Menonton Konser Artis Ibu Kota

LENGKET dan berkeringat. Juli masih berdiri di bawah terik, di antara kerumunan jelata yang berdesak-desakkan ingin menonton konser artis ibu kota

“Panas sekali, aku harus berteduh,” gumamnya. Sebagian rambutnya yang merah kering kecoklatan menempel di leher belakang karena keringat,

Di kejauhan, di atas sebuah panggung yang teduh, dengan pelantang, Sherly Marchelonata menyapa para penggemarnya. Di bawah payung raksasa yang dipancang pemilik kedai penjual es teh, Juli duduk kegerahan dan bertanya-tanya, bagaimana rasanya menjadi Sherly Marchelonata yang begitu memesona. Sambil menyedot teh bergelimang es batu dalam gelas plastik, Juli terus menatap Sherly di kejauhan. Lincah dan gemerlap. Juli membayangkan dirinya berdiri di sana—di atas panggung, dan menjadi Sherly atau seseorang semacam Sherly.

Ketika dia membayangkan dirinya menjadi Sherly atau semacam Sherly, dia tengah menatap lekat ke jari-jari kakinya. Sepasang kaki yang kusam, dengan kuku-kuku yang dicat merah mengkilap. Dia menyadari warna merah di kuku kakinya itu benar-benar tidak sepadan dengan kaki kusam dan sandal karet murahan warna ungu tua yang dia kenakan. Seketika, bayangan dirinya menjadi Sherly runtuh, dan dia terjerembab ke jurang paling dasar bernama kenyataan.

“Hidup ini terkadang memang tidak adil, jadi biasakan dirimu,” puluhan kali dia mendengar kata-kata itu. Dan itu membuatnya mengingat nasib anak sapi dalam lagu Joan Baez, Donna Donna Donna Don… Anak sapi dengan mata sedih yang digiring ke rumah jagal di pasar.  Sementara, di atasnya, burung layang-layang terbang bebas menukik ke langit. Anak sapi yang malang berjalan ke pembantaian, sementara burung layang-layang menari lepas berpesta di udara. Angin tertawa sepanjang waktu, bahkan setelah anak sapi itu menjelma keratan daging dalam panci penuh bumbu.

Jelas sekali, Juli adalah anak sapi itu, dan Sherly Marchelonata adalah burung layang-layang yang menari anggun di udara. Dan bebas.

            Pada sebuah hari yang biasa saja, dia dilahirkan di sebuah dusun kecil di pedalaman Ponorogo, pada Maret tiga puluh tahun silam. Dan siapa yang tahu, mengapa orang tuanya memberinya nama Juli, meski jelas-jelas dia lahir pada bulan Maret. Sampai detik ini dia masih belum mengerti. Dan itu sudah tidak penting lagi.

Pada tahun dan bulan yang sama, tanggal yang berbeda, di sebuah rumah sakit di Jakarta, di sebuah kamar VIP (dia yakin itu), sebuah keluarga artis, kaya raya, juga tengah merayakan kelahiran anak pertamanya, seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik, yang diberi nama Sherly Marchelonata. Bisa jadi, kata Marchelonata berasal dari kata March atau Maret. Sebab, dia yakin orang tua Sherly paham dengan baik, menimbang dengan saksama, sebelum menyematkan sebuah nama untuk putrinya.

Terkadang, dia berpikir bahwa nama yang disandangnya adalah ranting kecil dari nasib buruk yang besar dalam pohon keluarganya. Nasib buruk yang mengakar dan tak bisa dicabut. Kedua orang tuanya tidak berpendidikan, dan itu bukan salah kedua orang tuanya. Itu sama seperti, bukan salah siapa pun kalau keluarga mereka miskin turun-temurun. Itu hanya nasib. Dan salah satu nasib terbaik yang singgah dalam hidupnya adalah dia masih sempat mengenyam Pendidikan, meski hanya sampai bangku SMA.

            Juli oh Juli, dia tiga puluh tahun, Sherly juga tiga puluh tahun. Juli, dia lulus SMA, merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah salon kecantikan murahan milik kenalan temannya. Hari-harinya dipenuhi gosip murahan dari orang-orang yang meluruskan rambut, memasang maskara, dan menghaluskan kuku. Para sosialita dari gang-gang sempit yang ingin tampil cantik, tapi enggan mengeluarkan banyak duit. Mereka rutin datang dan tak segan-segan memrotes aroma sampo atau ruangan yang panas tanpa mesin pendingin. Tubuh mereka hampir tak ada yang ramping, tapi mereka selalu merasa layak jadi ratu sejagad begitu melenggang keluar dari ruang dandan. Ruang terkutuk ini. Sebelum pergi mereka selalu meminta Juli memotret wajah mereka dengan berbagai arah dan gaya. Juli tak pernah keberatan melakukannya.

Bagi Juli, salon itu adalah salon terburuk yang pernah dia temui. Dan ketololan berhasil membuatnya bertahan di tempat itu. Sebenarnya, Juli memang tak punya banyak pilihan. Dia tak punya banyak keahlian. Suatu ketika, dia pernah menjajal ikut audisi menyanyi, adu bakat, atau yang semacamnya, dan dia selalu terhenti pada babak pertama. Kalau tidak, dia akan bertahan menjadi bahan olokan para juri. Pada akhirnya, dia balik juga ke salon itu. Dia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari salon buruk itu.

