SYAIKH HUSIN BIN MUHAMMAD AS-SULLAMI

Beliau adalah Husin bin Muhammad bin Musa as-Sullami atau dikenal juga dengan sebutan Abu asy-Syaikh Abi ‘Abdirrahman as-Sullami. Di zamannya, beliau dikenal sebagai seorang sufi yang sangat agung. Reputasinya di bidang tasawuf, di bidang peribadatan kepada Allah Ta’ala dan di bidang sosial sangat cemerlang. 

Beliau bersahabat dengan Syaikh ‘Abdullah bin Munazil dan Syaikh Abu ‘Ali ats-Tsaqafi: sebuah persahabatan yang patut menjadi contoh bagi siapa pun yang melihatnya. Di zamannya, beliau adalah orang yang paling berbakti kepada Allah Ta’ala dan paling berguna bagi kehidupan sesama. 

Beliau adalah seorang mujahid, seorang sufi yang sangat bersungguh-sungguh di jalan yang menuju hadiratNya. Itu pun ditempuh selama hidupnya. Tidak ada kehidupan yang nyantai bagi beliau. Segala sesuatu yang ditekuni, betul-betul dikerjakan semata karena Allah Ta’ala. 

Beliau sempat menyaksikan Syaikh Abubakar asy-Syibli: salah satu pembuka bagi beliau untuk sampai kepada hadiratNya. Kenapa sebagai pembuka? Karena siapa pun yang sudah dekat dengan Allah Ta’ala, pastilah dia menyimpan kehadiran hadiratNya, menyimpan juga sifat-sifatNya. 

Sudah jelas bahwa Allah Ta’ala dekat dengan diri kita, tapi dekatkah kita dengan hadiratNya itu. Belum tentu. Boleh jadi jauh atau bahkan sangat jauh. Kalau sudah kita merasakan dekatnya Allah Ta’ala pada diri kita, barulah itu disebut dekat. Merasakan dekat itu pun mesti terus menerus. 

Di dalam perkara ilmu-ilmu mu’amalat, beliau bisa dikatakan sempurna. Bagaimana melakukan berbagai perniagaan dengan umat dalam perkara apa saja, beliau betul-betul sangat teliti. Jadi, jalan-jalan untuk menuju kepada Allah Ta’ala, bagi beliau, sungguh sangat banyak. 

Setelah dilahirkan Abu ‘Abdirrahman, anaknya, beliau bersedekah dengan segala sesuatu yang dimiliki. Tidak tanggung-tanggung: segala sesuatu yang dimiliki. Banyak sekali. Sungguh, sangat banyak. Orang-orang di kalangan masyarakatnya pada berkomentar tentang beliau:

“Kau dikaruniai seorang anak, tidakkah kau meninggalkan sesuatu untuk dia?” Menghadapi komentar seperti itu, beliau malah memberikan jawaban dengan salah satu firman Allah Ta’ala dalam Qur’an: “Jika dia itu termasuk orang baik, maka ‘Allah Ta’ala membimbing orang-orang baik’, ” (QS. al-A’raf: 196).

“Jika dia termasuk orang-orang jahat, maka aku tidak menyediakan bagi dirinya satu pun alat kejahatan.” Sungguh telah sempurna beliau meninggalkan anak dalam kebaikan. Secara lahiriah maupun secara batiniah, sungguh beliau tidak punya hutang apa pun kepada anaknya itu. 

Pada tahun tiga ratus empat puluh lebih sedikit, beliau betul-betul wafat. Masyarakatnya merasa sangat kehilangan beliau. Kehilangan seorang panutan yang sangat penting dalam hal menghamba kepada hadiratNya maupun dalam berperilaku dengan sesama. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!