Syaikh Maudud al-Jasyti #3

Syaikh Maudud al-Jasyti mau berhadapan dengan Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami dengan membawa dua ribu jenis senjata. Banyak sekali senjata-senjata itu. Tentu saja orang yang membawanya juga banyak. Di tengah jalan, mereka semua sepakat untuk betul-betul menghadapi beliau.

Setelah pandangan Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami menyapu Syaikh Maudud, segera beliau turun dari kuda yang dinaikinya. Beliau kemudian datang dan mencium kaki Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami. Betapa sangat agung beliau ini. Beliau kemudian menepukkan tangannya ke punggung Syaikh Maudud.

Beliau juga mengatakan kepada Syaikh Maudud: “Bagaimana kau melihat wilayah? Ataukah engkau sesungguhnya tidak tahu bahwa wilayah laki-laki sebenarnya bukanlah senjata-senjata? Pergilah engkau. Naikilah kendaraan. Engkau adalah anak-anak yang tidak mengerti apa yang kau kerjakan.”

Begitu tandas perkataan Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami kepada Syaikh Maudud al-Jasyti. Walaupun di antara keduanya sama-sama syaikh, tapi sungguh di antara keduanya terdapat jarak yang begitu jauh, bahkan jauh sekali. Siapa pun wajib merenung tentang perkara tersebut.

Setelah mereka sampai di suatu desa, Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami berada di suatu tempat. Sementara Syaikh Maudud al-Jasyti berada di tempat lain. Pada hari kedua, murid-murid itu berkata: “Kami datang kemari untuk mengeluarkan Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami dari negeri ini.”

Sekarang kami turun bersama-sama di suatu desa. Sangat pantas mereka merenung. Merenungi makna yang terbaik dari ini. Syaikh Maudud berkata: “Menurutku ini sudah sangat bener. Demikianlah, karena sejak waktu subuh kami telah tegak dan mencari undang-undang itu.”

Murid-murid itu berkata: “Wahai Syaikh, kami telah bermusyawarah bersama. Kami telah melihat bahwa kebenaran telah berada di dalamnya. Kami telah mengutus mata-mata atau agen rahasia. Mereka telah mencari tahu waktu qailulah tersebut. Tidak ada seorang pun bersama mereka.”

Pada waktu itu, kami pergi bersama kalian. Dan kami menjadikan sema dan tarian sebagai orkestrasi bagi kami. Pada waktu itu, ada seseorang yang memukul kami. Syaikh Maudud berkata: “Ini sama sekali tidak benar. Karena dia memiliki wilayah dan karamah yang mesti dia andalkan.”

Mereka sama sekali tidak menerima kata-katanya. Mereka bermaksud untuk datang kepada Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami. Waktu itu adalah waktu qailulah beliau. Waktu itu khadimnya Syaikh Ahmad mau menggelar tikar. Hingga beliau tertarik untuk melakukan qailulah.

Syaikh Ahmad mengatakan: “Sabarlah sebentar saja. Aku punya urusan. Hingga ia menjadi nyata.” Seseorang mengetuk pintunya. Khadim itu membuka pintu. Syaikh Maudud masuk bersama jama’ah. Mereka mengucap salam. Mereka memulai dengan sema dan jeritan. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!