Sapi! Sapi! Sapi!

Bocah itu baru saja lulus kelas enam, belum genap 3 bulan. Dia memang sudah balig. Beberapa hari sebelum ujian kelulusan, dia mengaku kepadaku bahwa dia sudah mimpi basah. Suaranya juga sudah mulai memberat. Bocah itu memang sedang dalam peralihan dari anak-anak menuju remaja. Seusai sunat, bocah itu makin cepat bongsor. Meski begitu, aku tak bisa berhenti mencemaskannya. Sejak punya anak, aku lebih sering mencemaskan banyak hal.

            Akhir-akhir ini dunia sangat sakit. Sangat-sangat sakit. Aku takut bocah itu akan terlibat dan terperangkap dalam dunia yang sakit itu.

***

            Sarang tawon ndas itu sudah lama ada di sana, menggelantung di dahan nangka paling rendah, bersebelahan dengan kandang sapi. Tak ada yang berani mendekat, alih-alih mengusiknya.

            Konon tawon-tawon itu lumayan agresif saat merasa terganggu. Sebab itu, ketika berada di kandang sapi—saat memberi makan atau membersihkan kandang, kami selalu bergerak hati-hati. Dan sapi-sapi itu sepertinya juga sudah tahu bahwa beberapa meter dari tempat mereka melenguh dan buang kotoran, bergelantungan kawanan monster, mungil, hitam, dan mematikan.

            Para tetangga suka memberi saran, bergantian dan berulang-ulang: sarang tawon itu sebaiknya disingkirkan, sangat berbahaya, apalagi di rumah ada bocah.

            Suatu hari, istriku bilang bahwa mungkin sebaiknya kami memanggil damkar untuk menyingkirkan benda itu. Namun, bocah itu ikut bicara. Dia menyahut, “Jangan! Kalau tidak diganggu, tawon-tawon itu tidak akan mengganggu.”

            Dan sarang itu pun tetap bertahan di sana. Entah sebab kesibukan kami, entah sebab kata-kata anak kami.

***

            Aku kangen bocah itu berteriak-teriak dan naik ke punggungku sambil berseru tentang kuda jantan berlari kencang. Aku kangen mengunci tubuh mungilnya—yang kini tidak mungil lagi, di antara dua pahaku, sampai dia berteriak-teriak dan aku membebaskannya dengan syarat satu ciuman di pipi. Aku kangen mengusap kepalanya saat dia mengantuk dan siap tidur. Aku kangen mencium ubun-ubunnya yang bau keringat.

            Sejak masuk SMP, bocah itu jadi lebih pendiam. Dia lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar saat di rumah. Saat aku mendekat, dia selalu menghindar. Saat aku mengajaknya bermain, dia selalu punya alasan untuk menolak. Istriku bilang, anak itu sudah balig, mulai remaja, jadi wajar kalau dia mulai tidak nyaman diperlakukan seperti anak kecil. Mungkin istriku benar. Tapi, di mataku, dia tak pernah beranjak dari bocah yang naik ke atas punggung dan berteriak-teriak tentang kuda jantan berlari kencang.

***

            Pada sebuah Jumat, dia pulang sangat terlambat. Mata dan bibirnya bengkak. Memar membiru. Keningnya ditempeli dua lembar plester. Bercak merah menodai bajunya yang putih. Tidak kurang dari lima bercak. Baunya khas: seperti garam dan karat.

            Sebelum aku membuka mulut, dia sudah membuka mulut duluan, “Tadi diajak teman naik motor, lalu jatuh.” Tanpa kata lebih, dia masuk kamar dan menguncinya dari dalam. Aku tahu ada yang tidak beres. Lalu aku bicara pada istriku.

            Pukul sepuluh malam, aku mendengar suara tangisan dari kamarnya. Suaranya yang mulai berat membuat tangisan itu terdengar aneh dan asing. Aku benar-benar sudah lupa, kapan terakhir kali bocah itu menangis. Tapi aku yakin, itu tangisannya.

