
Sudah tiga hari berlalu semenjak nyamuk-nyamuk lenyap. Malam-malamku kian kosong saja. Tak ada lagi kulit tangan memerah atau aroma semprotan antinyamuk yang membuat harum seisi ruangan. Kekosongan seperti ini baru pertama kali kurasakan. Selama dua puluh tujuh tahun ini, hidupku hanya untuk nyamuk.
Memang terdengar konyol, tapi hanya dengan semprotan antinyamuk dan tepukan tangan, aku bekerja. Saat ini mencari pekerjaan susah, dan satu-satunya yang bisa kulakukan adalah menjadi pemburu nyamuk. Upahnya seribu rupiah per nyamuk atau bisa juga berupa makan malam.
Ironis, karena musim hujan begini biasanya aku pulang dengan uang banyak. Sekarang setiap pulang ke rumah, yang kubawa cuma pakaian kotor. Semasa masih banyak nyamuk, Pak Ahmad sering memanggilku untuk berburu. Ia tak pernah membayarku dengan uang, melainkan dengan masakan istrinya: telur ceplok dengan sambel kecap kesukaanku.
Sayangnya, istriku jarang memasaknya dengan pelbagai alasan. Istriku lebih suka mengomel. Ia bilang aku lebih hafal jenis nyamuk daripada kebiasaan anakku sendiri. Tapi tingkah Culex pipiens tidak pernah berubah setiap bulan, tak seperti anak berusia enam tahun. Bagiku, lebih penting mengingat jumlah semua nyamuk yang kubunuh—36.500 ekor—daripada tanggal ulang tahun anak dan istriku.
Anak itu sebentar lagi masuk sekolah. Aku harus punya uang untuk biaya seragam dan pendaftarannya, sedangkan kondisiku sekarang tidak memungkinkan untuk itu. Meski begitu, aku tidak akan mencari pekerjaan lain. Aku sudah mendedikasikan seluruh hidupku untuk nyamuk. Untuk membasminya.
Akan tetapi, sepertinya nyamuk-nyamuk ini sudah mulai beradaptasi. Charles Darwin bilang, organisme yang terancam keberadaannya akan bermigrasi. Agaknya kematian rekan-rekan mereka, 36.500 ekor, menjadi alasan mereka memikirkan itu. Mereka pasti pindah ke tempat yang belum kujamah.
Hanya satu tempat yang cocok. Hutan. Sudah lama aku tidak menjamah tempat itu. Buat apa? Hutan bukan milik seseorang. Tidak ada seorang pun yang akan membayarku untuk berburu di sana. Mereka, para nyamuk itu, pasti bersembunyi di sana untuk menghindari pemburu sepertiku. Aku harus menangkap mereka hidup-hidup untuk bisa kubawa pulang, kuternakkan, dan kubiarkan terbang di kampung ini agar aku masih punya pekerjaan. Kubuka jendela. Hujan sudah reda, aku bisa pergi ke sana malam ini.
Malam pun tiba. Dengan membawa jaring kecil untuk menangkap nyamuk, aku sampai di saung tengah hutan. Perburuan ini seharusnya mudah dan aku bisa pulang cepat. Namun, yang diburu tak kunjung datang, hanya laron-laron yang datang mengerubungi lampu minyakku. Gerimis tipis mulai turun. Tidak ada satu pun pertanda dari para nyamuk.
Malam pertama pun terlewati. Paginya aku mengirim pesan lewat ponsel ke istriku, bilang aku belum bisa pulang. Hari kedua ini, aku mengganti metode berburuku. Alih-alih cuma diam menunggu, aku sengaja mengisi ember bekas penyadap karet dengan air. Aku menunggu seharian. Nihil, metode ini pun tak menarik nyamuk untuk hinggap dan bertelur. Hari ketiga dan keempat pun nihil. Begitu juga hari kelima dan keenam.
