
Mama masih saja menangis di samping tokoh kita sementara lelaki yang dia sebut bapak telah lama memunggungi mereka berdua beserta sofa tempat mereka pernah duduk bersama-sama, kamar tempat mereka jeda setelah dunia membuat babak bundas seharian, dapur yang merangkap menjadi ruang makan tempat mereka akhirnya bisa bercerita apa pun tanpa gemetar tak didengar, dan tempat-tempat kecil lain beserta kenangan yang awalnya dipikir hal-hal paling indah dan tak mungkin tergantikan. Tokoh kita yang belum sepenuhnya paham akan kerja dunia hanya bisa berada di samping perempuan itu sambil mengingat deretan kalimat yang menggema seisi rumah dan diam-diam menyelusup ke dalam kepalanya.
“Kau sama saja seperti yang sebelumnya. Perempuan terkutuk. Nyaris puluhan tahun,” kata lelaki yang baru saja meninggalkan tokoh kita dan mamanya.
Tokoh kita ingat kalimat selanjutnya, tapi seketika fokusnya sedikit buyar. Bukankah seseorang yang bersedih harus dikuatkan? Maka, tokoh kita berusaha menyebutkan kata-kata yang gagah agar perempuan yang berada di sampingnya menyudahi tangis dan meninggalkan sesenggukan. Tokoh kita tak lupa mengelus-elus punggung perempuan yang melahirkannya. Namun, isi kepala tokoh kita tiba-tiba mengingat sebaris kalimat yang baru saja didengarnya dalam badai yang tak terduga itu.
“Apa lagi yang tak kulakukan? Semua yang kamu katakan bahkan ….”
Tokoh kita ingat kalimat selanjutnya, tapi kalimat selanjutnya berasal dari orang yang berbeda. Bukankah seseorang layak untuk berbicara sampai tuntas? Maka tokoh kita meyakini sesuatu yang tak ubahnya celaka: menghibur orang yang bersedih dengan ucapan-ucapan motivasi dan penghiburan. Apakah tokoh kita bersedih? Pertanyaan itu juga dipikirkannya meski dirinya masih berusia remaja, duduk di bangku sekolah menengah pertama tingkat dua. Kendati demikian, tokoh kita terbilang cukup dewasa. Dirinya telah mengenal bentuk-bentuk badai dan cuaca bersahabat. Dan bukannya sedih tidak memandang usia?
Tokoh kita pun teringat sejumlah film-film yang tandas ditontonnya. Film-film yang ditontonnya sejak berada di bangku sekolah menengah pertama tingkat satu; film-film yang mengisahkan antara dua orang atau lebih yang bertemu dan akhirnya berpisah dengan berbagai alasan yang jamak. Berpisah? Apakah ini pertengkaran biasa? Tokoh kita pun mengingat sebuah film yang ditontonnya dua minggu lalu. Tokoh kita ingat seluruh bagian ketika akhirnya tokoh utama yang berjumlah dua orang dalam film itu berpisah dan dipertemukan kembali. Dan tokoh kita menyebutkan kembali kata-kata dengan penuh semangat kepada perempuan di sampingnya.
“Bapak pasti kembali. Mama tak perlu terlalu menangis.”
Tokoh kita benar. Sudah berapa badai yang disaksikannya selama setahun belakangan? Tokoh kita alpa menghitung, sama halnya dengan tinggi rumput di halaman, sama halnya dengan keinginan-keinginan untuk menghentikan badai. Lalu tokoh kita terdiam sejenak dan sesuatu timbul di hatinya secara perlahan seperti bulir-bulir air yang meranggas di pipi perempuan yang di sampingnya. Makin kuat. Harus dituntaskan.
***
Kau tak mungkin lupa 15 tahun lalu adalah hal yang paling menyenangkan sepanjang hidup. Semenjak itu kau berkeyakinan tidak ada sesuatu yang menarik lagi. Itu terjadi setelah seluruh pertanyaan-pertanyaan memuakkan berulang kali kau dengar.
Pertama-tama pertanyaan itu muncul dari ayahmu. Di suatu waktu di ruang makan. Saat itu kalian baru saja selesai makan malam.
Seharusnya selesai makan malam hanya ada piring yang menyisakan beberapa butir nasi,
sendok yang tak lagi mengkilap, mangkuk sayur yang isinya nyaris habis, kulit-kulit dari buah yang tandas dimasukkan ke mulut, penerang di atas kepala, dan sebagainya. Kau awalnya tak berpikiran ada pertanyaan menyebalkan itu sebab kau berpikir ayahmu adalah orangtua yang tak seperti kebanyakan orangtua dari sukumu. Namun, ayah tetap ayah.