            Aku menunggu sebentar. Beberapa menit berselang, istriku keluar dari kamarnya dengan wajah seperti balon berisi air. Begitu masuk ke dalam kamar, balon itu pecah. Wajah istriku basah. Suaranya parau dan sedih. Dia bercerita dan aku kehabisan kata-kata.

***

            Aku tahu lewat sebuah video berdurasi 1 menit 50 detik. Video yang sempat viral di sosial. media

            Di sebuah tempat yang sepertinya di belakang sekolah, bocah itu duduk menunduk dikerubuti tiga bocah lain. Dua kancing bajunya yang paling atas terlepas. Rambutnya awut-awutan. Wajahnya tidak kelihatan, sebab dia terus menunduk.

            Suara-suara dalam video itu sangat jelas. Namun, belum terang terlontar dari mulut siapa saja.

            “Sapi! Baumu seperti kotoran sapi!”

            “Kan dia memang tinggal serumah sama sapi.”

            Ledakan tawa bersahutan.

            “Bapak ibunya sapi?”

            Ledakan tawa berlanjut.

            “Si Qodir sapi! Diir Qodiir! Sapi!”

            “Jadi nama bapaknya Qodir?”

            “Qodir siapa?”

            “Qodir sapi!”

            Tawa-tawa renyah masih bersahutan.

            “Makanya, jangan sok pinter!” Suara keras menunggangi tawa-tawa yang mulai reda.

            “Suka cari muka di depan guru! Di depan cewek-cewek! Wuuu! Dasar sapi!”

            Rentetan tawa sudah tidak terdengar lagi. Lalu tiba-tiba sebuah tendangan melesat ke kepala bocah yang menunduk itu. Bocah itu tersungkur.

            Seorang bocah dengan topi sekolah—yang dipakai miring—menarik rambut bocah itu dan membenturkan kepalanya ke tanah sebanyak dua kali. Lalu sepasang kakinya mengilas-ilas kepala bocah itu dengan umpatan tak henti-henti. Sapi! Sapi! Sapi!

            Dua bocah lain cuma berdiri sambil terus tertawa-tawa.

            Terdengar suara-suara lain, “Hei, sudah! Hei! Sudah! Sudah! Dia berdarah!”

            Bocah yang tersungkur itu bangkit, wajahnya babak belur tertutupi warna merah. Lalu video berhenti.

***

            Dua hari berselang, kami semua dipertemukan di ruang kepala sekolah. Beberapa bocah dan beberapa orang tua. Sekolah memediasi agar perkara itu tidak sampai meluncur ke jalur hukum. Selain bakal menghabiskan banyak duit, bocah-bocah itu juga masih di bawah umur.

            Aku melirik wajah anakku, bocah yang juga di bawah umur. Aku menahan diri untuk tidak meledak.

            Setelah kepala sekolah berpetuah singkat, bocah-bocah itu merangkak, meminta maaf kepada anakku. Bersujud-sujud menyentuh kaki istriku, menyentuh kakiku. Ayahnya bungkam tak mengeluarkan sepatah kata pun, gerahamnya bertaut, menahan geram. Sementara ibunya tak henti-henti menangis dan memohon ampun di hadapan kami.

            Bocah-bocah lain yang tahu kejadian itu dan hanya diam juga dipanggil jadi saksi. Mereka semua meminta maaf. Semuanya menangis. Bocah-bocah berpikiran tipis dan sangat mudah menangis. Tapi mata begundal satu itu—meski sudah meminta maaf, utuh sedingin batu. Hanya dia yang tidak menangis. Matanya seolah terus bersuara, “Sapi! Sapi! Sapi!”

            Adegan dalam video itu tak bisa kuhapus dari kepalaku. Namun, anakku dan istriku memaafkan bocah itu. Mulutku juga memaafkannya. Jauh di lubuk dada, aku tahu betul, bocah seperti itu tak akan pernah berhenti. Suatu saat di masa depan, dia akan melakukan hal serupa kepada bocah-bocah lain. Matanya terus tertawa dan mengumpat, “Sapi! Sapi! Sapi!”

