
Liverpool menjadi lautan warna merah oleh setengah juta orang yang turun ke jalan merayakan gelar Liga ke-20 klub yang identik dengan mereka. Itu gelar kedua dalam lima tahun, tapi untuk para Kopites ia terasa sebagai gelar pertama sejak 1991 yang bisa mereka rayakan di jalanan.
Naples menjadi biru bahkan sejak pagi, berjam-jam sebelum pertandingan terakhir Liga Italia dimulai. Napoli bisa saja gagal jadi juara jika di pertandingan terakhir mereka gagal mengalahkan Cagliari, sementara, di saat yang sama, pesaing mereka Inter Milan menang dari Como. Tendangan gunting McTominey di awal babak kedua akhirnya memastikan gelar itu, gelar Liga ke-4 mereka. Jika dulu Maradona dipuja di Skotlandia karena gol tangan tuhannya ke gawang Inggris, kini seorang Skotlandia dipuja di tempat Maradona diperlakukan sebagai dewa.
Di Skotlandia sendiri, ketika sepakbola nyaris sepenuhnya dikuasai duopoli Celtic dan Rangers, Aberdeen adalah kekuatan ketiga yang tercecer jauh di belakang. Mereka pernah menjadi fenomena di awal ‘80an dengan menyabet tiga gelar liga, empat Piala Skotlandia, dan satu gelar Piala Winner Eropa, di bawah pelatih muda bernama Alex Ferguson. Di akhir musim ini, mereka hanya menjadi kacung di Liga, dengan menempati urutan kelima dari 12 tim. Namun, di final Piala Skotlandia, mereka mengalahkan Celtic lewat adu penalti. Dan ini menjadi gelar mayor mereka yang pertama sejak 1990. Maka, jika biasanya perayaan berkait sepakbola di Skotlandia hanya melibatkan warna hijau atau warna biru, kini sekarang melibatkan warna merah juga.
Aberdeen, bersama Bologna, Go Ahead Eagles, Newcastle, Crystal Palace, dan Tottenham Hotspur menjadi fenomena sepakbola global bahwa musim ini menjadi milik tim-tim underdog atau tim yang telah sangat lama tidak mendapatkan gelar. Tapi, dengan mengesampingkan Madrid yang nyaris nol gelar dan Ajax yang ditelikung PSV di pekan terakhir liga, beberapa gelar tak berpindah dari tim-tim besar. Munchen kembali merebut gelar Bundesliga setelah musim sebelumnya dijungkalkan oleh Bayer Leverkusen-nya Xabi Alonso—meski gelar ini lebih banyak dibicarakan sebagai gelar liga pertamanya Harry Keane dibanding gelar kesekiannya Munchen. VfB Stuttgart, tim mapan Bundesliga dengan delapan gelar lokal dan dua gelar Eropa, menggagalkan mimpi basah para pendukung tim underdog, tapi terutama para pendukung Arminia Bielefeld, setelah mengalahkan tim dari Divisi Tiga tersebut di final DFB Pokal.
Gelar terbesar tentu jatuh kepada Paris; PSG akhirnya tak hanya meraih Liga Champions, gelar yang mereka tebus dengan menjual jiwanya kepada tuan-tuan dari Qatar, mereka juga merayakan treble pertamanya. Tapi, Paris akan lebih ramai oleh sepakbola di masa-masa mendatang bukan hanya karena itu, melainkan karena Paris FC, tim yang pada tahun 1972 memisahkan diri dari PSG, yang stadionnya hanya sepelemparan batu—benar-benar sepelemparan batu—dari kandang PSG, akhirnya mencapai Ligue 1, setelah bertahun-tahun berkubang di divisi bawah.
Tapi, di akhir musim ini, tak ada kota yang lebih ramai merayakan sepakbola melebihi London.
***
Menyebut London, mungkin yang kepikiran adalah Piala FA yang dimenangkan oleh Crystal Palace, gelar besar pertama dalam sejarah klub tersebut; atau, trofi Europa League (UEL) ke-4 Tottenham Hotspurs, gelar mayor pertama mereka setelah 17 tahun, yang mereka menangkan atas United, dan membuat mereka yang terseok di urutan ke-17 liga merasa lebih baik dari Arsenal yang mengakhiri musim dengan nol gelar; atau Liga Conference (EUCL) milik Chelsea, piala chiki yang sejujurnya hanya terlihat berharga ketika ia disebutkan secara total jendral bahwa itu adalah jenis trofi Eropa ketiga yang bisa mereka dapatkan, setelah Liga Champions dan Liga Eropa.
