MEMENTO VITAE

Sepersekian detik setelah tubuhku terlempar, sebelum tengkorakku pecah di aspal—dengan kepahlawanan yang sia-sia, aku mencoba salto menghindari pesepeda bocah umur dua belas tahun itu—layar-layar kecil itu bermekaran di udara, sehingga aku, dalam posisi terbalik dan melayang, menyaksikan montase hitam putih dengan aku sebagai bintangnya.

Cuplikan pertama menampilkan ibuku yang sudah meninggal lima tahun lalu, dan bapakku, yang sialnya masih bernapas hari ini.

Aku, bayi keriput seberat dua kilo, ditimang seorang bidan yang mengumumkan “Perempuan. Jari tangannya masing-masing enam.” Aku didaratkan ke dada ibuku, yang masih menunjukkan tanda-tanda postpartum di wajahnya, membiarkanku menjelajahi sumber makananku sendiri. Di sisinya, tiga saudaraku bergiliran menyentuh jari tambahanku—memeriksa, mencubit, menguji genggamanku dengan telunjuk mereka. Mereka kecewa, aku tertawa.  Tentu saja jari ekstra itu bukan mukjizat. Mereka hanya jaringan lunak tanpa tulang, tak lebih dari bejolan daging belaka.

Kemudian, bapak ditampilkan di meja administrasi dengan mulut komat-kamit.

Mungkin ia sedang mencoba membanggakan aku dengan standar serendah mungkin—’yang penting matanya tidak tiga’ atau ‘syukurlah bukan kelamin ganda’—atau sesuatu yang sama aproriat, karena aku tahu ia tidak seperti orang tua normal, yang memamerkan keunggulan nama bayi mereka—meski aku dinamai Muskimanis Teslawati, atas nama tokoh terkaya di dunia dengan sedikit sentuhan lokal.

Tapi muka bapak serius sekali. Bapak benci rumah sakit. Tak satu pun dari kami boleh menyerahkan tubuh ke tangan dokter. Tapi ibu harus tak patuh kali itu. Ia mengalami kontraksi hebat di tenda lempar panah, bersimpuh di antara serakan panah-panah pembeli yang gagal menyasar target, dan ibu diboyong ke rumah sakit terdekat (karenanya, kadang ibu mengenang kelahiranku sebagai kekonyolan, karena seorang pembeli tiketnya, yang limbung di ambang pingsan, menyangka panahnya membocorkan perut ibu).

Bapak, yang terlambat muncul di ruangan bersalin entah dari mana, merasa ini semua berlebihan. Bapak percaya manusia pada dasarnya mampu beradaptasi dengan segala kondisi, dan segala bentuk kesakitan dan penyakit itu hanya propaganda industri medis. Manusia bisa sembuh sendiri, termasuk melahirkan sendiri, seperti seekor kucing.

Benar saja. Di cuplikan itu, bapak beradu mulut dengan perawat jaga. Kurasa itulah saat-saat mereka membawaku lari dari rumah sakit beberapa jam setelahnya. Mereka tidak mampu membayar biaya persalinan.

*

Cuplikan kedua menunjukkan saat ibuku bertengkar dengan pemilik kamar kos.

Saat itu usiaku enam setengah tahun. Perempuan itu menuduhku mengotak-atik meteran air hingga benda itu macet dan seluruh kamar jadi memiliki bak kosong. Aku tidak ingat apakah aku sejahil itu—tapi aku meragukannya. Aku mengantungi pasirku, bersembunyi di belakang ibu yang membelaku. Ibu meminta bukti, tapi pemilik kos menganggap bahwa aku adalah anggota dari keluarga cacat sebagai bukti tak terbantahkan. Ibu mulai menyalahkan penghuni kamar paling ujung, seorang pecinta kucing yang tak suka dengan kedatangan kami sejak hari pertama.

Kami diusir hari itu juga. Sambil meringkasi barang-barang, ibu berkata bahwa rasa takut hanya doktrin, bukan insting. Ketakutan bukanlah respons alami terhadap bahaya, melainkan hasil konstruksi sosial yang diwariskan. Kamu tidak perlu takut kepada penindasmu, katanya. Manusia tidak memiliki kewajiban moral kepada siapa-siapa, selain dirinya sendiri.

Tapi ibu meludahinya, kata kakak sulungku. Sudah semestinya, jawab ibu. Kakakku yang kedua menyalahkan ibuku. Ibuku berkelit, kalau sudah besar kau akan tahu ada hal-hal yang mustahil dinegosiasikan.

