
“Tak perlu kaupikir lagi. Tulis saja!”
Wajah Pak Jafar terlihat masam. Gurat kecewa tampak menari-nari pada wajahnya yang dipenuhi lubang bekas penyakit cacar. Dia berjalan tanpa menoleh lagi kepadaku. Aku melihat rambut keritingnya berayun-ayun, rambut yang mengingatkanku pada gumpalan benang kusut di laci mesin jahit ibuku. Aku yakin pikirannya juga sedang kusut hari itu. Dengan langkah memburu, dia pergi meninggalkan kelas, membanting pintu lebih keras dari biasanya.
“Pak Jafar tidak butuh tulisan bagus. Dia hanya mau tulisanmu selesai,” bisik Cornelis tiba-tiba. Aku merasakan udara yang keluar dari mulutnya perlahan memasuki telingaku. Seketika saja, bau napas beraroma tembakau itu bertengger dalam rongga hidungku, membuat bulu-bulu halus yang tumbuh di sana tegak berdiri. Begitu bersemangatnya Cornelis membisikkan kata-kata itu sampai-sampai hidungnya menyentuh pipiku.
Lalu, lonceng berdentang keras. Aku bergegas keluar. Cornelis mengikutiku dari belakang. Dia memang aneh, seaneh namanya, nama yang mengingatkanku pada dongeng besar yang mendadak jadi sejarah. Padahal, tidak ada hubungan istimewa di antara kami, hanya pertemanan biasa yang sangat kebetulan. Itu karena Mak melarangku pacaran.
“Mulut laki-laki seperti belut. Terlalu licin untuk dipegang,” kata Mak berkali-kali.
Aku keluar dari gerbang menuju halte. Sebenarnya bukan halte, tapi sebuah kursi kayu panjang, di bawah pohon akasia, di pinggir jalan raya. Di sanalah aku dan teman-teman menunggu bus untuk pulang.
Cornelis menarik tanganku segera setelah bus berdiri tepat di depan kami. Sepertinya dia tak rela aku tertinggal sendirian di bawah pohon itu.
Cornelis mendorong tubuhku, memasuki bus yang penuh sesak. Kami duduk bersisian. Beberapa temanku bergelantungan di pintu bagian kiri yang membuat bus berjalan miring. Tiba-tiba saja wajah Pak Jafar, guru bahasa Indonesia yang di mulutnya penuh cerita, kembali hadir dalam kepalaku. Besok dia akan menungguku di ruang guru. Namun, bisa kupastikan dia akan memendam rasa kecewa sebab besok pengumuman kelulusan dan aku tak bisa menemuinya.
*
Aku menyelesaikan kuliah di FKIP Sejarah, empat tahun dua bulan, seperti tuntutan Mak yang memintaku tak berlama-lama di rantau. Sidang skripsiku dua bulan lalu berjalan lancar, walau ada sedikit ketegangan karena beberapa jawabanku terdengar aneh di telinga penguji. Cornelis yang menghadiri sidangku tampak terkekeh mendengar penjelasanku yang menurutnya tidak masuk akal. Aku bisa mendengar suaranya yang mirip ringkik kuda.
Aku sudah berjanji merayakan kelulusanku bersama Cornelis. Sebenarnya aku juga mengajak Mak, tapi dia tidak bisa hadir. Sejak mengidap diabetes, Mak sudah jarang sekali meninggalkan rumah. Luka di kakinya tak kunjung kering dan terus membesar.
Sore itu aku menghabiskan waktu bersama Cornelis, menyantap mi goreng di kantin pelabuhan Malahayati, sembari memandangi kapal-kapal yang bersandar di dermaga. Wajah Cornelis terlihat cerah sekali sore itu. Aku pikir itu wajar, sebab skripsinya dipuji sebagai yang terbaik di angkatan kami.
“Kau masih ingat Pak Jafar?” tanya Cornelis tiba-tiba, sambil mengusap mulutnya yang kepedasan setelah tak sengaja mengunyah capli Cina.
Mendapat pertanyaan itu, ingatanku pada Pak Jafar kembali mengambang.
“Bapak ingin kamu menulis tentang perempuan hebat yang namanya mirip namamu,” kata Pak Jafar waktu itu. Dia memintaku menulis tentang Malahayati, admiral perempuan dari Aceh yang katanya berhasil membunuh penjelajah Belanda di kapal mereka sendiri. Pahlawan perempuan yang dielu-elukan bangsaku.
“Setelah ini kita akan kembali pulang. Aku pikir sudah saatnya kau selesaikan tulisanmu. Kau pasti memiliki cukup banyak bahan untuk menyelesaikan tulisan sependek itu,” ujar Cornelis tiba-tiba, membuyarkan ingatanku pada Pak Jafar.
