Bagaimana Seorang Penjahat Diciptakan

Macam kerbau dilecuti cemeti, bola matanya mendelik serentak. Napasnya  jenak-tertahan, lantas dikendurkan dengan embusan sungkan. Ia bangun seakan ia baru saja terlepas dari tangan seorang kawan yang menahannya masuk ke jurang. Ketika itulah, didapatinya orang-orang menyorotinya, di sisi-sisi ranjangnya, seolah ia baru tertangkap basah mencuri.

Perih. Cairan yang sedang disuntikkan ke infus set oleh seorang perawat itulah, yang menjadi semacam pencatut, membuat tangan kanannya gemetar. Selain itu, memang telah babak mukanya, kaku liat badannya. Setelah kabur habis-habisan dari keroyokan lima belas orang, lalu menggeber motor yang sayangnya mengalami kecelakaan tunggal, Sapar berakhir di ranjang rumah sakit dalam keadaan bonyok dan penuh luka.

Sapar mengerang, badannya panas dingin. Mengumpulkan kesadaran yang kesemuanya terberai, dibandingkan memedulikan penyebab orang-orang yang menontonnya, ia malah bertanya sedang diapakan ia.

“Sudah bangun, Pak?” tanya si perawat sopan, “tenang saja. Ini obat. Bapak juga demam karena dipasangi infus kemarin malam. Kemarin, Bapak kehilangan banyak darah.”

Darah. Pasar. Tangan Bogel di bahunya. Laju motor yang kencang sekali. Hampir menabrak sesuatu. Membelok. Lalu air. Hanya suara air. Perawat itu … memeraskan dua kain basahan.

Usai meletakkan kain basahan pertama di kening Sapar, ia memegangi lengan Sapar, mengurapinya dengan air hangat, membersihkan dengan hati-hati kerak dan kulit mati memakai kain basahan kedua. Ada gambar-gambar yang dirajah di lengan ceking itu. Meski sebagian tertutup perban, namun gambar yang membelit dan penuh warna masih dapat dikenali bentuknya. Naga. Naga. Mata. Juga bunga. Perawat yang murah sekali senyumnya itu, menceritakan kembali bagaimana ia kehilangan fokus kemarin, karena penuhnya tato-tato itu. Kesulitan menemukan urat, ia memasangkan abocath sampai tiga kali mengulang.

Kata si perawat, sudah dua hari Sapar dirawat. Di hari pertama, Sapar siuman sebentar, namun kehilangan kesadaran lagi karena pemberitahuan kematian rekannya, Bogel, yang diboncengnya saat kabur. Temannya terlempar ke kolam penuh kekat, membentur batu di dasar, hingga kepalanya pecah. Sapar memang tidak punya pilihan lain selain mengarahkan motornya ke sana, untuk mengelak dari truk tangki dari lain arah. Di hari kedua, pagi ini, ia sadar dalam keadaan badannya terasa panas dan ia bangun dalam sebak peluh. Kata perawat, ini efek samping karena syok, banyaknya darah yang hilang, dan dipasangnya infus di tangan.

Sapar terbaring di ranjang paling dekat dengan pintu keluar, di bangsal kenanga. Delapan ranjang berdesakan di satu petak ruangan ini. Tirai-tirai biru tipis yang harusnya menjadi pembatas antarsatu pasien ke pasien lainnya, tersibak. Udara pengap membuat orang-orang enggan menutupnya. Kipas angin di salah satu dinding hanya memindahkan udara panas dari satu sisi ke sisi lainnya. Semuanya terbuka dan orang-orang jadi leluasa mengawasinya. Ada yang duduk di sebelah ranjang, ada yang memetak tempat dengan menggelar tikar, yang lain berdiri-berdiri saja, berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk Sapar.

*

Bogel benar-benar sudah mati, pikirnya. Teman yang dikenalnya kuat bak lembu itu pasti sudah dikubur. Terakhir dikenangnya, Bogel adalah orang yang mendorongnya untuk terus laju, menguasai setang motor persis joki, ketika mereka dihujani batu dan teriakan. Bogel berteriak agar Sapar terus mengemudi, sebab kalau mereka berhenti, balak enam sudah.

Si perawat menanyakan apakah Sapar sudah siap diajak berbincang lebih banyak. Seorang petugas polisi menginterogasi setelah Sapar menyanggupi. Pertanyaan-pertanyaan pun meluncur. Siapa namanya, umurnya, alamat, pekerjaan, sampai mengapa ia dan Bogel berada di pasar.

“Sejak kapan saudara bersama saudara Sarwaji?”

“Bogel, Pak, maksudnya?”