Ibu mencubitku dan aku menangis kejer setelah kutanyakan di mana bapak.

*

Cuplikan ketiga menunjukkan lingkungan terbuka, dengan sorotan lampu di depan toko tempat kami menumpang, yang nyaris tidak berguna. Malam itu kami menggigil, sementara otak kami, secara naluriah, menafsirkan kegelapan sebagai penyebabnya. Itulah, saat bapak menghibur kami dengan mengatakan, kami titisan harimau, kami harusnya tinggal di rimba, dan itulah mengapa mata kami bisa melihat dalam gelap, lebih baik dari anak lain.

Ibu, si induk harimau, sudah molor karena kelelahan berjalan. Kami yang kecil-kecil dan masih terjaga, antusias mendengarkan hal spesial itu, mulai menyesuaikan diri dengan si harimau yang tidak butuh lampu, harimau yang tinggal di hutan, dan harimau yang tak gentar pada malam karena malam adalah miliknya. Kalau kuingat lagi, alangkah tertipunya aku. Cuplikan ini jelas-jelas memperlihatkan situasi kami yang makin terjerembab, setelah bapak kembali dan ibuku dipecat dari pasar malam.

Kami mulai nomaden karena bapak dan ibu tidak memiliki uang untuk menyewa kamar. Dulu, kami punya. Namun, setelah mandor bapak di proyek kabur, yang tersisa hanya gerobak untuk ditiduri. Menurut bapak, ini lebih baik daripada memiliki terlalu banyak barang. Katanya, materialisme adalah racun yang membutakan manusia dari inti kehidupannya. Memiliki benda-benda yang berguna meski sedikit, dapat mendekatkan kami pada kebenaran hakiki tentang menjadi manusia.

Jadi, dengan bergembira, kami mengalasi dan memodifikasi gerobak, hingga ia bersalutan baliho. Kami melengkapinya dengan atap, menghiasi badannya dengan gaba-gaba bekas dan coretan arang, terakhir menamainya dengan nama politisi di baliho itu, yang wajah penuhnya nongkrong di langit-langit gerobak. Ia membuat kami gemas. Kadang kami berpura-pura menjadi anak harimau dengan mencakarnya, meski tak pernah berhasil merobeknya.

Namun, gerobak itu pengap. Kami lebih sering memperlakukannya sebagai koper raksasa kami, alih-alih rumah. Walhasil, kami berpindah-pindah dengan gerobak besar itu—musim terang, kami berkeliaran di taman kota, musim gelap, kami menghangatkan diri di depan toko-toko yang tutup.

Tak satu pun dari kami yang bersekolah formal. Menurut Bapak, tidak perlu. Bapak merasa bisa mengajarkan kami lewat situasi nyata. Bapak tidak memberikan jawaban langsung agar kami meneliti dari sudut pandang baru. Ia biarkan kami mengumpulkan pengalaman, sembari ia, berganti-gantian dengan ibu, merangkumkan ingatan mereka tentang buku-buku yang pernah dibaca waktu kuliah—mereka bukan orang yang ‘tepat’ untuk masuk ke sistem, sehingga mereka ‘membuang diri’ mereka sendiri lebih dulu, memilih tidak menjadi sejoli guru yang sejahtera–dan membuatku, terutama, terbiasa memandang ketimpangan dengan setumpuk pertanyaan.

Ia memberitahu kami bahwa belajar adalah proses yang lentur. Pendidikan formal hanya akan merusak kreativitas karena mengajarkan orang-orang untuk berpikir seragam. Kata Bapak, sekolah adalah pabrik yang menghapus keunikan manusia, membentuk manusia menjadi roda penggerak sistem yang kelak bekerja tanpa orisinalitas mereka sendiri. Ia menyebutnya—dengan pesimis—sebagai orang-orang curang.

Tapi aku iri melihat mereka yang bersekolah. Aku penasaran, mengapa anak-anak yang bersekolah rata-rata terlihat kenyang sepanjang waktu.

*

Oleh karena itulah, aku dan saudara-saudaraku mencuri makanan, di cuplikan keempat.

Kami tidak menuruti ibu yang menolak gagasan makan tiga kali sehari, mengatakan bahwa rasa lapar bukan masalah fisiologis melainkan ilusi mental, seakan norma sosial yang menuntut keteraturan konsumsilah yang memaksa manusia untuk punya kebiasaan makan. Tapi kami lapar, lapar yang menyakitkan. Lapar yang sejak dulu memaksaku menghabiskan sesuatu yang bukan makanan, misalnya pasta gigi, dan atas kemarahan ibulah aku dipaksa menggosoki gigiku dengan pasir, sejak kecil.

