SYAIKH ABU AL-KHAIR AL-‘ASQALANI DLL

Syaikh Abu al-Khair al-‘Asqalani telah memasuki Baghdad dan tinggal di situ setelah beberapa lama. Beliau bersahabat dengan beberapa syaikh yang hidup pada waktu itu. Beliau pergi ke beberapa desa di Baghdad dan menikah di sana dan sekaligus wafat di sana.

Betapa sangat sebentar kehidupan beliau itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Thabaqat as-Sughra yang ditulis oleh al-Munawi. Boleh jadi memang sangat terbatas kehidupannya sebagaimana ditulis oleh beliau itu atau boleh jadi pengetahuan beliau memang terbatas.

Yang terbatas itu boleh jadi penampilan luarnya saja, tapi penampilan dalamnya bisa sangat panjang dan tidak terbatas. Beliau itu hanya masuk di Baghdad, tapi masuk dalam ruang ketidakterbatasan yang tidak terkira-kira, masuk ke dalam ruang lailaha illallah dengan bagitu merasakan.

Yang dirasakan itu hanya Allah Ta’ala, hanya Dia saja, karena sesungguhnya yang lain itu tidak ada. Surga itu tidak ada, neraka itu tidak ada, langit itu tidak ada, bumi itu pun tidak ada, yang ada itu hanya satu, yaitu Allah Ta’ala. Ketika yang ada hanya Dia, maka masuk ke dalam Dia itu dalam keluasan yang terkira-kira.

Selama beberapa waktu, dia berada di dalam Allah Ta’ala, berada dalam ketidakterhinggakanNya. Tanpa limit, tampa tepi. Terus-menerus berada di situ. Berkenalan secara terus-menerus dengan orang-orang yang berada di situ. Sungguh, orang-orang di situ sangat terbatas sekaligus tidak terbatas.

Beliau pergi kepada salah satu desa di Baghdad. Pergi ke situ tapi sekaligus bukan ke situ. Tidak pernah rampung, tidak pernah usai. Kecuali Allah Ta’ala telah menghendaki. Beliau menikah sekaligus punya beberapa anak. Akhirnya beliau juga meninggal di situ karena kehendak hadiratNya memang meninggal di situ.

Itulah Syaikh Abu al-Khair al-‘Asqalani. Berbeda dengan Syaikh Abu al-Khair al-Hamshi. Beliau yang telah menembus pedalaman kota Mekkah selama berkali-kali dengan tawakkal mutlak kepada Allah Ta’ala. Tanpa usaha, tanpa ikhtiar sedikit pun. Itulah totalitas kepasrahan kepada Allah Ta’ala.

Apa yang dilihatnya di satu sisi hanyalah Allah Ta’ala dan tidak ada apa-apa di sisi yang lain. Segalanya adalah Allah. Semuanya adalah Allah. Tidak ada apa pun yang lain. Apa pun yang lain itu telah dikandung oleh asal-usulnya. Dan asal-usul segala itu adalah Allah Ta’ala.

Segala sesuatu menjadi seragam sekaligus tidak seragam. Itulah ketika seseorang memandang segala sesuatu menjadi serba Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menjadi tanda bagi segala sesuatu bahwa yang menciptakan semua itu adalah Allah Ta’ala semata-mata.

Pandangan orang seperti hanya tertuju kepada Allah Ta’ala semata. Sama sekali tidak kepada apa pun yang lain. Apa yang disebut yang lain itu sama sekali tidak ada. Telusurilah segala sesuatu itu, pasti itu tidak ada. Pastilah hanya tinggal Allah Ta’ala yang ada. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!