Laki-laki bermata sipit itu menyodorkan gelas berisi air putih ke hadapanku. Kali ini cabai sialan membakar mulutku. Panas! Aku merasakan bulir keringat perlahan menyembul di keningku. Aku meneguk air itu sampai tenggorokanku mengeluarkan bunyi yang membuat mata Cornelis semakin menyipit.
“Apa kau percaya cerita itu?” tanyaku, seraya mengibas-ngibas bibirku yang terasa perih.
Dia tersenyum aneh. Mungkin saja dia menganggap pertanyaanku terlalu konyol. Aku pikir, sebagai sarjana sejarah yang baru lulus, pertanyaan semacam itu tidaklah aneh. Bukan tidak mungkin kisah itu hanya karangan perempuan-perempuan istana yang ingin terlihat gagah di hadapan laki-laki yang suka berperang bertelanjang kaki, atau agar mereka bisa menjadi ratu di kemudian hari dan lalu membuat laki-laki bertekuk lutut.
“Coba kau lihat itu!”
Cornelis menujuk ke arah belakangku. Di sana terpajang sebuah lukisan besar. Perempuan itu berdiri gagah di tepi samudera yang gelombangnya begitu ganas. Di belakangnya, dua kapal layar terlihat hampir tenggelam. Tubuh perempuan itu dibalut baju kurung berwarna marun, celana panjang warna hitam dengan kain seukuran selendang melingkari pinggang dan ija sawak menutup sebagian rambutnya. Tangan kanannya memegang rencong, menatapku penuh dendam.
Lukisan itu seperti bergerak. Aku seperti mendengar suara ombak di sana, nyanyian camar, dan angin berdesau-desau. Aku menoleh sebentar, menatap bulir mata Cornelis yang tertuju pada lukisan itu.
Aku berkedip. Sekali. Dua kali. Dunia tidak kembali seperti semula. Perlahan, seperti ada sesuatu yang menyergap kesadaranku. Aku melihat lubang hitam di sana, membentuk pusaran yang terus berputar. Lubang itu seperti menarik tubuhku sejengkal demi sejengkal. Aku kembali menoleh pada Cornelis, memanggil-manggil namanya, tapi yang terlihat hanya lukisan.
Aku merasa berada dalam mimpi, mimpi yang terus datang sejak perpisahanku dengan Pak Jafar. Aku mengusap wajahku perlahan. Namun, tiba-tiba saja semuanya berubah samar. Aku seperti melihat tubuhku sendiri terdampar di geladak kapal yang dingin. Tanganku menggenggam rencong. Aku mencoba bangkit sembari mengusap-usap tubuhku yang tampak lain. Pakaian ini benar-benar terlihat aneh. Cornelis pasti akan menertawakanku. Sialan! Siapa yang mengganti pakaianku? Di mana Cornelis?
“Ah. Kau sudah datang!”
Aku menoleh ke belakang. Seorang laki-laki berambut pirang berdiri sembari berkacak pinggang. Dia menggunakan pakaian tebal serupa jaket warna abu-abu dengan kerah seperti gulungan bantal. Di pundaknya tersangkut kain panjang membentang hingga ke kaki. Sementara kakinya dibalut terompah kulit yang menutupi betis. Aku tidak pernah melihat laki-laki itu sebelumnya.
“Siapa kau?” tanyaku bersama ragu yang terus mengepung.
“Siapa aku?” Ia tergelak, “Sultan mengirimmu ke sini. Tadinya aku berpikir dia berbohong, tapi ….”
Dia berjalan ke arahku. Aku mundur beberapa langkah, bersiap-siap melompat ke laut.
“Sultan?” tanyaku sambil menelan ludah. “Besok aku harus pulang kampung. Kau siapa?”
“Benar sekali. Ini adalah kampungmu dan aku adalah Cornelis.”
Tubuhku mendadak bergidik. Bagaimana mungkin dia Cornelis? Sejak kapan Cornelis berambut pirang dan tinggal di kapal ini? Dan, kenapa pula aku bisa berpakaian seperti ini? Rencong siapa ini, kenapa ia terselip di pinggangku? Ya, Tuhan!
“Bukankah ini hari Sabtu? Harusnya aku berada di pelabuhan bersama Cornelis.”
Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku.
“Kau benar, Mala. Ini hari Sabtu, 11 September 1599. Dan aku adalah Cornelis.”
Kenapa dia bicara begitu? Dari mana dia tahu namaku? Kenapa dia mengaku sebagai Cornelis? Kenapa pula tahun 1599? Bukankah sekarang 2009? Apa dia tidak punya kalender? Atau mungkin dia baru mengisap ganja?
Laki-laki itu terus mendekat ke arahku. Dia menarik tubuhku dengan kasar, menggiringku memasuki sebuah kabin di lambung kapal. Mulutnya yang penuh kumis berwarna kuning itu menyentuh telingaku.
“Sultan mengirimmu ke sini sebagai hadiah. Utangnya terlalu banyak. Kemarin dia kalah lagi. Kau tahu?”
Bicara apa dia? Sialan!
