Syaikh Abu Isma’il al-Harawi #4

Pada sebagian waktu yang lain, beliau menulis enam nama-nama budak yang mau dimerdekakan. Setelah selesai pelajaran pada waktu duha, beliau harus pergi ke kantor. Di kantor itu, beliau harus menulis lagi, entah menulis apa. Waktu beliau sudah ditentukan. Dalam setiap waktu, waktu beliau tidak pernah ditentukan.

Pada suatu waktu, beliau betul-betul disibukkan dengan sesuatu. Pada waktu tertentu, kesibukan itu sampai pada waktu isya. Sungguh ya, beliau sangat disibukkan. Pada sebagian malam, beliau betul-betul menulis hadits dengan menerangi lampu sendiri. Pada waktu itu, tidak ada kesempatan untuk makan.

Pada waktu itu, sampai-sampai ibunya menyuapi makan ketika beliau menulis. Sungguh, beliau betul-betul terpuji dengan pekerjaannya itu. Beliau juga mengatakan bahwa Allah Ta’ala memberikan kepada beliau hafalan terhadap segala yang datang di bawah penanya. Sehingga beliau sama sekali tidak melupakannya.

Beliau juga mengatakan bahwa dirinya hafal tiga ratus hadits dengan sejuta sanad. Beliau juga mengatakan bahwa dalam rangka memperoleh hadits-hadits itu banyak sekali kendalanya, banyak sekali rintangannya. Dan tidak diperoleh oleh seseorang adanya kesulitan-kesulitan ini. Sungguh, sangat menyengsarakan.

Hingga beliau pernah berada di sebuah perjalanan, sementara pada waktu itu sedang dalam keadaan hujan. Sampai-sampai kertas-kertas yang berisi tulisan hadits-hadits itu menempel ke perut beliau, dan beliau berjalan seperti orang ruku’ dari Nisabur ke Dazbad, sebuah desa yang sudah keluar Nisabur melalui Hirat.

Beliau juga mengatakan bahwa cukup niat bagi beliau untuk memulai membaca ilmu. Kenapa? Karena beliau membaca ilmu tidak dalam rangka memperoleh dunia, tapi semata-mata karena Allah Ta’ala, juga untuk menolong sunnah Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Beliau juga mengatakan bahwa andaikan seseorang bertanya kepada beliau: “Apa yang beliau kerjakan atau kenapa kau kerjakan hal itu?” Tentu saja beliau akan punya dalil tentang menulis-menulis itu. Yaitu, menulis sesuatu yang paling mulia setelah penulisan Qur’an. Bukankah penulisan Qur’an yang paling mulia?

Semua hadits itu ditulis oleh beliau memang dari ahlinya masing-masing, dari tiga ratus orang yang semuanya ahli di bidang hadits. Tidak ada seorang pun dari mereka yang ahli bid’ah, yang suka mengada-ngada tentang hadits yang kemudian disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw.

Karena itu, Syaikh Muhammad bin Sirin mengatakan bahwa ilmu ini adalah agama. Maka, pandanglah dari siapa engkau sebenarnya mengambilnya. Tidak boleh mengambil dari asal orang, harus jelas orangnya siapa sebenarnya. Bahkan dari seseorang yang rasionalis, tidak bisa.

Beliau juga mengatakan bahwa salah seorang gurunya di bidang tadzkirah, peringatan kepada Allah Ta’ala, juga di bidang ilmu tafsir, yaitu al-Imam Yahya bin ‘Ammar, kalau beliau tidak menyaksikan langsung berbicara tentang apa yang ditekuninya, beliau tidak mengambil darinya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!