“Kapannya kamu mangoli, Boru?”
Tiba-tiba suara AC terdengar di ruang itu. Bukankah AC di ruang itu baru beberapa hari lalu diperbaiki? Kau pun menatap mata ayahmu. Di sana tampak sekali berjuta-juta harapan menjadi opung sebelum tubuh dimasukkan ke kuburan. Kau tak kuat dan mengalihkan pandangan ke arah ibumu. Di sana, tampak berjuta-juta harapan perempuan itu memangku seorang bocah dan bisa dilihat hingga muak di dinding rumah.
“Kalau kamu ditanya, dijawab. Apalagi ditanya orangtua.”
Udara sekitar terasa tak bersahabat. Kau kesulitan bernapas dengan teratur. Mungkin karena ruang itu ada AC yang berisik. Bukannya AC di ruang itu baru beberapa hari lalu diperbaiki?
“Carilah rokkap. Jangan menunggu. Atau kalau memang belum jumpa yang pas, mama dan bapakmu bisa carikan. Banyak….”
“Aku sudah ada rokkap. Akan aku bawa.”
Mengapa kau perlu menyebutkan hal itu? Berbohong bukanlah sesuatu yang baik. Namun berbohong tidak selalu buruk, seperti teman-teman sekelas di kampusmu yang selalu mengatakan telah makan kepada orangtuanya kala ditelepon.
“Tapi jangan lagi seperti yang sudah-sudah. Bapak dan mamak terlalu menekan.”
Pernah sekali waktu kau membawa seorang pria ke rumah. Pria itu satu kantor denganmu. Awalnya lelaki itu menolak keras untuk berjumpa dengan kedua orang tuamu.
“Kenapa? Takut? Nggak berani?”
Lelaki yang kau tanya itu hanya diam, seolah-olah seluruh kata tidak pernah diciptakan untuk dirinya. Namun, lelaki pecundang adalah lelaki yang menyakiti orang yang dicintai. Selepas seluruh pertanyaan itu, lelaki yang kau cintai memberanikan diri datang ke rumahmu.
Lelaki itu datang di satu hari Minggu. Kau dan dirinya telah berencana untuk beribadah bersama dengan kedua orang tuamu. Namun, kau tidak pernah menyangka setelah pulang dari ibadah, dunia menjadi neraka. Lelaki itu tiba-tiba saja menghilang dari hadapanmu, dari telepon genggammu, dari meja tempat kerjanya, dari segalanya. Dan saat itu kau menjalani hari dengan cara-cara yang payah.
“Lihat, kan? Lelaki itu sekarang meninggalkanmu. Betapa pengecut dirinya.”
Kau hendak marah mendengar itu. Kau hendak menghantam kepala orang yang berbicara demikian kepadamu.
“Boru, kita perlu tahu bebet bibit bobotnya,” kata bapakmu yang kemudian mengaburkan ingatan-ingatan buruk itu di meja makan.
Kau tak membalas ucapan itu dan berpendapat lebih baik mengumpulkan piring yang menyisahkan beberapa butir nasi, sendok yang tak lagi mengkilap, mangkuk sayur yang isinya nyaris habis, kulit-kulit dari buah yang tandas dimasukkan ke mulut, penerang di atas kepala, dan sebagainya untuk dibawa ke wastafel.
Semenjak perbincangan di meja makan itu, pertanyaan-pertanyaan serupa makin muncul dan bersarang di telingamu. Kini, keluarga dekatmu juga melontarkan pertanyaan itu. Lalu beranak-pinak ke bibir tetangga, teman sekantor, dan teman-teman perempuanmu yang telah banyak menikah.
Pertanyaan-pertanyaan itu ternyata lebih buruk dari kehilangan lelaki yang pernah kau bawa ke rumah. Andai waktu boleh diulang dan tak lagi bergerak ke depan, kau hanya ingin menjadi perempuan di waktu kau patah ketika lelaki yang kau cintai menghilang. Kau tak keberatan menjadi perempuan payah seperti itu, menganggap makan dan minum bukanlah sesuatu yang wajib, mandi tidak membuatmu menjadi buruk rupa, dan diam membuatmu lebih tenang.