Dia melempar tubuhku ke atas ranjang kayu yang dibalut seprai warna putih. Tiba-tiba saja tangannya yang sebesar paha gajah meraba-raba tubuhku.
“Bangsat!”
Mendengar makianku dia hanya tersenyum.
“Aku Cornelis.”
“Tidak! Cornelis tidak pernah menyentuhku, Kaphe paleh!”
Makianku yang berbau amis membuat laki-laki yang mengaku Cornelis itu keluar dari kabin. Dia meninggalkan tubuhku yang kini beku di atas ranjang, lalu menaiki anak tangga menuju geladak atas. Aku melempar pandang ke segala arah. Sepertinya tidak ada orang lain di kapal ini. Hanya aku dan dia, si rambut pirang yang terus-terusan mengaku sebagai Cornelis.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur seraya memandangi langit-langit kabin. Pikiranku melayang ke pelabuhan Malahayati. Di mana Cornelis? Bukankah besok kami harus segera pulang dan menemui Mak. Aku sudah berjanji akan mengenalkan Cornelis kepada Mak. Mungkin saja Mak akan marah karena aku telah melanggar janjiku sendiri.
Tapi kenapa begundal itu mengatakan kalau Sultan mengirimku ke sini?
Ah, sepertinya tadi aku terlelap. Kelopak mataku terasa begitu lengket.
Dalam suasana remang, mendadak aku sadar kalau aku kehilangan pakaian. Sialan! Si rambut pirang tertidur pulas di sampingku. Dengkurannya menggetarkan dinding kabin. Kenapa dia ada di sini?
Aku bangkit perlahan, memakai kembali pakaianku yang acak-acakan. Mataku mengedar, menyasar setiap bagian kabin, mencari-cari bagian pintu. Aku menoleh ke belakang, menatapi ranjang di belakangku. Ya Tuhan! Cornelis juga telanjang. Apa mungkin… Sialan!
Aku menarik ija sawak yang tergeletak di lantai kabin. Segera kututupi rambutku yang tergerai. Namun, wajah laki-laki itu membuat aku benar-benar muak.
Sultan mengirimmu sebagai hadiah.
Kata-kata Cornelis kembali mengambang di benakku yang kian bergemuruh.
Sultan keparat!
Kuambil rencong yang terjatuh di lantai.
“Jlep!” Rencong itu menancap tepat di jantung Cornelis. Dengkurannya berhenti dan suara itu kembali masuk ke dalam perutnya yang sunyi. Selamat jalan ke neraka!
Suara angin berdesau-desau di jendela kabin. Tidak ada pintu yang bisa mengantarku ke luar dari kamar ini, kamar yang telah menghancurkan harapan-harapanku bersama Cornelis.
Aku kembali menuju ranjang. Aku menemukan sebuah buku tergeletak di sana. Apa mungkin Cornelis berubah wujud menjadi buku? Kegilaan apalagi ini? Sultan pukimak!
Aku membuka buku itu dengan tangan bergetar, buku yang tak pernah kutemukan di perpustakaan kampusku. Aku menyibak lembar demi lembar sampai kemudian ….
Cornelis tidak mati. Dia hidup bersama laut. Dia menyamar sebagai lumba-lumba dan hanya memunculkan diri ketika purnama benar-benar terang. Cornelis akan terus bersembunyi sampai kiamat, menunggu Dajjal untuk membalas dendam pada pendongeng yang merusak namanya di hadapan Baginda Ratu.
“Malaaaaa!”
Tiba-tiba saja teriakan itu mengantarku kembali ke pelabuhan, meninggalkan buku aneh yang belum habis kubaca.
“Jangan melamun terus! Kita pulang sekarang?”
Suara Cornelis membuat telingaku berdenging. Dia menatap wajahku dengan sorot aneh. Binar matanya seperti memancarkan pertanyaan yang mesti segera kujawab.
Melihat aku yang masih gugup, Cornelis menyodorkan kotak tisu ke hadapanku. Keringat mengucur deras membasahi dahiku yang terasa panas.
“Kita pulang sekarang?”
Cornelis menarik tanganku dengan keras. Dia membawaku melewati pohon-pohon cemara yang berdiri angkuh di tepian pelabuhan.
Sambil berjalan dengan langkah berat, aku kembali menoleh ke belakang.
Perempuan dalam lukisan itu terus memandangiku dengan wajah dingin.
“Aku harus bertemu Pak Jafar!”
Teriakanku disambut deru angin yang membuat pucuk-pucuk cemara bergoyang pelan.
Aku tidak tahu apakah Cornelis mendengar suaraku.
***
Catatan:
Capli Cina: Cabe rawit
Ija Sawak: Kain selendang
Kaphe Paleh: Kafir jahat. Sebutan pejuang-pejuang Aceh kepada Belanda.
- Malahayati dan Cornelis - 12 June 2026
- Geunteut - 6 February 2026
- Ayam Tetangga - 17 January 2025
