Pensiunan Polisi

SEBAGAIMANA seorang pensiunan, menonton televisi adalah satu dari sekian banyak aktivitas yang kulakukan. Pasanganku telah pergi bekerja sejak tadi. Dia meninggalkanku di tempat tidur, mengecup diriku saat masih di atas kasur, dan mengatakan sarapan telah tersedia di meja makan khusus buatku. 

“Aku nanti tak ada lembur. Kalau tidak terlalu macet, aku sudah di rumah pukul 6,” katanya. 

Aku tidak pernah menjawab meski mendengar dengan jelas setiap pesan-pesannya sebelum pergi.

Setiap hari, televisi selalu dinyalakan. Dengan telinga tajamku yang telah terlatih bersebab profesiku, aku selalu mendengar suara dari televisi tersebut dengan mataku yang terkatup malu-malu. Hanya siaran televisi, sebab pasanganku tipikal yang tak terlalu suka musik.

Aku selalu heran, televisi yang dinyalakannya tidak pernah sekali pun ditonton. Pasanganku hanya mendengarkan suaranya sembari memasak. Dia memapahku turun dari kasur, berjalan di belakang, lantas membantuku naik ke sofa. Lalu diambilnya remot televisi dan benda persegi di depanku mengeluarkan cahaya berserta suara. Sesekali dia mengecupku, kemudian menghilang dalam kesibukan menyiapkan sarapan dan makan siang.

Aku hanya diam, melotot ke arah televisi tanpa benar-benar menikmati. Pikiranku berhamburan. Tak lama aku mendengar suara-suara yang amat keras dari masa yang lepas, menemukan potongan-potongan gambar yang abu-abu, seperti melihat dalam kabut, yang terjadi sebelum aku sadar telah berada di ruangan putih. Banyak sekali dokter dan banyak sekali darah. Aku tak tahu pasti berapa banyak—dokter dan darahku yang keluar—karena penciumanku terasa samar. 

Ketika tersadar, masih di atas sofa, aku melihat ujung televisi, yang menjorok di kanan atau kiri atas, terdapat sebuah simbol yang sama belaka sejak benda itu dinyalakan. Pasanganku tak lagi berkubang dengan alat dapur. Di kamar mandi suara air jatuh ke lantai begitu deras, gesekan-gesakan yang mengenai kulit, dan kadang kala suara letupan-letupan. Dan aku tahu, pada momen itu, dia telah menyelesaikan masakannya, dan selama itu siaran ini tak disentuh.

Semenjak dinyatakan boleh meninggalkan rumah sakit khusus, aku harus keluar dari kedinasan. Sejak itu pula, akhirnya aku tahu, hari-hariku hanya hanya akan kulalui dengan duduk di sofa, ditemani siaran televisi yang tetap setia.  

Aku tak menanyakan kepada pasanganku dan dia tak hendak menjelaskan kepadaku. Mungkin dirinya mengerti bahwa aku belum mampu diajak bicara dengan baik dan barangkali takut ucapanku tidak dipahaminya sama sekali.

Ketika rumah ini hanya menyisakanku, suara mobil di teras telah menyusut, dan televisi yang masih menyala, aku bangkit menuju sofa. Dengan tubuh yang tak lagi utuh, aku mencoba meraih remot, dan ruangan seketika hening.

——

Sebagaimana para kolega, aku lahir dengan darah yang sama belaka. Kedua orang tuaku dulunya adalah petugas polisi. Semangat mereka diwariskan kepadaku. Namun, garis darah tidak semata-mata membuat jalan mulus. 

Sejak dini, aku dilatih begitu keras. Aku dididik menjadi polisi bertanggung jawab, berpostur tubuh sedap, dengan jalan selalu mantap. Pelatihan-pelatihan itu juga membuatku makin jauh dari keluarga. Bayangan wajah ibu makin hari makin mengabur. Suaranya yang dulu kukenali lama-lama mengelupas dan berganti suara-suara instruktur yang melatihku, aroma mulutnya yang kuhidu saat hendak menciumku menjadi asing sebab aroma para instruktur dan pelatihan-pelatihan yang memerlukan ketangkasan penciuman akan beberapa benda yang wajib kuingat sampai mati, dan kehangatan tubuhnya entah sejak kapan terganti oleh terik matahari, keringat yang bercucuran, lokasi pelatihan yang mengerikan.

Sementara ayahku, aku tidak lagi mengenali dirinya. Dia meninggalkanku bahkan sebelum aku lahir. Dari instruktur yang mengajariku, aku tahu ayahku mati dalam tugas. Dia polisi yang baik, polisi yang berjasa, pengorbanannya berguna bagi negara, dedikasinya akan selalu diingat. Namun, itu hanya omong kosong. Terlampau banyak polisi yang gugur dalam penugasan. Mereka hanya akan diingat beberapa saat, diberi penghargaan, dikuburkan dengan penghormatan, diberi lencana kehormatan, lalu saat semua itu dilaksanakan, polisi-polisi baru yang lulus pelatihan menggantikan tempat kosong itu. Begitu berulangkali, tak akan pernah berubah. 

Dan, sebagaimana para kolegaku, memiliki trah yang terjamin, dilatih betapa keras, aku lulus sebagai salah satu polisi muda terbaik. 

——

Empat tahun, tujuh bulan, enam hari. Aku terus menghitung semenjak kejadian itu. Hari itu seharusnya aku tidur di pos. Namun, sebuah kabar masuk, bahwa keberadaan buronan telah ditemukan. Seorang kriminal yang telah sukses membuat aksi kekejaman.