Kau meyakini waktu rusak itu lebih baik karena respons-respons yang kau keluarkan harus berbeda. Pertanyaan harus dijawab, tidak seperti patah hati, meski saat itu kau bertanya-tanya mengapa lelaki itu pergi. Tetapi, pertanyaan yang kamu lontarkan dengan pertanyaan orang lain itu berbeda: pertanyaanmu hanya waktu yang bisa menjawab, sementara pertanyaan orang lain harus mendapat jawab dari bibirmu.
Dan berpuluh malam kemudian, tepatnya 15 tahun lalu, kau membawa seseorang yang akhirnya menghancurkan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan itu. Pertanyaan-pertanyaan yang sering kau jawab dalam hati: apakah salah seorang perempuan dengan umur nyaris empat puluh belum menikah?
Namun, berbeda saat pertama kali kau membawa seorang lelaki, hari itu kau diam-diam mencuri dengar perbincangan mereka dan sesekali mencuri pandang saat mereka berbicara. Tampak wajah bapakmu semringah. Dan benar saja, waktu pernikahanmu ditetapkan cepat. Sayangnya, tak bertahan lama.
***
Bukankah segala yang dipersatukan Jahowa tidak boleh dipisahkan manusia? Ya, benar. Namun, manusia mampu menciptakan Jahowa lain dalam dirinya dan dalam diri orang lain. Terlebih, mengapa dua orang mesti disatukan tanpa adanya masa-masa gemilang? Mati tanpa ada keturunan adalah hal yang menyebalkan.
“Kita sudah punya keturunan. Apalagi yang kamu mau?”
Kau tampak sangat kesal mendengar pertanyaan itu. Di kepalamu terbangun hal-hal buruk. Kenapa perempuan yang kunikahi ini bodoh sekali? Apakah dia tak mampu memikirkan keturunan yang kumaksud?
“Keturunan apa? Kau melahirkan empat anak dan tidak ada yang benar-benar bisa membuatku bangga. Kau pikir itu cukup?”
Kau sudah menjawab pertanyaan itu, tetapi kepalamu makin terasa berat seperti ada seekor gajah di atas ubun-ubun. Namun, segalanya terasa sulit bukan karena responsmu yang menyebalkan. Tidak. Tidak. Kau hanya tak menyangka setelah dua puluh tahun tidak menghasilkan apa pun.
Sebagaimana lelaki mana pun, kau sangat gembira tatkala perempuan yang kau sebut istri itu mengandung. Kebahagiaanmu makin membuncah, serupa bisul yang telah matang dan ditekan bagian sampingnya sehingga memuncratkan cairan berwarna kelabu dan berbau, ketika putri kecil pertamamu lahir. Lalu kau memikirkan masa depan yang lebih cerah saat putrimu sudah bisa menyebutkan banyak kata dengan sempurna. Dalam pikiranmu itu, akan ada lagi anak-anak lainnya.
Dan tepat putri kecil pertamamu nyaris masuk sekolah untuk pertama kalinya, perempuan yang kau sebut istri mengandung. Seperti sebelumnya, kau akan mendapatkan seorang putri kecil.
Saat mengetahui itu, kebahagiaanmu serupa otot-otot manusia yang menginjak umur lima puluh tahun ke atas. Tentu kau tak terlalu bahagia bukan lantaran segalanya akan berjalan seperti yang telah terjadi sebelumnya. Perasaan itu tak berlangsung lama sebab buru-buru kau usir. Seharusnya aku bersyukur, katamu kepada dirimu sendiri. Betapa tidak, putri kecil kedua, itu berarti ada uang-uang yang akan terselamatkan. Tak ada baju-baju baru dan perlengkapan dan permainan bayi perempuan yang baru dan hal-hal repot lainnya.
Namun, enam tahun kemudian akhirnya kau bersepakat dengan dirimu sendiri untuk tak perlu bersabar. Kau tahu tidak ada takdir baik dengan perempuan yang saat ini tengah bertengkar denganmu. Memang tak ada baju-baju baru dan perlengkapan dan permainan bayi perempuan yang baru dan hal-hal repot lainnya selama enam tahun semenjak putri kedua lahir lantaran kau diberi kembali dua putri kecil. Empat putri tetapi menghabiskan banyak sekali biaya.
Setelah putri kedua lahir kau banyak mengetuk pintu-pintu medis dan berbau magis. Semua metode kau lakukan; mulai dari memakan hal-hal yang membuat lidahmu kelu hingga melakukan hal-hal yang membuat dirimu makin jauh dengan Tuhan. Namun, segalanya tak berubah. Tak ada anak yang bisa kau panggil “amang”. Tak ada.