Kami berpencar-pencar, mengais di tempat-tempat pembuangan sampah, sesekali memanen plastik bekas untuk menimbangnya ke pengepul. Ibu juga memulung, tapi ia tak mau bekerja untuk bos mana pun. Ia merasa merdeka dari semua manusia, yang dianggap sebagai budak kolektif dan hidup dalam kontrol. Ia memutuskan tidak terjebak dalam ilusi kenyamanan. Ia bangga pada dirinya, bangga memberi kami makan dengan makanan sisa orang, bangga pada kemiskinannya.

Kami dibiarkan berkeliaran, hampir tertabrak, pernah keracunan, melewatkan urusan sanitasi kami—misalnya ibu pernah bilang tidak apa tidak menggosok gigi, karena ia pun tidak melakukannya, dan dengan itu ia memamerkan satu molarnya yang menguning keemasan, yang diklaimnya tak pernah copot sejak orok—kalau pun sesuatu yang buruk terjadi, kami puluhan kali kabur setelah mendapat pelayanan kesehatan atau diberi makanan gratis oleh seseorang.

Kata ibu, anak-anak yang terlalu dilindungi tidak akan tumbuh kuat. Termasuk lapar. Kami dibiarkan kelaparan, sehingga kami berpikir bahwa memulung dan mengais sampah tidak sepraktikal mencuri—yang lebih cepat menyembuhkan sakit di perut kami.

Ibu mengajarkan kami caranya mengutil sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang kurang adil. Kami mencuri dan beranggapan bahwa tempat yang kami curi itu memiliki semuanya, sehingga mengambil sedikit tidak akan membuat mereka semiskin kami. Kami menganggap diri kami sedang ‘mengambil kembali’ untuk meredakan rasa bersalah. Orang tua kami telah mengajarkan kami betapa mudahnya mengutil, meski setelah aku melakukannya, itu tidak pernah mudah, sama sekali.

Aku bertanya ke ibu, mengapa kami tidak mengemis saja atau menerima bantuan pemerintah. Ibuku bilang, menerima bantuan adalah bentuk kegagalan dalam mengelola diri sendiri. Manusia sejati harus mampu mandiri. Lagi pula lihatlah, bagaimana bantuan berdatangan seiring tangan-tangan yang menyodorkan kamera.

Suatu kali, aku juga bertanya, di mana bapakku. Ia bilang, bapak dipenjara lagi karena mencuri di toko manisan yang sama. Ibu tidak marah seperti di cuplikan sebelumnya. Ia bersikap manis sejak aku bisa dimintainya sesuatu. Karena bila tidak, ia bernegosiasi kepada Tuhan dengan suara besarnya agar kami semua mati dan ia bisa menjalani kehidupannya yang suci selamanya.

*

Cuplikan kelima menunjukkan seorang tunawisma, yang telah menelanjangi dirinya di hadapanku. Waktu itu, bapak, ibu, dan kakak-kakakku, sedang tidur di suatu tempat, sementara lelaki ini membawaku diam-diam, ke tempat yang lumayan jauh. Aku terbangun di gang gelap itu, merasakan tubuhku digendong dan diputar-putar, seperti boneka. Bau tubuhku sepersis tubuh orang itu. Aku marah—sangat besar, untuk pertama kalinya—pada kehidupanku. Sebelum aku dicengkeram, akulah yang mencengkeram lelaki itu, mencakarnya hingga aku dikutuk. Tunggang langgang aku kabur sejauh mungkin, hingga hanya Tuhan yang tahu bagaimana aku bisa menemukan jalan pulang.

Aku menceritakan ini kepada ibuku, tapi bagi ibu semuanya baik-baik saja selama aku tidak terluka. Aku tidak menceritakan ini kepada bapak karena tidak ingin mendengarkan cerita harimau itu lagi—cakarku tidak muncul, membuktikan aku manusia biasa, bukan harimau.

Cuplikan keenam terjadi saat aku menantang bapakku.