Mungkin karena merekalah yang paling banyak dibicarakan, atau karena kita menonton kemenangan mereka lewat siaran langsung televisi, dan mudah menemukan foto-foto atau video-video parade perayaan mereka di internet. Ya, ini mencakup mereka juga, tapi bukan hanya tentang mereka. Di London, di akhir musim ini, kita akan menemukan pesta yang lebih meluas lagi. Lebih sepi dari liputan media, dan bisa saja lebih kecil kerumunannya, tapi ia akan memberi gambaran yang lebih gamblang dan lebih besar tentang sepakbola di London, atau bahkan, lebih jauh lagi, sepakbola di Inggris Raya.
Pernah dengar tentang Barnet? Tim dari barat laut London ini mengakhiri kompetisi National League (Liga kasta kelima dalam piramida sepakbola Inggris) sebagai juara, membuatnya naik kasta ke EFL (English Football League) dan ini akan membuat mereka berkompetisi di League Two (Liga Dua) di musim depan. Stadionnya yang berkapasitas enam ribuan penonton tak sebesar stadion tim-tim di Liga Primer, tapi itu tak membuat kehebohan mengecil ketika penonton menyerbu lapangan saat mereka memastikan promosi di akhir April lalu. Barnet sudah berumur 137 tahun (berdiri 1888), namun prestasi tertinggi klub ini hanya pernah menjadi bagian Divisi Tiga pada awal ‘90an. Mereka lebih banyak mengarungi sejarah medioker mereka di antara Divisi Empat dan Divisi Lima. Barnet sempat sedikit menyeruak ke media ketika, pada awal musim 2012-13, pemain legendaris Belanda sekaligus mantan bintang Juventus, Barcelona, Inter Milan, dan Ajax, Edgar Davids, bergabung untuk menjadi pemain-merangkap-pelatih di klub tersebut.
Yang sedikit lebih banyak dibicarakan (dan dirayakan!) tentu naiknya Wimbledon dari League Two (kasta keempat) ke League One (kasta ketiga) lewat jalur play-off. Klub dari London Selatan ini sebenarnya salah satu yang paling muda, baru berdiri 2002, tapi justru karena itulah klub ini punya cerita berbeda. AFC Wimbledon dianggap sebagai reinkarnasi Wimbledon FC (berdiri 1889), sebuah klub kecil yang pada dekade ‘80an dikenal karena kenyentrikan para pemainnya (yang membuat mereka berjuluk The Crazy Gang) sekaligus memiliki reputasi sebagai pembunuh raksasa—yang paling terkenal adalah saat mereka mengalahkan Liverpool, tim yang sedang sangat dominan di Inggris, di final Piala FA 1988. Menyusul degradasi mereka ke Championship pada musim 2000-01 dan kesulitan memiliki kandang yang memenuhi syarat, atas rekomendasi PSSI-nya Inggris Wimbledon FC berpindah markas dari London ke Milton Keynes dan kemudian mengubah namanya menjadi Milton Keynes Dons. Kepindahan yang terlalu jauh (hampir 100 km) dan perubahan nama yang signifikan ini tidak bisa diterima oleh basis suporter mereka. Alih-alih mengikuti klub mereka atau memilih klub lain yang lebih dekat, para suporter itu urunan untuk membentuk klub baru yang mereka beri nama AFC Wimbledon. Wimbledon versi baru ini mesti rela memulai kiprah mereka dari liga kasta ke-9. Tentu karena tradisi yang mereka warisi dari The Grazy Gang, tapi terutama karena totalitas para pendukungnya, AFC Wimbledon mengalami enam kali promosi dalam 13 musim, termasuk ketika mereka naik ke League One akhir musim ini. Promosi ini menjadi lebih manis karena, dengan demikian, mereka kini berada satu kasta lebih tinggi dari Milton Keynes Dons, klub yang mereka anggap mencuri sejarah besar Wimbledon FC.
