Geunteut

Pengadilan Syariah memutuskan Beuransah dan Nirmala dicambuk dua puluh lima kali setelah keduanya terbukti melakukan jarimah zina. Sebelum dibawa ke kantor Wilayatul Hisbah dan kemudian berakhir di Mahkamah Syar’iyah, keduanya sempat dimandikan di meunasah, disaksikan ratusan pasang mata, bahkan oleh anak-anak yang malam itu digendong ibunya. Keduanya juga dihadiahi beberapa bogem mentah sebagai kenang-kenangan.

Selepas salat Jumat, ketika matahari masih menggantung ganas di langit, ratusan atau mungkin ribuan orang berkerumun di halaman Masjid Agung kota itu. Bahkan mereka yang tidak sempat salat Jumat karena mabuk ganja atau asyik dengan judi online juga turut hadir, menyemarakkan panggung eksekusi. Bagi para terhukum panggung itu tentu saja mengerikan. Namun, bagi penonton, panggung itu adalah hiburan gratis. Apalagi, sudah hampir dua puluh tahun tidak ada hiburan di kota itu setelah pagelaran-pagelaran musik dilarang. Konon, pelarangan itu untuk menghindari bala air bah dan kiriman kayu-kayu balok dari langit. Maka para penonton pun datang berbondong-bondong dari segala penjuru, berjalan dengan riang seolah sedang menyambut hari raya.

Para terhukum menggunakan pakaian putih, sejenis jubah bagi laki-laki dan pakaian kurung bagi perempuan. Di atas panggung, mereka terpaksa memejamkan mata dengan rapat, menghindari ribuan tatapan yang menyirat kebencian dan kejijikan yang teramat dalam. Sakit adalah satu hal, dan malu adalah hal lain, di mana keduanya saling bersenggama, sebagai penebusan dosa atas kejahatan yang mereka lakukan.

Di hadapan algojo yang hari itu membungkus tubuh layak ninja, sehingga yang kelihatan hanyalah matanya, Beuransah benar-benar tidak berdaya. Dia pasrah, menyerahkan punggungnya untuk disebat rotan panjang yang segera saja meninggalkan bekas lebam, membuat kulitnya perih berhari-hari. Algojo mencambuk mereka tanpa ampun, tak peduli pada rintihan Beuransah dan Nirmala yang mengiba.

Beberapa hari usai eksekusi, keduanya dibolehkan pulang, menjalani hidup baru di kampung. Namun, kehidupan setelah eksekusi tidaklah sama, walau keduanya sekarang telah resmi menikah. Kalau dipikir-pikir bukanlah rasa sakit dicambuk yang menjadi masalah, tapi tatapan orang-orang ketika keduanya diarak dan lalu dipertontonkan di atas panggung. Itulah yang menjadi punca, yang membuat mereka mencecap rasa neraka sebelum kiamat.

Maka, setiap Beuransah bangun dari tidurnya di pagi hari, dia selalu duduk termenung di belakang rumah, pada sebuah rangkang kecil, tempat ia menghabiskan hari-harinya. Teringat dia akan masa-masa yang lalu, sebelum petaka itu mencabut kegembiraannya selama bertahun-tahun. Dia terkenang pada dirinya yang begitu dihormati, begitu dihargai dan dielu-elukan sebagai orang suci. Namun, kini semuanya telah musnah.

Pagi itu, di penghujung Desember, ketika hujan masih deras-derasnya turun, Beuransah mendatangi rumah Nirmala, seorang janda yang tinggal sendirian di utara kampung. Dia rela berbasah-basah dalam hujan hanya untuk mengambil bahan-bahan seunijuk, sebab jam sepuluh nanti dia akan melakukan tradisi peusijuk pada seorang anak kecil yang baru saja ditemukan di tengah hutan setelah hilang berhari-hari. Menurut kepercayaan orang-orang kampung, anak itu dibawa geunteut hingga tersesat dalam hutan. Sudah menjadi kebiasaan, setiap ada orang yang dibawa geunteut, orang itu akan dipeusijuk untuk menghilangkan pengaruh gaib yang masih tersisa. Dan, Beuransah adalah satu-satunya orang di kampung itu yang bisa melakukan tradisi peusijuk. Dia mewarisi keahlian itu dari ayahnya, sementara ayahnya mewarisi dari kakeknya, demikian seterusnya yang sanad-sanadnya sampai pada cenayang Sultan Iskandar Muda.