Tujuh hari sudah berlalu. Hari ini gerimis turun lagi. Bekal makananku kian menipis. Aku terpaksa masuk hutan lebih dalam untuk mencari makanan dan kembali lagi hanya untuk berbaring di samping ember yang masih menampung air itu. Tidak lama sehabis gerimis reda, kudengar dengung khas yang sudah lama asing di telingaku. Bunyi itu perlahan mendekat. Tidak salah lagi, itu nyamuk.
Aku diam, tidak bergerak sama sekali. Benar saja, Aedes hinggap di pahaku. Tanganku refleks menepuknya. Plak! Nyamuk itu mati. Aedes itu masih di tanganku. Darahnya membekas di telapak tangan dan pahaku.
Aku jadi ingat, waktu kecil, aku pernah membunuh nyamuk. Ayahku sedang minum kopi dan makan gorengan waktu itu. Aku menghampirinya, menunjukkan nyamuk yang sudah mati di telapakku. Ia bahkan tidak melirik. Dia bilang, “Cuma nyamuk.”
Rasanya, aku ingin menggali makam ayahku dan berkata kepadanya, itu bukan “cuma”. Di kemudian hari, aku menjadi pemburu nyamuk paling disegani di kampungku berkat jumlah tangkapanku yang paling banyak. Aedes di pahaku ini menjadi nyamuk ke 36.501 yang sudah kubunuh. Meski begitu, aku merutuk. Harusnya kutangkap hidup-hidup, bukan kubunuh.
Tapi yang penting, aku sudah tahu bahwa di hutan ini masih ada nyamuk. Aku hanya perlu pulang, memikirnya bagaimana caranya membikin perangkap yang lebih efektif untuk menangkap nyamuk hidup-hidup. Aku berdiri. Waktunya pulang.
Sesampainya di rumah, istriku sedang memasak. “Dapat buruannya?” tanyanya. “Iya,” jawabku. “Hidup?” tanya istriku lagi. Aku tak menjawabnya dan langsung mengambil handuk untuk mandi. Di kamar mandi aku berusaha menghilangkan darah nyamuk di telapak tangan dan pahaku.
Malam itu, aku makan bersama istriku. Anakku sudah disuapi istriku dan sekarang sedang main di kamar. Istriku cerita kalau anakku punya bakat menggambar. Ia menyodorkan sebuah buku gambar, tetapi aku sedang memikirkan nyamuk-nyamuk dan perangkapnya. Malam semakin larut. Aku pergi ke kamarku. Istriku bilang mau menidurkan anak kami dulu.
Lampu sudah mati. Dalam kegelapan itu, aku mendengar nyamuk berdengung lagi. Mungkin mereka sudah kembali masuk ke kampung dengan sendirinya. Aku diam. Nyamuk itu mendekat. Plak! Aku menghitung dalam hati: 36.502 ekor. Aku berbaring lagi. Muncul lagi nyamuk berdengung. Plak! 36.503 ekor. Sepertinya banyak nyamuk malam ini. Plak! 36.504 ekor. Plak! 36.505. Plak! 36.506. Nyamuk-nyamuk itu seolah tidak berhenti muncul.
Aneh, bukan karena jumlahnya, tapi mereka seperti muncul satu per satu. Plak! 36.507. Aku lihat nyamuk itu di tanganku. Aedes. Mungkin cuma kebetulan. Aku tahan Aedes itu di tanganku, menunggu nyamuk lain muncul. Tidak ada. Aku lepas nyamuknya. Aedes itu terbang. Plak! 36.507. Dia hidup kembali. Plak! 36.507. Dia hidup kembali.
***
Aku berjalan keluar kamar hendak mengambil minum ketika mendengar samar-samar pembicaraan istri dan anakku.
“Bapak besok berburu lagi, Bu?”
“Iya sepertinya.”
“Bapak sudah lihat gambarku, Bu?”
“Belum, besok mungkin Bapak bakal lihat.”
Kudengar dengung seekor nyamuk dari dalam kamar itu. Kuintip dari pintu, nyamuk itu hinggap di pipi anakku.
Plak!