Beberapa tahun terakhir ketika salon itu semakin sepi, si bos menyuruhnya mencetak spanduk besar-besar yang bertuliskan: menerima jasa potong rambut laki-laki, perempuan, anak-anak, dan dewasa. Sekali dua kali pelanggan datang, ibu-ibu yang mengantar anak-anak beringus dengan rambut beraroma bulu ayam. Terkadang para begundal juga berkunjung. Ketika Juli memangkas rambut mereka, tangan mereka bergentanyangan sampai ke bokong Juli. Ketika Juli menghindar atau menampik tangan-tangan keparat itu, para begundal itu balas menyerapahi Juli, habis-habisan. Dan si bos selalu menekan Juli, menyuruhnya bersikap baik pada pelanggan, siapa pun mereka.

“Bayangkan saja para pelanggan itu sebagai duit yang berjalan. Masak iya kamu menolak dicolek duit berjalan?” seru si bos suatu kali, dengan kelakar.

“Sayangnya duit yang berjalan itu punya mulut dan tangan yang tak pernah belajar tata krama,” balas Juli. Bosnya tertawa-tawa. Tak sadar bahwa Juli mengatakan itu dengan serius.

Bayangkan! Ketika Juli melewati detik-detik yang datar dan menjengkelkan di salon cemar itu, saban hari, sepajang tahun, Sherly Marchelonata tengah sibuk menyelesaikan kuliahnya di Amerika. Dia yakin Sherly juga melakukan liburan sesekali, mampir ke tempat-tempat wisata di seluruh dunia, bertemu banyak pemuda tampan, dan sesekali balik ke Jakarta untuk shooting ataumelakukan hal-hal penting.

Betapa mudahnya bagi Sherly untuk menjatuhkan pemuda tampan ke dalam pelukannya. Sedangkan dia, puluhan pemuda datang dan pergi, teman, para pelanggan, para kurir, pegawai minimarket… Juli jatuh hati dan jatuh hati lagi sebelum patah hati dan patah hati lagi, mudah sekali baginya jatuh hati sekalgus patah hati, dan dia hanya bisa memendam perasaan itu dalam-dalam. Menjatuhkan pemuda-pemuda itu dalam fantasi pribadinya. Lihatlah! Betapa tidak adilnya dunia ini.

Saat Juli duduk di kelas lima SD, dia mulai mengenal Sherly (tapi, tentu saja Sherly tidak mengenalnya). Dia sempat hapal lagu-lagu Sherly kecil, dia menyukai sinetron-sinetron yang dibintangi Sherly remaja, dan semua lagu yang dinyanyikan Sherly dewasa adalah lagu-lagu paling puitis yang pernah dia dengar. Dia begitu mengagumi Sherly. Namun, pada saat yang sama dia sangat membenci keberuntungan gadis itu. Dalam kecamuk pikirannya, dia selalu menggugat: mengapa Tuhan harus menciptakan orang-orang sempurna macam Sherly, sementara, pada saat yang sama Tuhan menciptakan orang-orang kumuh macam dirinya. Tuhan punya maksud, Tuhan punya maksud, Tuhan punya maksud… hati kecilnya selalu membela. Dan saat dia memikirkan hal-hal berulang semacam itu, dadanya selalu menghangat, sementara air matanya mulai mengembang.

“Hei Yul, bengong aje lu! Konsernya udah mau dimulai, tuh. Yuk, cari tempat dekat panggung!” seru seseorang yang melintas di hadapannya. Entah siapa.

Dia seperti baru saja terbangun paksa dari tidur penuh mimpi buruk untuk melewati hari-hari yang tak kalah buruk. Oh, tidak bisakah orang-orang ini bersuara sedikit lembut kepadaku? Juli mendengus. Air matanya jatuh. Dari kejauhan, di antara riuh suara ratusan atau mungkin ribuan orang, dia mendengar lagu Sherly mulai diputar. Iramanya lembut dengan decakkan runtun. Dia tahu lagu itu. Sebuah lagu cinta yang puitis, namun sejatinya penuh omong kosong.

Juli mengelap wajahnya yang berkeringat dengan tisu lecek, lantas membuka tas jinjing imitasi yang selalu dia bawa ketika pergi. Dari dalam tas murahan itu, dia mengeluarkan gincu dan cermin kecil. Dia memoles gincu itu ke seluruh penjuru bibir. Dari pantulan cermin itu, dia bisa melihat bibirnya sendiri yang begitu penuh. Ketika cermin itu bergeser sedikit ke bawah, Juli melihat jakun yang bercokol di lehernya bergerak naik turun—dia selalu berharap, bisa  mencongkel tonjolan itu.

“Bedebah!” umpat Juli. Sebuah ide menumbuk kepalanya. Perpaduan antara lelah dan putus asa atas kehidupan.

Juli memejamkan mata, bukan karena silau oleh matahari, dia hanya sedang membayangkan wajahnya yang penuh disorot puluhan kamera, dan namanya menghiasi berita-berita di layar kaca, viral di media sosial. Sungguh, menjadi terkenal memang bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Juli terdiam sejenak, tersenyum masam, lalu meraih batu sekepalan tangan yang tergeletak di sekitaran kakinya, dan memasukkannya ke dalam tas jinjing. Dia bergegas menuju area panggung. Dia ingin mencari posisi di depan panggung. Paling depan. Agar dia bisa melihat Sherly Marchelonata dengan jelas. Sangat jelas. Sangat dekat.

Juli, oh Juli, kesempatan seperti ini takkan datang dua kali. ***

Karlos-Cairns, 2023-2026

Mashdar Zainal
Latest posts by Mashdar Zainal (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!