“Lalu keempat putri kita itu apa? Kau pikir mereka siapa?”
Kau ingin menjawab pertanyaan itu, tetapi kepalamu makin terasa berat seperti ada seekor gajah di atas ubun-ubun, di pundak kiri dan kanan, dan kedua kaki, dan sebagainya. Kau harus menjawab. Tidak. Tidak. Kau tak harus menjawab. Kau hanya perlu memunggungi seisi rumah, termasuk sofa tempat kalian pernah duduk bersama-sama, kamar tempat kalian jeda setelah dunia membuat babak bundas seharian, dapur yang merangkap menjadi ruang makan tempat kalian akhirnya bisa bercerita apa pun tanpa gemetar tak didengar, dan tempat-tempat kecil lain beserta kenangan yang awalnya kaupikir adalah hal-hal paling indah dan tak mungkin tergantikan.
Namun, kau tahu, kau harus meninggalkan segalanya saat itu juga. Kau harus memikirkan secara matang-matang seperti kau memikirkan untuk mendapatkan anak yang bisa kau panggil dengan sebutan “amang”. Dan di malam itu kau susun rencana yang tampak lebih gemilang. Pertama-tama kau berpikir untuk pergi ketika semuanya tertidur lelap atau saat seisi rumah tidak memperhatikanmu. Lima menit empat belas detik kemudian kau berpikir itu cara yang tolol. Kepalamu pun mencari ide lainnya: ketika mereka terlelap, kau akan berdiri di samping dan memberikan satu bantal lain di atas kepala mereka agar tidur semakin pulas. Tak sampai lima menit empat belas detik rencana itu kau tolak. Itu rencana paling tolol dari semua rencana yang bisa dibuat.
Maka, berjam-jam setelah pertengkaran itu, kau akhirnya menemukan satu ide yang paling gemilang: mendatangi seluruh tokoh adat yang pernah menjadi saksi dalam pernikahanmu. Kau juga telah menyusun kalimat yang kaujadikan jawaban untuk para tokoh adat yang akan kau datangi.
Seperti yang kau duga: segala yang dipersatukan Jahowa tidak boleh dipisahkan manusia. Itu pernyataan yang pertama keluar dari mulut para tetua itu. Namun, kau sudah sangat siap dengan jawaban.
“Mengapa dua orang mesti disatukan tanpa adanya masa-masa gemilang? Aku tak ingin mati tanpa ada keturunan. Marga ini tak bisa diturunkan ke boru.”
Dan seketika seluruh para tetua terdiam. Tentu setelah kau jelaskan kemudian perjuangan-perjuanganmu selama bertahun-tahun. Tentu setelah seluruh keluargamu juga ikut membantu untuk menjelaskan itu di hadapan para tetua. Namun, selalu ada saja di dunia ini yang tidak ditakdirkan untuk akrab dengan beberapa rencana. Dan, sekali lagi, kau tak mengetahui rencana kali ini adalah petaka.
***
Meski hari telah berganti, tokoh kita masih saja mendengar tangisan itu, melihat kerut itu, merasakan badai itu. Tokoh kita mendatangi segala yang kacau itu dan hanya memperhatikan dari bibir kamar perempuan yang disebutnya ibu. Tentu dia ingat kejadian kemarin. Bahkan tokoh kita bisa dengan runut menceritakan awal mula badai itu yang muncul sejak setahun yang lalu. Itu bukan karena dia istimewa, hanya saja perempuan memiliki hipokampus yang lebih besar dari lelaki. Namun, apa pentingnya menjadi perempuan dengan hipokampus yang besar?
Di dalam kamar itu, tokoh kita tak melihat sosok lelaki. Apakah badainya mencapai akhir? Tidak. Tokoh kita telah berjanji kemarin, kesimpulan-kesimpulan yang terlalu cepat dibuat bukanlah jati dirinya, itu terlalu gaya perempuan, John Gray mengatakan begitu, bersit tokoh kita.
Perlahan kaki tokoh kita menjauhi bibir kamar dan menyambangi dapur. Tangan tokoh kita terlihat mengambil teko teh, menghidupkan kompor listrik, mengeluarkan beberapa bahan makanan, dan sebagainya. Seluruh hasil pekerjaan yang dilakukan tokoh kita, dibawa sebagian ke tempat perempuan yang disebutnya ibu sementara setengah lainnya dibiarkan di atas meja makan.
