Bengkel Haji Nemra

ceritaku hanya perihal taik gigi. Tapi jangan silap, yang sering bikin tersandung itu batu kecil, bukan batu besar. Perlu juga kalian ingat, tak ada maksudku mencocok-cocokkan kebiasaan ganjil Nemra dengan gelar hajinya. Pun akhirnya kait-mengait dengan momen Lebaran Haji. Biar tahu kalian, tak sekurang ajar itu aku. Dengar, aku bukan bangsa orang yang suka buru-buru menyimpulkan! Makanya, kalau belum tahu cerita, jangan cepat kali kalian ngekik aku: Heleh, banyak kali kuah si Mikrad!      

Aku tinggal satu perumahan dengan Nemra. Aku dan Nemra boleh dibilang sebaya, sekalipun aku dua tahun lebih muda. Lebih kurang 14 tahun bertetangga dempet, hubungan kami serta anggota keluarga masing-masing, akur-akur saja. Hampir tak pernah terlibat cekcok, meski tak pula bagai lengket-lengket daun pisang dengan lepat. Namun belakangan, kebiasaan ganjil Nemra bikin aku merepet-repet batin. Kalau tak silap, dari taksiranku, sudah tiga tahun lebih kebiasaan ganjil Nemra tersebut berlangsung. Persisnya, setelah Nemra pulang haji.

Apa gerangan cerita?

Sejak Nemra bergelar haji, saban bakda Subuh—hampir selalu bersamaan dengan jemaah Subuh yang pulang dari masjid, Nemra rutin menyalakan kendaraannya: satu mobil plus tiga motor jenis matic. Padahal sebelum-sebelumnya, Nemra tak demikian. Sejak dulu-dulu sudah punya mobil dan motor. Perihal inilah yang menjadi pangkal aku dan istriku, keberatan. Ah, hanya gara-gara itu?

Bah, tunggu dulu. Biar tahu kalian, Nemra memanaskan mobil dan tiga kereta bukan semenit dua menit. Coba kalian pikir, selepas cuat cuit alarm mobil berbunyi lalu mesinnya menyala, suara mesin tiga kereta pun terdengar menyusul. Terus, sambil dibiarkan begitu saja, Nemra akan mengerjakan macam-macam hal di dalam rumahnya. Nah, sejam berikutnya, suara raung kereta akan sahut-sahutan sebagai pertanda siap jalan. Satu dipakai orang rumahnya—istri Nemra, pergi mengajar. Satu dipakai anak sulungnya berangkat kuliah dan satunya lagi dipakai pembantu buat antar-jemput dua anak lainnya yang masih SD dan SMP. Lalu mobil? Mesin mobil baru padam setengah jam setelahnya. Ha, cocok kalian rasa itu?

Sebenarnya, macam tak punya kerjaan aku sampai-sampai harus menghitung berapa lama mobil dan kereta metik Nemra menyala. Bayangkan, butuh waktu 2×45 menit alias 90 menit untuk memanaskan satu mobil dan tiga kereta. Selama itulah bau asap merusak udara segar perumahan, terutama area rumahku. Udara pagi di sekitar rumahku berlumur asap muntahan knalpot mobil dan kereta Nemra. Tahu kalian, kan, minyak mobil Nemra itu solar? Terus, apa kalian pura-pura lupa kalau aku punya asma?

Eh, selo­—tenang. Jangan potong dulu ceritaku! Itu belum termasuk saat Nemra pergi kerja, entah setengah atau sejam setelah orang rumah dan anak-anaknya berangkat. Kata orang rumahku, cuat-cuit alarm mobil Nemra bakal bunyi lagi, distarter lagi, dan menyala lagi lima belas atau dua puluh menit sebelum dia pergi ngantor. Kadang aku mikir, masih ada saja PNS yang suka-suka hati masuk kantor? Entahlah, ampun kali aku dibikin Nemra!