Klub London lain yang sukses musim ini adalah Charlton Athletic. Mereka promosi dari League One ke Championship, juga melalui jalur play-off, setelah di final mengalahkan klub London lain, Leyton Orient. Klub dari tenggara London ini pernah memenangi Piala FA, namun sudah sangat lama, yaitu di musim 1946-47, ketika London baru pulih dari debu Perang Dunia II. Masa lain yang patut dibanggakan tentunya adalah dekade pertama 2000an, ketika selama enam musim mereka cukup mapan di Liga Primer. Alan Curbishley, pelatih yang identik dengan mereka, dianggap sebagai salah satu pelatih Inggris terbaik masa itu, sehingga sempat diisukan akan menjadi pelatih timnas Inggris atau bahkan digadang akan melatih Liverpool—sebelum mereka kemudian mendatangkan Rafa Benitez. Ditinggal Curbishley pada 2006, Charlton kemudian terdegradasi di musim berikutnya, dan sejak itu mereka hanya hilir-mudik di antara Divisi Dua dan Divisi Tiga.
Tapi keberhasilan terbesar sepakbola London musim ini ada di London Utara. Dan kita tidak sedang membicarakan Spurs, atau Arsenal, melainkan Arsenal Women. Bukan saja menjadi tim sepakbola perempuan terbaik di Inggris dengan 15 gelar Liga, kini mereka juga menjadi salah satu tim terbaik di dunia setelah kemenangan mereka di final Liga Champions Perempuan atas Barcelona. Ini adalah gelar Eropa kedua mereka, dan mereka masih menjadi satu-satunya tim perempuan Inggris yang juara di level benua. Masih jauh dari mendekati Lyon, tim perempuan paling perkasa saat ini, dengan delapan gelar Eropa, tapi setidaknya mereka telah mematahkan dominasi Barcelona—dengan Alexia Putellas-nya—di kancah sepakbola perempuan Eropa dalam empat tahun terakhir.
***
London bagi sepakbola seperti sebuah kampung besar padat penuh pertandingan tarkam. Membaca buku Steve Tongue, Turf Wars: A History of London Football (2016), tanpa harus mengukur seberapa luas ibukota Inggris tersebut, saya membayangkan betapa penuhnya kota itu dengan stadion sepakbola. Barangkali yang bisa mendekatinya hanyalah Buenos Aires.
London memang tempat berumahnya Arsenal, Chelsea, dan Spurs, dan beberapa klub lebih kecil lain macam Crystal Palace, Fulham, West Ham, Brentford, dan QPR. Tapi berpikir bahwa hanya klub-klub tersebut yang ada di London jelas salah. Beberapa klub lain yang tak kalah bersejarah, dengan riwayat panjangnya masing-masing, juga berada di sana: Charlton, Millwall, Wimbledon, Leyton Orient, Barnet, Bromley, Sutton United, Wealdstone, Dagenham & Redbridge, Enfield Town, Hampton & Richmon Borough, Dulwich Hamlet, dan belasan klub lain yang lebih kecil dari divisi yang lebih bawah. Klub-klub tersebut rata-rata telah berusia di atas seratus tahun. Dan nyaris semua memiliki stadionnya sendiri, dengan kapasitas dari mulai kisaran 10 ribu hingga seribuan penonton.
Benar bahwa sepakbola Inggris didominasi dan direpresentasikan oleh Liverpool dan Manchester United, klub-klub dari Utara. Juga benar bahwa klub-klub tertua di Inggris, dan artinya juga tertua di dunia, juga dari Utara, yaitu Sheffield FC (berdiri 1857). Tapi, boleh dikata, dari Londonlah sepakbola (modern) dimulai.
Di Kedai Freemason, di Central London, pada 26 Oktober 1863, beberapa klub sepakbola, kebanyakan dari sekolah-sekolah swasta dan/atau klub yang berafiliasi dengan gereja yang sebagian kini sudah tidak ada, mengadakan rapat untuk menyepakati berdirinya Football Association (FA). Dengan masih meninggalkan beberapa perselisihan soal peraturan permainan, khususnya dalam hal memegang lawan (yang nantinya akan membedakan sepakbola dengan rugby), FA-lah yang tujuh tahun kemudian (musim 1870-71) berhasil menyelenggarakan Piala FA, turnamen sepakbola yang dianggap tertua di dunia. Dan dari sanalah bola menggelinding ke seluruh Inggris Raya, menyeberang selat untuk meluas di daratan Eropa, dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia.
