
Antartika atau Copenhagen, Itu Tetaplah Jauh
/1/
diam-diam kau ke antartika, menjatuhkan foto berisi potongan bibirmu yang
tersenyum di lantai pesiar, tempatmu meminggirkan hijau bumi yang pudar
dari pinggir jendela, sembari menghitung hari-hari mengapung di drake passage.
akankah aku memungut foto itu? menjumpai bibirmu yang sebenar-benarnya
tengah mengejar penguin yang tak mengerti cara terbang, hanya berlarian
dari satu dingin, ke angin, ke ingin, dan ke angan lain.
mungkin kau hanya ingin menari-nari di permukaan es yang licin
menjatuhkan remah-remah roti yang kausembunyikan di balik tebal palkamu
yang lebih hangat dari pelukan apapun yang tak pernah kauinginkan.
akankah aku memungut remahan itu? menjumpai tarianmu tersandung oleh
anjing laut yang berjemur dan menimpa rindu di bawah lemak perutnya.
kau suka penguin, kau suka roti, kau suka menari, kau suka sunyi yang merdu
ketika mesin kapal dimatikan dan kau hanya mendengar bunyi es yang berderak,
mengurung nyanyianku tentang namamu dalam berabad-abad kebekuan.
akankah kau memungut suara-suaraku yang jauh dan terjatuh-jatuh?
/2/
kudengar kau ke copenhagen, mencari lebih banyak warna-warni
mungkinkah kau bersila di nyhavn, mengunyah roti dan melemparkan repihnya
pada aku yang berkitaran di langit menunggangi camar yang lapar?
namun aku tak menemukanmu di sana, tidak duduk bersila, atau melihatmu
menjumpaiku di celah antara wangi kopi dan bulu camar yang lunglai.
kudengar kau di copenhagen, mungkinkah kau tengah bercerita tentang
hari-hari terang lampu-lampu lampau yang kau rindukan
kepada patung duyung yang mendayung cemburu dan kesepian?
aku pernah mengajaknya berbicara, tentang kau, tentang rindu yang pernah
dikutuk menjadi batu untuk menemani perahu-perahu kayu yang uzur.
apakah kau benar-benar di copenhagen? atau kau hanya menjatuhkan kabar
tentang kau bersepeda menyusuri trotoar berbau laut dan memboncengkan
tanda tanya lain sekadar untuk menjauhkanmu dari pertanyaan-pertanyaan
tentang betapa panjang peta yang kautandai untuk meninggalkanku?
/3/
antartika atau copenhagen, itu tetaplah jauh
seberapa lebar pun benua yang berbaring di bulat pipimu
aku tetap menggulung diri sebagai peta paling buta
yang masih menunggumu membuka laci dan menemukanku
untuk kau tandai sebagai tujuan selamat pagimu dari kutub-kutub
terjauh yang pernah kau tempuh.
(2026)
Sajak Berang-Berang
sebuah pemandangan yang gawat
tak sengaja bertandang, saat kau
mulai bertingkah lucu, wajahmu
meniru bayi berang-berang.
raut itu berbahaya, kau tahu?
mengunci ingatan semenjak pipimu yang hulu
membayangkan lugu bibir yang belajar
mengunyah makanan kesukaanmu pertama kali
maka sebelum rindu berebut mencubit pipimu
maukah kuajari kau cara berenang?
mungkin kita bisa bermain dan meluncur
dari batang pohon tumbang, menuju
arus debar-debar yang tenang dan bening.
atau aku saja, yang mencoba
belajar menjadi berang-berang
untuk bisa bergabung, menggandeng tanganmu
berbaring dan tertidur sepanjang arus sungai
melarutkanku dan kau ke bagian pipimu yang hilir.
(2026)
Sebuah Rekaman tentang Hanni yang Berlarian di Pantai
dalam tayangan retro kaset kotak tua
hanni berlari-lari di pantai,
namun lupa melepas kaus kaki
abaikah ia pada hal sepele, seperti
maukah sinterklas datang menaruh hadiah
pada kaus kaki basah dan berpasir
di malam natal pada rambut yang tak pernah
ditumbuhi salju?
hanni masih berlari di pinggir pantai,
aku melihat diriku di sana, sebagai sisa ombak
menyapu jejak kakinya yang menginjak
lubang-lubang kepiting
dan kami bermain-main: ia mengikuti aku yang surut
lalu berlari kala aku mengejarnya hingga bibir pesisir.
hanni berhenti berlari, kemudian bernyanyi-nyanyi
mendiamkan desir dalam gelembung permen karet
yang pecah dan membuatnya tertawa
aku melihat diriku di sana, sebagai pohon kelapa
yang merunduk untuk mendengar suaranya lebih dekat
sebelum tak ada lagi musim-musim
untuk membawa hanni kembali
menaiki van tua, lalu melupakan wajah pantai
sepanjang durasi pita kaset yang ringkih
dan mengeluarkan kenang-kenangan yang serak.
(2026)
Hanni Bertanya Kapan Aku Tiba
“estimasi saja,” katamu.
aku tidaklah paham apa yang hendak kau dengar
apakah tentang jarak yang memucat
atau tentang bayangan wajah kekasih
yang memantul di muka kolam renang
lalu pecah oleh lompatan bocah-bocah
setelah itu rindu mengambang, saling menjauh
dan memulai pesta masing-masing.
“lalu kapan kau tiba?” tanyamu lagi.
sementara aku tak mampu mengukur perjalanan
sepanjang selang pengisian bensin untuk van usang
yang pernah membawamu pergi dari bumi yang lebih jauh
dari waktu lampau yang tak pernah kita jumpai.
“jelaskan segalanya sebelum aku pergi,” kau mengancam.
maka aku bergegas, tak ada lagi jarak, tak ada lagi selang
yang menggulung waktu tempuh, menggulung waktu lampau
hanya aku yang berlari lebih cepat.
aku tiba di sana, ketika kau telah pergi
aku mengulanginya, berkali-kali lagi
dan selalu tiba usai kau tuntas beranjak
pergi berkali-kali melangkahi usia yang kumiliki.
(2026)
- Puisi Andi Wirambara - 28 July 2026
- Puisi Andi Wirambara - 28 January 2025
