
Selalu Ada Untuk Kita
Selalu ada pagi untuk kita
lekas membuka jendela dan pintu,
menghidu udara baru, kemudian
bergegas membangunkan hidup.
Selalu ada siang untuk kita
betah bersandar pada matahari,
sekadar bertahan dan berusaha
menegakkan kepala kembali.
Selalu ada sore untuk kita
pulang membuang beban ke jalan
berlubang, menimbunnya dengan
aroma rumah dan suara kekasih.
Selalu ada malam untuk kita
rebah dan menidurkan lelah yang
dikandung punggung, menjadikannya
bekal atas segala yang tak kekal.
Selalu ada cinta untuk kita
merasa bahagia, menumbuhkan
bunga tujuh rupa pada badan dan
membasuhnya dengan percik doa.
Cirebon, 2025
Riwayat Kelahiran
: 4 bulan Abda
I
Tak ada lagu yang terdengar setelah kau lahir,
hanya nada dasar bergema di kanan kiri telinga.
Ruang putih memerah, dengus perempuan, dan
bibir Jum’at yang merekahkan doa para arwah.
Tangan Oktober begitu sabar mengurapi sisa sakit
di kepalamu dan tubuh perempuan yang akan kau
panggil umma itu. Waktu seperti seekor ular, kau
melata di atas bumi menyesap mata air leluhurmu.
Maka menangislah kau serupa gemuruh guruh
yang menggetarkan dinding malam, melesatkan
kantuk ke pucuk pagi, dan melepaskan tali pusat
yang merawat dua ratus delapan puluh hari itu.
II
Satu minggu. Dua minggu. Tiga minggu. Empat
puluh hari menggelinding ke luar dunia dengan
tangis yang mengalirkan sungai susu dari puting
dan botol menuju kerontang kerongkonganmu.
Ceceran tisu basah dan kering, celana dan popok
dan sarung yang engas dan kuyup dan pesing, dan
perlak dengan sisa bercak kuning adalah kepingan
dirimu yang berulang kali aku susun dan bongkar.
Aku adalah lengan dan bahu untuk ketenanganmu,
mengasuh gelisahmu. Aku adalah kaki bagi kaku
langkahmu, adalah mata yang mengamati seribu
tingkahmu. Aku adalah doa untuk teduh tidurmu.
III
Cilukba! Terbukalah wajahku, wadah bagi tawamu,
bagi tawaku. Tapi betapa bodoh aku mengira kau
akan berseru “Eureka!” ketika liur bercampur susu
tumpah dari mulutmu yang masih belum sempurna.
Kelak kau akan merangkak, membiarkan lutut dan
telapakmu mengakrabi tanah; tempat bagi simpuh
dan tubuhmu. Tenang, aku ada di dekatmu, lalu akan
kau temukan cinta: bau tembakau pada tanganku.
Kini aku bayangkan nanti kau sebagai sebuah pohon
tumbuh rindang di tengah taman, di dahannya yang
kokoh butir hujan menetes, dan di sisinya sepasang
burung betah bertahan menanti matahari menetas.
Cirebon, 2025
Di Tempat Pangkas Rambut
Seperti menyaksikan tuhan
sibuk bekerja setiap hari
dengan teliti dan hati-hati.
Berdiri, bergerak ke kanan ke
kiri, memastikan tak ada yang
salah atau di luar kehendak.
Seakan aku dengar pesan
di antara dengung mesin,
ibu yang dulu berkata,
“Segala yang kusut dan
berantakan mesti dibenahi
dan dirapikan, seperti ibadah.”
Aku duduk, menyambut tangan
perkasa itu mengusap serta
menata kepalaku dengan lembut.
Sebagai hamba, aku hanya patuh
kepada tuhan hingga dosa-dosa
kecilku jatuh dan berhamburan.
Lalu di cermin aku melihat diriku
telah berubah, persis seseorang
yang siap dan mantap berhijrah.
Cirebon, 2025
Unpopular Opinion: Negara
Dengan sisa-sisa mimpi dari tidur panjangnya,
seseorang mencoba menghapus negara dari kamus.
Menjauhkannya dari jangkau tangan kecil kita,
dan menyamarkannya sebagai apapun yang memutus.
Seseorang lagi, dengan sisa-sisa mimpi yang lain lagi,
membayangkan negara sebagai rumah yang ia susun
dari kapas hanya dalam satu malam. Pada pagi hari, di
halaman kita melihat bekas unggun dengan ngungun.
Cirebon, 2025
- Puisi Azain Ni’am - 27 May 2025


Diva Anisa Melia Putri
baguss
Ide
…ada seseorang yang
siap dan mantap berhijah.
Tak dapat-dapat di aku walau bercukur
tiap hari. Terima kasih. Jika silent tempat berzikir begini nian. Botakku isi apa?
Syamsul Arifin
Bagus banget
Ide
…ada seseorang yang
siap dan mantap berhijah.
Tak dapat-dapat di aku walau bercukur
tiap hari. Terima kasih. Jika silent tempat berzikir begini nian. Botakku isi apa?
anwar
bagus
Reva Putri Selvia
bacanya seru. gak bikin boring atau bt.
Sejarah
Bagus