
Setelah Sirene
suara sirene berhenti dua hari lalu,
namun udara masih berdengung oleh kenangan—
nada rendah yang bergetar
seperti tenggorokan hewan yang tahu ia sekarat
di jalan,
seorang anak menggambar rumah dengan kapur—
empat dinding, satu matahari,
tanpa manusia
jendela-jendela gedung menganga
seperti rongga setelah api
seseorang meninggalkan roti di ambang pintu;
jamur tumbuh lebih cepat kini,
seolah waktu sendiri bergegas menuju busuk
di sungai,
bayangan asap dan langit menyatu,
tanpa cakrawala,
tanpa janji
aku meraba nadiku,
setengah tak percaya
setengah berdoa
bertahan hidup kini hanyalah bunyi—
batuk,
bisikan,
ketukan jauh
namun—
di antara reruntuhan dan sunyi,
sebatang tunas hijau mengoyak abu,
menolak akhir
Malang, 2025
Langit Melupakan Namanya
langit malam ini lupa namanya—
terselubung abu dan bara yang terobek, menghela napas
kota-kota berlutut di bawah beban
dari semua doa yang tak pernah mereka ucapkan
sungai tersedak kaca yang meleleh
pohon-pohon kembali ingat cara menjerit
waktu terurai, lambat seperti lilin
menetes dalam mimpi tanpa Tuhan
langkah kaki bergema—tak satu pun kembali,
detak jantung bumi berdenyut dalam irama yang retak
hantu cahaya matahari berputar dan terbakar
meratapi tulang waktu yang berlalu
namun dalam hening, satu percikan tetap ada—
sebuah nada gemetar, embusan napas, secercah api
bukti bahwa bahkan di tengah derita,
harapan masih berbisik di dalam gelap
Malang, 2025
Apologi Cinta dari Kedai Droogstoppel
: Baron d’Holbac
Di sebuah restoran à la carte
musik terdengar arkais
di antara not-not lagu itu, ada tumpahan anggur
hingga kata-kata adalah frasa retak
yang dipungut dari serpihan api
tatkala musim telah berselimut salju
Waktu berjalan lambat
seperti bekicot merayap di dinding kaca—
setiap jejak lendirnya
adalah catatan sunyi dari sesuatu
yang terus mencoba ada,
namun tak pernah benar-benar hadir
Dan waktu,
bukan lagi detik
melainkan lubang—
yang pelan-pelan menelan seluruh arti,
hingga yang tersisa hanya gerak
yang tidak punya tujuan
dan kesadaran, yang tak akan bisa pulang
Baron d’Holbac,
neraka telah mengajarimu
bagaimana cara kehilangan cinta
yang telah engkau habiskan di Kedai Droogstoppel
di sepanjang kemarau
engkau telah lupa bagaimana mengeja: affaire d’amour
Kini, langit telah dibakar menjadi puing pertobatan
oleh matahari yang lelah memikul makna
dan engkau duduk di antara bayang-bayang meja
yang takkan pernah menyebut namamu
Angin pun tidak lagi membawa bau tubuh kekasih
hanya bau logam dari mesiu neraka
dan setiap gelas yang kau angkat
adalah nisan bagi mimpi yang kau anggap palsu
Kau bertanya pada pisau makan:
apakah ingatan serupa jam tangan rusak
yang tetap berdetak demi ilusi waktu?
dan jawaban tidak pernah datang,
hanya gema
dari sendok yang jatuh,
seperti reruntuhan takdir
Baron d’Holbac
di balik tatapan dan keberanian
kau adalah seorang anak di masa klasik
yang berdiri telanjang
di bawah hujan dengan nama-nama Tuhan
yang tidak pernah disembah manusia
dan engkau, mencari payung dari kata
yang tak pernah lengkap
Dan ketika malam melipatmu dalam kain kafan
kau sadar—
cinta itu bukan mantra kenangan,
melainkan aksara dari bara api
yang tak sempat kau bagi
di meja kosong
yang terus memanggilmu kembali pulang
seperti apologi yang dimainkan di antara jeda hidup
Malang, 2025
Gudeg
Di dapur kecil kampung Wijilan
ibu mengaduk waktu dengan sendok kayu
gudeg di periuk tanah—pelan mengepulkan asap
seperti kehidupan yang tidak datang sekejap
Kelapa tua, nangka muda
gula merah yang mencair
bersama kenangan:
suami yang tidak pulang dari medan tugas
dan anak-anak yang belajar diam
saat kereta terakhir hanya membawa nama
Rasa manis itu tidak dilahirkan dari gula
tapi dari sabar yang mendidih
dari air mata yang jatuh tanpa suara
ke dalam rebusan pagi-pagi gelap
saat Yogyakarta masih dikepung dingin
Mereka bilang ini hanya makanan
tapi ibu tahu:
ini adalah perlawanan yang bisa dimakan
warisan yang bisa ditelan
oleh cucu-cucu yang belum dilahirkan
yang tidak tahu bagaimana lapar bisa jadi kehidupan
Sampai hari ini,
di setiap sendok gudeg yang disajikan
ada jejak:
peluh, darah, doa—
yang tidak ditulis dalam buku sejarah
selain kisah kenangan yang terpaku di ingatan
Malang, 2025
- Puisi Vito Prasetyo - 20 January 2026

Wahyu Saputra
kapan ini
Chloe
Bagus bangett
Meisya
keren puisinya bener bener menyentuh dan memiliki makna yang dalam