. Pembacaan ulang dan beberapa diskusi atas Ulid yang selama hampir tiga tahun terbit tak disentuh pembeli dan pembaca menjadi penawar yang menyenangkan, dan untuk itu saya akan selalu berterima kasih dengan kawan-kawan yang sering main, makan, minum, dan tidur di situ.
Rumah buruk sisa gempa dan susah sinyal di Karang Duren tak banyak saya ingat detailnya. Mungkin karena saya hanya sempat menghuninya tak lebih dari enam bulan, dan berpindah ke rumah kantor yang memang tidak jauh. Tapi, di luar pengalaman penampakan yang dialami teman serumah saya, beberapa hal baik, bahkan hebat, sempat juga terjadi di rumah ini. Di sinilah diskusi untuk menerbitkan ulang Ulid dimulai. Dan di rumah ini pula, yang nanti akan berdiri sebuah penerbitan, Ulid betul-betul dicetak ulang dan—meminjam istilah seorang teman—dihidupkan kembali dari mati suri.
Rumah berikutnya di Berbah, tak jauh dari lapangan AU, memberi saya banyak hal. Kambing dan Hujan (2015) terbit ketika saya berada di rumah kantor ini. Ketika nama saya mulai dibicarakan orang, sebuah penerbit milik kawan menerbitkan cerpen-cerpen awal saya yang oleh saya sendiri tak saya anggap terlalu istimewa (Belajar Mencintai Kambing, 2016), demikian juga dengan tulisan-tulisan di blog film India (Aku dan Film India Melawan Dunia [1 & 2], 2017). Bahkan, di rumah ini juga saya menyelesaikan naskah Dawuk (2017) sekaligus menyaksikannya terbit. Di luar itu, tradisi menulis sepakbola di blog kemudian mulai berpindah ke koran, hal menyenangkan yang saya lakukan hingga bertahun-tahun kemudian.
Diawali dengan kemenangan Dawuk di Kusala Sastra 2017, mestinya rumah besar di Blok O akan juga menyenangkan. Nyatanya tidak demikian. Terlalu banyak undangan keluar dan terlalu sedikit teman. Rumah itu sering kosong karena ditinggal oleh dua penghuninya, sementara saya, jika tak keluar kota, akan terlalu banyak menghabiskan waktu nongkrong di warung kopi. Upaya untuk meneruskan kisah Mat Dawuk baru bisa saya bereskan bertahun-tahun kemudian. Hal paling lumayan yang saya lakukan selama tinggal di rumah ini adalah meneruskan tradisi menulis kolom sepakbola, baik di koran cetak maupun di beberapa media daring, yang tak lama kemudian terbit sebagai Sepakbola Tak Akan Pulang (2019).
Seorang kawan membantu saya menemukan rumah baru yang berada jauh di sisi selatan Jogja. Ini adalah untuk pertama kalinya saya tinggal di Jogja Selatan. Saya melewati masa-masa pandemi di rumah ini dengan menulis kolom di Mojok selama setahun penuh. Meskipun hanya memberi sedikit uang, menulis kolom ini belakangan saya pikir penting untuk saya terutama secara mental, selain memberi saya beberapa esai terbaik yang bisa saya buat. Ia juga menjadi pengkondisian yang sangat baik ketika setahun berikutnya saya menulis cerbung di Kumparan Plus. Di antara itu, saya menerbitkan Anwar Tohari Mencari Mati (2021), Menumis Itu Gampang, Menulis Tidak (2021), Dari Belakang Gawang (bersama Darmanto Simaepa, 2021), Melihat Pengarang Tidak Bekerja (2022), Setelah Argentina Juara (2023), Kepikiran Dangdut (2024), Bek (2025), dan dua kali cetak ulang Ulid. Saya pikir itu bukan enam tahun yang buruk.
***
“Sepi, jauh dari mana-mana, sampean banget iki,” itu komentar adik saya begitu sampai di rumah baru kami. “Dekat persembunyian Diponegoro, tak jauh dari petilasan Jaka Tingkir dan Mangir, ini memang tempat yang cocok untuk para pembangkang,” kata seorang teman. Dan masih banyak komentar serupa, yang menganggap bahwa rumah itu cocok sekali dengan kepribadian saya dan, karena itu, mereka bayangkan ia akan sangat banyak berguna bagi pekerjaan saya sebagai pengarang.
Jelas itu terdengar sebagai harapan-harapan baik. (Dan, tentu saja, itu harapan saya juga.) Tapi, pada saat yang sama, ia juga bisa terdengar sebagai kutukan.