Ketika tokoh kita memberikan makanan itu, hanya ada kalimat untuk menyuruh makan dan berhenti bersedih sejenak. Tokoh kita tak menyelipkan sedikit pun kata semangat seperti kemarin. Kemudian tokoh kita mengecup kening perempuan itu dan tokoh kita menuju dapur untuk menuntaskan segala yang ditinggalnya.
Usai makan, tokoh kita tak lupa mengutip piring yang menyisakan beberapa butir nasi, sendok yang tak lagi mengkilap, mangkuk sayur yang isinya nyaris habis, kulit-kulit dari buah yang tandas dimasukkan ke mulut, yang ada di meja makannya. Tokoh kita sengaja tidak mengambil piring yang penuh dengan nasi, sendok yang masih saja mengkilap, mangkuk sayur yang isinya penuh, buah yang belum dikupas di kamar perempuan yang disebutnya ibu. Hal ini diyakininya karena badai yang membuat perempuan itu menganggap makan dan minum bukanlah sesuatu yang wajib, tidak mandi belum tentu membuat diri jadi buruk rupa, dan diam membuat lebih tenang. Namun, kesimpulan-kesimpulan yang terlalu cepat dibuat bukanlah jati dirinya, itu terlalu gaya perempuan, John Gray mengatakan begitu, bersit tokoh kita. Tokoh kita meyakini untuk tak membereskan piring dan perkakas lainnya karena telah melihat dengan jelas dari bibir pintu jika perempuan itu tak menyentuh yang telah dibawa tokoh kita.
Sesaat memperhatikan perempuan itu, tokoh kita melihat perlahan semburat cahaya dari luar kamar menempel di jendela. Sedikit cahaya itu menelusuk dan jatuh di lantai. Tokoh kita kemudian ingat dia harus berbenah diri dan menuju kamar mandi. Namun, tidak seperti biasanya, tokoh kita tidak menghabiskan waktu lama di sana. Tentu bukan karena tokoh kita buru-buru, hanya saja tokoh kita teringat bagaimana lelaki yang tak pulang itu berbenah diri di kamar mandi setiap pagi.
Lalu tokoh kita menuju kamar. Tokoh kita melihat seragam yang hendak dikenakan. Tidak ada. Tidak ada di sana. Tak ada pakaian yang pantas dikenakan. Tokoh kita menarik napas dan melihat jam di dinding kamarnya dan waktunya semakin menipis dan guratan wajahnya menegang. Apakah dirinya tidak perlu bersekolah hari ini karena tak ada celana seragam di sana?
Tidak. Tidak. Pikiran itu seketika ia tepis sebab mengingat teman-teman seprofesi dengan John Gray. Ia harus menjadi orang yang bertanggung jawab. Ia tidak mungkin saat ini meminta perempuan yang ia sebut ibu untuk membelikan sebuah celana seragam sekolah. Dengan berat hati pada pagi itu, tokoh kita akhirnya meraih seragam yang tak cocok itu. Ia kenakan dengan penuh amarah, tetapi ia harus melakukan hal itu.
“Hanya hari ini saja. Selepas pulang sekolah aku akan membeli sebuah celana.”
Dan puncak kemarahannya itu ketika tokoh kita mengenakan baju dalam yang sejak awal ia tolak. Namun, ia mengingat sejumlah nama selain John Gray.
“Aku harus bertanggung jawab. Aku harus jadi baoa agar dia kembali dan badai berhenti.”
TAMAT
Catatan
Baoa: laki-laki
Mangoli: menikah
Rokkap: jodoh
Boru: anak perempuan
- Tubuh Sepanjang Ngarai - 12 December 2025
- Mengapa Tokoh Kita Ingin Jadi Baoa? - 22 August 2025
- Mengapa Bapa Tak Pernah Lagi Berdoa, Ma? - 10 May 2024


Ayu
Ituu klo mau ngirim cerpen harus pake gambar kah??
Fikri
harus kak, nanti dapat uang
Admin
nggak, kak.
Yusran
Ini gmna konsepnya
Etnaa
PERTAMA KALI LIHAT CERPEN BATAKKKK
Bunga
Aku gak ngerti, cerpen ini permasalahan apa? patriarki?
Willyan
Permasalahannya, tentang keinginan untuk memiliki anak laki-laki. Karena, anak laki-laki lah yang akan menurunkan marga. Saya menangkap ide ceritanya seperti itu.