Puisi Andi Wirambara

 

Antartika atau Copenhagen, Itu Tetaplah Jauh

 

/1/

diam-diam kau ke antartika, menjatuhkan foto berisi potongan bibirmu yang

tersenyum di lantai pesiar, tempatmu meminggirkan hijau bumi yang pudar

dari pinggir jendela, sembari menghitung hari-hari mengapung di drake passage.

akankah aku memungut foto itu? menjumpai bibirmu yang sebenar-benarnya

tengah mengejar penguin yang tak mengerti cara terbang, hanya berlarian

dari satu dingin, ke angin, ke ingin, dan ke angan lain.

 

mungkin kau hanya ingin menari-nari di permukaan es yang licin

menjatuhkan remah-remah roti yang kausembunyikan di balik tebal palkamu

yang lebih hangat dari pelukan apapun yang tak pernah kauinginkan.

akankah aku memungut remahan itu? menjumpai tarianmu tersandung oleh

anjing laut yang berjemur dan menimpa rindu di bawah lemak perutnya.

 

kau suka penguin, kau suka roti, kau suka menari, kau suka sunyi yang merdu

ketika mesin kapal dimatikan dan kau hanya mendengar bunyi es yang berderak,

mengurung nyanyianku tentang namamu dalam berabad-abad kebekuan.

akankah kau memungut suara-suaraku yang jauh dan terjatuh-jatuh?

 

/2/

kudengar kau ke copenhagen, mencari lebih banyak warna-warni

mungkinkah kau bersila di nyhavn, mengunyah roti dan melemparkan repihnya

pada aku yang berkitaran di langit menunggangi camar yang lapar?

namun aku tak menemukanmu di sana, tidak duduk bersila, atau melihatmu

menjumpaiku di celah antara wangi kopi dan bulu camar yang lunglai.

 

kudengar kau di copenhagen, mungkinkah kau tengah bercerita tentang

hari-hari terang lampu-lampu lampau yang kau rindukan

kepada patung duyung yang mendayung cemburu dan kesepian?

aku pernah mengajaknya berbicara, tentang kau, tentang rindu yang pernah

dikutuk menjadi batu untuk menemani perahu-perahu kayu yang uzur.

 

apakah kau benar-benar di copenhagen? atau kau hanya menjatuhkan kabar

tentang kau bersepeda menyusuri trotoar berbau laut dan memboncengkan

tanda tanya lain sekadar untuk menjauhkanmu dari pertanyaan-pertanyaan

tentang betapa panjang peta yang kautandai untuk meninggalkanku?

 

/3/

antartika atau copenhagen, itu tetaplah jauh

seberapa lebar pun benua yang berbaring di bulat pipimu

aku tetap menggulung diri sebagai peta paling buta

yang masih menunggumu membuka laci dan menemukanku

untuk kau tandai sebagai tujuan selamat pagimu dari kutub-kutub

terjauh yang pernah kau tempuh.

 

(2026)

 

 

Sajak Berang-Berang

 

sebuah pemandangan yang gawat

tak sengaja bertandang, saat kau

mulai bertingkah lucu, wajahmu

meniru bayi berang-berang.

 

raut itu berbahaya, kau tahu?

mengunci ingatan semenjak pipimu yang hulu

membayangkan lugu bibir yang belajar

mengunyah makanan kesukaanmu pertama kali

maka sebelum rindu berebut mencubit pipimu

maukah kuajari kau cara berenang?

 

mungkin kita bisa bermain dan meluncur

dari batang pohon tumbang, menuju

arus debar-debar yang tenang dan bening.

 

atau aku saja, yang mencoba

belajar menjadi berang-berang

untuk bisa bergabung, menggandeng tanganmu

berbaring dan tertidur sepanjang arus sungai

melarutkanku dan kau ke bagian pipimu yang hilir.

 

(2026)

 

 

Sebuah Rekaman tentang Hanni yang Berlarian di Pantai

 

dalam tayangan retro kaset kotak tua

hanni berlari-lari di pantai,

namun lupa melepas kaus kaki

abaikah ia pada hal sepele, seperti

maukah sinterklas datang menaruh hadiah

pada kaus kaki basah dan berpasir

di malam natal pada rambut yang tak pernah

ditumbuhi salju?

 

hanni masih berlari di pinggir pantai,

aku melihat diriku di sana, sebagai sisa ombak

menyapu jejak kakinya yang menginjak

lubang-lubang kepiting

dan kami bermain-main: ia mengikuti aku yang surut

lalu berlari kala aku mengejarnya hingga bibir pesisir.

 

hanni berhenti berlari, kemudian bernyanyi-nyanyi

mendiamkan desir dalam gelembung permen karet

yang pecah dan membuatnya tertawa

aku melihat diriku di sana, sebagai pohon kelapa

yang merunduk untuk mendengar suaranya lebih dekat

sebelum tak ada lagi musim-musim

untuk membawa hanni kembali

menaiki van tua, lalu melupakan wajah pantai

sepanjang durasi pita kaset yang ringkih

dan mengeluarkan kenang-kenangan yang serak.

 

(2026)

 

 

 

 

Hanni Bertanya Kapan Aku Tiba

 

“estimasi saja,” katamu.

aku tidaklah paham apa yang hendak kau dengar

apakah tentang jarak yang memucat

atau tentang bayangan wajah kekasih

yang memantul di muka kolam renang

lalu pecah oleh lompatan bocah-bocah

setelah itu rindu mengambang, saling menjauh

dan memulai pesta masing-masing.

 

“lalu kapan kau tiba?” tanyamu lagi.

sementara aku tak mampu mengukur perjalanan

sepanjang selang pengisian bensin untuk van usang

yang pernah membawamu pergi dari bumi yang lebih jauh

dari waktu lampau yang tak pernah kita jumpai.

 

“jelaskan segalanya sebelum aku pergi,” kau mengancam.

maka aku bergegas, tak ada lagi jarak, tak ada lagi selang

yang menggulung waktu tempuh, menggulung waktu lampau

hanya aku yang berlari lebih cepat.

aku tiba di sana, ketika kau telah pergi

aku mengulanginya, berkali-kali lagi

dan selalu tiba usai kau tuntas beranjak

pergi berkali-kali melangkahi usia yang kumiliki.

 

(2026)

Andi Wirambara
Latest posts by Andi Wirambara (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!