Dalam perjalanan hidup dan kepengarangan saya, seperti yang sudah saya gambarkan dalam tulisan yang bertele-tele ini, rumah yang saya diami mengambil peran penting. Namun, dari situ pula bisa tergambar bahwa satu jenis rumah (entah bentuknya, ukurannya, fasilitas dan detail-detail khususnya, seperti apa lingkungannya, hingga di mana letaknya) tidak betul-betul menjadi faktor determinan bagi laku kepengarangan saya. Saya pernah menulis dengan tekun dan intens di ruko kosong dan asing di atas sebuah warung padang di Cikini, juga di tengah hiruk-pikuk mesin-mesin cetak raksasa di Klaten, atau di tengah keramaian warung kopi di Sorowajan. Pada saat yang sama, ketika berada di rumah yang lapang, nyaman, dan tenang, saya menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk menapis film-film di hardisk atau menunggui siaran langsung sepakbola dari pekan ke pekan, dan tak melakukan selain itu.
Saya sangat percaya dengan mood dan momentum dalam menulis, tapi itu sepenuhnya tergantung pada saya, pada apa yang tengah saya pikirkan atau rasakan; ia tak berhubungan secara langsung dengan hal-hal di luar saya. Di atas bus Sumber Kencono yang melaju sangat kencang, saya pernah menyelesaikan kerangka tulisan yang begitu sampai Jogja segera saya garap untuk menjadi tulisan 5000 kata “Kepikiran Dangdut”. Sebaliknya, di sebuah working space yang sejuk dengan meja-meja kayu yang artsy dan jendela-jendela besar yang menghadap ke kehijauan yang menyejukkan, saya bahkan tak memiliki semangat untuk sekadar mengeluarkan laptop dari tas karena sibuk menggerutui cappucinonya yang tak enak dan terlalu mahal. Saya bisa khusyuk menulis dengan iringan suara Serj Tankian dalam volume penuh, tapi di lain waktu bisa sangat terganggu hanya oleh suara motor yang melintas di jalan depan rumah.
Sebagai pengarang yang selalu menganggap diri pemalas, saya selalu mencanangkan diri untuk tidak hanya menulis lebih baik tapi juga menulis lebih banyak. Lagi pula, tak bisa dihindari lagi, saya hidup dan menghidupi keluarga dari buku-buku yang saya hasilkan. Jadi, pada dasarnya tidak terlalu banyak opsi yang tersisa untuk saya kecuali menulis, menulis, dan menulis, di mana pun saya tinggal. Dan karena saya hanya merasa berguna jika saya menulis, maka apalagi yang bisa saya lakukan selain menulis—bahkan jika saya tak memiliki rumah untuk tinggal.
Di sisi lain, sikap skeptis saya atas apa pun di dunia ini, termasuk terhadap diri saya sendiri, membuat saya tak pernah—lebih seringnya tak berani—memasuki satu hal (tahun baru, tempat baru, suasana baru, termasuk rumah baru) dengan menargetkan hasil tertentu di ujungnya. Saya hanya bisa meyakinkan diri bahwa saya akan melakukannya, berhasil atau tidak. Jadi, di rumah yang baru, yang kata banyak orang cocok sekali untuk saya menulis, saya akan berusaha menulis, karena itulah yang saya bisa; saya ingin terus menghasilkan buku-buku, karena dari situlah saya menggantungkan hidup; kalau bisa lebih bagus, dan kalau bisa lebih banyak. Namun, perlu Anda tahu, itu bukan hal yang sama sekali baru, karena itulah yang juga saya canangkan ketika saya memasuki rumah-rumah yang sebelumnya saya huni. Dan, karena sudah pernah melewatinya, entah menghasilkan lebih banyak buku atau, sebaliknya, tidak menghasilkan apa pun, tak akan membuat saya terkejut.
Tapi mengingat saya menghargai tinggi rumah-rumah yang membersamai saya menghasilkan lebih banyak buku, sementara saya sangat menyukai rumah baru kami, dan saya ingin tinggal lama di situ, tentu saja saya sangat ingin menghasilkan banyak buku di rumah itu. Saya rasa istri saya juga akan senang jika rumah yang dipilihnya punya dampak baik bagi kepengarangan suaminya.
- Rumah-rumah dan Buku-buku (yang Dilahirkannya) - 12 January 2026
- Buku di Ruang Tamu - 17 December 2025
- Priok: September Hitam yang Lain (Bag. 2—Habis) - 22 October 2025

Joni Tisna Adi Tanamal
Membaca tulisan anda di pagi yang sendu seperti ini seperti sedang menyeruput secangkir kopi hitam yang manis pekat setelah melewati malam yang kelewat dingin; sangat nikmat. Terimakasih sudah membaginya.
Alfarius
Ditunggu novel terbarunya, cak!
Mangaranap simamora
bagus!!
Cocok buat hiasan
Dirumahh
Samot1
Enak dibaca
Bosmuda
JELEKK