
2026
#ULP + FN#
terima kasih, kau tuliskan
kisah haru pencari makam
sejak hari pertama, tidak lagi
bersamamu di tahun kuda api
aku tidak pernah kesepian
puisimu menemaniku
tolong, bacakan sekali lagi
huruf-huruf paku itu
terbata. menekuk lidah
puisimu membuatku menangis
maaf, menjadikanmu tua
dengan menyentuh kakimu
2025
Kelir
#A Latif Apriaman#
kau tunjukkan sebuah bayangan
kau tunjukkan buat menentukan malam dan langit
dari arah mana datangnya api
menyalakan benang lawe
kau tunjukkan untuk mengingatkan
agar aku tahu
bahwa aku tidak tahu apa-apa
setidaknya aku tidak jumawa
ternyata aku tidak tahu
bahwa aku tahu apa pun
bahkan bayangan yang kau tunjukkan
ditancapkan di mana menjadi gunungan
lantas, bayangan siapa aku
berdiri sendiri dalam gelap
bayangan melenyapkan batas
antara aku dengan dunia
Rurah atau Kembung
Jayengrana atau Munigarim !
bayangan mewujudkan dirimu juga, ungkapmu
bayangan, sesungguhnya, merupakan sejatimu
bayangan melukis dari belakang
bayangan mengikuti bayangan
untuk menyadari gelap terang
dari arah mana datangnya asal cahaya
hingga di satu titik hitam. di suatu tempat
di satu hari tanpa bayangan
2025
Cerita
#Arianto Adipurwanto#
hanya satu buku puisi, selamat dari air bah
banjir bandang musiman akhir tahun
satu puisi, satu bait, satu kata
tergenang air mata
puisi tanpa tanda baca itu
terbakar
puisi menjadi cara terakhirmu
memahami dari mana kau berasal
apakah utara, dari arah laut
apakah selatan, dari arah gunung
laut membawamu ke garis akhir sesar langit
gunung membawamu ke titik puncak batas bumi
kau tunjukkan bahwa dalam darahmu
mengalir mata air Anjani
setiap yang berasal dari air
kembali akhirnya menjadi air
puisi yang kau tulis hari ini
cerita pendek yang paling panjang
membentang ke masa lalu
membujur ke masa depan
hanyut tenggelam dalam banjir bandang
runtuh rata dengan tanah oleh gempa bumi
dengan tubuh yang demam berdarah
kau selamatkan puisi dengan satu kata itu
2025
Jogjakarta
#RTB#
ke Jogjakarta
di mana penyair mengubur puisi
seorang perantau mengajakku
memasuki kota tua
bukan Malinkundang. ditunjukkannya
setiap yang sunyi dari masa lalu
tahta batu. rumah pohon. makam keramat
pasar burung. alun-alun. Merapi dan pantai Selatan
di kota ini setiap orang menjadi penyair
dengan bekal kuburnya masing-masing
penyair perantau itu menemukan kota ini
titik nol peta gerilya perjuangannya
membebaskan diri dari keindahan
membebaskan diri dari kebahagiaan
puisi, berupa kota kecil. kota lama
kota tanpa matahari
di Jogjakarta
ke mana penyair mengubur puisi !
2025
- Puisi Sinduputra - 13 January 2026

Yuni
JELEKKK
Rara
Baguss
Rara
Sangat bagus
Rara
Ini puisi bagus sekali,saya sukaa✨️🎊
Rara
Indah!✨️