Maka, ketika malam tadi Mando Gapi menjumpainya, dia sedikit terkejut, sebab bahan-bahan yang ia butuhkan sudah habis terpakai pada peresmian kedai baru milik Haji Bollah dua hari lalu. Itulah sebab pagi itu ia berhujan-hujan menggunakan payung menuju rumah Nirmala. Janda itu adalah pedagang bahan-bahan seunijuk dan juga perlengkapan orang mati seperti jeruk purut, kain kafan, kemenyan, dan bahkan keranda. Dia baru akan berjualan jam sepuluh pagi, di sebuah toko kecil yang disewanya di samping kantor Koramil.

Namun, hujan yang makin deras dan petir yang menyambar-nyambar membuat Beuransah terperangkap di rumah itu. Beuransah yang sudah menduda sejak dua tahun lalu sebenarnya merasa risi ketika Nirmala duduk terlalu dekat dengannya, sampai-sampai bahu perempuan itu berdempetan dengan bahunya sendiri. Lagi pula, ketika istrinya masih hidup, dia sudah berjanji tidak akan menikah lagi. Akan tetapi, dia harus jujur kalau janda Nirmala masihlah cantik, ditambah lagi dengan pipinya yang melesung ketika tersenyum, membuat dada Beuransah bergemuruh dan jakunnya naik turun.

Sampai dengan jam sepuluh pagi, hujan masih begitu deras dan petir menyambar pucuk-pucuk kelapa. Melihat percikan api dari balik kaca jendela, Nirmala terkesiap dan tanpa sengaja memeluk Beuransah yang duduk diam bagai patung. Beuransah dapat merasakan detak jantung perempuan itu, sebab dada mereka begitu dekat, rapat, dan melekat.

“Itu pasti ada jin. Malaikat baru saja mencambuknya dengan api,” kata Beuransah, menenangkan Nirmala yang ketakutan.

Nirmala tidak memberi respons. Dia masih merasa begitu nyaman menempelkan wajahnya pada dada laki-laki itu. Dia tidak lagi peduli pada petir yang menyambar-nyambar. Terserah, apakah itu malaikat atau jin atau sengatan listrik atau bom atom, baginya tak penting. Satu-satunya yang penting baginya saat itu adalah terus berdekatan dengan Beuransah, menghidu bau tubuhnya yang menguar aroma jagung.

Tak lama kemudian hujan berhenti dan petir tak terdengar lagi. Beuransah segera pamit. Namun, Nirmala yang telah dibakar gairah, menarik laki-laki itu dalam kamar. Dia menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Beuransah yang awalnya menolak terpaksa menurut saja keinginan perempuan itu. Ini kondisi darurat, pikirnya. Dan, tiba-tiba saja dia merasa dirinya seperti Yusuf yang hendak dinodai Zulaikha.

Sementara itu, di sebuah rumah, Mando Gapi tampak gelisah, berjalan hilir mudik di ruang tamu. Beuransah belum juga datang, sedangkan beberapa tamu sudah hadir. Si Agam, satu-satunya anak lelaki yang ia miliki, yang beberapa hari lalu dibawa geunteut telah duduk di ruang tamu, di atas tikar pandan. Di hadapannya makanan telah dihidangkan. Hanya saja, sebelum acara makan-makan dimulai, dia harus lebih dulu dipeusijuk agar tak ada lagi aroma geunteut di tubuhnya. Namun, Beuransah tak kunjung tiba.

Mando Gapi meminta seseorang untuk menjemput Beuransah di rumahnya. Namun, tak lama kemudian orang itu kembali dengan raut kecewa. Beuransah tak ada di rumah. Dalam kondisi itulah seseorang berseloroh, “Mungkin Beuransah dibawa geunteut.”

“Ah. Jangan bicara macam-macam!” sergah Mando Gapi, “Mana ada geunteut hujan-hujan begini.”

“Jangan meremehkan geunteut,” timpal Umi Rukayyah yang sedang mengunyah pinang, membuat bibirnya berubah merah.