            Usai pertemuan, aku berpapasan dengan bocah itu dan gerombolannya di teras sebuah warung, sekitar dua ratus meter dari gerbang sekolah. Mereka merokok sambil tertawa-tawa, seolah pertemuan di ruang kepala sekolah antara satu jam sebelumnya hanya sebuah selingan. Seolah tak pernah ada yang menangis. Seolah tak pernah ada yang terluka. Mata kami sempat bertumbukan. Dan bocah itu tidak menunduk, tidak pula berpaling, tidak pula tersenyum. Dari mulutnya membumbung gumpalan asap. Wajahnya dingin dan gelap. Wajah batu kali. “Sapi! Sapi! Sapi!”

            Aku menatap wajah anakku dan tubuhku seperti dikuliti. Gerahamku bertaut.

***

            Setelah kejadian itu, aku selalu datang ke sekolah untuk mengantar-jemput anakku. Aku semakin cemas kejadian serupa akan terulang. Sesekali aku memohon izin kepada satpam untuk menumpang ke kamar mandi di belakang sekolah.

            Di area kamar mandi belakang sekolah, aku kerap bertemu dengan gerombolan bocah itu. Entah apa yang mereka lakukan. Mereka suka bergerombol. Seperti hama.

            Di kamar mandi, aku tidak buang air atau cuci tangan, aku hanya ingin memeriksa kondisi kamar mandi. Dan kurasa, kamar mandi sekolah cukup aman, meski tidak terlalu bersih dan bau pesing. Atapnya berplafon rapat dengan sebuah lubang angin yang menghubungkan satu bilik dengan bilik lain. Beberapa pintu pegangan yang merangkap kunci sudah rusak dan diganti dengan kunci selot ala kadarnya di bagian dalam.

            Diam-diam, hatiku tergerak untuk memperbaiki kunci-kunci dan pegangan pintu yang longgar itu. Aku yakin, para pegawai sekolah terlalu sibuk untuk melakukannya.

            Beberapa waktu setelahnya, beberapa kali, saat aku nunut ke kamar mandi, diam-diam aku membawa obeng dan mengganti pegangan pintu yang rusak itu. Bertahap. Satu demi satu. Dunia ini tak pernah kehabisan hal-hal rusak yang butuh diperbaiki diam-diam.

***

            Lewat sebulan. Sekolah sedang ramai dengan kegiatan Pekan Olahraga dan Seni. Beberapa orang tua yang peduli hadir untuk menyemangati anak-anak mereka. Dan yang tidak hadir jauh lebih banyak.

            Kegiatan itu berpusat di tengah lapangan. Anak-anak ribut. Suara tepuk tangan. Jeritan-jeritan semangat. Canda tawa. Lagu-lagu anak muda dan lagu kebangsaan. Suara-suara itu menyatu seperti lengkingan sangkakala kecil yang mengacaukan dunia. Sesuatu yang tak akan berhenti dalam waktu yang lama.

            Hari yang sangat sibuk dan hiruk pikuk. Bocah-bocah berlalu lalang, kejar-kejaran. Kerumunan-kerumunan. Guru-guru yang sibuk. Orang tua-orang tua yang bersemangat dan menggerutu sebab anak-anak mereka tampil kurang maksimal.

            Sejak pagi aku mengawasi banyak hal. Tapi pusatnya adalah bocah itu. Sapi! Sapi! Sapi! Melupakan tak pernah semudah memaafkan.

            Begundal itu selalu bergerombol. Dan itu sangat menjengkelkan. Beberapa kali mereka pergi ke belakang sekolah, mencuri-curi kesempatan buat merokok, tapi tak pernah berhasil sebab banyak anak dan orang tua berlalu lalang. Beberapa kali bocah itu pergi ke kamar mandi, aku membuntutinya dengan was-was. Aku segera berpaling saat kamar mandi ramai. Aku berharap, hari ini berlangsung cepat dan tepat.