Aku muntab dan bertanya mengapa kehidupan kami dipenuhi kebohongan; pandangannya tentang hidup cuma tahi angin, tak lebih agar kami tidak menyadari hidup yang kami jalani benar-benar kacau. Aku juga mengeluh atas makanan sampah yang telah membuatku lupa cita rasa dari sepunjung makanan layak, atas tubuh perempuanku yang tak nyaman tinggal di jalanan, tentang ibuku yang, dalam keterbatasan ini malah bunting dan menambah satu mulut lagi untuk diberi makan, tentang bapak yang menghabiskan uang untuk merokok dan mulai berjudi, tentang ini dan tentang itu, hingga bapak mendaratkan tamparan ke wajahku, tendangan ke perutku, dan sabetan kayu ke punggungku.

Bapak menghujaniku dengan kuliahnya–bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan dalam penderitaan ekstrem. Sementara aku telah mengikis ketajaman intelektualku dan menghambat pencapaian tertinggiku untuk menjadi manusia sejati, meracuni diriku dalam konsep hidup yang stabil, sehingga kelak aku akan mati perlahan, karena menyerah pada kehidupan yang penuh warna dan memilih stagnan di dalamnya.

Bapak bilang aku bukan dan tidak pantas menjadi satu dari anak-anaknya.

Ibu melihatku seperti seorang saingan yang harus disingkirkan.

Aku menantikan janji mereka yang akan membawa kami semua ke hutan, di mana harimau tinggal, kami bisa mandi di mata air, mengambil sepuasnya makanan tulen, tidur di bawah matahari hangat, dan berlindung di lubang-lubang pohon. Aku menantikannya seperti orang bodoh selama enam belas tahun hidupku. Maka seperti kakak pertamaku, kakak keduaku, dan kakak ketigaku, aku kabur dengan pacarku, meninggalkan mereka semua.

*

Cuplikan ketujuh adalah cuplikan saat aku berusia dua puluh lima tahun, hari ini.

Saat berbelanja di pasar, tidak sengaja aku bertemu kakak sulungku. Ia hidup dengan kesenangannya sendiri; ia banyak bepergian ke berbagai kota, entah melakukan apa. Ia juga mengabarkanku tentang orang tua kami. Ibuku telah berkali-kali keguguran dan menabrakkan diri ke kereta, sementara bapakku berkeliaran di jalanan dengan keras kepala yang sama.

Kepadanya, kukatakan aku telah menetap, menikah, memiliki seorang anak, tinggal di rumah beratap, dan berpakaian yang patut. Aku telah melanggar semua aturan orang tua kami yang dibuat untuk berkelit dari ketidakmampuan mereka menghidupi kami—aku adalah bagian dari masyarakat yang mereka benci.

Tapi tidak kuberitahukan kepadanya, bahwa belakangan aku pusing karena suamiku dirumahkan. Perusahaan melepaskannya begitu saja atas alasan efisiensi. Padahal utang pinjaman daring kami menumpuk, pajak meningkat, harga sembako naik, dan perlengkapan sekolah anakku butuh ditebus. Itulah mengapa, dalam perjalanan pulang, kulajukan motor dalam kecepatan 110 km/jam. Sialnya, aku mengerem mendadak, memelantingkan tubuhku, menghindari pesepeda belasan tahun di perempatan jalan ini. Sepersekian detik sejak itu, sebelum tengkorakku pecah menabrak aspal, kusaksikan aku dalam montase hitam putih, dengan aku di dalamnya.

Anehnya, sebagai akhir dari semua kekacauan hidupku sebagai manusia, aku berharap kecelakaan ini bukan omong kosong, apalagi mimpi [].

Dyta Utari
Latest posts by Dyta Utari (see all)

Comments

  1. Lala Reply

    bagus sekali sampe merinding bacanya

  2. nabila Reply

    bagus sekali ceritanya bener bener bagus

    • memey Reply

      cerita yg sangat sangat bagus dan di mengerti

  3. nabila Reply

    cerita nya bener bener bagus sekali alurnya bener bener dapet baca nya sampe bener bener merinding
    jangan lupa di baca gusy

  4. Aldy Reply

    Keren, penggambaran kondisi seorang anak yang hidup di jalanan terasa cukup mudah dibayangkan dan rasakan.

  5. Chris Reply

    Sangat menarik

  6. Fateema Cholis Reply

    Aku setuju bapaknya cuma berbual, hanya membuat dalih bahwa hidupnya baik-baik saja. Yah, tapi hidup adalah pilihan.

  7. Pram Reply

    Opini saya cerpen ini, terlalu bertele-tele,watak tokoh tidak konsisten, tema nya pun sudah basi, ya kek FTV terlalu lebay gtuu…

  8. Rizki Prilia Reply

    Berapa banyak bapak-bapak seperti ini di luar sana ya, yang membual pada anak karena malas😌.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!