Syaikh Abu ‘Ali al-Aswad #2

Syaikh Abu ‘Ali al-Aswad mengatakan bahwa beliau sedang berada di tengah padang pasir ketika beliau sedang memukul-mukul tanah. Dan tanah yang dipukul itu mengeluarkan debu. Inilah yang aneh. Debu itu tidak lain adalah cahaya, sepenuhnya cahaya, bukan segala sesuatu yang lain.

Bukankah seluruh isi langit dan isi bumi itu ciptaan Allah Ta’ala? Ya, seluruhnya adalah ciptaan hadiratNya, segalanya adalah makhluk Allah Ta’ala. Dan di antara nama Allah Ta’ala adalah Yang Mahacahaya, An-Nur. Antara ciptaan dan Penciptanya tidak “berjarak”, bahkan bisa dikatakan menyatu.

Ketika hati seseorang begitu lengket dengan hadiratNya, begitu akrab dengan Dia, maka dia akan memandang segala sesuatu sebagai Dia, apa pun itu. Maka, bagi seorang sufi yang mata batinnya telah begitu nyalang memandang kepada Allah Ta’ala, seluruh isi langit dan isi bumi adalah Dia, tidak ada yang lain.

Itulah kehidupan orang yang tergila-gila kepada Allah Ta’ala. Yang ada di dunia ini cuma hadiratNya, tidak ada apa atau siapa pun yang lain. Bagi orang yang telah mengalami hal yang demikian, apa atau siapa pun yang ditemui di dunia ini hanyalah satu. Yaitu, Allah Ta’ala. Bukan sesuatu yang lain.

Di mana saja orang seperti itu berada, pastilah merasa dekat dengan hadiratNya. Untuk merasa dekat dengan Allah Ta’ala, dia tidak usah datang ke masjid, tidak usah datang ke mushalla, bahkan dia tidak usah datang ke Ka’bah sana. Kesadaran orang seperti itu telah hilang, telah lenyap, “ditelan” oleh hadiratNya.

Di dalam Kitab al-Hikam yang ditulis oleh Syaikh Tajuddin as-Sakandari disebutkan bahwa langit dan bumi serta isi masing-masing keduanya sepenuhnya tidak ada. Ada hanya sebagai mumkinat al-wujud, sebagai sesuatu yang mungkin ada. Sama sekali bukan sebagai wajib al-wujud.

Sebagai mumkinat al-wujud, keberadaan segala sesuatu yang ada pastilah didahului oleh ketiadaan. Hanya satu yang sebagai Wajib al-Wujud. Yaitu, wujud hadiratNya sekarang yang tidak didahului oleh ketiadaan. Itulah Allah Ta’ala, satu-satunya Tuhan semesta alam.

Itulah sebabnya, kalau kita menyaksikan alam semesta ini, tapi kita tidak menyaksikan Allah Ta’ala sebelumnya, tidak menyaksikan Allah Ta’ala di sisinya, atau tidak menyaksikan Allah Ta’ala sesudahnya, maka itu berarti karena cahaya keimanan berarti telah lepas dari diri kita. Na’udzu biLlahi min dzalik.

Itulah sebabnya sahabat Nabi Muhammad Saw paling senior, Abubakar ash-Shiddiq, mengatakan bahwa beliau tidaklah sesuatu kecuali melihat Allah Ta’ala sebelumnya. Sungguh, itu jelas bahwa penglihatan beliau adalah penglihatan yang sangat anggun, merupakan penglihatan yang paling gamblang tentang hadiratNya.

Syaikh Abu ‘Ali al-Aswad akhirnya wafat dengan senang hati, dengan bahagia, pada bulan Sya’ban tahun empat ratus dua puluh empat Hijriyah. Dunia berduka. Dunia kehilangan orang terbaiknya. Sementara beliau sangat bersuka cita karena berjumpa dengan Kekasihnya tercinta. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!