“Ya, rekanmu.”

“Sejak sore itulah.”

“Untuk apa?”

“Mancing, Pak.”

Polisi itu berhenti menulis, “Mancing?”

“Ya. Kami janjian mau berangkat ke pinggir laut.”

“Saudara Bogel pekerjaannya apa?”

“Kuli angkut pasar.”

“Saudara?”

“Serabutan, tapi seringnya bantu-bantu di bengkel orang atau angkut beras di kios Ko Liong.”

“Pernah berurusan dengan polisi sebelumnya?”

Sapar terdiam. Di dekat-dekat ranjangnya, suara orang-orang juga mengecil. Sapar menjawab dengan lesu, “pernah.”

“Kasus apa?” tanya polisi itu, dengan wajah terangkat.

“Pencurian, Pak.”

“Pernah ditahan?”

Sapar mengangguk pelan.

“Sudah selesai menjalani hukuman?”

“Ya, Pak.”

“Kapan bebas?”

“Empat tahun lalu.”

Polisi itu mendengus sebentar, mencatat lagi. Orang-orang makin merapatkan diri, menguping secara terbuka, bahkan ada yang mengangkat ponsel. Hal itu tidak berhenti, meski polisi kemudian mengatakan Sapar dan Bogel sebenarnya korban salah sasaran. Ada bukti CCTV. Pelakunya anak usia belasan dengan motor brong. Namun, kualitas rekaman sangat buruk, hingga fitur wajahnya sulit dipetakan.

Sapar ditanyai, apakah ia sempat melihat atau mengingat ciri-ciri pelaku.

Sapar menggeleng lemah, meski sebenarnya ia tahu.

*

Sapar mengenal bujang ini karena mereka sama-sama tinggal di kampung B, di Jakarta Utara.

Namanya Teler. Disebut demikian bukan karena sejak kecil ia sudah dicekoki cimeng, tapi karena saat balita ia hanya menyodorkan ekspresi melamun bila diajak bicara. Dengan perut buncit dan kaki tangan yang kurus, lengkap dengan dua matanya yang menjereng, pagi-pagi ia bisa ditemukan mengemper di teras kecil penjaga palang kereta. Teler akan duduk mengangkang, mengisap telunjuknya–yang jelas tidak terlihat bersih–dalam gerakan kurang pantas, setelah menghabiskan sepiring nasi yang disiapkan oleh Mbah Jok.

Teler tinggal bersama Mbah Jok di sepetak gubuk seng, dekat rel. Mbah Jok bilang, Teler bukan cucunya, hanya dipeliharanya. Darimana ia mencokol anak itu, mana ada yang tahu. Yang pasti setelah beberapa tahun kemudian, diajaknya Teler mengamen dan memulung.

Mbah Jok merawatnya, menyediakan makannya meski hanya sekali sehari. Mbah Jok seringkali memamerkan kemampuannya ini kepada kami, bahwa ia yang orang kecil saja mampu menyediakan lauk harian untuk Teler, dan demikianlah ia tidak pernah mengemis kepada pemerintah. Tapi Sapar kasihan pada anak itu. Apalagi karena kadang ditemukannya anak itu berjalan pincang, lengkap dengan luka-luka di wajahnya. Teler bilang kakek sering memukulinya, bila sedang tidak ada uang.

Sapar mengasihani bocah itu, karena menurutnya dunia bekerja dengan cara yang aneh. Karena melakukan kejahatan, orang dewasa pantas-pantas saja dihukum. Namun, anak itu telah mengalami hukuman sebelum melakukan kejahatan.

Mbah Jok tewas disambar kereta dua tahun lalu. Tubuhnya ditemukan remuk belasan meter dari pos jaga lintasan, dekat rumahnya sendiri. Teler pun tumbuh menjadi anak yang lebih bebas. Bogel juga mengenal Teler. Beberapa kali ia membicarakan soalan anak itu. Mungkin karena itulah, saat melarikan diri, ia terus berteriak, “Tancap, Par! Jangan berhenti! Alihkan!”

Bogel. Ah.

Sapar mengenang Bogel dan pertemanannya. Bogel orang datangan dari Sumatra, punya badan yang tambun, tapi tenaganya besar sekali saat mengangkut karung-karung beras. Berkat Bogel, Sapar mendapat kerja selepas keluar dari penjara. Bogel menjadi orang yang tidak menimpa Sapar dengan mata awas, karena sama-sama pernah dipenjara. Bogel suka ini dan Bogel seperti itu. Sayang kenangan-kenangan itu tidak bisa menghidupkan Bogel lagi.

Polisi itu menanyainya lagi.

