
Pada hari pertama wajah saya bekerja tanpa saya, ia menjual salep sendi kepada Bu Suryati.
Perempuan itu menghadang saya di depan gudang bahan bangunan sambil mengangkat telepon dan menghadapkannya kepada saya. Pada layar, seorang lelaki berkemeja putih berdiri di ruangan yang sangat bersih. Sebuah stetoskop tergantung di lehernya. Lelaki itu mempunyai mata saya, hidung saya, bekas jerawat di dagu saya, dan suara serak yang biasa saya dengar ketika mengirim pesan kepada istri.
“Saya Dokter Amran,” kata wajah saya di dalam video. “Setelah dua puluh tahun menangani keluhan persendian ….”
Bu Suryati menghentikan video. “Sejak kapan kau jadi dokter?”
Apakah ia tak melihat penampilan saya? Baju lusuh dengan cipratan cat di sana-sini. Saya telah bekerja mengangkat semen, keramik, dan kaleng cat selama sebelas tahun. Satu-satunya sendi yang saya pahami adalah sendi pada tubuh sendiri, itu pun baru terasa penting ketika sakit.
“Itu bukan saya,” jawab saya.
Bu Suryati memutar kembali dari bagian awal. Wajah di layar tersenyum dengan cara yang sangat mirip dengan saya, tetapi sedikit lebih rapi. Gigi yang dalam kehidupan nyata bertumpuk di sebelah kanan, tampak lurus. Kulitnya tidak berminyak. Bahkan kerutan di dahi saya seolah telah diminta untuk mengundurkan diri dengan hormat sehingga tak terlihat satu pun di sana.
“Kalau bukan kau, mengapa mukanya mukamu?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Saya membutuhkan berbulan-bulan untuk mengetahui bahwa tidak semua pertanyaan sederhana mempunyai jawaban yang dapat diterima orang lain.
***
Tiga bulan sebelumnya, Jefri, kawan saya di gudang, menemukan sebuah iklan di grup lowongan kerja: DIBUTUHKAN TALENTA DATA. EMPAT JAM. TIDAK PERLU PENGALAMAN. HONOR LIMA RATUS RIBU RUPIAH.
“Kerjanya cuma direkam,” katanya. “Duduk, baca kalimat, pulang bawa uang.”
Pada waktu itu listrik rumah kami hampir diputus. Uang pembayaran seragam Aisyah juga belum lengkap. Lima ratus ribu untuk duduk selama empat jam terdengar seperti kabar baik.
Tempat perekaman berada di lantai dua sebuah ruko. Tidak ada papan nama perusahaan, hanya stiker kecil bergambar kepala manusia yang tersusun dari kotak-kotak biru. Seorang pemuda bernama Dimas menyambut saya. Ia menepukkan bedak di dahi saya agar cahaya lampu tidak memantul terlalu keras.
Di ruangan itu terdapat kain hijau, dua lampu berbentuk lingkaran, tiga kamera, dan sebuah kursi tanpa sandaran. Saya diminta melepaskan topi, merapikan rambut, lalu memandang titik merah di depan kamera.
“Rekamannya untuk iklan?” tanya saya.
“Untuk melatih sistem memahami wajah dan suara manusia,” jawab Dimas.
“Setelah pintar, sistemnya kerja apa?”
Ia tertawa kecil. “Macam-macam, Pak. Pembawa acara virtual, layanan pelanggan, pendidikan, hiburan.”
Sebelum mulai, ia menyerahkan enam lembar surat persetujuan. Tulisan pada halaman pertama masih dapat saya ikuti. Memasuki halaman kedua, kalimat-kalimatnya mulai berkelok-kelok seperti jalan yang sengaja dibuat agar orang lelah sebelum sampai tujuan: penggunaan, pengolahan, modifikasi, penggandaan, pendistribusian, pengembangan model, mitra, afiliasi, wilayah global, dan jangka waktu tidak terbatas.
“Ini wajah saya boleh dipakai berapa kali?”
Dimas menunjuk halaman terakhir. “Bapak menerima honor satu kali. Datanya dipakai untuk pengembangan.”
“Kalau jadi iklan, saya dibayar lagi?”
“Kami tidak membuat iklan, Pak. Kami hanya mengumpulkan data.”