Nemra dengan kebiasaan ganjilnya tersebut bikin riwayat giat pagiku sebelum berangkat kerja, kiamat. Tak ada lagi kebiasaanku menyapu halaman, menyiangi tumbuhan liar di sela rumput gajah mini, atau sekadar olahraga ringan. Ringkas cerita, aku kehilangan rutinitas menghirup kejernihan oksigen pagi. Selain itu, kebiasaanku membuka lebar jendela dan pintu rumah pun kontan berhenti. Soalnya, jika pintu dan jendela mengaga, barang tentu gulungan asap bakal leluasa masuk dan berkumur di dalam rumah. Hampir dipastikan asmaku bakal kambuh. Belum lagi suara mobil dan motor yang menyala bersamaan di pagi senyap, asli bikin bising. Tak ayal, bagiku, pagi bening adalah pagi pening!

Aku bukannya tak punya kendaraan meski cuma dua unit motor matic. Namun, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kendaraan mutakhir sistem injeksi tak perlu lama-lama dipanaskan. Aku misalnya, usai ceklek starter motor, hanya butuh sedikit waktu: mengenakan kaus kaki dan sepatu, lalu memacu motor menuju kantor. Agak-agaknya demikian juga tetangga lain, yang cuma dua blok dan terdiri atas 30 rumah tipe 45. Hampir sepertiganya bermobil dan selebihnya punya kendaraan roda dua. Namun, dapat dipastikan tak ada yang menyalakan kendaraan pagi-pagi buta berlarut-larut, kecuali langsung jalan keluar.

Sebenarnya, malas kali aku menceritakan ini. Tapi sakit kepala otakku memikirkan alasan di balik kebiasaan Nemra itu. Padahal di zaman canggih sekarang ini, gampang kali mencari informasi apa pun, iya kan? Termasuk soal otomotif. Mobil Nemra kendaraan keluarga keluaran tahun tinggi, bukan angkot atau pikap buruk tua. Kan tinggal klik gugel, lalu ketik ‘berapa lama memanaskan mobil’, maka otomatis terbitlah panduan. Apa perlu aku chat kalian satu per satu soal apa yang dibilang gugel? Ha, kalian bacalah!

Hanya butuh 30 detik hingga 1 menit untuk melakukannya. Memanaskan mobil lebih lama daripada itu hanya buang-buang bahan bakar. Untuk mengetahui apakah mesin sudah dalam kondisi siap jalan, Anda hanya perlu melihat indikator temperatur mesin. Bila normal, jarum akan perlahan naik ke posisi tengah. Mobil sudah siap digunakan.

Ah, tapi tak pun lewat gugel, kan bisa tanya sana-sini? Kan tak harus sekolah otomotif untuk paham tetek-bengek kendaraan? Rupanya kalian pikir minyak tak boros kalau kendaraan dipanaskan sampai hitungan jam? Ah, balik-balik ke situ pertanyaan di kepalaku saban pagi. Sesak dadaku, biar tahu kalian. Sesak karena asma dan tanda tanya!

Apa tidak bisa kuutarakan perihal keluhan ini kepada Nemra secara baik-baik? Tidak serta-merta semudah itu. Di mataku, Nemra sekeluarga merupakan tetangga baik. Keluarga kami pun sering tukar-tukaran isi tudung saji, saling berbagi oleh-oleh, juga pinjam-meminjam perkakas rumah tangga, bahkan sesekali saling berutang-piutang. Dua anakku yang hampir seumuran anak Nemra juga sepermainan. Kenyataan ini yang menjadi asal-musabab aku harus berpikir dua kali untuk melisankan nota keberatan.

Kendati demikian, lepas dua kali Lebaran Haji sejak Nemra berhaji, aku minta istriku untuk bicara hati ke hati kepada istri Nemra. Namun, kekhawatiran istriku lain pula. Ia tidak siap jika bakal dicap iri belaka karena tidak mampu beli mobil. Begitulah cemas-cemas khas perempuan. Ujung-ujungnya, aku yang didesak balik istriku untuk menyampaikan ganjalan hati kepada Nemra secara langsung.