“Jadi di malam kejadian .… “

“Bukan malam, Pak.”

“Kapan itu?”

“Sore-sore, sekitar jam empat.”

“Ya, jadi kalian melarikan diri ….”

“Kami dikejar, Pak.”

“Dikejar siapa?”

“Banyak.”

“Berapa banyak?”

Sapar mencoba menaksir, “Lima belas, kira-kira. Kami diteriaki Jambret.”

Gemuruh terdengar di antara orang-orang. Salah seorang penjenguk tiba-tiba menerobos, menuduh, sambil mengacungkan ponselnya ke wajah Sapar. “Sekali maling, tetap maling!” teriaknya.

Si polisi terlihat kebingungan. Penjenguk itu bicara lagi, “Uang saya ludes setelah dia masuk rumah sakit!”

Uang itu diakuinya disimpan di sebuah tas jinjing, yang dijadikan bantal saat tidur. Uang itu adalah uang pengobatan dan bekal beberapa harinya. Ketika bangun, tas itu sudah berada di depan pintu bangsal. Sapar termenung saja. Keamanan jenis apa yang kau harapkan dari bangsal yang pintunya tidak pernah sepi? Tapi sumpah mati ia tidak mencuri. Itu tuduhan yang kejam mengingat nasibnya kini.

Mau tak mau, polisi itu menggeledah sekujur tubuh Sapar, menanyainya–yang jelas mengatakan tidak–sambil dihujani tuduhan-tuduhan baru seperti mungkin Sapar punya sekongkolan dan bahwa ia berasal dari Kampung B, gudangnya begajulan. Bisik-bisik makin meradang. Ditemukan ataukah tidak uang itu, Sapar sudah punya label buruknya sendiri.

*

Uang yang diakui hilang sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah itu tetap tidak ditemukan. Saksi mata hanya memberatkan, dengan memberikan ciri yang sesuai seperti Sapar. Dari kejauhan, mata-mata makin mengawasi gerak-gerik Sapar. Kadang-kadang, ada saja yang mengecek apakah Sapar bangun atau tidur, bahkan terang-terangan membicarakannya saban ada pasien atau penjenguk baru.

Selepas polisi, selain mereka yang bercuriga, tidak banyak orang-orang menjenguk Sapar. Sapar sendiri tidak punya keluarga inti. Di usianya yang kepala tiga, ia belum menikah lagi beranak. Urusan orang tua, Sapar sendiri tak tahu asal usulnya. Hanya Tince saja, pengamen waria yang tinggal di gubuk sebelahnya, yang datang untuk menangisi Bogel. Ia bahkan mengurus kepulangan Sapar di hari ketiga.

Tertatih-tatih, ia dipapah Tince memasuki gubuk reotnya. Ia didudukkan Tince hingga bersandar pada dinding tripleknya. Sambil membereskan tempat sedikit-sedikit, Tince bertanya, “Motor lu, Bang, bagaimana?”

“Bingung juga gue.”

“Oh iya, Abang, video lu viral noh.”

“Video apaan?”

Sapar menonton video itu dari ponsel Tince. Di layarnya yang retak, tampaklah ia yang terbujur menyedihkan, dengan luka di sekujur badan. Potongan video kurang dari dua puluh detik itu membingkainya sebagai pencuri. Orang-orang mengutuknya di kolom komentar, tak jauh-jauh dari residivis, dua setengah juta, dan karma. Sapar berceletuk, “Kalau bukan mantan napi, mereka masih bakal percaya kagak, ya?”

Sambil menyapu lantai menggunakan sapu yang sudah dekil, Tince cuma tersenyum getir.

Tak lama, mereka duduk-duduk saja di depan pintu, memperhatikan ujung ke ujung gang sambil mengipasi diri. Jakarta sudah lama tidak diguyur hujan. Di depan, tidak ada lain kecuali hamparan gersang kerikil balas dan kandang-kandang merpati. Debu seketika naik ketika kereta barang yang panjangnya bukan main melewati gubuk-gubuk mereka meski dengan pelan. Sekali ada orang asing lewat. Tince dengan ramah menyapanya dan mengingatkannya untuk tidak berjalan masuk terlalu jauh ke perkampungan itu atau kelak kena todong.

Ketika keduanya mulai mengenang Bogel dan kisah-kisah dibalik penguburannya, tampaklah Teler, Teler yang sudah besar, yang benar-benar teler. Sempoyongan ia berjalan melintasi mereka.

Telunjuk kotor yang dahulu diisap-isapnya secara ganjil saat kecil, sudah berganti dengan plastik bening berisi lem. []

Dyta Utari
Latest posts by Dyta Utari (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!