Wanita yang usianya sudah lebih setengah abad itu mengatakan kalau geunteut bisa muncul kapan saja. “Hujan, petir, dan bahkan banjir tidak akan bisa menghalangi geunteut. Dia memiliki tubuh yang panjang dan tinggi. Semakin kita mendongak melihat wajahnya, semakin tinggilah ia,” tambah perempuan itu, seraya memasukkan sirih ke mulutnya yang gelap.

Maka diperintahkanlah orang-orang mencari Beuransah. Mereka mendatangi semua rumah untuk menanyai keberadaan laki-laki itu. Tepat pukul dua belas siang mereka tiba di rumah Nirmala. Salah seorang dari mereka mengenali sepasang sandal Beuransah yang terparkir di depan pintu rumah Nirmala. Maka, diketuknyalah pintu itu berkali-kali. Namun, Beuransah yang sedang lena dalam pelukan Nirmala tak mendengar seruan orang-orang. Akhirnya pintu didobrak dengan keras. Maka terperanjatlah kedua anak manusia yang sedang bercumbu dalam kamar. Beuransah tak pernah menduga orang-orang akan mendatangi rumah itu. Dia bangkit dari ranjang, membuka pintu kamar perlahan, diikuti Nirmala dari belakang.

“Nah, ini dia. Ke sini rupanya geunteut membawa Beuransah,” teriak seseorang dalam kerumunan. Beuransah mendadak bingung. Dia merasa seperti sedang bermimpi, sementara Nirmala bersembunyi di belakang tubuhnya.

Tanpa bertanya-tanya lagi, orang-orang yang telah disulut amarah itu segera menggiring mereka ke meunasah. Seperti tawanan perang yang tertangkap di selokan, keduanya berjalan beriringan dengan wajah menunduk. Sumpah serapah warga mengiringi perjalanan itu. Sampai di meunasah, keduanya dimandikan air comberan. Bahkan ada beberapa warga yang usil, melempar kotoran lembu ke wajah mereka. Mando Gapi yang menyaksikan peristiwa tersebut hanya bisa menggelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah nasib anak bujangnya. Jam segini dia belum juga dipeusijuk. Maka punahlah harapannya.

Mengingat peristiwa itu, Beuransah amat menyesal. Ingin rasanya dia masuk ke dalam tanah, bersembunyi di sana bertahun-tahun dan keluar bersama dabbah dihari kiamat. Tak sanggup lagi dia menahan malu. Kadang-kadang terbesit di pikirannya untuk membunuh saja Nirmala sebab perempuan itulah punca segala masalah. Namun, kemarahannya segera berpindah kepada Mando Gapi. Andai saja bukan karena laki-laki itu, pastinya dia tidak akan menemui Nirmala. Ah! Bukan itu juga, pikirnya. Itu semua karena si Agam yang sembarangan masuk hutan. Gara-gara dialah Mando Gapi mengundang Beuransah untuk melakukan peusijuk. Tapi, Beuransah berpikir lagi. Tidak adil juga dia menuduh anak itu. Pasti ini semua karena geunteut sialan yang membuat anak itu tersesat dalam hutan.

Sedang asyik Beuransah termenung, Nirmala datang membawa kopi yang menguar aroma pekat. “Minumlah,” kata perempuan itu dengan suara menggoda. Berbeda dengan Beuransah yang murung saban hari setelah keduanya disebat di Masjid Agung, Nirmala justru terlihat gembira. Hatinya teramat senang bisa menikah dengan Beuransah, laki-laki yang dia idamkan sejak dahulu. Dia tidak ambil pusing dengan cemoohan orang-orang. Tak peduli juga pada cambukan di punggungnya. Baginya, bisa hidup dengan Beuransah adalah satu kemenangan, satu kejayaan yang mesti disyukuri.

“Aku harus mencari geunteut. Akan kubunuh makhluk biadab itu,” kata Beuransah, beberapa saat setelah kopi panas membasahi tenggorokannya yang kering.

“Jangan bicara yang bukan-bukan, Bang,” desis Nirmala, lalu duduk di samping suaminya. “Geunteut itu bukan kambing yang bisa Abang sembelih sesuka hati. Itu makhluk gaib,” lanjut perempuan itu seraya memandang wajah Beuransah yang diliput amarah.