Ia mengatakan kalimat itu dengan jujur. Belakangan saya memahami bahwa kejujuran dapat disusun sedemikian rupa sampai terdengar seperti jawaban, padahal hanya sebatas hal-hal yang ingin dijelaskan.
Saya menandatangani surat tersebut. Tidak ada seorang pun memaksa. Tak juga kemiskinan, Ia ia cukup berdiri di belakang bahu dan mengingatkan tagihan apa saja yang belum saya bayar.
Perekaman berlangsung hampir enam jam. Saya diminta tersenyum tanpa memperlihatkan gigi, lalu dengan memperlihatkan gigi. Marah sedikit. Marah sekali. Terkejut. Jijik. Takut. Sedih seperti kehilangan sesuatu. Sedih, tetapi berusaha tegar. Bahagia menerima kabar. Bahagia, tetapi menyimpan rahasia.
Setelah itu saya membaca ratusan kalimat yang tidak saling berhubungan.
“Tujuh burung bertengger di kabel.”
“Pembayaran Anda telah kami terima.”
“Ibu, jangan khawatir, saya baik-baik saja.”
“Sebutkan enam angka yang muncul pada layar.”
“Saya tidak pernah mengatakan kalimat ini.”
Pada kalimat terakhir saya tertawa. Dimas meminta saya mengulang tanpa tertawa.
Mereka juga merekam angka nol sampai sembilan, nama-nama hari, puluhan nama orang, sapaan untuk ayah, ibu, suami, istri, kakak, adik, dan sejumlah bunyi yang tidak berarti bagi saya. Kalimat-kalimat saya dibongkar menjadi potongan-potongan kecil supaya kelak dapat disusun kembali menjadi perkataan apa pun.
Sebelum pulang, saya menerima empat ratus lima puluh ribu. Lima puluh ribu dipotong untuk administrasi. Saya tidak mempersoalkannya. Malam itu Murni membayar sebagian tagihan listrik, membeli beras, dan menyimpan sisanya di dalam kaleng biskuit untuk seragam Aisyah.
“Enak sekali kerja pakai wajah,” katanya.
Saya menjawab bahwa kalau ada pekerjaan serupa, saya akan mendaftarkan wajahnya juga.
Kami menertawakan hal itu sebelum mengetahui betapa sebuah lelucon dapat menghukum orang yang mengucapkannya.
***
Setelah video salep sendi, wajah saya muncul sebagai petani yang berhasil meningkatkan panen, pemilik toko yang memperoleh keuntungan besar, peserta kursus bahasa asing, dan lelaki yang sembuh dari penyakit yang bahkan tidak pernah saya derita. Pada satu video, saya mengenakan peci dan berbicara tentang kejujuran. Pada video lain, saya memakai jas mengilap sambil menjanjikan keuntungan tiga puluh persen dalam tujuh hari.
Jefri menyimpan semua tautannya. Setiap menemukan video baru, ia datang sambil tertawa. “Wajahmu lebih rajin daripada kita. Minggu ini sudah ganti pekerjaan empat kali.”
Awalnya saya ikut tertawa. Tidak banyak orang dari gudang kami yang pernah muncul di layar. Beberapa pekerja meminta berfoto bersama saya dan mengunggahnya dengan keterangan: DOKTER SALAH MASUK GUDANG.
Tawa kami berhenti ketika seorang pedagang bernama Koh Ahin datang mencari saya. Ia telah mengirim tiga juta rupiah ke sebuah investasi setelah melihat video wajah saya. Dalam video itu saya mengatakan telah menggunakan layanan tersebut selama dua tahun. Saya bahkan menyebut nama aplikasi dan menunjukkan tangkapan layar keuntungan.
“Saya kenal kau,” katanya. “Makanya saya percaya.”
“Saya tidak pernah memakai aplikasi itu.”
“Tapi kau yang bicara.”
Saya memutar video tersebut berkali-kali. Gerakan bibirnya tepat. Kedipan matanya wajar. Suaranya tidak terdengar seperti rekaman yang dipotong-potong. Satu-satunya kesalahan adalah kehidupan yang diceritakannya bukan milik saya.
Saya menelepon nomor pada kuitansi perekaman. Tidak aktif. Ketika saya mendatangi ruko, pintunya terkunci dan stiker kepala manusia telah dilepas. Pemilik bangunan mengatakan penyewanya hanya menggunakan tempat itu dua bulan.
