
Kesalahanku
Menurutku, kesalahanku adalah
Tidak bekerja lebih cerdas
Perkara berusaha, aku sudah lebih berusaha
Menjadi merpati, menjadi burung hantu
Aku menyembunyikannya
Terlalu keras rupanya
Dan jika aku terjerembab, lalu bagaimana?
Menurutku, kesalahanku adalah
Terlalu jijik untuk mau berkotor tangan
Apa yang telah dibayarkan kepadaku
Sehingga aku dengan senang hati
Mengosongkan helai-helai mawar putih milikku
Sambil menjaga bunga bangkai milik mereka?
Untuk menjadi wajah yang tertutup lumpur
Untuk dipandang sama hinanya dengan pendosa
Menurutku, kesalahanku adalah
Selalu menganggap bayaranku tersedia
Meski sudah rela hanyut
Sekociku tetaplah tempat bertumpu
Orang-orang malang ini akan menang
Sedang aku akan hidup di dalam perut Kraken
Ah, gajiku menjaga bunga bahkan belum diberikan
Sekarang, jika aku tiada
Akankah aku diberkahi gaji yang berlimpah ruah?
Menurutku, kesalahanku adalah
Tidak berganti dendam setelah tahun baru
Karena warna favoritku adalah hitam
Seluruh tubuhku dilapisi cat perak
Kemudian terjerumus ke lubang yang sama
Berulang kali, hingga takut semakin hidup
Padahal, warna favoritku adalah hitam
Aku hendak mengubah apa?
Aku tak bisa mengubah apa-apa
Menurutku, kesalahanku adalah
Aku, senantiasa berpikir bahwa aku salah
Ketinggian
Pada awalnya, hanya aku dan engkau
Engkau ditinggalkan, aku tinggal
Maka engkau meninggikan aku
Sebagai orang yang bukan aku
Terlalu tinggi, ini Menara Babel
Tetapi kakiku telah merekat
Aku tak akan jatuh
“Siapa yang kaulihat ketika engkau memandangku?”
Engkau memasang benteng di depan dadamu
Aku akan melindungi anak-anakku
Dari manis gulamu yang mengikis gigi polos mereka
Dari terangmu yang membuat mereka terjerembab
Pada sumur ketidaksucian
Aku terbekap, tersekap
Engkau membongkar benteng dengan tanganmu sendiri
Engkau menimbang-nimbang harga diriku
Apakah aku cukup pantas untuk menjadi kekasih
Atau cukup hina untuk menjadi musuh
Sebelum akhirnya menyulam tanda di dahiku
Untuk kukenakan, sehingga engkau tidak lupa
Aku tidak lupa
Pada akhirnya, kami semua terhina
Dan terbuang
Dan terpendam
Dan mendoakan engkau
Ego
Kau meminjam tulang-tulangku
Untuk menambal otot-otot berkaratmu
Kau meminjam sel-sel otakku
Untuk mengambil solusi-solusi bagimu
Dan mengikis kewarasanku
Membendung kewarasanmu yang nihil sama sekali
Bolehkah aku mengambil upahku?
Ingin kusumpalkan kembali
Batu yang mudahnya terjatuh dari mulutmu
Batu besar penuh ukiran Zaman Sarkasme
Periode yang kauhidupi hingga kiamat
Tidak, aku salah, kau benar
Rasionalisme menang
Ah, andai engkau benda mati
Kau mana pernah tahu
Mengenai keinginan yang tercabut
Bahkan sebelum ingin sempat tumbuh
Di atas Bumi kura-kura ini
Siapa yang paling kura-kura
Di antara kura-kura?
Orang-orang menampar egoku
Dengan ego mereka
Hanya sesekali kusinggung
Kau menjadi siamang selama seabad
Maka aku takut untuk berkicau di hadapanmu
Apabila aku mengaku bahwa
Semesta adalah rekan dansaku
Itulah kesombonganku
Apabila aku menolongmu
Membiarkan napasku mengucur
Mengisi lekuk-lekuk batu karangmu
Itulah ketamakanku
Dan kau menumpang terbang
Di atas sayapku
Sedang kau sendiri enggan
Berbagi sayap denganku
Keluarga Ular
Kami bercerita di depan gerbang sekolah
Ada tikus terselip di balik atap
Anak sedang sibuk menggasak sana-sini
Mencari-cari letak mukanya; paniknya samar
Tetap tersenyum seperti Bapak
Bapak tak usah bekerja lagi;
Bapak sudah punya kasur
Bapak menidurkan Cucu saja, ya?
Anak sudah dewasa;
Biar Anak memahat panggungnya sendiri
Tangannya pandai, orang-orang pasti tahu
Memangnya, Bapak membesarkan seorang ular?
“Bapak hanya merawat Anak.”
Ibu boleh diam sekarang;
Sudah waktunya Ibu dipeluk dapur
Anak mau pulang?
Mau makan sup ayam dengan bawang goreng?
Ibu mau membalik tempe mendoan
Anak mana tahan dengan godaan
Anak harus memasak sendiri, kan?
Bapak ingin Anak membangun rumah
Memperbaiki fondasi-fondasi tak sesuai tata letak
Otaknya lihai, orang-orang pasti tahu
Tak bolehkah Anak dibantu tukang bangunan?
“Bapak ingin Anak mandiri.”
Anak yang mandiri ingin mengecup ambisi
Bapak hebat;
Bapak mengajari Anak bermain monopoli
Bapak beli tanah, Anak beli pajak
Memangnya, Bapak dahulu penjajah?
“Siapa? Bapak ikut Perang Dunia ketiga.”
Kami bercerita di depan gerbang kebun binatang
Animalia, dikuasai Serpentes
- Puisi Allezetta Zie - 23 June 2026
- Puisi Allezetta Zie - 17 June 2025