Kini mudah menyebut bahwa sepakbola London dikenal karena tiga klub yang mengisi separoh dari Enam Besar Liga Inggris, yaitu Arsenal, Chelsea, dan Spurs. Namun, membaca sejarah lebih dari 150 tahun sepakbola di London, salah satunya lewat buku Tongue ini, kesimpulan itu akan tampak kurang hati-hati dan terlalu bias kekinian. Akan lebih tepat jika dikatakan, dari masa ke masa, berbagai klub bersaing dan saling berseteru, juga pada saat yang sama berkait-berkelindan, untuk bisa dianggap mewakili dan mendominasi London.
Meski kini menjadi salah satu klub paling dikenal di dunia, dan paling dianggap mewakili London, Arsenal adalah pupuk bawang di awal perkembangan sepakbola. Berdiri dengan nama Woolwich Arsenal pada 1886, tim ini kalah duluan dibanding tim-tim London lain seperti Fulham, Leyton Orient, Tottenham, QPR, dan Millwall. Melanggar peraturan sepakbola amatir saat itu dengan diam-diam membayar para pemainnya, Arsenal kemudian malah dianggap sebagai pelopor profesionalisme di persepakbolaan Inggris. Arsenal jugalah tim London yang pertama masuk Divisi Utama dan memenangkannya.
Dianggap oleh para pendukung Tottenham sebagai pendatang yang reseh setelah pindah dari Woolwich di Selatan ke Highbury di Utara, yang membuat dua klub ini bermusuhan hingga sekarang, siapa sangka bahwa sosok yang kemudian mengangkat Arsenal dan membuatnya mendominasi Liga di dekade ‘30an adalah mantan pemain Tottenham. Herbert Chapman bukan hanya menjadi legenda Arsenal dan London karena gelar-gelar yang didapatkannya bersama Arsenal (setelah sebelumnya dengan Huddersfield Town), ia juga dianggap salah satu inovator terbesar di sepakbola dengan formasi WM-nya.
Tiga dekade kemudian, Tottenham-lah rajanya London. Bukan hanya menjadi klub Inggris pertama (bukan sekadar tim London) di abad ke-20 yang memenangkan gelar ganda (Liga dan Piala FA), mereka juga menjadi klub Inggris pertama yang memenangi gelar kontinental (Piala Winners dan Piala UEFA [kini UEL]). Dan sosok di balik kesuksesan ini tentunya adalah pelatih mereka, Bill Nicholson, dengan pemain-pemain ikonik bagi sejarah sepakbola Inggris seperti Dave Mackay dan Jimmy Greaves.
Di antara dominasi Spurs pada dekade ‘60an, West Ham menyeruak ke permukaan persepakbolaan London (dan Inggris) dengan cara paling agung. Ron Greenwood, seorang asisten pelatih di Arsenal yang tak kunjung naik pangkat, menjadi pelatih kepala di West Ham dan membawa tim itu melewati era terbaiknya. Mereka memenangi Piala FA dan Piala Winners, yang menjadi trofi Eropa pertama mereka. Sayangnya, mereka tak sempat menjuarai liga. Namun, “piala” tertinggi West Ham adalah ketika tiga pemainnya, Bobby Moore, Martin Peters, dan Geoff Hurst menjadi tulang punggung kejayaan Inggris di Piala Dunia 1966.
Era ‘80an yang kacau, baik yang meliputi sepakbola Inggris (dengan terjadi beberapa tragedi suporter seperti Heysel [1985] dan Hillsborough [1989]) maupun sepakbola London, digambarkan dengan sangat pas oleh sepak terjang Wimbledon. Hanya butuh sembilan musim untuk keluar dari liga amatir menuju kasta tertinggi sepakbola Inggris, Wimbledon kemudian memantapkan diri selama bermusim-musim di paro atas klasemen Liga Inggris. Dikenal karena “kegilaan” para pemainnya seperti Dennis Wise, Vinnie Jones, dan John Fasanu di dalam lapangan maupun di luar lapangan, puncak prestasi mereka adalah mengalahkan penguasa sepakbola Inggris dekade itu, Liverpool, di final Piala FA 1988.