Saya membuat laporan melalui beberapa aplikasi. Setiap formulir meminta tautan, tangkapan layar, identitas, serta bukti bahwa saya adalah orang di dalam video. Saya mengirimkan foto kartu identitas dan swafoto sambil memegang kertas bertanggal. Dua hari kemudian masuk jawaban otomatis: laporan belum dapat diproses karena identitas pihak yang dilaporkan tidak dapat dipastikan.
Saya membacanya tiga kali. Mereka tidak dapat memastikan bahwa wajah saya adalah wajah saya.
Video-video itu tetap muncul. Bila satu dihapus, dua lainnya lahir dengan baju, latar, dan pekerjaan berbeda.
Kemudian pada suatu Selasa siang, Murni menerima panggilan video dari saya.
Saat itu saya sedang membongkar satu truk semen. Telepon berada di dalam tas, tertutup debu dan dua helai pakaian kerja. Namun, pada layar Murni, wajah saya tampak duduk di sebuah mobil. Suara saya berkata dompet dan kartu ATM tertinggal, sedangkan saya harus membayar biaya rumah sakit seorang teman. Panggilan terputus-putus. Wajah itu mendesaknya mengirim satu juta delapan ratus ribu rupiah ke rekening yang disebutkan melalui pesan.
Murni mengirim satu juta lima ratus ribu—seluruh uang seragam Aisyah dan sebagian uang belanja. Ia meminta maaf karena tidak mempunyai sisanya.
Ketika pulang, saya mendapati ia duduk di lantai dengan telepon di tangan.
“Temanmu bagaimana?” tanyanya.
Saya baru memahami apa yang terjadi setelah melihat bukti transfer.
“Aku tidak menelepon.”
“Jangan bercanda, Amran.”
“Sejak pagi aku di gudang.”
Wajah Murni berubah sebelum air matanya jatuh. “Itu wajahmu. Itu suaramu. Dia memanggil namaku.”
“Tapi bukan aku.”
“Sangkalanmu tidak mengembalikan uang kita.”
Kalimat tersebut tinggal di antara kami selama berminggu-minggu. Saya tidak marah kepada Murni karena percaya. Selama empat belas tahun menikah, saya menginginkan istri yang mengenali wajah dan suara saya dalam keadaan apa pun. Saya tidak pernah membayangkan pengenalan itu dapat dipakai untuk merampoknya.
Kami melapor. Petugas mendengarkan rekaman, mencatat nomor rekening, dan memotret surat persetujuan dari studio. Ia tidak menuduh saya, tetapi beberapa kali menatap wajah pada video lalu menatap wajah saya, seolah salah satu dari keduanya mungkin berkedip dengan cara yang mencurigakan.
Di rumah, Aisyah membuat aturan baru. Setiap kali saya menelepon, ia meminta saya menjawab sebuah pertanyaan.
“Apa yang jatuh ke kuah waktu kita makan bakso dekat terminal?”
“Kunci motor.”
“Siapa yang menangis?”
“Ibumu, karena mengira kuncinya hilang.”
Baru setelah itu ia mau melanjutkan percakapan. Murni juga mulai melakukan hal serupa. Dalam keluarga kami, wajah dan suara tidak lagi cukup. Untuk dipercaya, saya harus membawa kenangan.
***
Nama Dimas saya temukan pada salinan kuitansi. Setelah mencari berhari-hari, Jefri menemukan akun media sosialnya. Dimas membalas pesan saya dan bersedia bertemu di warung kopi jauh dari ruko lama.
Ia tampak lebih kurus. Perusahaan pengumpul data telah berhenti beroperasi dan belum membayar gajinya selama dua bulan terakhir. Ia mengatakan rekaman kami dijual kepada perusahaan lain, kemudian masuk ke sebuah kumpulan data yang dapat dibeli atau dilisensikan banyak pihak.
“Saya kira untuk presenter virtual dan layanan pelanggan,” katanya. “Saya tidak tahu dipakai untuk menipu.”
“Hapus wajah saya.”
Dimas menunduk. “Tidak ada satu berkas yang bisa saya hapus, Pak.”
“Kau merekamnya. Pasti ada tempat menyimpannya.”
“Rekamannya mungkin masih ada. Tapi sistem sudah mempelajari pola wajah dan suara Bapak. Salinannya juga sudah berpindah.”
Saya meminta ia menjelaskan dengan lebih sederhana.