Bismillah. Tahu kalian, setelah dapat waktu yang pas, akhirnya aku sampaikan ke Nemra. Aku bilang, jangan biarkan mobil dan kereta Abang hidup lama-lama. Nanti enak saja maling beraksi. Tinggal tancap gas saja maling itu, iya kan, Bang? Perumahan kita tak bersekuriti pula. Lantas, aku sarankan Nemra untuk memanaskan mobil dan kereta sebentar saja, habis itu lanjut beres-beres rumah. Alhamdulillah, Nemra angguk-angguk kepala. Misi berjalan mulus, pikirku. Tapi, kebiasaan Nemra bukannya berubah, eh malah menyikapinya dengan hanya menggembok pagar. Yassalam!

Tak pala aku bilang sama kalian kalau-kalau aku merasa kami berdua jadi sama-sama paok alias tolol, iya kan? Entah karena aku yang paok menyusun kalimat saran atau Nemra yang paok menangkap pesan. Tahu kalian, hajab aku diolok-olok orang rumahku. Pokoknya bak istilah orang Medan: goplah, sial! Ya, dibawa kekeh sajalah, iya kan? Mau bagaimana lagi, coba?  

Eh tapi, orang rumahku pun pernah goplah juga, biar tahu kalian. Suatu pagi orang rumahku macam kesurupan masuk ke rumah sambil menggendong cucian yang semula hendak dijemur di halaman. Sebelumnya, orang rumahku terpaksa memasang tali jemuran darurat karena ruang jemur di ruang belakang, penuh. Baru saja orang rumahku membariskan pakaian basah di  jemuran, eh mobil dan kereta Nemra menyala. Kontan orang rumahku bersumpah serapah. Tak mau aku baju kita dibilas asap. Dasar tetangga sedeng, bocor halus! Pokoknya panjanglah repetan orang rumahku. Padahal biasanya dia lebih sering beristigfar kalau lagi marah.

Namun seturut waktu, aku dan istriku—antara lelah, malas, atau pasrah, akhirnya merayakan kebiasaan ganjil Nemra saja dengan celetukan-celetukan pelipur hati. Adu lucu-lucuan semata. Ada-ada saja istilah yang kami terbitkan. Kesimpulannya, kami seolah sepakat jika rumah Nemra tak lebih dari sebuah bengkel yang buka saban bakda Subuh, tak terkecuali hari libur.

Oleh karena itu, setiap bakda Subuh, aku dan istriku cemas-cemas jambu menanti cuat-cuit alarm mobil, untuk kemudian kami bakal pamer senyum dan saling menatap. Siapa pun di antara kami akan berlomba melontarkan celetukan yang itu-itu juga: Bengkel Haji Nemra telah buka! Demikianlah kami mendamai-damaikan hati. Tanpa terasa, sudah tiga Lebaran Haji terlewati.

Akan tetapi, aku dan istriku sama sekali tak pernah mengaitkan gelar haji Nemra dengan peristiwa ganjil saban bakda Subuh. Kepulangan Nemra dari haji—tentu seiringan dengan momen Lebaran Haji, tak lebih hanya sebagai patok waktu bagi kami: sejak kapan Nemra punya kebiasaan memanaskan kendaraan di pagi buta sebegitu lama? Selebihnya, kami terus berupaya untuk terbiasa.

Lucunya, bersebab satu dan lain hal, jika sewaktu-waktu Nemra absen memanaskan kendaraan, kami sekonyong-konyong kehilangan sesuatu. Sekalipun perasaan kehilangan  tersebut lebih kepada kepalsuan belaka, tapi tohpaling tidak kami punya kesempatan untuk bermaklumat: Hari ini Bengkel Haji Nemra tutup! Namun, kami sudah tahu kalau besok bakal buka lagi, tak tahu entah sampai Lebaran Haji ke berapa. Sayangnya, waktu itu aku belum tahu, kalau pada Lebaran Haji yang sebentar lagi ini, mobil Nemra bakal bertambah. Tapi tenang saja. Ketika saat itu tiba, aku sudah punya strategi jitu. Apa itu? Ah, kapan-kapan saja aku ceritakan. Yang jelas, bukan soal taik gigi!

Medan, 2025—2026

Hasan Al Banna
Latest posts by Hasan Al Banna (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!