API SUDAH KALAH KETIKA AKU LEWAT

Ketika kopral yang sama—secara kebetulan—menyambangi rumahku dan bertanya kepada istriku tentang keterlibatanku dalam bentrok warga dengan perusahaan sawit tempatku pernah bekerja, aku berada jauh dari rumah. Istriku menjelaskan ketiadaanku, bahwa aku sedang menengahi dua belah pihak yang berselisih itu. Kopral itu tidak mengenalku mulanya, tetapi setelah melihat fotoku di dinding, ia mengingatku, karena sehari sebelumnya aku bercakap dengannya, sembari menonton sisa-sisa kebakaran di suatu tempat.

Tidak banyak upaya untuk menamatkan api kali itu. Mungkin karena ini sama mudahnya dengan menyembur sebatang geretan dengan sekali meludah. Di depan puing, kulihat petugas pemadam kebakaran bekerja dengan santai. Cukup satu saja yang menodongkan selang, sisanya menilai-nilai. Kebakaran ini tak seterasa petaka besar karena rumah itu kelewat mungil dan sederhana.

Kumatikan mesin motor, kupenuhi rasa ingin tahuku. Api sudah kalah ketika aku lewat. Disergap aroma lelehan plastik dan kertas gosong, aku berdiri belasan meter dari garis polisi bersama orang setempat, salah satunya penyodok sawit yang kebetulan mengenalku. Darinya, kuketahui bangunan semi permanen itu—tepatnya—yang berdiri di lahan telantar itu, milik sepasang pemulung muda. Rupa-rupanya, petir siang bolong menyambar rumah malang itu. Seorang pengguna jalan yang melihat repot-repot datang ke kantor polisi, dan dari sanalah pemadam kebakaran dihubungi. Api dibinasakan sehingga salju abu mereda meski asap berpulung-pulung dan desisan bara terdengar makin garang.

Makin penasaran, kudekati sopir truk pemadam yang selesai membantu membereskan selang, Di situ juga ada seorang kopral. Kuperkenalkan diriku. Kusampaikan bahwa aku dalam perjalanan pulang dari kebun sawit tempatku bekerja, di mana sebagai kepala gudang aku hanya bisa pulang seminggu sekali. Jalanan satu arah yang sepi ini memang rute pulang-pergiku.

Sopir itu berkata kepadaku, “Beruntung tidak ada korban jiwa. Yang punya mungkin sedang berkeliling kota memanen bodong.” Sambil menilai-nilai Honda CB-ku yang terparkir di kejauhan, ia melanjutkan, “Yang satu ini kami tidak dapat perintah untuk berjaga dulu, sudah bisa ditinggal nanti. Biasanya, kebalikannya, karena takut angin muter.”

“Susah, ya,” timpalku.

“Gak apa-apa. Yang susah kalau tidak ada air. Ini di mobil saja tinggal seperempat tangki. Itu sudah seperti kencing kambing waktu nyemprot.”

“Tipu saja,” kata si polisi sambil membetulkan sabuk tebalnya, tertawa-tawa.

“Apanya?” tanyaku.

“Apinya.”

“Api ditipu dengan api?” sambar si sopir.

“Nah!”

Respons si sopir, “Api besar memang biasanya kami kasih makan api kecil. Tapi, itu pun kalau kebakarannya luas. Seperti yang terjadi bulan lalu. Sama saja, rumah pemulung juga, yang rupa-rupanya lahannya dimanfaatkan juga oleh sebagian orang untuk tempat pembuangan sampah. Sehingga jadilah karena banyaknya material yang gampang terbakar. Kami terapkan metode khusus untuk menipu api karena mustahil menantangnya. Beruntung, api takluk satu jam kemudian.”

Aku tidak tahu persis bagaimana petugas melakukannya, tetapi aku menyaksikan yang serupa dari penduduk setempat, dalam prosesi buka lahan. Mereka menggali parit melingkar sedalam satu meter, lalu membakar mulai dari tepian. Api akan bergerak ke pusat dan memakan satu dengan lain di tengah hingga mereka semua mati sendiri karena kehabisan oksigen.