Dimas berpikir lama. “Seperti sebotol tinta yang dituang ke sungai. Kita mungkin menemukan botolnya, tetapi tidak bisa mengambil kembali warna yang sudah ikut arus.”
“Jadi wajah saya sudah jadi air sungai?”
“Bukan wajahnya, Pak. Cara membuat wajah Bapak.”
Saya mengeluarkan surat persetujuan. “Di mana tertulis saya memberi izin untuk menipu istri sendiri?”
“Tidak ada.”
“Lalu siapa yang bertanggung jawab?”
Dimas mengusap kedua matanya. “Semua orang hanya memegang bagian kecil. Saya merekam. Perusahaan mengumpulkan. Perusahaan lain membuat sistem. Orang lain lagi memakainya. Ketika dicari, masing-masing bisa bilang kesalahannya ada di tangan berikutnya.”
Saya ingin membencinya. Namun, di depan saya hanya ada pemuda kontrak yang juga kehilangan pekerjaan. Mesin besar itu rupanya dibangun oleh banyak orang kecil yang tidak pernah diberi gambar utuh mengenai apa yang sedang mereka bangun.
Sebelum berpisah, Dimas menyarankan saya merekam video klarifikasi. Saya pulang, berdiri di depan dinding rumah, lalu meminta Murni merekam.
“Nama saya Amran,” kata saya ke kamera. “Jika Anda melihat wajah saya menawarkan investasi, obat, pinjaman, atau meminta uang, jangan percaya. Wajah dan suara saya telah digunakan tanpa izin.”
Kami mengunggah video tersebut. Dalam tiga hari, jumlah penontonnya lebih sedikit daripada video salep sendi. Seseorang menulis komentar: MANA BUKTI INI BUKAN DEEPFAKE JUGA?
Saya tidak dapat menjawab.
***
Bulan berikutnya telepon saya rusak terkena hujan. Ketika memasang aplikasi perbankan di telepon baru, sistem meminta verifikasi wajah. Saya harus mengarahkan kepala ke oval di layar, berkedip, menoleh ke kanan, lalu membaca kalimat yang muncul.
Percobaan pertama gagal.
Percobaan kedua juga gagal.
Pada percobaan ketiga muncul peringatan: WAJAH TIDAK DAPAT DIVERIFIKASI. SILAKAN DATANG KE KANTOR CABANG.
Di bank, petugas pelayanan meminta kartu identitas dan menatap saya sedikit lebih lama daripada yang diperlukan. Saya tidak tahu apakah ia pernah melihat wajah saya menjadi dokter, petani, atau penjual investasi.
“Kita lakukan perekaman ulang,” katanya.
Sebuah kamera kecil diletakkan di depan saya. Petugas meminta saya melepas topi, merapikan rambut, dan menatap titik merah. Ruangan itu membuat saya teringat pada studio Dimas: lampu putih, kursi tanpa sandaran, dan seseorang yang lebih memperhatikan posisi wajah daripada orang yang membawanya.
“Berkedip satu kali. Sekarang menoleh ke kiri. Baca kalimat di layar.”
Kalimat itu berbunyi: SAYA AMRAN, PEMILIK SAH REKENING INI.
Saya membacanya perlahan.
Sistem menolak.
Petugas mengubah posisi lampu. “Sekali lagi, Pak. Lebih jelas.”
Saya mengulang dengan suara lebih keras. Dari kursi tunggu di belakang terdengar suara yang juga milik saya. Seseorang sedang menonton video tentang sebuah usaha investasi. Wajah saya di telepon itu mengenakan jas biru dan berbicara lancar mengenai kebebasan finansial.
Petugas meminta saya tetap melihat kamera.
“Jangan menoleh ke belakang, Pak. Nanti pembacaannya gagal.”
Saya kembali mengucapkan kalimat tersebut: saya Amran, pemilik sah rekening ini.
Kali ini sebuah tanda hijau muncul. IDENTITAS BERHASIL DIVERIFIKASI.
Petugas tersenyum. “Selesai, Pak. Wajah Bapak sudah cocok.”
Selama delapan detik, sebuah mesin mengembalikan wajah saya kepada saya.
Kemudian, dari telepon seseorang di belakang, wajah itu mulai menjual sesuatu lagi.
- WAJAH SAYA BEKERJA TANPA SAYA - 21 August 2026
