
Sebelas Bintang, Bulan & Matari
akulah zeramu itu
Yusuf bin Yakub
putih manimu yang menyentuh kulitku,
ialah putih yang sama, yang melolong
di kaki gurun—gersang
dilantingkannya aku ke dalam perigi
kepada teduh gemericik sunyi
itulah yang memelukku di malam yang rigi
ke dalam zirah pancawarna aku mengadu
merekalah serigala itu,
yang bertaring & berkuku
yang mengoyak kenabian itu, membentuk
luka gores pertama Bani Yakub
akulah zeramu itu
aku tak pernah menyeka liuk langit
dengan kedua telapak tanganku
agar disembah & dipuja
bilamana aku melihat
sebelas bintang, bulan & matari,
seakan membungkuk kepadaku
tandas & saleh.
(April, 2025)
Genesis
bilah-bilah api meradang melihat lelaki tua
menyangkal tuhan-tuhan orang babilonia
mengingatkan mereka pada zuriah pendahulunya
yang tak termakan oleh api paling ganas dibuat manusia
manakala seorang tetua bertitah ‘lempar ia ke dalam celah
api yang menyalak’ genderang perang seolah pecah
seperti ketuban zuriah yang hendak menjadi silsilah
tidakkah cukup sebuah generasi menjadi tanbih
sebuah kelahiran membuka jalan baru
keringat menjadi sungai di rumbai jubah itu
di bukit-bukit gersang tempat menggembala nafsu
turun buah kurma sebagai hadiah paling lugu
dari pemukim haran yang paling diburu
ialah yakub bin ishak itu
‘tinggalkan ilah-ilah selain ilahku’ ia meminta
dengan bahasa kalisnya, maka berlarutlah mereka
kepada ujung cahaya, sebuah permulaan zuriahnya
yang bukan sekadar noktah belaka.
(September, 2025)
Eksodus
hari itu tidak biasa. perut panjang sungai
mengeruh, menjadi tulah air berdarah
setelah nubuat digenapkan dari puncak sinai
untuk memecah kebatuan hatimu, supaya kau
membuka pintu bagi deraan keluar dari
negeri kinanah
‘beritakanlah kepadanya dengan bahasa paling
kalis & lugu’
tapi kau mengatup telinga rapat-rapat seakan
telinga sebesar gajah pun tak akan mampu
mendengar jerit semut yang digilas itu
‘mereka telah melarat di negeri ini,
padang gurun telah mengurung mereka’
semua begitu pekat & merah. sungai, kolam, selokan
pada hari yang tidak biasa itu, kau terus merasa
haus & mulai tak bisa membahasakan segala yang
tampak sekalipun dengan matamu yang beku & telanjang
katak, nyamuk & pikat mulai menggerogoti setiap ceruk
dinding-dinding yang menjulang itu seperti sehampar ladang
seakan setelah badai perak di hari itu,
keakuan itu mulai berkecambah & membelah diri
barah yang penuh nanah telah memenuhi liang
punggung anak adam,
sebab hatimu telah memadat seperti pualam
hanyut di batang sungai yang sekam & dalam.
seakan getar tanah & getas cuaca mengenali
segala sesuatu telah tersurat di hari yang hitam & laknat.
(Desember, 2025)
Pralaya
hutan-hutan putih, sungai putih, bukit putih,
kayu putih, gaharu putih, mesiu putih, sesuatu
yang celah membuka diri, atmosfer menjadi
merah seperti kulit tomat, yang mentancapkan
tombak, runcing-runcing yang menjahit kulit-kulit
babi berjemur, bermandikan geni. cahaya
yang kita percayai mulai membohongi, arus
sungai yang akrab dengan seribu lidah api,
maut menyambut dengan serenade, ‘yada
yada hi dharmasya glanir bhavati bharata’,
o arjuna, pada saat itulah sesuatu akan turun
ke dunia, seakan kita mulai lupa segalanya,
segala yang kuna. & yang pasti belaka ialah
bercak-bercak yang tak selesai dibaca.
(Februari, 2026)
- Puisi Lalu Ahmad Albani Atsauri - 18 August 2026