            Pukul sebelas siang, sekolah sudah lumayan sepi. Bocah itu tampil di ajang kejuaraan pencak silat dan gerakannya sangat bagus. Tendangan dan pukulannya selalu mantab. Mungkin dia akan jadi juara.

            Usai tampil, bocah itu melenggang ke belakang sekolah dan masuk ke kamar mandi paling pojok. Kali ini cukup sepi. Sempurna. Tak ada yang harus kutunggu.

            Aku bergerak cepat dan hati-hati. Pelan-pelan aku mengunci kamar mandi pojok dari luar. Aku sudah memberi nomor pada masing-masing kunci pegangan pintu yang sudah kuperbaiki. Aku sengaja menyimpannya sendiri.

            Dengan gegas aku masuk ke bilik kamar mandi sebelah yang juga kosong. Dari lubang angin yang menghubungkan antar bilik, aku melemparkan benda jahanam itu dari dalam tas ransel usang yang mengembung dan sudah kubuka sebelumnya. Lalu kusumpalkan tas itu pada lubang angin.

            Aku meninggalkan kamar mandi selega membuang kotoran. Pura-pura tidak mendengar teriakan serta gedoran bertubi-tubi dari pintu paling pojok. Aku menyelinap cepat ke tengah lapangan, berbaur dengan manusia-manusia yang meluap dan kelelahan.

            Dalam hitungan menit, keriuhan segera berpindah ke belakang sekolah. Dari kejauhan, aku melihat pintu kamar mandi itu didobrak. Dari dalamnya, puluhan atau mungkin ratusan tawon ndas mendengung, beterbangan keluar. Orang-orang bergerak mundur. Beberapa berlarian menghindar. Aku melihat bocah itu mendeprok di lantai.

            Aku seharusnya tersenyum, tapi aku tidak tersenyum.

***

            Beberapa hari berselang. Sambil memberi makan sapi di kandang, anakku memelototi pohon nangka. Dengan suara rendah seperti menggumam, dia berkata, “Sarang tawonnya kok sudah tidak ada!”

            Aku menatap mata-mata sapi yang lembut itu seraya menyahut, “Mungkin mereka pergi mendatangi orang yang mengganggunya.”

            Suara ‘Sapi! Sapi! Sapi!’ perlahan berganti suara dengungan merdu. Nggggg!***

Ngijo, 2025

Mashdar Zainal
Latest posts by Mashdar Zainal (see all)

Comments

  1. Dena Wahyudi Reply

    keren bangettt mas cerpennya, endingnya sangat renyah dan puas

  2. Galih Santoso Reply

    Puas banget baca endingnya. Baru kali ini baca cerpen pakai sudut pandang seorang bapak terhadap bullying yang dihadapi anak laki-lakinya. Kerenn, tata bahasanya bagus, beberapa kali saya ikut terharu dan bersimpati.

  3. Wasih Alif Saputri Reply

    *Kabut Jiwa*
    Oleh: wasih Alif Saputri

    Kabut menyelimuti, jalan tak terlihat,
    Langkah terhenti, hati terasa berat.
    Pikiran berputar, seperti roda yang gila,
    Kelelahan membuncah, jiwa terasa hampa.

    Mana arah yang benar, mana jalan pulang?
    Di antara simpang siur, aku terombang-ambing.
    Cahaya redup, bayangan membayangi,
    Dalam kebingungan ini, aku sendiri merangkai.

    Cilacap 1 juni 2025

  4. Elisa khoirinniswa Reply

    keren banget cerpennya aku suka dan puas banget

  5. Dwi Anggraeni Reply

    LUCUU BANGETT KERENNN!!

  6. Yohana Reply

    Wahhhh cerpennya seru bangettt

  7. sifa Reply

    WIIIIIIHHH CERPEN NYA LUCUU DAN SERUUUUUUU BANGETTTTT!!

  8. balls Reply

    ini sangat peak om. lanjutkan

  9. Alifyusuf Reply

    Bagus banget

  10. Anonim Reply

    Aku kira bakal dihabisi eh ternyata disengat…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!