“Bu, lihat ini! Aku bunuh nyamuk.”
“Ssttt! Sudah, tidur! Cuma nyamuk.”
- Pemburu Nyamuk - 9 January 2026

Pong
Mau bicara isu fatherless kok ya maksa bgt. Cerpen2 basabasi kok jadi begini ya. Beda sama dulu.
Jo
Seriusan cerpen ini masuk basa basi?
Noname
Kecewa bgt kriteria platform basa basi tulisan kek gini. Masa si dari ratusan sampe ribuan tulisan yang masuk, malah yang macem gini yang di muat. ini emang gaada yang lebih bagus apa kurator nya yang ga pandai seleksi tulisan
The Unknown
Banyak cerpen bagus yg blm masuk, malah cerpen basi kyk gini yg di muat kurator..
Makanya namanya basabasi…
Yuhesti Mora
Beberapa poin dalam cerpen ini
1. Nyamuk sebagai simbol
Meski cerpen ini secara keseluruhannya membicarakan tentang nyamuk namun sebenarnya bukan sedang menceritakan soal nyamuk. Nyamuk mewakili seluruh pekerjaan di dunia yang kita lakukan seumur hidup. Terlebih lagi tokoh ini adalah seorang ayah. Ayah identik dengan tokoh yang lebih dominan menghabiskan sebagian besar masa hidupnya untuk mengabdi pada pekerjaan tertentu, yang dalam cerpen ini adalah menangkap nyamuk. Diceritakan juga bahwa dalam menunaikan tugasnya si tokoh melakukan apa pun untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik bahkan walau harus melakukan kekerasan atau menghilangkan nyawa.
2. Identitas yang dibangun dari obsesi
Tokoh utama tidak punya peran lain selain sebagai pemburu nyamuk. Hidupnya terserap hanya untuk satu tujuan tunggal. Ia begitu menjiwai perannya sehingga segala isi pikirannya tidak jauh-jauh ya.. hanya tentang nyamuk. Ia bahkan hafal jumlah berapa nyamuk yang telah ia bunuh menunjukkan dedikasinya yang tinggi sebagai pemburu.
3. Kekosongan setelah tujuan tercapai
Awalnya ia mengejar karir sebagai pemburu nyamuk terbaik lalu setelah tercapai dan nyamuk-nyamuk populasinya sudah tidak sebanyak dulu, ia seperti dilanda perasaan yang aneh karena bahkan si tokoh tidak menjelaskan perasaan macam apa itu di dalam cerpennya. Bisakah itu kita sebut sebagai sebuah kehampaan. Dan ini dipertegas dengan halusinasi tokoh utama tentang nyamuk yang sama mati hidup dan mati hidup lagi di hadapannya.
4. Kesunyian domestik
Sepanjang cerpen ini diceritakan, ada sedikit sekali dialog dan itu pun hanya dialog suami istri tentang uang dan istri yang menyuruh suaminya memberi perhatian sedikit terhadap anaknya. Tidak ada dialog antara ayah dan anak di sini makanya isu fatherless muncul tipis-tipis. Sangat related dengan kebanyakan rumah tangga sekarang.
5. Akhir yang gantung
Pada pembacaan yang pertama kali saya agak kaget karena tiba-tiba cerpen sudah selesai padahal rasanya belum ada penyelesaian emosional si tokoh. Namun pada pembacaan berikutnya, saya merasa ini sangat realistis namun tentu bukan salah satu penyelesaian favorit saya.
Afau
Bagus sih
isajameela
setujuuu kamu org kritis dan dalam
microHylidae
Suka banget dengan rangkaian katanya! still confuse why its get a lot of hate comment…
kromatika
I think its same person that commenting 😹
isajameela
setujuuu kamu org kritis dan dalam
Khikmatul Husna
Unik. Bisa berfikir kalau nyamuk bisa diburu dan dijadikan profesi, lalu dijadikan tema cerpen. Jadi penasaran apakah di kehidupan nyata beneran ada?