Puisi Allezetta Zie

 

Kesalahanku

 

Menurutku, kesalahanku adalah

Tidak bekerja lebih cerdas

 

Perkara berusaha, aku sudah lebih berusaha

Menjadi merpati, menjadi burung hantu

Aku menyembunyikannya

Terlalu keras rupanya

Dan jika aku terjerembab, lalu bagaimana?

 

Menurutku, kesalahanku adalah

Terlalu jijik untuk mau berkotor tangan

 

Apa yang telah dibayarkan kepadaku

Sehingga aku dengan senang hati

Mengosongkan helai-helai mawar putih milikku

Sambil menjaga bunga bangkai milik mereka?

Untuk menjadi wajah yang tertutup lumpur

Untuk dipandang sama hinanya dengan pendosa

 

Menurutku, kesalahanku adalah

Selalu menganggap bayaranku tersedia

 

Meski sudah rela hanyut

Sekociku tetaplah tempat bertumpu

Orang-orang malang ini akan menang

Sedang aku akan hidup di dalam perut Kraken

Ah, gajiku menjaga bunga bahkan belum diberikan

Sekarang, jika aku tiada

Akankah aku diberkahi gaji yang berlimpah ruah?

 

Menurutku, kesalahanku adalah

Tidak berganti dendam setelah tahun baru

 

Karena warna favoritku adalah hitam

Seluruh tubuhku dilapisi cat perak

Kemudian terjerumus ke lubang yang sama

Berulang kali, hingga takut semakin hidup

Padahal, warna favoritku adalah hitam

 

Aku hendak mengubah apa?

Aku tak bisa mengubah apa-apa

 

Menurutku, kesalahanku adalah

Aku, senantiasa berpikir bahwa aku salah

 

 

 

Ketinggian

 

Pada awalnya, hanya aku dan engkau

Engkau ditinggalkan, aku tinggal

Maka engkau meninggikan aku

Sebagai orang yang bukan aku

 

Terlalu tinggi, ini Menara Babel

Tetapi kakiku telah merekat

Aku tak akan jatuh

 

“Siapa yang kaulihat ketika engkau memandangku?”

 

Engkau memasang benteng di depan dadamu

Aku akan melindungi anak-anakku

Dari manis gulamu yang mengikis gigi polos mereka

Dari terangmu yang membuat mereka terjerembab

Pada sumur ketidaksucian

 

Aku terbekap, tersekap

Engkau membongkar benteng dengan tanganmu sendiri

 

Engkau menimbang-nimbang harga diriku

Apakah aku cukup pantas untuk menjadi kekasih

Atau cukup hina untuk menjadi musuh

Sebelum akhirnya menyulam tanda di dahiku

Untuk kukenakan, sehingga engkau tidak lupa

Aku tidak lupa

 

Pada akhirnya, kami semua terhina

Dan terbuang

Dan terpendam

Dan mendoakan engkau

 

Ego

 

Kau meminjam tulang-tulangku

Untuk menambal otot-otot berkaratmu

Kau meminjam sel-sel otakku

Untuk mengambil solusi-solusi bagimu

Dan mengikis kewarasanku

Membendung kewarasanmu yang nihil sama sekali

 

Bolehkah aku mengambil upahku?

 

Ingin kusumpalkan kembali

Batu yang mudahnya terjatuh dari mulutmu

Batu besar penuh ukiran Zaman Sarkasme

Periode yang kauhidupi hingga kiamat

Tidak, aku salah, kau benar

Rasionalisme menang

Ah, andai engkau benda mati

 

Kau mana pernah tahu

Mengenai keinginan yang tercabut

Bahkan sebelum ingin sempat tumbuh

 

Di atas Bumi kura-kura ini

Siapa yang paling kura-kura

Di antara kura-kura?

 

Orang-orang menampar egoku

Dengan ego mereka

 

Hanya sesekali kusinggung

Kau menjadi siamang selama seabad

Maka aku takut untuk berkicau di hadapanmu

 

Apabila aku mengaku bahwa

Semesta adalah rekan dansaku

Itulah kesombonganku

 

Apabila aku menolongmu

Membiarkan napasku mengucur

Mengisi lekuk-lekuk batu karangmu

Itulah ketamakanku

 

Dan kau menumpang terbang

Di atas sayapku

Sedang kau sendiri enggan

Berbagi sayap denganku

 

 

 

Keluarga Ular

 

Kami bercerita di depan gerbang sekolah

Ada tikus terselip di balik atap

 

Anak sedang sibuk menggasak sana-sini

Mencari-cari letak mukanya; paniknya samar

Tetap tersenyum seperti Bapak

 

Bapak tak usah bekerja lagi;

Bapak sudah punya kasur

Bapak menidurkan Cucu saja, ya?

Anak sudah dewasa;

Biar Anak memahat panggungnya sendiri

Tangannya pandai, orang-orang pasti tahu

 

Memangnya, Bapak membesarkan seorang ular?

“Bapak hanya merawat Anak.”

 

Ibu boleh diam sekarang;

Sudah waktunya Ibu dipeluk dapur

Anak mau pulang?

Mau makan sup ayam dengan bawang goreng?

Ibu mau membalik tempe mendoan

 

Anak mana tahan dengan godaan

Anak harus memasak sendiri, kan?

 

Bapak ingin Anak membangun rumah

Memperbaiki fondasi-fondasi tak sesuai tata letak

Otaknya lihai, orang-orang pasti tahu

Tak bolehkah Anak dibantu tukang bangunan?

“Bapak ingin Anak mandiri.”

Anak yang mandiri ingin mengecup ambisi

 

Bapak hebat;

Bapak mengajari Anak bermain monopoli

Bapak beli tanah, Anak beli pajak

Memangnya, Bapak dahulu penjajah?

“Siapa? Bapak ikut Perang Dunia ketiga.”

 

Kami bercerita di depan gerbang kebun binatang

Animalia, dikuasai Serpentes

 

Allezetta Zie
Latest posts by Allezetta Zie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!