“Karena dia, harkat dan martabatku jatuh!”

“Ini sudah takdir, Bang. Terima saja dengan lapang dada.”

“Takdirmu, bukan takdirku!”

Jawaban itu membuat wajah Nirmala sempurna mengerut. Namun, cintanya kepada Beuransah lebih besar dari segalanya. Sikap cuek yang ditunjukkan Beuransah selama ini, justru membuat Nirmala semakin cinta. Memang terdengar aneh, tapi Nirmala memang menyukai hal-hal demikian, menyukai hal-hal yang tak disukai orang lain. Itu pula yang membuat ia memilih menjadi pedagang perlengkapan mayat, pekerjaan yang dihindari oleh orang-orang. Profesi itu bukan saja menghadirkan kengerian, tapi juga kerap mendatangkan musibah bagi orang lain, terlebih ketika dia berdoa agar dimudahkan rezeki. Tentu tak ada jalan lain bagi kemudahan rezeki pedagang kain kafan kecuali dengan kematian orang-orang di sekelilingnya.

“Kalau memang itu keinginan Abang, aku tak bisa melarang. Tapi di mana Abang akan mencari geunteut?”

Mendengar pertanyaan istrinya, Beuransah terdiam. Memang benar kata istrinya, geunteut bukanlah kambing yang mudah ditemukan di kandang atau di pasar hewan. Tidak! Geunteut tidak seperti itu. Dia muncul sesuka hati. Orang-orang yang berkeliaran di waktu Magrib tanpa sengaja akan menaiki tubuh makhluk itu. Akibatnya mereka akan tersesat. Bukan saja ke hutan, tapi juga ke atas pohon, di pucuk kelapa, atau kadang-kadang di pinggir sungai, atau di mana-mana tempat, yang sebenarnya tak mungkin bisa dilalui.

Tahun terus berganti.

Beuransah sudah semakin tua dan Nirmala pun tak lagi secantik dulu. Kegemarannya makan mi rebus membuat tubuhnya sudah sebesar drum minyak. Bahkan geunteut pun sudah tidak sanggup menggendong tubuhnya. Namun, Beuransah masih belum berubah. Dia masih sering duduk termangu di rangkang, memikirkan cara menangkap geunteut dan lalu membunuhnya dengan sadis.

 Sampai suatu senja, terdengar suara riuh dari arah jalan desa. Serombongan warga tampak menggiring seorang pemuda yang tertangkap basah di kandang lembu bersama seorang janda muda. Si pemuda meracau, suaranya parau menembus gelap, “Aku tidak tahu apa-apa! Aku tadi dibawa geunteut!”

Beuransah tersentak. Gelas kopi di tangannya bergetar. Kalimat itu …

Tiba-tiba saja Beuransah sadar, geunteut tidak butuh pohon tinggi atau rimbun hutan untuk bersembunyi. Makhluk itu tumbuh subur di dalam mulut-mulut para pengecut dan di bawah jubah orang-orang seperti dirinya.

Sejak itu, ia tak lagi berniat mencari geunteut ke dalam hutan.

Beuransah kembali menyesap kopinya yang mulai dingin. Ia membiarkan kepahitan itu menetap selamanya di kerongkongan, sementara di luar sana, orang-orang mulai bersiap menyiapkan air comberan dan bogem mentah untuk menyambut korban geunteut yang baru.

Catatan:

Wilayatul Hisbah: Polisi Syariat di Aceh

Mahkamah Syar’iyah: Pengadilan Agama di Aceh

Rangkang: Sejenis balai kecil tempat istirahat.

Geunteut: Dalam kepercayaan orang Aceh geunteut adalah makhluk gaib yang sering muncul di waktu Magrib dan membuat orang-orang yang berjumpa dengannya akan tersesat.

Dabbah: makhluk yang muncul menjelang kiamat

Tin Miswary
Latest posts by Tin Miswary (see all)

Comments

  1. Randa Eris Ramadhan Reply

    Ceritanya sangat bagus dan menarik saya sangat suka

  2. Amira Reply

    Bagus sekali ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!