Di kejauhan, anjing tiba-tiba menyalak. Seolah menyambut apa yang datang dari arah timur, yakni pemilik rumah yang datang dalam luncuran sepeda kumbang, menyapa tertunduk-tunduk pada semua orang. Mereka kemudian memandang harta bendanya yang gosong dengan ekspresi dingin belaka. Tidak ada bentuk-bentuk frustasi dari kehilangan sebagaimana manusia umumnya. Ini membuatku terganggu karena lebih aneh dari kebakaran itu sendiri. Jadi, kuperhatikan mereka berdua lekat-lekat.

Si suami mendekati puing-puing, mengamati kalau-kalau masih ada yang tidak terbakar. Ia menyodok tumpukan arang di bagian muka rumahnya dengan sandalnya, yang sepertinya tempat ia menaruh karung-karung dengan jejalan plastik dan kayu. Ia berkata, nah, saat kait timbangan gantungnya ditemukan. Sementara si istri, sebelum menyusul suaminya, diinterogasi polisi lainnya. Si istri tampak sekaprahnya saja menjelaskan kronologi, seolah ia dan suaminya bisa tidur, makan, dan berkimpoi ria di mana saja. Seolah tidak ada identitas mereka yang tertambat pada atap, dinding, pintu yang kehilangan bentuk.

Kurasa mereka telah mengalami kehilangan-kehilangan yang lebih besar sebelumnya. Bisa jadi reaksi datar mereka lahir dari keterbiasaan, bila bukan karena terlalu kaget. Seolah api di dalam diri mereka sudah lama padam dan itu membuat mereka berbeda—manusia tanpa api, menurutku. Mereka telah berhenti jadi manusia. Rasanya, ingin kuberikan sesuatu kepada sepasang pemulung itu. Jadi, aku membuka dompetku. Namun, saat teringat tayangan dunia dalam berita belakangan—kabar rupiah yang melemah tajam ditayangkan bolak balik bersama kabar kecelakaan Lady Di di Pont de l’Alma—aku memasukkan lagi dompetku ke saku.

Surat pengunduran diriku sudah dipegang bos. Atasanku itu kaget karena kinerjaku lagi bagus-bagusnya. Namun, aku harus, karena dalam dua belas jam warga setempat berniat menyerang kantor. Mereka hendak membakar gudang-gudang. Agar aku tidak terseret perkara hukum dan nyawaku aman, mereka memintaku mundur. Mereka menghormatiku, karena aku dianggap beakuan[1]. Jadi, begitulah, aku pulang di rute yang sama lagi berkendara super lamban, seolah-olah merampungkan kenangan terakhir, padahal aku hanya bingung bagaimana menjelaskan ke istriku bahwa secara sukarela aku kehilangan pekerjaanku. Mencari pekerjaan susah sekali, tetapi mustahil memihak salah satu.

Tak kuasa menyalakan api kemarahan di dalam hatiku, aku mungkin tak lebih baik dari sepasang pemulung itu. Rasa hinaku bertambah-tambah, karena dalam obrolan rendah kami sesekali aku merasa disambar api saat sepasang pemulung itu menatapku dengan iba. Aku merasa jadi penyusup. Seolah dirikulah yang dipenuhi jelaga. Aneh, memang. Mengapa manusia secara sadar menatap penderitaan manusia lain dan menjadikannya tontonan, ya?

Bersisurut, kuengkol motorku, bertolak menuju rumah.

Sepanjang jalan, gelisahku tak minggat.

Itulah mengapa, malamnya aku pergi lagi, lengkap dengan sebilah katana kusampir di punggung[].


[1] Beakuan adalah istilah untuk seseorang yang dianggap berpuyang/diikuti puyang/berilmu dalam/sakti. Istilah ini saya ambil dari kepercayaan masyarakat lokal Lahat, Sumatera Selatan.

Dyta Utari
Latest posts by Dyta Utari (see all)

Comments

  1. desta Reply

    di cerita kan sebuah api sudah kalah ketika aku lewat

  2. Pstar7 Reply

    Cerita ini memiliki kekuatan utama pada atmosfer, observasi sosial, dan realisme dialog. Ya cerita ini punya potensi gaya naratif yang matang dimana cukup reflektif, tajam, dan peka pada detail kecil kehidupan lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!