Puisi Bayu Akbar Ambuari

 

 

Nadiyya, 62

 

telah kubakar semua peta

dan brosur wisata

di atas makam seorang padri.

 

jangan ajak aku pergi:

aku hanya ingin mencium

bau lemon di jantungmu.

 

di luar sana nasib memburu kepalaku

dan hanya di bawah ketiakmu

aku bisa menyembunyikan

wajah dan pengetahuanku.

 

liburan adalah pesta pora

bagi mereka yang belum pernah

melihat nisan meledak:

 

aku memilih menetap di bibirmu,

menjadi hantu yang mengisap

jejak vanila di sisa ciumanmu.

 

Mei, 2026

 

 

 

Nadiyya, 35

 

aku sekarat dengan gaya yang kurang sopan bagi perawat galak ini; memakai baju pasien yang ukurannya terlalu besar untuk menampung pengetahuanku.

 

tubuhku peta yang robek. bakteri-bakteri menjelma koloni rayap yang merayakan kemenangan di jantungku yang sedang sibuk menyusun ulang sejarah degupnya—mencari kata-kata terakhir yang paling hemat untukmu.

 

aku tidak sedang menunggu maut. aku menunggu sebuah kalimat yang cukup luas dalam satu tarikan napas untuk menampung seluruh jarak antara ranjang ini dan alismu.

 

Mei, 2026

Nadiyya, 75

 

​segala puji bagi tuhan

yang menciptakan setan dan mengizinkannya

bersemayam di dalam kecantikanmu:

menghasut hasratku.

 

​Kau berhala yang bernapas dan tertawa

saat para penyembahnya

saling bunuh demi menyentuh

ujung kerudungmu.

 

​Kau puncak bambu

bergoyang tertiup angin pemujaan,

aku seruling yang bersuka cita

saat napasmu menyentuh lukaku.

 

​Kau ratu yang diam, dan aku debu

yang menari

di bawah bayangan

kebayamu.

 

Mei, 2026

 

 

Nadiyya, 50

 

tuhan berbicara melalui suaramu;

mengingatkanku tentang sarapan,

makan siang dan makan malam.

 

Pesanmu adalah embun yang jatuh

di atas piringku yang sepi;

darah matahari yang menetes

di atas sendokku,

 

angin malam yang membawa aroma

tubuhmu yang baunya lebih nyata

dari seluruh parfum di etalase kota,

ke meja makanku sebelum tidur.

 

Maka aku makan dengan khidmat,

seperti teratai yang menyesap air telaga;

aku tahu, di dalam tubuhku yang kenyang,

cintamu akan tumbuh subur.

 

Maka aku makan dengan sukacita,

menjadikan lambungku kuil

tempat digemakannya namamu

tanpa henti.

 

Mei, 2026

Bayu Akbar Ambuari
Latest posts by Bayu Akbar Ambuari (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!