Chelsea, klub yang dibentuk lebih karena Fulham menolak untuk memakai stadion Stamford Bridge sebagai kandang, jelas jauh dari menonjol di antara klub-klub London lain, bahkan hingga masa-masa awal Liga Primer yang bergelimang uang. Dengan satu trofi juara Liga, satu Piala FA, satu Piala Liga, dan satu Piala Winners Eropa hingga awal 90an, Chelsea hanya sedikit lebih baik dibanding klub-klub London semenjana lain. Namun, kehadiran taipan bermandi uang bernama Roman Abramovich, yang disusul kedatangan seorang pelatih jenius arogan bernama Jose Mourinho, Chelsea bukan hanya membalik peruntungannya, tapi juga mengubah struktur persepakbolaan Inggris—jangan dikata sepakbola London—nyaris untuk seterusnya. Tak ada klub yang lebih baik dalam hal merepresentasikan masa kapitalisme sepakbola Inggris, yang oleh Steve Tongue disebut dengan istilah “Greed is Good” (Serakah Itu Baik), melebihi Chelsea.
***
Ketika Liverpool, Newcastle, Crystal Palace, dan Tottenham Hotspur memenangkan trofinya masing-masing di akhir musim ini, semua orang mengatakan bahwa ini tahunnya klub-klub dengan lambang burung. Namun itu tak berlaku bagi Dagenham & Redbridge, meski Dag & Red (demikian mereka biasa disebut) bahkan memiliki dua burung di logo mereka. Klub dari sisi timur London ini, bersama Maidenhead, klub lain dengan logo yang juga bergambar dua burung, sama-sama terdegradasi dari National League (Divisi Lima).
Bromley, klub dengan tiga burung di logonya, jelas bukan lagi klub terburuk di dunia, seperti yang dikatakan Dave Roberts di memoarnya, The Bromley Boys (2008). Dengan menempati posisi ke-11 di klasemen League Two, mereka jauh dari degradasi, namun juga belum akan ke mana-mana. Mereka memang baru saja masuk ke EFL musim lalu (2024-25), setelah lebih dari seratus tahun berkubang di kompetisi amatir. Tapi, saya rasa, dengan posisi demikian, pendukung Bromley tak akan perlu lagi menonton tim London lain, seperti Palace, tim terdekat dari mereka, untuk menghibur diri—seperti yang diceritakan Roberts.
Millwall, klub dari London Selatan yang nyaris mitologis itu, juga masih tak akan ke mana-mana. Karena bertahan di Championship selama delapan musim berturut-turut, Wikipedia menyebutnya “mantap”; sementara Michael Calvin, dalam bukunya tentang Millwall, Family, Life, Death and Football (2010), menyebutnya “terhormat”. Dengan menempati posisi delapan di akhir musim 2024-25, mereka sebenarnya hanya berselisih dua poin saja dari Bristol Rovers, klub yang masuk babak play-off dan kemudian tersingkir. Ini membuat suporter Millwall, yang memiliki citra berangasan, terutama karena nyanyian mereka yang terkenal, “No one likes us, we don’t care” (tak ada yang menyukai kami, kami tak peduli), juga karena film-film bertema holiganisme yang kerap menyinggung mereka, mesti menunggu waktu untuk berhadap-hadapan secara langsung dengan rival-rival London mereka, terutama suporter Chelsea dan West Ham.
Tetapi, di London, sebagaimana di sepakbola, masih ada—dan akan selalu ada—musim depan untuk mereka.
- Priok: September Hitam yang Lain (Bag. 2—Habis) - 22 October 2025
- Priok: September Hitam yang Lain (Bag.1) - 6 October 2025
- Buku, Kita, dan Masalah-masalahnya - 15 September 2025


teddy m
makasih untuk tulisannya, cak mahfud. sebagai penggemar sepakbola saya dpt banyak wawasan baru.
Diar
Newcastle logonya kuda laut mas. Jadi, Newcastle menolak hegemoni tim logo burung seperti Liverpool, Tottenham, dan Crystal Palace.