Aku telah lama mengikuti perkembangan kasusnya. Mula-mula dari pengemboman gereja di salah satu gereja di kota ini. Semenjak pengeboman itu, aku makin sering ditugaskan untuk berpatroli. Aku harus melaporkan kepada atasan bahwa setiap gereja telah aman dari ancaman pengeboman. Dan semakin padat jadwalku kala hari-hari besar keagamaan lainnya.

Lalu pengeboman lain muncul. Kali ini diledakkan di markas kami sendiri. Kantor polisi. Bukan kantor polisi cabang. Maksudku kantor polisi pusat di kota ini. Apabila pengemboman di gereja itu memakan korban, kali ini berbeda. Namun, ada atau tidak korban, bukan patokan tugas makin berkurang. Waktu bertugas tak lagi karuan.

Dan semenjak dua pengemboman itu, aku mendapat informasi bahwa orang yang melakukan pengeboman yang pertama di gereja adalah dalang. Kedua pengeboman selanjutnya merupakan jaringannya. Dalam kelompok itu, dia adalah pemimpin dari bibit-bibit yang terbuai. Dia orang yang paling bertanggung jawab mengajari para pelaku dari dua kasus pengeboman tersebut. Pendidikan militer juga diembannya, bagaimana cara membuat senjata api rakitan, melakukan kamuflase, dan taktik-taktik lainnya.

Pencarian terus dilakukan secara diam-diam. Aku selalu bersiaga di pos, hanya tinggal menunggu waktu saja orang itu tertangkap. Dan begitulah akhirnya. Informasi itu masuk, bahwa ada tiga lokasi yang pernah ditempati orang itu. Reguku diberangkat ke salah satu lokasi. Tak ada siapa pun di sana. Bahkan di ketiga lokasi yang sudah diketahui.

Namun, sebagaimana ayahku, hari buruk juga menimpaku. Saat rumah yang digeledahi itu ada orang di dalamnya, bukan berarti menandakan rumah tersebut aman. Dan sebuah ledakan terjadi.

——

Langit sudah mulai gelap. Di kejauhan suara dari sebuah rumah ibadah terdengar. Dan lamat-lamat desing kendaraan makin jelas kudengar. Suara yang sangat kukenali. Nantinya, suara itu akan menderu-deru dalam beberapa detik di hadapanku, lalu saling sahut-sahutan dengan derit besi yang timbul dari pagar di hadapanku juga. Sebelum suara kendaraan itu akhirnya lenyap, seseorang di dalamnya membunyikan suara lain sekali, sebagai tanda untuk menyapaku. 

Aku akan memerhatikan hal tersebut saja dari tempat duduk. Mustahil aku bisa mendorong pagar itu. Aku hanyalah seorang polisi yang kehilangan satu kaki. Kehilangan itu membuatku susah berjalan, berdiri, dan hal-hal yang membutuhkan tenaga ekstra.

Dan suara derit pagar terdengar lagi, tentu setelah deru kendaraan hilang seutuhnya dan dentuman pintu dari mobil tersebut, menyisakan desis semata dari sana, yang juga perlahan akan menghilang. Setelah semua itu, seseorang yang tadinya di dalam mobil tersebut menghampiriku, menyapaku, mengatakan maaf karena membuatku menunggu, dan akhirnya mengecupku. Aku hanya diam. Saat itulah, wajah orang itu makin sedih.

Mungkin dirinya mengerti bahwa aku belum mampu diajak bicara dengan baik dan barangkali aku takut ucapanku tidak dipahaminya sama sekali.

“Aku akan siapkan makan malam kita, ya,” katanya. Suara klik dari pintu terdengar.

Sudah hampir setengah tahun aku di rumah ini. Aku masih ingat dengan jelas kejadian itu, saat aku bersama pasanganku menyisir bagian samping rumah tersebut empat tahun lalu, di halaman samping yang ditumbuhi ilalang yang membuat penglihatanku sedikit terganggu, dan entah mengapa adrenalinku memuncak lantaran ini tugas pertama yang berkaitan dengan bom, sehingga aku tak awas, bahwa dalam langkah yang entah ke berapa, kakiku menginjak gundukan tanah. 

Namun, ketika aku kembali membukakan mata, seluruhnya tampak putih, dan para dokter mengelilingiku. Aku tidak ingat pasti berapa lama dirawat. Setelah dari rumah sakit, aku dipindahkan ke tempat rehabilitasi, dipindahkan lagi ke penampungan, dan akhirnya rumah orang yang baru saja masuk ke dalam, yang mengecupku, yang barusan memberitahuku akan menyiapkan makan malam.

Memikirkan itu, kepalaku sedikit terganggu. Aku bangkit dari tempatku, melangkah ke mobil, berjalan dengan terpingkal-pingkal. Sebagai polisi instingku belum seutuhnya hilang. Aku memutari mobil itu, memeriksa bagian bawah, melihat roda-roda, mengendus setiap sisinya, mencari tahu apakah ada aroma yang berbeda, memerhatikan tiap detail yang ada dan membandingkan dengan hari-hari sebelumnya apakah berbeda, mendengarkan baik-baik suara aneh yang berdetak-detak, dan semua itu sia-sia belaka, sebab tak ada hal mencurigakan.

Dan, ya, andai saja penciumanku pada saat kejadian empat tahun lalu layaknya saat ini, aku tidak mungkin purna tugas lebih cepat. Dan, ya, saat itu seharusnya aku tidak perlu ke lapangan. Kondisiku tidak sehat seutuhnya. Aku mengalami pilek dan itu berbahaya bagi polisi sepertiku. Namun,  aku tetap berlaku biasa saja, aku takut ucapanku tidak dipahaminya sama sekali, oleh pasanganku sendiri, rekan kerjaku, yang bukan anjing K9.

Radja Sinaga
Latest posts by Radja Sinaga (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!